
Di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang temaram, seorang laki-laki terkapar di lantai. Bekas cambukan dan lebam biru memenuhi punggungnya. Wajah laki-laki itu juga sudah dipenuhi luka, bibirnya apalagi.
"Minxue Wang, kau jauh-jauh ke sini untuk membunuh Nona muda?" tanya Ryan yang duduk di kursi yang tak jauh dari laki-laki itu.
Ryan berdiri dan berjalan mendekat, berjongkok dan mencengkram leher laki-laki itu. "Tampaknya hukuman untuk keluargamu masih kurang, ya?"
Laki-laki yang bernama Minxue itu tertawa mengejek. "Sedikit lagi dan aku bisa membunuh wanita itu, aku ingin melihat seperti apa hancurnya si sombong itu!" ucapnya sinis.
Ryan membenturkan kepala laki-laki itu dengan ke keras ke lantai. Kemudian dia berdiri dan kembali duduk di kursi tadi. Untungnya Hendrayan sudah dia suruh pulang, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan pria paruhbaya itu jika mendengar ucapan laki-laki tadi.
"Orang kaya memang selalu bertindak sesuka hati mereka," cibir Minxue sambil mengelap darah di bibirnya.
"Dan orang tamak gila harta selalu menghalalkan segala cara demi uang," balas Ryan santai dan memandang rendah Minxue.
"Sepertinya otakmu yang bodoh itu semakin diperbodoh orang tuamu. Gunakan akal sehatmu! Apa mungkin seorang Afif Cavin Alvarendra mau turun tangan langsung mengurus pengusaha kecil seperti kalian jika tidak ada masalah?" ucap Ryan panjang lebar sambil mengibaskan kakinya dan melipatnya.
Minxue hanya diam, tapi mata tajamnya menyiratkan rasa penasaran yang besar.
"Orang tuamu ikut andil menjebak manusia sempurna itu, terlebih lagi mereka melibatkan gadis SMA yang tidak tahu apa-apa. Ya memang awalnya tuan muda hanya membuat perusahaan kalian bangkrut. Tapi setelah melihat kondisi mental gadis yang sekarang menjadi istrinya itu, dia mengubah rencananya." Ryan tertawa mengejek melihat raut wajah Minxue yang sedikit terkejut.
"Seharusnya kalian bersyukur masih bisa hidup!" imbuhnya penuh penekanan dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu begitu keras.
Minxue berdecak kesal dengan hati yang panas. Jadi orang tuanya membohonginya? Mereka mengatakan bahwa Afif membuat perusahaan mereka bangkrut karena alasan yang tidak jelas. Kedua orang tuanya mengatakan itu ketika Minxue menjenguk ke penjara.
"Kalian menjadikanku alat balas dendam, huh?" gumam Minxue berusaha duduk dan mengelap sisa darah yang masih ada di bibirnya.
Laki-laki itu tersenyum sinis, dia bangkit berdiri susah payah dan berjalan tertatih keluar dari ruangan itu. Jangan salah paham, Ryan membiarkan dia lepas karena laki-laki itu sudah tahu watak asli Minxue.
Anak semata wayang keluarga besar Wang itu merupakan psikopat yang kejamnya mengalahi belalang sembah betina. Dia tidak segan-segan memutilasi korbannya di tempat kejadian dan merekamnya, lalu diunggah di Dark Web.
Orang tua, psikopat tidak pernah peduli pada hubungan apapun. Jika dia merasa terkhianati, siapapun itu, tidak akan ada kata maaf. Minxue berjalan susah payah menuju mobil hitam yang terparkir di dalam bangunan di mana dia disekap tadi. Dia tersenyum ketika memasuki mobil itu, mobil yang disiapkan Ryan untuknya.
__ADS_1
"Temui ajal kalian, Bangsat!!!" geramnya kemudian tertawa layaknya Joker. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi dengan tawa keras dari laki-laki yang mengendarainya.
*****
"Kau sudah mengurusnya?" tanya Afif yang duduk di atas sofa kamarnya.
Ryan mengangguk. "Sudah, Tuan Muda."
"Asingkan dia ke tempat paling sepi setelah dia mengurus dua lalat itu! Aku tidak akan memaafkan orang yang mencoba membunuh istri dan calon anakku!" ucap Afif yang sebenarnya masih dikuasai kemarahan.
