My Perfect Husband

My Perfect Husband
Naynay // Rosi // Ezriel


__ADS_3

Setelah jujur pada Rosi dan Ezriel tadi siang, Naynay jadi pendiam. Dia menumpahkan segala kesedihan dan kegelisahan hatinya di dalam pelukan Afif. Dia tidak lagi menangis, hanya saja masih tidak mau bicara.


"Nay, kau mau makan sesuatu?" Afif berusaha menghibur istrinya yang masih betah menyembunyikan wajah di keteknya.


"Nggak." Hanya membalas singkat, suaranya pun teredam oleh baju yang dipakai Afif.


"Kalau kau tidak berbicara sekarang, aku pastikan kau menyesal!" ancam Afif dengan suara tenang nan santai. Sudah hampir tengah malam dan istrinya masih setia membisu, bicara hanya kalau ditanya saja.


Naynay mengangkat wajahnya yang tadi terbenam di ketiak Afif, dia mengucek matanya yang sedikit bengkak. Bumil itu merasa kesal karena Afif tidak pernah paham akan perasaannya.


"Duduk di sini!" Afif menepuk pahanya dua kali.


Tanpa protes, Naynay langsung bergerak naik ke atas paha Afif. Setelah duduk di sana, dia kembali menyembunyikan wajahnya. Tapi kali ini di ceruk leher Afif.


"Kak, Rosi bakalan benci banget sama Nay." Akhirnya bicara juga karena takut dengan ancaman Afif tadi.


"Kenapa?" Tangan kekar Afif mengusap punggung dan rambut Naynay.


"Malu punya temen yang hamil di luar nikah," balas Naynay dengan suara yang nyaris tak terdengar. Dia pun juga takut jika Afif kembali mendiamkannya karena membahas anak yang dia kandung.


"Tidak usah dipikirkan, lebih baik kau tidur." Afif merebahkan tubuh Naynay dan mengecup pipi chubby istrinya itu.


Afif menepuk-nepuk punggung Naynay agar bumil itu segera tidur. Dia mengamati wajah imut istrinya yang mulai terlelap itu. Dikecupnya berkali-kali bibir manis Naynay sebelum ikut tidur dengan memeluk istrinya itu.


*****


Rosi berjalan gontai ke dalam kamarnya, setelah menutup pintu, dia terkejut mendapati Joan sudah ada di kamar. Pantas saja, ini sudah hampir tengah malam. Suaminya itu tersenyum lebar sambil merentangkan tangannya. Dengan langkah cepat, Rosi langsung menghambur ke dalam pelukan Joan.


"Kenapa pulangnya lama? Ke mana dulu sama Ezriel?" tanya Joan setelah Rosi melepas pelukannya.


"Makan di apartemen dia, habis itu kita nonton sampe ketiduran di ruang tamu." Rosi menengadah agar tidak ada air yang menetes dari matanya. Rasanya susah menahan emosi bila Joan ada di dekatnya.

__ADS_1


Joan menangkup wajah Rosi dengan kedua tangannya. "Mau denger cerita lebih lengkap nggak?"


"Cerita tentang Naynay?" Rosi memicingkan, matanya. Joan mengangguk dengan masih tersenyum lebar, dia sama sekali tidak pernah takut pada Rosi yang suka ngambek.


"Kamu tahu dan tidak memberitahu aku?" Rosi menepis tangan Joan yang masih memegang kedua pipinya.


Joan merebahkan tubuhnya di kasur dengan menarik tubuh Rosi hingga ikut berbaring. Tubuh Rosi yang mendarat di atas tubuhnya membuat Joan melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya itu.


"Jangan ngambek dulu, dengerin ini!" Satu kecupan diberikan Joan di kening Rosi.


"Naynay itu nggak ngasih tahu kamu tentang kehamilan dia supaya masih bisa sahabatan sama kamu. Rania sendiri udah tahu sejak awal, itu karena dia kebetulan ada di rumah Naynay saat Naynay pingsan."


Rosi mendengarkan sambil menggigit jari telunjuknya.


'Itu pasti karena ucapanku tentang wanita hamil saat itu, kan?'


