My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 208 Rencana Pertunangan


__ADS_3

Arthur sudah rapi dengan jas biru tua yang ia padukan dengan kaos putih dan celana dengan warna yang senada dengan jasnya. Setelah siap, ia segera turun kebawah. Namun sudah sampai di ruang tengah, ia belum melihat Belinda.


“Belinda, dimana kamu?” teriak Arthur memanggil Belinda. Namun Belinda sama sekali tidak menyahut. Arthur kemudian pergi menuju kamar Belinda.


“Bel, sudah siap?” panggil Arthur sambil mengetuk pintu kamar Belinda. Mendengar panggilan Arthur, Belinda kemudian membuka pintunya. Dan Arthur dibuat terpukau dengan penampilan Belinda malam itu. Sebuah dress putih brokat dengan bahu terbuka dengan panjang selutut, membuat Belinda sangat anggun namun tetap terlihat imut dengan model rambut cepolnya.


“Sudah, tapi aku tidak bisa mengancingkan resletingnya.” Ucap Belinda sambil menunjukkan punggungnya pada Arthur.


“Ba-baiklah, aku bantu.” Ucapnya dengan tergagap. Melihat punggung mulus Belinda, mendadak membuat Arthur panas dingin sebagai seorang pria normal. Ditambah ia terbayang adegan ciuman yang baru saja terjadi. Belinda lalu berbalik dan Arthur kemudian membantu menaikkan resleting gaun Belinda.


“Sudah.” Ucap Arthur.


“Terima kasih.” Singkat Belinda. Dan suasana pun menjadi sangat canggung setelah adegan ciuman di kamar mandi.


Mereka kemudian segera berangkat menuju lokasi pertemuan. Melihat mobil Arthur keluar dari rumahnya, Erick menghela.


“Kenapa juga aku harus menguntit mereka. Pasti Belinda dan Tuan Arthur ada pekerjaan. Bodoh sekali! Status hubunganku dengan Belinda pun masih pendekatan juga. Sebaiknya aku kembali ke hotel saja.” Gumam Erick sembari memutar arah mobilnya.


*Di dalam mobil…


“Kak, nanti apa yang harus kita katakan?” tanya Belinda mencoba membuka obrolan.


“Menurutmu bagaimana setelah apa yang terjadi pada kita tadi.”


“Ka-kamu menciumku dulu tadi. Pasti kesempatan kan?” kesal Belinda yang berusaha menutupi perasaan salah tingkahnya.


“Terus, kenapa kamu mau? Kenapa tidak menolak?”


“Apa alasanmu tiba-tiba menciumku? Apa memang otakmu yang mesum? Pasti kamu juga melakukan hal yang sama pada Grace dan wanita lain kan?”


“Jaga ucapanmu, Bel. Memang aku laki-laki macam apa yang mudah mengumbar ciuman? Apa yang terjadi tadi, juga tanpa rencana. Semua terjadi begitu saja di luar nalarku. Apalagi kamu juga menyambutnya kan? Pasti kamu juga merasa ciumanku hebat kan? Kamu juga menikmatinya kan?"


“Ah sudahlah, jangan membahas ciuman tadi. Sebaiknya fokus saja menyetir.” Kesal Belinda. Ia malu dan salah tingkah mendengar ucapan Arthur. Apalagi dengan kalimat terakhir yang di ucapkan Arthur."


“Oke. Anggap saja aku khilaf tadi.” Ketus Arthur.


“Enak saja bilang khilaf setelah menciumku,” gerutu Belinda dalam hati.


Sesampainya di restoran, kedua orang tua Arthur dan Belinda sudah menunggu disana.


“Mama-Papa! I miss you so much.” Ucap Belinda seraya menghambur ke pelukan kedua orang tuanya. Arthur pun juga menyapa dan memeluk kedua orang tuanya.


“I mis you too, darling. Kita sudah biasa berjauhan antar benua tapi baru terpisah antar pulau, rasanya kangen sekali.” Ucap Nyonya Dira.


“Papa juga merasakan hal yang sama, sayang.” Sahut Tuan Keenan. Setelah puas memeluk kedua orang tuanya, Belinda kemudian menyapa kedua orang tua Arthur dan bergantian memeluk mereka.

