
''Brian, bagaimana kondisi temanmu?'' tanya Arsen lewat sambungan teleponnya.
''Dia sudah membaik, hyung. Dia juga sedang tidur. Hyung, maaf ya kalau aku harus cuti. Aku tidak tega meninggalkannya.''
''Memang dia tidak punya orang tua apa?''
''Ada sih tapi dia tidak mau membuat orang tuanya sedih.''
''Sebenarnya siapa gadis itu? Kamu yakin dia gadis baik-baik? Dia tidak sedang memanfaatkanmu kan?''
''Hyung, aku sudah menjelasakannya. Dia gadis baik-baik. Nanti setelah dia sembuh, aku akan cerita semuanya.''
''Oke. Lalu sampai kapan kamu mau ijin libur?''
''Hehehe, sekitar tiga hari lah Hyung.''
''Oke. Tapi jangan lupa hutangmu ya?''
''Hutang apa?''
''Hutang biaya rumah sakit lah. Kamu pikir itu gratis?''
''Hyung! Jadi kamu benar-benar menghutangkannya padaku?''
''Iyalah! Kamu kan karyawanku jadi aku anggap itu hutang.''
''Ya ampun hyung, belum juga satu bulan kerja masa iya aku sudah punya hutang.''
''Itu sudah resiko. Masa iya aku yang membayar biaya gadis itu secara cuma-cuma. Kenal juga nggak, masa iya aku menggratiskannya begitu saja. Kamu sendiri yang ingin menolongnya jadi tetap bayar hutangmu. Aku akan memotong gajimu setiap bulan.''
''Hyung, kenapa tega sekali? Apa aku ini bukan saudara kandungmu ya? Hyung, ayolah jangan kejam terhadapku.'' Rengek Brian.
''Itu bukan kejam tapi tanggung jawab. Kalau kamu memang menyukainya, buktikan dong! Perjuangkan dia! Ah sudahlah, aku kembali bekerja saja. Yang jelas cepat masuk kerja dan bayar hutangmu.'' Arsen lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.
''Hyung, tega sekali! Masa sama adik sendiri tega. Mana biayanya banyak lagi, astaga! Gaji pertama sudah terpotong hutang. Ampun deh!" Brian mengacak rambutnya, merasa frustasi dengan keadaan. Brian yang tidak pernah bermasalah dengan uang namun kini justru sebailiknya.
__ADS_1
''Seumur hidup, baru kali ini punya hutang. Biasanya mau pakai uang berapapun tinggal pakai. Hyung memang keterlaluan!"
Malam harinya, setelah mandi dan ganti pakaian di kontrakan, Brian kembali ke rumah sakit sekaligus membawakan beberapa pakaian ganti untuk Gea.
''Gea, ini pakaianmu.''
''Brian, terima kasih ya. Maaf udah bikin elo repot.''
''Nggak apa-apa kok.'' Jawab Brian dengan wajah lesunya.
''Eh, elo kenapa? Kok lesu gitu.''
''Nggak apa-apa kok.''
''Oh ya tolong ambilin air sama washlap ya. Gue mau nyeka tubuh gue sekaligus ganti baju. Mau mandi rasanya susah.''
''Oke baiklah.''
''Tapi elo tunggu di luar ya? Awas kalau ngintip.''
''Hahaha jangan khawatir. Sekarang aku keluar. Kalau tidak bisa memakai baju, aku bisa membantumu.''
''Hehehehe bercanda, Ge.'' Brian kemudian berlalu meninggalkan kamar Gea.
Malam itu, Belinda tengah bersiap untuk sebuah misi. Belinda memakai pakaian serba hitam mulai dari celana dan jaketnya. Tak lupa masker untuk membuat misinya semakin sempurnya. Ya, Belinda bersiap pergi ke rumah Arthur. Ia ingin mengintai Arthur yang pergi bersama Grace.
Baru juga sampai di depan rumah Arthur, Belinda segera mengikuti Arthur dari belakang dengan menggunakan taksi.
''Memang ya semua pria itu brengsek! Aku akan memberikan bukti ini pada Om Darwin dan Tante Sofi. Supaya mereka tahu siapa Kak Arthur yang sebenarnya. Meskipun mereka sudah tahu siapa Grace itu. Terutama untuk Papa dan Mama, dia sudah menghianati kepercayaan Papa dan Mama.'' Belinda terus mendumel dalam hati. Matanya terus memantau pegerakan mobil Arthur. Hingga akhirnya Arthur sampai di sebuah hotel. Dari kejauhan, Belinda melihat Arthur turun dari mobilnya lalu menuju lobi.
