
Pagi yang cerah dengan sinar mentari yang hangat datang menyapa, sinarnya ada yang merambat masuk melalui celah gorden.
Di kamar, Naynay sedang dirias oleh MUA. Hari ini adalah hari di mana acara kelulusannya diselenggarakan. MUA itu sedikit grogi karena Afif sejak tadi menatap tajam ke arahnya dan satu rekannya. Awas kalau hasilnya mengecewakan, begitulah kira-kira arti tatapan Afif kepada mereka.
Hari ini juga bertepatan dengan kandungan Naynay yang memasuki usia lima bulan. Sambil dirias, Naynay mengusap perutnya yang ditutupi bathrobe. Dia tidak akan menutupi perutnya seperti pikirannya dulu. Jika ada yang bertanya nantinya, maka Naynay akan menjawab bahwa dia telah menikah beberapa bulan yang lalu.
Benar kan, dia memang menikah beberapa bulan yang lalu.
Setelah wajahnya selesai dirias, Naynay memakai baju yang kemaren lusa dibuat. Sekarang hanya tinggal menata rambutnya saja. Naynay meminta agar rambutnya disanggul dan dibeberapa bagian diberi kepangan. Tak lupa tiara kecil juga dipasangkan di pucuk kepala Naynay. Setelah memastikan riasan dan tatanan rambut Naynay sudah sempurna, MUA itu segera pamit.
Afif yang sejak tadi duduk di sofa, sekarang berjalan mendekati Naynay yang menatap pantulan tubuhnya di cermin. Istrinya itu terlihat sangat cantik dan level keimutannya sudah melewati batas. Rasanya dia tidak rela jika kedua elemen pemikat istrinya itu dinikmati laki-laki lain.
Afif memeluk Naynay dari belakang dengan dagu yang bertumpu di bahu Naynay. Kedua tangan kekarnya berada di atas perut buncit istrinya itu. Naynay sendiri merasa gugup jika seperti ini, rasanya dia seperti benar-benar disayang oleh Afif. Tapi rasa minder dan negatif thinkingnya membuat dia selalu menutup mata dengan semua sikap Afif padanya.
"Aku tidak bisa datang nanti," ucap Afif membuat Naynay menunduk sebentar.
"Nggak apa-apa, ada mama sama papa kok." Naynay tersenyum paksa menatap Afif dari pantulan cermin sambil mengusap tangan Afif yang mengelus perutnya.
Afif memutar tubuh Naynay menghadapnya, senyum di wajah Naynay masih bisa dia lihat.
"Tapi Kakak bisa nganterin Nay ke sekolah, kan?" tanya Naynay pelan, dia dalam hatinya dia sangat berharap Afif mau mengantarnya ke sekolah.
"Tentu, ayo turun!" Afif tersenyum dan membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya berhadapan dengan wajah Naynay. Kemudian mengecup bibir istrinya yang dilapisi lipstik itu bertubi-tubi.
Naynay tersenyum setelah mendapat kecupan itu dan mengikuti langkah Afif yang menarik tangannya keluar dari kamar. Mereka turun ke bawah dan langsung menuju mobil karena mereka sudah sarapan sebelum Naynay dirias tadi.
__ADS_1
Selama perjalanan menuju ke sekolah Naynay, Afif menggenggam tangan Naynay dan tidak melepaskannya sampai mereka tiba di tujuan.
"Jangan sampai kelelahan, aku sudah memerintahkan mereka agar tidak melibatkanmu dalam semua kegiatan." Afif memegang kedua bahu Naynay ketika mobil telah berhenti di samping gerbang sekolah.
"Iya, makasih udah nganterin Nay." Naynay langsung memeluk Afif menyembunyikan kesedihannya karena suaminya itu tidak bisa menemaninya di hari spesial ini.
Kaca mobil diketuk membuat Naynay melepaskan pelukannya. Ternyata itu adalah Hendrayan dan Yasmin yang sedang menggendong Araa, di belakang mereka juga ada Rania yang terlihat begitu cantik.
"Nay keluar dulu, Kak." Naynay mencium punggung tangan Afif dan menghadiahi kecupan juga di pipi suaminya itu sebelum keluar.
Afif tersenyum lebar dan membuka kaca mobil. "Saya permisi," ucapnya membuat Hendrayan berdecak kesal. Kemudian mobil melaju meninggalkan area sekolah.
