
Akhirnya Olivia benar-benar drop sampai ia harus melakukan transfusi darah karena tekanan darahnya terus menurun dan itu sangat membahayakan kehamilannya. Fandi pun menunggu di luar bersama kedua orang tuanya.
''Sudah puas kamu Fandi? Kamu lihat betapa besar pengorbanan Olivia untuk kamu. Hati wanita mana yang tidak sakit, saat suaminya menyebut wanita lain saat bercinta.'' Marah Nyonya Citra.
''Terus saja Mama menyalahkan Fandi dan Sheena. Sumber masalah itu ada di Mama.'' Jawab Fandi.
''Mah, bukan saatnya saling menyalahkan apalagi menganggap diri kita paling benar. Sekarang Papa sadar, Papa salah sudah melukai perasaan Sheena. Mungkin ini akibat ulah kita juga yang sudah keterlaluan menyakiti Sheena. Disini kita yang salah Mah, kita egois. Dan lihat sekarang, korbannya malah orang lain. Papa juga kasihan sekali melihat kondisi Olivia saat ini. Please Mah, lebih baik kita fokus pada kesehatan Olivia. Jangan lagi Mama membahas hal yang tidak penting.''
''Papa kenapa jadi ikut-ikutan belain Sheena sih? Apa spesialnya dia?''
''Mama mau usaha kita bangkrut? Mau jadi miskin? Atau sudah siap untuk miskin?'' tanya Tuan Ifan. Nyonya Citra pun hanya menggeleng.
''Makanya Mama jangan keras kepala dan egois. Setelah tahu Sheena ternyata putri Tuan Darwin, Papa khawatir kalau perusahaan Tuan Darwin akan menghentikan kerja sama dengan kita. Jadi Papa akan menuruti Fandi untuk minta maaf pada Sheena. Setelah melewati semua ini Papa sadar kalau kebahagiaan Fandi adalah segalanya. Apalagi dengan sikap kita ini, membuag banyak hati terluka. Kita bukan hanya melukai Fandi tapi juga Sheena dan Olivia. Sekarang ditambah Olivia yang sudah kehilangan kedua orang tuanya, kita harus menjaganya. Kamu tidak akan meninggalkan Olivia kan Fandi?''
''Tidak Pah. Fandi tidak akan meninggalkan Olivia, asalkan Papa dan Mama minta maaf pada Sheena. Supaya kedepannya tidak ada lagi dendam atau apapun, meskipun aku tahu kalau Sheena sudah pasti memaafkan Papa dan Mama. Fandi harap, Mama bisa melunakkan hati Mama. Apa sih yang membuat Mama begitu membenci Sheena? Coba, tanyakan itu pada diri Mama. Saat aku mendengar Mama sampai pernah memukuli Sheena, aku kecewa dan marah sekali dengan Mama. Mama sendiri kan yang merusak kebahagiaan Fandi? Seandainya dari awal Mama memberi restu, semua ini tidak akan terjadi. Fandi dan Sheena pasti sangat bahagia.''
''Dan juga perusaah kita semakin besar juga, Fan.'' Sahut Tuan Ifan.
''Papa juga, masih saja bisa memikirkan perusahaan. Berhenti berpikiran seperti itu, Pah.''
''Bukan begitu maksud Papa, Fan. Papa hanya khawatir kalau Sheena mengadu pada orang tuanya dan membuat kehidupan kita bermasalah nantinya.''
''Pah, Sheena bukan orang seperti itu. Buktinya sampai detik ini semuanya baik-baik saja kan? Sudahlah sekarang kita harus fokus pada kesehatan Olivia. Kasihan sekali dia.'' Ucap Fandi.
Setelah menjalani transfusi Darah, Olivia segera dipindahkan ke kamar rawat inap. Fandi meminta kedua orang tuanya untuk pulang, sementara Fandi dengan setia Olivia.
...****************...
__ADS_1
Arsen sedang sibuk di ruang kerjanya. Tiba-tiba Sheena datang merajuk pada suaminya itu. Arsen masih kesal dengan sikap Sheena.
''Sayang, bobok yuk!" ajak Sheena sambil memeluk mengalungkan tangannya pada leher Arsen.
''Kamu tidur saja dulu, aku masih sibuk.'' Ketus Arsen.
''Ketus banget sih sama istri. Kamu masih marah ya? Maafkan aku ya sayang. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti kamu. Kamu jangan marah lagi ya.'' Sheena kemudian memberikan kecupan di pipi suaminya dengan gemas namun Arsen tidak bereaksi.
''Tumben dia tenang-tenang saja. Sepertinya Arsen benar-benar marah.'' Gumam Sheena dalam hati.
''Sayang, ayo kita tidur. Aku tidak bisa tidur tanpa kamu.'' Rengek manja Sheena namun Arsen masih tetap fokus pada pekerjaannya. Sheena yang kesal lalu pura-pura sakit perut untuk mencari perhatian Arsen.
''Aduh!" rintih Sheena sambil memgangi perutnya. Dan benar saja Arsen pun bereaksi dan berubah menjadi khawatir.
''Sheena, kamu baik-baik saja?''
''Baby twinnya Papi, tenang ya, jangan membuat Mami sakit ya.'' Arsen kemudian menggendong Sheena menuju kamar. Sheena masih pura-pura meringis menahan sakit. Sesampainya di kamar, Arsen kemudian merebahkan tubuh Sheena di atas tempat tidur. Arsen sangat panik melihag Sheena merintih sakit.
''Aku panggilkan dokter ya?''
''Jangan sayang. Kamu disini saja. Kamu temani aku tidur, jangan kerja terus.'' Pinta Sheena.
''Tapi kamu kesakitan. Kalau ada apa-apa sama kamu dan baby kita bagaimana?''
Sheena kemudian melepaskan tawanya. ''Maaf suamiku, aku berhohong.''
''Kamu ya, tidak lucu tahu.'' Kesal Arsen.
__ADS_1
''Habisnya kamu marah daritadi. Kamu tahu kan, sejak hamil aku tidak bisa tidur sebelum di belai-belai sama kamu.''
''Kamu jangan seperti ini lagi ya, aku khawatir dan takut sekali.'' Ucap Arsen.
''Iya, asalkan kamu tidak marah lagi.'' Kata Sheena. Arsen lalu naik keatas tempat tidur dan memeluk istrinya.
''Kamu cinta sama aku apa tidak?'' tanya Arsen.
''Kamu ini aneh, kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?''
''Sudah, jawab saja.''
''Ya cintalah! Kalau tidak cinta, aku tidak mau mengandung anakmu, Arsen. Sekali lagi maafkan aku ya sayang. Maaf karena aku selalu menyakitimu.''
''Sudah di maafkan. Besok ada launching produk, setelah itu kita jadwalkan pergi ke Swiss ya.''
''Beneran?''
''Iya sayang. Aku akan mengatur jadwal honeymoon kita setelah menikah. Maaf ya kalau perasaan ini datangnya terlambat.''
''Begitu juga denganku. Bahkan bayang-bayang masa laluku selalu membuatmu terluka.''
''I love you.''
''I love you too.''
Bersambung...
__ADS_1