Rupanya Grace sudah menunggu Arthur disana.
''Wow you are so sexy Grace.'' Puji Arthur.
''And you are so handsome, Arthur. Baiklah, ayo kita pergi makan malam.'' Arthur lalu menyodorkan lengannya pada Grace. Grace dengan senang hati menerim lengan Arthur.
__ADS_1
''Wah-wah ini Indonesia, bisa-bisanya bule itu berpakaian seksi seperti itu. Tidak bisa di biarkan. Dia pasti sengaja berpakaian seksi untuk menggoda Kak Arthur.'' Gumam Belinda yang melihat Grace mengenakan gaun malam dengan belahan dada rendah, di tambah bagian punggungnya terekspose dengan sangat jelas. Mendadak Belinda menjadi insecure, melihat ukuran dadanya yang tidak sepadan dengan milik Grace.
''Pasti itu dadanya pakai silikon. Aku yakin itu bukan ukuran aslinya.'' Belinda semakin resah melihat Grace yang begitu akrab dengan Arthur. Dari kejauhan, Belinda segera memotret kebersamaan Arthur dan Grace. Di tambah Arthur yang begitu perhatian dengan Grace. Setelah mobil Arthur melaju, Belinda kembali mengikuti Arthur sampai pada akhirnya Arthur berhenti disebuah restoran mewah.
''Aku saja belum pernah di ajak ke restoran mewah ini. Eh malah mengajak wanita lain. Keterlaluan sekali Kak Arthur.'' Setelah melihat Arthur dan Grace turun dari mobil, Belinda lalu bergegas turun dari taksi. Ia mengendap dan masuk ke dalam restoran itu. Belinda lalu mencari tempat duduk, yang bisa memantau keduanya dari jauh. Tak lupa ia pura-pura membaca buku menu dihadapannya.
Belinda merasa kaget, saat seorang pelayan menghampirinya.
''Permisi Nona, mau pesan apa?''
''Eee, lemon tea ice aja.'' Jawab Belinda asal.
''Baiklah Nona, di tunggu ya.''
''Iya-iya.'' Belinda tahu itu restoran mahal, jadi memilih minuman itu lebih habis. Bisa-bisa uangnya habis dalam sekejap.
Sembari makan malam, Arthur dan Grace meeting bersama membicarakan konsep iklan nanti bagaimana.
''Jadi nanti kita iklannya melibatkan para pemulung juga sih, sementara kamu tetap sebagai aktivis lingkungannya. Nanti ada juga mereka yang berperan sebagai orang biasa dan juga anak kecil yang membuang sampah sembarangan begitu.'' Jelas Arthur.
''Iya itu ide bagus, Arthur. Aku suka dengan konsepnya. Jadi rencana syutingnya dimana?''
''Kita nanti syuting di pantai sebagai openingnya, terus berlanjut ke bank sampah.''
''Oke. Siap Tuan Arthur. Aku akan memberikan yang terbaik untukmu dan juga perusahaanmu. Aku akan bekerja dengan profesional.''
''Beruntung sekali kamu bintang iklannya, Grace. Jadi semuanya bisa teratasi dengan mudah. Karena untuk produk sebelumnya, ya biasalah ada aja artis yang bawel.''
''Berhubung kamu temanku, jadi aku tidak akan bawel.'' Seloroh Grace dengan tawa kecilnya. Hampir dua jam Arthur dan Grace menikmati makan malam sembari membahas pekerjaan. Belinda pun masih setia mengintai keduanya hanya dengan berbekal satu gelas lemon tea ice.
Arthur dan Grace kemudian meninggalkan restoran. Belinda gerak cepat mengikuti Arthur kembali ke hotel tempat Grace menginap.
Sesampainya di hotel, Arthur lalu mengantar Grace masuk ke dalam hotel. Melihat itu Belinda pun segera keluar dari taksi. Dengan mengendap, Belinda mengikuti Arthur masuk ke dalam.
''Wah, benar-benar gila kalau sampai merekaa berdua check in. Ini tidak bisa dibiarkan. Kak Arthur benar-benar brengsek juga seperti Dave,'' gerutunya dalam hati.
__ADS_1
Namun dugaan Belinda salah, Arthur hanya mengantar Grace sampai di depan pintu lift. Mengetahui itu Belinda berputar arah, mengambil langkah seribu dan segera keluar. Jangan sampai Arthur melihatnya.
Bersambung....