
Setelah Arsen berangkat ke kantor, Sheena lalu menelepon Mamanya.
''Halo Mama, Mama sedang apa?''
''Mama sedang di rumah kaca merawat tanaman-tanaman Mama. Ada apa sayang? Kamu baik-baik saja kan?''
''Iya Mah. Aku baik kok. Oh ya Mah, nanti malam Sheena dan Arsen mau kerumah. Katanya Arsen ingin memakan masakan Mama yang kemarin.''
''Makanan yang mana sayang? Biar Mama masakin?''
''Itu lho Mah yang waktu kita menginap, ada gulai ikan dan apalagi itu Mah.''
''Oh yang itu tapi bukannya Arsen tidak makan, makanan seperti itu ya sayang?''
''Makanya itu Mah, Arsen jadi aneh. Beberapa hari ini Arsen jadi aneh, Mah. Dia biasanya tidak mau nasi padang, eh kemarin malah minta Mah. Ini saja nanti Arsen minta di masakin sayur lodeh, aneh banget kan Mah? Apa yang Sheena suka, sekarang dia menyukainya. Tapi malah kebalikannya, Sheena sekarang yang menyukai apa yang Arsen makan. Dan yang paling aneh dia tidak seribet biasanya soal kuman dan bakteri, Mah.''
''Itu artinya kalian sudah menyatu satu sama lain. Jadi secara otomatis selera makan kalian juga seperti itu. Oh ya sayang, kamu sudah pernah tes kehamilan belum setelah menikah?''
''Belum sama sekali, Mah. Apanya mau dites, Mah. Kita awal-awal nikah tidak saling cinta, bagaimana mau menikah. Kita kan berhubungan baru akhir-akhir bulan ini saja.''
''Nah itu, kalau hitungan Mama kalian menikah siri sampai resmi kira-kira sudah masuk 4 bulanan kan? Bulan lalu pasti kalian sedang hot-hotnya, kenapa tidak kamu coba tes saja?''
''Ihh Mama apaan sih, hot-hotnya.''
''Kamu sendiri kan yang cerita kalau kamu dan Arsen sudah unboxing,'' gurau Nyonya Sofi dengan tawa kecilnya diseberang sana.
''Mama ini bikin Sheena malu saja.''
''Ya sudah sayang, kamu coba tes. Dulu Mama juga seperti itu, selalu penasaran sampai akhirnya Mama hamil kamu dan Arthur.''
''Tapi Sheena lupa dan tidak pernah hitung kapan terakhir haid, Mah.''
''Ya kamu coba ingat-ingat lagi, bulan ini sudah apa belum? Terus bulan lalu kamu ingat-ingat lagi, tanggal muda atau tua haidnya. Tidak ada salahnya untuk mengecek.''
''Nanti kalau hasilnya negatif gimana Mah? Sheena takut kecewa.''
''Tidak apa-apa sayang, kan bisa di coba lagi. Mama juga tidak akan menuntut kamu dan Arsen untuk secepatnya memiliki momongan.''
''Baiklah Mah, Sheena akan mencoba untuk mengeceknya. Ya sudah sayang, kalau begitu selamat mencoba. Dan mama tunggu kalian dirumah nanti malam ya.''
''Iya Mah. I love you, Mah.''
''I love you too sayang.''
Sheena kemudian menuju kamarnya, ia mengambil tespek di laci yang memang sudah Arsen siapkan sejak mereka pertama kali melakukan hubungan suami istri. Meskipun begitu, Arsen tidak pernah memaksa atau meminta Sheena untuk cek kehamilan. Mengingat Sheena pernah memiliki riwayat kista di rahminya. Arsen khawatir jika permintaannya itu akan membuat Sheena merasa tertekan dan merasa dituntut.
Kini Sheena sedang harap-harap cemas menunggu hasil tespek itu. Sambil memejamkan mata, Sheena mengambil hasil tespek itu. Dan perlahan ia membuka matanya. Mata Sheena berkaca-kaca tidak percaya dengan hasil yang ia lihat. Dua haris merah, POSITIF!
__ADS_1
''Aku hamil? Ini serius? Alhamdulillah. Arsen pasti senang mendengarnya.'' Air kata bahagia menetes membasahi wajah Sheena.
''Aku akan memberikan kejutan ini saat makan siang di kantor.'' Sheena lalu meletakkan tespek itu dalam sebuah kotak berwarna hitam. Dan kini ia dengan semangat mulai memasak untuk suaminya.
Setelah semuanya selesai dan siap, Sheena segera ke kantor. Tak lupa hasil tes kehamilan sudah Sheena masukkan kedalam tasnya sejak tadi. Sheena sudah tidak sabar ingin bertemu Arsen untuk memberikan kabar bahagia ini.
Setelah perjalanan kurang lebih dua puluh menit, akhirnya Sheena sampai juga di kantor. Sheena membalas sapaan para karyawan dengan ramahnya. Hingga akhirnya Sheena sampai di ruangan Arsen. Namun ternyata Arsen belum kembali karena jam makan siang masih setengah jam lagi. Sheena sengaja datang lebih awal untuk mengejutkan suaminya. Sembari menunggu, Sheena memilih membaca buku koleksi Arsen. Hal yang jarang sekali di lakukan oleh Sheena.