"Baik, Tuan Muda."
Ryan menoleh menatap ke arah tempat tidur di mana Naynay tidur dengan memeluk selimut yang dia gulung. Semoga ini kejadian terakhir yang dialami Nona mudanya itu. Hampir saja berlian keluarga Cavin dan Pradipta itu terluka dan kehilangan bayinya.
"Temani Silla! Dia masih belum tidur karena panik melihat Naynay yang menangis histeris tadi," jelas Afif menepuk pundak Ryan dan dia berjalan menuju tempat tidur. Menghempaksan tubuhnya di samping istrinya yang sama sekali tidak terganggu.
Ryan segera keluar dari kamar Afif dan berjalan menuruni tangga menuju kamar Silla yang ada di lantai satu. Dengan perlahan, Ryan membuka pintu kamar gadisnya itu dan berjalan tanpa suara menuju sofa.
"Kenapa kau belum tidur?"
Suara itu langsung membuat Silla menoleh ke belakang, di mana Ryan berdiri dengan tangan bersidekap di depan dada.
"Nggak bisa tidur," jawab gadis itu pelan dan menghempaskan tubuhnya di sofa yang tadi dia duduki.
Ryan berjongkok di samping Silla yang berbaring dan mengusap kepala gadisnya itu. "Nona Nay baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir."
"Tapi tadi kakak ipar nangis, kak Afif juga belum cerita." Gadis itu mengubah posisi tubuhnya menjadi miring menghadap Ryan.
"Ada yang mencoba menyakiti nona muda, tapi aku sudah mengurusnya. Sekarang tidurlah!" ucap Ryan sambil menyubit gemas pipi Silla.
Silla menggeleng kecil, rasa kantuk seolah menghindarinya sekarang ini.
__ADS_1
"Mau apa, hhmm?" tanya Ryan yang paham dengan tatapan Silla yang menyiratkan ingin sesuatu.
"Kapan Kakak nikahin Cilla?" tanya Silla pelan membuat Ryan tergelak sampai terduduk dari posisi sebelumnya. Silla yang kesal pun beranjak duduk dan memandang kesal pada Ryan.
Setelah bisa menghentikan tawanya, Ryan ikut duduk di samping Silla. Dipeluknya dengan erat tubuh gadis itu dan ditepuk-tepuknya pundak itu.
"Kau baru tamat SMA beberapa bulan yang lalu, fokuslah pada pendidikanmu dulu!" ujar Ryan serius. Silla hanya diam, dia tahu kalau Ryan belum selesai berbicara.
"Ada beberapa hal yang aku pikirkan sebelum menikahimu, pendidikan dan usia yang paling utama. Aku ingin kau bisa menikmati masa-masa kuliah sebelum aku kurung di rumah nantinya setelah menikah. Aku tidak mengizinkanmu bekerja nantinya karena itu adalah kewajibanku." Ryan menjeda ucapannya sebentar dengan tarikan napas panjang.
"Ada yang lebih aku takutkan, hamil di usia muda yang beresiko. Nona muda saja harus selalu dipantau oleh dokter karena hamil di umur yang masih belasan tahun. Aku percaya kalau nona muda itu kuat, tapi kalau kau, aku tidak yakin. Aku pun tidak kuat jika nantinya terjadi sesuatu yang buruk padamu ketika hamil."
Silla mempererat pelukannya pada tubuh Ryan. Dia saja tidak memikirkan sampai sejauh itu, namun laki-laki itu begitu mengkhawatirkannya. Tapi ketakutan kehilangan Ryan juga membuatnya berkeinginan untuk segera menikah, walau umurnya masih 19 tahun.
"Otakmu itu jenius, kau bisa lulus kuliah satu tahun lebih cepat jika lebih giat!" imbuh Ryan sambil mengecup pucuk kepala Silla.
Silla tersenyum lebar menangkap maksud dari ucapan terakhir Ryan. Jika dia bisa lulus lebih cepat, maka akan lebih cepat pula laki-laki itu menikahinya. Silla tertawa dan kepalanya mendusel di dada bidang Ryan.
"Oke, tiga tahun!" ucap Silla semangat membuat Ryan tertawa.
"Sekarang tidurlah!"
.
.
Segitu dulu, ya....
Vote, pleaseš¤”
.
__ADS_1
.