"Naynay itu nikah sama Afif dua bulan yang lalu, diancam sama si Tuan Muda itu. Saat itu Naynay udah hamil empat minggu. Afif kasih aku undangan, tapi aku tidak menghadiri pestanya karena nggak mau kamu tahu sebelum Naynay sendiri yang cerita. Jadi kalau kamu ngerasa Naynay itu jahat karena udah nutupin semuanya, ingat kalau dia lakuin itu semua demi persahabatan kalian." Joan mengelus rambut istrinya yang bahunya mulai bergetar.


"Ayang, kamu kalau marah sama Naynay, jangan aku yang dipukul dong." Joan meringis menahan ngilu karena pukulan istrinya.


"Lalu, yang membuat sahabat kamu itu memaksa Naynay untuk nikah apa?" tanya Rosi bingung sambil mengusap dada Joan yang tadi dia pukul-pukul.


"Nah, kalau yang ini aku nggak tahu," dusta Joan dengan wajah santainya agar istrinya tidak curiga. Dia sudah tahu semuanya karena Afif sendiri yang menceritakannya. Namun dia tidak akan mengatakannya pada Rosi sekarang sebelum Naynay sendiri tahu bahwa Afif adalah ayah dari anak yang dia kandung.


"Nanti temenin aku ketemu sama Naynay, ya!" pinta Rosi sambil beranjak turun dan tubuh suaminya, tapi ditahan.


"Boleh, tapi kasih yang enak-enak dulu." Joan mengedipkan sebelah matanya membuat Rosi merinding. Sedetik setelahnya, tubuh Rosi sudah berada di bawah kungkungan Joan. Laki-laki itu mulai bergerak nakal dengan menciumi semua bagian tubuh istrinya yang dia mau.


Rosi hanya bisa pasrah, kukunya sudah menciptakan lukisan merah abstrak di punggung Joan. Tubuh mereka yang sudah tidak ditutupi pakaian itu saling menempel dan memberikan sensasi luar biasa ketika bergesekan.


*****

__ADS_1


Di sebuah apartemen mewah, seorang laki-laki sedang terduduk di tempat tidur dengan guling yang berada di pangkuannya. Raut wajah kecewa masih kentara terlihat di wajah tampannya.


"Suka sama istri orang itu dosa kan, ya?" Ezriel, laki-laki itu bergumam sambil meremas guling di pangkuannya.


Lelah dengan posisi duduknya, Ezriel berbaring telungkup di atas tempat tidurnya. Meraih hpnya yang ada di sebelahnya, laki-laki itu membuka galeri dan melihat satu per satu foto candid wanita imut di sana.


"Ini yang terakhir kalinya aku lihat foto-foto kamu, Nay." Jari-jemarinya mulai menghapus foto yang berjumlah ratusan itu dari galerinya.


"Sisain satu boleh dong," gumamnya tertawa miris setelah menyisakan satu foto Naynay yang bibirnya belepotan oleh ice cream.


Setelah menghapus foto-foto itu, Ezriel melempar hpnya ke tempatnya semula dan turun dari tempat tidur. Mendadak merasa lapar, tapi malas masak. Jadi dia memakai jaket dan mengambil kunci mobilnya untuk mencari makanan di pinggir jalan.


Sebelum ini, Ezriel tinggal di luar negri karena dia berkuliah di sana. Dan ketika pulang kembali ke tanah kelahirannya, dia bertemu dengan wanita imut yang merupakan sahabat dari adik sepupunya. Dan cerita selanjutnya, kalian udah tahu dong, ya...


Untuk mengobati patah hatinya, Ezriel akan melampiaskannya pada makanan. Lupakan diet untuk menjaga perut kotak-kotaknya, dia akan olahraga keras nantinya. Dia memesan makanan dari satu per satu gerobak pedagang kaki lima di pinggir jalan. Setelah puas membeli makan, dia kembali ke apartemennya.


"Nay, jika aku mati karena kebanyakan makan, kamu harus tahu bahwa aku mencintaimu."


Biasanya orang itu akan mabuk karena alkohol, kan? Nah ini, laki-laki ini mabuk karena kebanyakan makan. Cilok, martabak manis, gorengan, bakso mercon, dan masih banyak lagi makanan yang membuat dia mabuk.


Mungkin kalau Rosi melihatnya, bisa dipastikan bahwa laki-laki itu akan menjadi bulan-bulanan istri Joan itu selama satu bulan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Aku capek banget, sumpah!!! Padahal kerjaan cuma rebahan doang 😢


__ADS_2