My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 112 Vitamin K lagi


__ADS_3

Setelah sarapan, Arsen dan Sheena berkema dan pamit kepada kedua orang tuanya. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan karena Sheena meminta Arsen untuk mengantarkannya ke sekolah Arthur.


''Nanti pulang jam berapa?'' tanya Arsen.


''Belum tahu.''


''Biar Pak Roni yang menjemputmu nanti.''


''Iya.''


''Nanti bawakan aku makan siang ya.''


''Mau makan apa?''


''Seperti biasa, sesuai menu harianku.''


''Setelah dari sekolah Kak Arthur, aku langsung ke kantormu membawakan makan siang. Pastikan nanti tidak lembur karena kita harus menghadiri pagelaran musik Kak Arthur.''


''Iya aku mengerti. Aku akan kembali lebih awal.''


Akhirnya mereka sampai di depan sekolah seni milik Arthur. Sebelum keluar dari mobil, Arsen menahan Sheena.


''Ada apa?'' tanya Sheena tidak mengerti.


''Kita sudah sepakat untuk selalu saling memberi vitamin K.''


''Iya tapi kan katamu hanya sebelum dan sesudah bangun tidur.''


''Mmm peraturannya aku ubah. Setiap kita akan berpisah atau aku mau pergi begitu juga sebaliknya, kita harus melakukannya.''


''Sheena, pria disampingmu ini memang semakin aneh.'' Gumam Sheena dalam hati. Sheena lalu memejamkan matanya dan Arsen mengecup bibir Sheena.


''Sekarang giliranmu yang mengecupku,'' pinta Arsen.


''Bukankah sama saja, Arsen.''


''Beda Sheena. Tadi aku yang menciummu tapi sekarang giliranmu yang menciumku.''


Sheena mendengus. Ia lalu menangkupkan kedua tangannya pada wajah Arsen. Cup! Sheena mendaratkan bibirnya pada bibir Arsen. Arsen lalu menahan kedua tangan Sheena yang menangkup wajahnya. Tanpa ragu Arsen meraih tengkuk Sheena dan mel...u...mat kembali bibir Sheena. Entahlah Sheena tidak bisa menolak dan justru menikmati setiap lu...matan yang Arsen berikan dengan lembut itu. Tiga menit untuk sebuah vitamin sebelum keduanya terpisah untuk sementara. Arsen melepaskan pagutannya, menyeka bibir Sheena yang basah lalu memberikan kecupan di kening Sheena. Kecupan kening yang baru pertama kali Arsen berikan pada Sheena. Sheena menjadi gugup dan salah tingkah.


''Turunlah!'' Kata Arsen.


''Iya.'' Sheena kemudian turun dari mobil. Arsen kembali melajukan mobilnya setelah melihat Sheena menghilang dari pandangannya.


Sheena melangkahkan kakinya mencari Arthur di ruangannya. Saat membuka pintu, tampak Arthur masih terlelap di atas sofa. Sheena meletakkan rantang makanan di atas meja. Sheena mendekat lalu mengguncang pelan tubuh Arthur.

__ADS_1


''Kak, bangun!"


''Aku masih mengantuk, Mah.'' Kata Arthur yang menganggap bahwa itu adalah Mamanya.


''Kak ini aku, Sheena.'' Ucap Sheena sambil menghuncang kembali tubuh Arthur. Mendengar nama Sheena, Arthur terkesiap. Ia lalu bangun dari sofa sambil mengucek matanya. Sheena tersenyum sambil merapikan rambut Arthur yang berantakan. Lagi-lagi Arthur masih merasa salah tingkah dengan perhatian Sheena.


''Kakak lucu sekali muka bantalnya.'' Ucap Sheena terkekeh.


''Ada apa sepagi ini ke sekolah? Acaranya kan nanti malam.''


''Aku membawakan Kakak sarapan. Katanya mau menginap di rumah Mama tapi kenapa malah tidur disini?''


''Aku kelelahan jadinya malas pulang,'' jawabnya enteng.


''Sheena, temani aku makan ya.'' Lanjut Arthur.


''Iya. Oh ya ini aku bawakan pakaian untuk Kakak.''


''Terima kasih.''


Sheena lalu membuka rantang dan menghidangkannya untuk Arthur.


''Kamu sama siapa?''


''Tadi Arsen yang mengantarku tapi dia langsung ke kantor.''


''Iya aku datang.''


''Baguslah.'' Jawabnya sambil melahap makanannya.


''Kakak tidak mengundang Belinda juga?''


''Untuk apa aku mengundangnya? Dia mana tertarik dengan hal seperti ini.''


''Di coba saja dulu, Kak. Siapa tahu dia mau. Supaya hubungan kalian semakin dekat juga.''


''Aku tidak menyukainya Sheena.''