Hampir empat puluh menit Sheena menunggu, akhirnya seseorang yang ia nanti datang juga.
''Sayang, kamu sudah lama disini?''
Melihat suaminya datang, Sheena kemudian beranjak dari duduknya. Sheena dengan manja memeluk suaminya.
''Hai suamiku, sudah setengah jam lebih aku disini.''
''Maaf ya sudah membuatmu menunggu lama.'' Arsen membalas pelukan Sheena seraya mengecup pucuk kepala istrinya.
''Ya sudah, makan yuk! Aku selama meeting tadi membayang betapa lezatnya masakan kamu.''
''Iya, aku sudah memasak spesial untuk kamu.''
Tak banyak bicara, Arsen dengan antusias menikmati makanan buatan Sheena.
''Sayang, aku sudah membawakan kamu sendok.''
''Kamu sudah cuci tangan? Nanti tangan kamu banyak kumannya.''
''Aku sudah cuci tangan tadi, kebetulan tadi habis dari toilet. Tenang saja, aku sudah bersahabat dengan kuman dan bakteri.''
''Sejak kapan?''
''Mmmm tidak tahu. Sepertinya baru akhir-akhir ini. Aku suapin kamu ya?''
''Aku tidak mau makan ini, sayang. Aku ingin makan masakan Jepang.''
''Oke baiklah, aku pesankan sekarang saja ya?''
''Tidak mau! Aku mau makannya di tempat.''
''Oke baiklah. Kamu akhir-akhir ini seleranya juga berubah. Biasanya kamu tidak mau makan seprti itu. Bahkan kamu tidak merasa kenyang kalau belum makan nasi.''
''Iya juga ya, aku baru sadar. Biasanya aku eneg makan makanan seperti itu. Kenapa ya sayang? Sepertinya selera kita tertukar.''
''Benar juga ya apa kata kamu, tapi aneh saja ya? Kenapa ya kira-kira?'' Arsen sendiri baru menyadari perubahannya dan ia sendiri merasa heran.
''Ya sudahlah, yang penting kamu habiskan dulu makanannya.''
__ADS_1
''Iya sayang, terima kasih ya. Masakanmu enak walaupun sedikit asin.''
''Masa sih? Soalnya aku tidak mencicipinya. Entah kenapa eneg aja melihat yang bersantan. Maaf ya.''
''Tidak apa-apa. Melihat kamu rasanya jadi gurih.''
''Gombal banget sih.'' Keduanya pun tertawa.
Setelah selesai makan, Arsen segera mencuci tangannya.
''Sayang, kumur-kumur juga ya. Aku tidak mau kamu bau ikan. Yang bersih mencucinya. Aku ingin kamu selalu wangi.'' Pesan Sheena pada suaminya.
''Iya-iya jangan khawatir.'' Jawab Arsen dengan senyum kecilnya. Setelah mencuci tangan dan berkumur sampai bersih, Arsen kembali duduk bersama Sheena.
''Baiklah, mau pergi sekarang? Aku masih ada waktu dua jam, sayang. Karena persiapan launching sebentar lagi."
''Tunggu sebentar, aku ada hadiah untuk kamu.''
''Wah, hadiah? Sudah makan enak, eh di kasih hadiah juga. Istriku memang pengertian sekali. Hadiah apa sayang?''
Sheena lalu mengeluarkan sebuah kotak hitam dari dalam tasnya. Arsen berpikir di dalam kotak itu berisi sebuah jam tangan.
''Apa ini jam tangan?'' tanya Arsen.
''Buka saja dulu, sayang. Tapi tutup mata dulu ya.''
''Sudah di depan mata, disuruh tutup mata juga.''
''Ayolah tutup mata, supaya kamu kaget melihat isinya.''
''Astaga, kamu ini ada-ada saja. Baiklah aku akan membukanya sambil menutup mata dulu.'' Arsen dengan senang hati menuruti keinginan istrinya itu. Arsen memejamkan matanya sambil membuka kotak itu. Dan setelah kotak terbuka, Arsen langsung membuka matanya. Air mata Arsen mengalir begitu saja saat melihat isi kotak itu.
''Sheena, ini maksudnya kamu hamil?''
''Iya, aku hamil.'' Sheena pun ikut menangis juga. Arsen kemudian memeluk erat Sheena dan menciumi wajah Sheena.
''Terima kasih ya, aku bahagia sekali. Terima kasih Tuhan. Aku akan menjaga dengan baik titipanmu ini. Kamu sudah periksa sayang? Dan kapan kamu mengeceknya?''
''Baru tadi, Mama Sofi yang membujukku untuk mencoba mengecek. Aku juga tidak menyangka mendapat hasil dua garis. Apalagi sebelumnya aku punya kista.''
''Aku bahagia sekali, sayang. Setelah makan siang nanti, kita ke dokter ya? Kita periksa kandungan kamu.''
''Iya sayang.''
''Aku semakin cinta sama kamu. I love you Sheena-ku.'' Arsen menciumi kembali wajah Sheena bahkan kedua tangan Sheena tak luput dari kecupannya. Saking bahagianya Arsen, mendapati Sheena sudah berbadan dua.
''I love you too suamiku.''
__ADS_1
Bersambung.... Yukkk like, komen dan votenya yaa... Dukung juga karya baru author "Promise Of Love" makasih ya 🙏💞