"Ayo masuk," ucap Yasmin diangguki mereka semua. Rania segera mengamit lengan Naynay dan berjalan beriringan memasuki sekolah.
Bisik-bisik mulai terdengar hingga ke telinga Naynay. Semua orang tentu terkejut melihatnya datang dengan perut besar seperti itu. Berbagai pemikiran berkeliaran di benak mereka tentang kehamilan Naynay. Tapi kebanyakan dari mereka berusaha untuk berpikir positif karena sudah mengenal Naynay itu pribadi yang seperti apa.
Acara berjalan dengan lancar, dan sekarang adalah pengumuman siswa/siswi yang menjadi lulusan terbaik tahun ini. Kepala sekolah naik ke atas pentas dengan membawa map yang berisi nama satu orang yang akan menerima trofi dan sertifikat lulusan terbaik.
"Saya selaku kepala sekolah begitu bangga akan semua prestasi yang diraih anak kami ini. Siswi dengan nilai sempurna yang selalu membuat kami geleng-geleng kepala ini datang membawa kita keterkejutan." Kepala sekolah tersebut tersenyum menatap Naynay.
"Lulusan terbaik tahun ini dipegang oleh Hanaya Pradipta, siswi yang selama tiga tahun berturut-turut juga meraih juara umum sekolah. Silakan naik ke atas panggung!"
Teriakan dari semua teman-teman Naynay menggema, mereka sudah menduga pasti Naynay lah yang akan menjadi lulusan terbaik tahun ini.
Naynay tersenyum lebar dan berjalan menaiki panggung. Kepala sekolah dengan bangganya menyerahkan trofi dan sertifikat kepada Naynay. Setelah didokumentasikan, Naynay berjalan menuju mic.
__ADS_1
"Terima kasih banyak saya ucapkan kepada bapak kepala sekolah beserta para guru yang telah sabar mendidik saya hingga bisa seperti sekarang ini. Terima kasih juga kepada seluruh teman-teman yang selalu mendukung saya selama tiga tahun ini. Dan terlebih lagi kepada mama dan papa yang selalu mendoakan yang terbaik untuk saya. Tanpa kalian semua, tidak mungkin bagi saya untuk mendapatkan semua ini." Naynay mengangkat trofi di tangannya ke atas.
Naynay menghembuskan napas panjang sebelum berbicara kembali. "Saya juga meminta maaf karena membuat kalian semua terkejut dengan kedatangan saya yang dalam keadaan hamil. Perlu saya jelaskan sebelumnya bahwa saya sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Pernikahan diadakan secara tertutup. Jadi dimohon kepada semua yang hadir di sini agar tidak berpikiran negatif pada saya dan keluarga. Doakan supaya nanti lahirannya lancar dan bayinya sehat. "
Semua yang mendengar penjelasan Naynay akhirnya bisa tenang. Segala pikiran buruk mereka tentang Naynay langsung menghilang ketika melihat senyum manis itu.
"WE LOVE YOU, HANAYA!!!" teriakan kembali menggema setelah Naynay selesai menjelaskan tentang kehamilannya. Kata itu selalu diteriakkan semua warga sekolah setiap Naynay meraih kemenangan atas olimpiade ataupun seperti saat ini.
Hampir tidak ada orang yang tidak menyukai Naynay di sekolah ini. Bahkan para siswi yang suka cari masalah pun enggan mengganggu Naynay. Mereka bisa melihat bahwa Naynay begitu tulus dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu, bukan hanya karena mencari kepopuleran semata. Itulah mengapa mereka selalu meneriakkan kata "WE LOVE YOU, HANAYA" setiap Naynay meraih kemenangan seperti ini.
"LOVE YOU TOO!!" balas Naynay menggunakan mic dengan membuat finger heart. Dia merasa terharu melihat semua orang yang selalu mendukungnya mengatakan mereka menyayanginya.
Setelah itu Naynay berfoto bersama teman sekelasnya dengan dia berada di tengah, diapit oleh Rosi dan Rania.
Tanpa Naynay sadari, Afif melihat seluruh kegiatannya seharian itu. Dia menerbangkan drone untuk melihat hari spesial bagi istrinya itu. Dia juga merasa tenang ketika semua orang di sana tidak menghujat Naynay, tapi mereka selalu mendukung dan begitu menyayangi istrinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1