__ADS_1


“Om-Tante, bagaimana kabarnya? Menyenangkan sekali bisa berlibur bersama.”


“Kami baik sayang. Berlibur sekaligus mengerjakan bisnis, sayang.” Ucap Nyonya Sofi.


“Bagaimana kabarmu Belinda?” tanya Tuan Darwin.


“Belinda baik sekali, Om.”


“Oh ya Tante, terima kasih ya untuk dressnya ini. Aku sangat menyukainya.”


“Sama-sama sayang. Kamu cantik sekali dan juga menggemaskan.” Kata Nyonya Sofi seraya mengecup kedua pipi Belinda.


“Ayo kita duduk dan makan dulu.” Sahut Tuan Keenan. Suasana makan malam pun sangat tenang dan penuh kehangatan.


“Arthur, bagaimana Belinda? Apa dia bisa bekerja dengan baik?” tanya Tuan Keenan.


“Setidaknya sudah ada perkembangan, Om.” Jawab Arthur sambil tersenyum.


“Keenan, apa yang kamu lakukan pada Belinda bukankah berlebihan? Kamu menyuruhnya bekerja dan menyuruhnya tinggal disebuah kontrakan kecil dan sempit. Apalagi dia ini anak gadis bungsu mu.” Kata Tuan Darwin.


“Tidak Darwin, itu tidak berlebihan. Aku ingin dia mandiri dan tidak manja. Brian pun juga aku perlakukan sama. Ya, supaya mereka tahu bagaimana rasanya bekerja dan mendapatkan uang dengan keringat sendiri.” Jelas Tuan Keenan.


“Tapi aku khawatir dengan Belinda, Keenan. Apalagi dia tidak terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Apa dia tidak kesulitan?” sahut Nyonya Sofi.


“Kamu tidak usah mendukungnya untuk manja, Sofi. Aku ingin dia mandiri seperti Sheena. Kita tidak pernah tahu roda kehidupan seperti apa nanti. Jadi lebih baik jika dia bisa menyesuaikan diri dengan keadaan apapun.” Sahut Nyonya Dira.


“Bisa jadi, Bel.” Sahut Nyonya Sofi dengan tawanya.


“Kamu sudah belajar masak, Bel?” tanya Nyonya Dira.


“Sudah Mah tapi ya begitulah, hehehe.” Jawab Belinda sambil meringis.


“Kamu harus belajar ya sayang? Nanti kalau kamu dan Arthur menikah, setidaknya kamu harus bisa memasak makanan kesukaan suami kamu. Ya, walaupun nanti pasti ada asisten rumah tangga.” Ucap Nyonya Dira sambil membelai kepala putrinya.


“Memangnya perjodohan ini tetap dilanjutkan ya Mah-Pah?” tanya Belinda.


“Ya iya dong. Hanya Arthur yang terbaik.” Kata Nyonya Dira dengan tegas.


“Jadi Arthur-Belinda, kami sebagai orang tua sudah memutuskan bahwa hari pertunangan kalian minggu depan.”


“APA? MINGGU DEPAN?” ucap Arthur dan Belinda secara bersamaan. Keduanya bahkan kompak tersedak. UHUK! UHUK! UHUK!


“Aduh, kalian ini batuk dan kagetnya sudah kompakan begini,” kata Nyonya Sofi dengan wajah sumringahnya.


“Sepertinya selama kita tidak disini, mereka sudah melewati banyak hal.” Sahut Nyonya Dira.

__ADS_1


“Pastinya Dira. Apalagi mereka setiap hari bertemu dan bekerja bersama. Cinta itu pasti datang dengan seiringnya waktu.” Timpal Nyonya Sofi yang begitu antusias dengan hubungan keduanya.


“Tapi Pah, apa tidak terlalu mendadak? Sementara setelah ini Sheena dan Arsen akan pergi ke Swiss. Apa tidak menunggu mereka pulang dulu?” tanya Arthur.