''Memang kriteria wanita idaman Kakak seperti siapa?''


''Sepertimu,'' celetuk Arsen tanpa sadar. Sheena mengernyit mendengar ucapan Arthur. Arthur buru-buru meralat ucapannya.


''Mmmm aku ingin sikapnya sepertimu, bukan seperti Belinda yang sifatnya mirip sekali dengan Arsen yang menyebalkan.''


''Kakak kan belum mengenalnya lebih dalam. Siapa tahu ada sisi lain dari Belinda yang belum Kakak ketahui.''

__ADS_1


''Aku sudah tahu semuanya sejak dulu dan dia masih sama menyebalkannya. Dia tidak cocok di jadikan istri. Gadis manja seperti itu mana bisa di jadikan istri lagi pula dia juga sudah punya pacar dan itu bagus menurutku. Sudahlah, jangan membahas itu lagi. Biarkan aku menikmati sarapanku dulu.''


''Iya-iya, maaf sudah membuatmu kesal.''


Arthur tersenyum. ''Aku tidak kesal denganmu, Sheena.''


-


Saat sedang rapat, presentasi yang seharusnya Arsen yang menyampaikan tapi justru Mega yang menggantikannya. Arsen tampak sibuk sendiri dengan layar laptopnya. Dia kembali berselancar mencari tentang tugas dan kewajiban suami istri. Arsen tersenyum saat ada kalimat menggauli istri.


''Astaga, bagaimana cara menggaulinya?'' gumamnya dalam hati sambil senyum-senyum sendiri. Arsen yang hampir begitu pelit dengan senyum, membuat seisi ruangan memusatkan perhatian pada dirinya.


''Jadi sebelum melakukan itu harus foreplay dulu. Seperti bersikap romantis, mesra, menciumnya dan menyentuh titik rangsang seorang wanita. Astaga, hal seperti ini ada triknya juga.'' Gumam Arsen dalam hati. Arsen tidak sadar jika rapat hari itu terpusat dengan dirinya. Soni merasa ada yang aneh dengan gelagat bosnya. Ia lalu mendekati kursi bosnya, ia membungkuk dan berbisik.


''Tuan, anda sedang menjadi pusat perhatian.'' Mendengar bisikan Soni, Arsen mengangkat wajahnya dan melihat sekeliling, bahwa rapat berhenti sejenak karena dirinya.


''Oh maaf-maaf. Silahkan lanjutkan! Aku sedang membaca artikel konyol tentang diriku.'' Kata Arsen yang kembali dengan gaya coolnya.


''Artikel konyol apa? Artikel cara berhubungan suami istri? Pasti Tuan sedang traveling,'' batin Soni sambil melirik kearah laptop Arsen.


Setelah rapat selesai, Arsen kembali ke ruangannya. Ia tidak menyadari bahwa gelang yang ia pakai, menunjukkan bahwa ia sedang bahagia.


''Bulan depan aku akan melaunching gelang ini.'' Gumamnya sambil mencium gelangnya itu.


-


Setelah menemani Arthur sarapan, Sheena hendak berpamitan. Arthur mengantarnya sampai kedepan.


''Sheena terima kasih ya, kamu memang adik yang baik.''


''Kakak juga Kakak terbaik.''


''Mmm bolehkah aku memelukmu?'' pinta Arthur ragu-ragu. Sheena tersenyum sambil mengangguk dan Arthur pun memeluknya.


''Sheena, aku sungguh merindukanmu. Sampai kapan aku bisa menghapus rasa ini. Terkadang dia hilang tapi terkadang muncul lagi,'' gumam Arthur dalam hati.


''Kak, semangat ya untuk pagelaran kali ini. Anak didikmu luar biasa sekali. Aku sangat bangga memiliki Kakak yang hebat dan peduli terhadap mereka yang kurang beruntung.''


''Terima kasih Sheena. Aku juga bangga memiliki adik sepertimu. Tidak perlu pedulikan lagi perasaanku sebagai seorang pria. Karena sekarang duniamu adalah Arsen. Buka hatimu untuknya.''


''Biarlah semua itu terjadi dengan seiring berjalannya waktu, Kak.''


''Jangan bilang kalau kamu masih mencintai Fandi.'' Ucap Arthur seraya melepaskan pelukannya.


''Aku juga bingung dengan perasaanku. Sudahlah biar waktu yang menjawab semua. Aku pergi dulu ya, Kak.''

__ADS_1


''Baiklah hati-hati Sheena.'' Arthur lalu mengecup kening Sheena. Sheena sangat terkesiap mendapatkan kecupan hangat itu dari Kakaknya. Namun Sheena hanya bisa terdiam tanpa bisa memarahinya. Bukankah sudah sewajarnya seorang Kakak menyayangi adiknya? Itulah yang ada dalam benak Sheena.


Bersambung....


__ADS_2