“Tidak perlu menunggu mereka. Mereka saja sudah setuju dan sudah memberi restunya. Lagi pula hanya pertunangan saja. Biarkan Arsen dan Sheena berbulan madu, semenjak menikah, mereka belum sempat bulan madu. Bukankah begitu Keenan-Dira?” Kata Nyonya Sofi.


“Ya, tentu saja. Sebelum bertemu kalian juga,kami sudah membicarakan ini dengan Arsen dan Sheena terlebih dahulu,” sambung Tuan Keenan.


“Jadi Arthur, persiapkan diri kamu untuk menjadi seorang suami. Mulai pikirkan masa depanmu bersama Belinda.” Sahut Tuan Darwin.


“Diamnya kalian adalah tanda setuju! Dan kami lega kalian tidak banyak protes seperti dulu.” Kata Nyonya Dira. Arthur dan Belinda saling melempar pandangan.


“Kalau kami menolak bagaimana?” tanya Arthur.


“Kamu siap-siap saja membuat Papa dan Mama jantungan.” Ketus Nyonya Sofi.


“Kalau Belinda menolak bagaimana Pah-Mah?” tanya Belinda dengan wajah memelas.


“Kamu siap-siap saja Papa coret dari daftar kartu keluarga dan tinggalkan nama besar Dirgantara.” Ucap Tuan Keenan dengan tegas.


“Ihh Papa jahat! Brian dibebaskan memilih tapi Belinda ditentukan.” Kesal Belinda.


“Brian dan kamu beda, sayang. Kami memberikan Brian kesempatan supaya Brian menemukan tambatan hati yang menerima dia apa adanya, bukan memandang siapa dia. Jangan sampai apa yang terjadi dengan hyung mu terulang lagi. Brian melakukan itu juga dengan meninggalkan nama besar Dirgantara. Sementara kamu sudah jelas-jelas salah jalan dan mudah percaya dengan orang, makanya kami juga memilihkan pria yang baik untukmu. Dan pria itu Arthur.” Jelas Nyonya Dira.


“Begitu pula dengan Papa dan Mama, Arthur. Kami memilihkan Belinda sebagai calon istri kamu karena sudah jelas bibit, bebet dan bobotnya. Apalagi kami juga bersahabat sudah sejak lama. Daripada kamu memilih sendiri dan akhirya salah pilih, jadi kami pilihkan juga yang terbaik.” Sambung Tuan Darwin.


“Oke, terserah Papa dan Mama saja.” Jawab Arthur pasrah.


“Jadi kamu setuju?” tanya Nyonya Sofi berusaha meyakinkan.


“Iya Mah. Daripada melihat Papa dan Mama kompak terkena serangan jantung? Lebih baik setuju saja.”


“Terima kasih ya Arthur, Mama bahagia sekali.” Kata Nyonya Sofi.


“Bel, Arthur sudah setuju. Bagaimana denganmu?” tanya Tuan Keenan.


“Untuk apa Papa bertanya kalau Papa sudah membuat Belinda bilang IYA. Apalagi dengan ancaman Papa itu. Tidak ada pilihan untuk menolak.” Ucap Belinda dengan bibirnya yang cemberut.


“Papa senang sekali mendengar jawaban kamu, Bel. Baiklah mari kita bersulang untuk kebahagiaan anak-anak kita.” Ucap Tuan Keenan seraya mengangkat kelas berisi wine.


“Bersulang! Untuk kebahagiaan kita semua.” Sahut Tuan Darwin.


“Huh, orang tua ku dan orang tua Kak Arthur, memang sama-sama aneh. Selalu mengancam untuk dituruti semua perintahnya. Dan aku memang takut miskin. Tinggal di rumah itu saja rasanya seperti masuk ke kandang macan.” Gerutu Belinda dalam hati.


“Dasar orang tua jaman sekarang. Suka sekali memaksa dengan cara mengancam. Tapi kenapa ya, kali ini ada secuil rasa bahagia ya dihatiku mendengar jawaban Belinda. Mengingat dulu dia menolak mati-matian pakai bawa pacarnya segala.” Gumam Arthur dalam hati.

__ADS_1


Bersambung... Lalu bagaimana dengan hubungan Erick dan Belinda nanti? Akankah Belinda jujur atau dia tetap merespon perhatian dari Erick?


__ADS_2