
Untuk menebus kesalahannya, Sheena menyiapkan makan malam romantis untuk Arsen. Sheena menata kursi dan meja ditepian kolam renang, deretan lilin yang berjajar semakin menambah kesan romantis.
“Nah, sudah siap! Arsen pasti suka. Tapi sudah jam 7 kenapa dia belum pulang juga.” Gumamnya. Sheena kemudian menuju ruang tamu. Dari nalik jendela kaca, Sheena melihat kearah pintu gerbang. Hampir satu jam Sheena berdiri sana namun Arsen tak kunjung datang. Sheena lalu mencoba menelepon Arsen tapi Arsen enggan mengangkatnya.
“Kenapa tidak diangkat? Apa dia masih marah?” Sheena kemudian mencoba menelepon Arsen kembali tapi masih tetap sama. Sheena kemudian mencoba menelepon Soni tapi atas perintah Arsen, Soni mengabaikan perintah Arsen.
“Tuan, sampai kapan anda akan mengabaikan panggilan Nona?” tanya Soni.
“Biarkan saja dia. Aku tidak bisa berhubungan dengan seseorang yang masa lalunya belum selessai. Setelah sampai di bandara, aku baru akan meneleponnya. Sebaiknya fokus saja menyetir.”
“Baik Tuan.” Jawab Soni.
“Pasti Tuan dan Nona sedang bertengkar. Tuan tadi dikantor pun sensitive sekali.” Gumam Soni dalam hati. Arsen dan Soni sedang dalam perjalanan menuju bandara. Arsen harus berangkat ke Macau karena sedang ada masalah pada perusahaan tekstilnya disana. Mungkin memenangkan diri sembari bekerja dan menghindari Sheena beberapa hari, akan membuatnya lebih tenang.
Sheena kemudian kembali duduk ditepian kolam renang. Sheena merasa sedih karena Arsen mengabaikan panggilannya.
“Arsen, seharusnya kamu juga tahu perasaanku. Aku sudah menyerahkan tubuhku padamu. Seharusnya kamu jangan seperti itu padaku. Aku tahu kalau aku salah tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaan ini. Ini pasti sangat sakit untuk Fandi, menerima kenyataan pahit ini. Diputuskan secara sepihak pun itu sangat menyakitkan. Tatapan mata Fandi, selalu membuatku lemah. Maafkan aku Arsen, aku tidak maksud mempermainkanmu. Karena aku juga mencintaimu.” Sheena berdialog pada dirinya sendiri, berusaha menghibur perasaannya yang sedang gundah gulana.
Tiba-tiba ponsel Sheena berdering, senyumnya merekah melihat nama Arsen di layar ponselnya.
“Halo Arsen, kapan kamu pulang? Aku sudah menyiapkan malam untukmu.”
“Aku sudah berada didalam pesawat. Aku akan lepas landas menuju Macau. Jaga dirimu baik-baik.”
__ADS_1
“Kenapa mendadak seperti ini? Kenapa tidak pulang dulu? Berapa hari kamu pergi?” tanya Sheena dengan perasaannya yang semakin sedih.
“Maaf aku buru-buru dan baru sempat memberimu kabar. Aku akan disana selama satu minggu. Selagi aku pergi pikirkan baik-baik dan dengarkan kata hatimu, kamu ingin lanjut atau berhenti sampai disini.”
“Arsen apa maksudmu? Aku mencin….,” belum selesai Sheena bicara Arsen sudah mengakhiri panggilannya. Sheena lalu mencoba menelepon Arsen kembali tapi ternyata ponsel Arsen sudah tidak aktif.
“Arsen, kamu benar-benar keterlaluan. Kamu tega sekali pamit tanpa memberiku salam perpisahan. Tega sekali kamu, Arsen.” Ucap Sheena dengan mata berkaca-kaca dan akhirnya Sheena pun menangis di malam yang semakin sunyi ini.
“Maafkan aku Sheena. Mungkin ini yang terbaik untuk kita saat ini. Kalaupun kamu masih mencintai Fandi, aku akan melepaskanmu meskipun itu sangat berat untukku.” Gumam Arsen dalam hati. Pesawat pun lepas landas membawa semua kegundahan hati Arsen.
Sheena benar-benar sangat sedih. Dengan langkah gontai ia masuk kedalam kamar. Ia berjalan menuju almari pakaian Arsen. Ia mengambil salah satu jas milik Arsen, ia lalu memeluknya dengan erat.
“Kamu bahkan tidak memberikan pelukan untukku, Arsen. Kamu sangat jahat meninggalkan aku seorang diri dirumah.”
Dan Fandi pun terbangun, kepalanya sangat berat sekali. Fandi sangat terkejut melihat Olivia tertidur disampingnya. Fandi mengintip tubuhnya yang tertutup di balik selimut. Fandi sangat syok mendapati tubuhnya polos tanpa busana. Fandi mengarahkan pandangannya kesekitar tempat tidur yang berantakan, Di lihatnya pakaian miliknya dan juga milik Olivia berserakan di lantai beserta pakaian dalam milik Olivia. Yang lebih mengejutkan ada bekas bercak merah dan bekas cairan putih kental di sprei.
“Astaga, apa yang aku lakukan pada Olivia.” Gumam Fandi dalam hati. Fandi mengacak rambutnya frustasi. Ia lalu mengingat apa yang sebelumnya terjadi. Olivia juga akhirnya terbangun. Ia menoleh dan melihat Fandi terduduk dengan wajah frustasi. Olivia lalu bangun dengan tetap menutup tubuhnya dengan selimut.
“Fan, kamu sudah bangun?” tanya Olivia.
__ADS_1
“Apa yang terjadi Olivia? Apa kita benar-benar melakukannya? Kenapa kamu tidak menolaknya dan pergi dari ku? Kamu seharusnya bisa menolak.”
“Kamu memaksaku, Fan. Kamu menganggapku Sheena. Aku berusaha menolak tapi aku tidak mau membuatmu sedih. Fandi, kita juga sudah suami istri jadi sudah seharusnya kita melakukan ini. Aku sudah memberikan hal berharga dalam hidupku untukmu, Fan. Sekalipun dalam melakukan ini, kamu menganggapku Sheena bukan Olivia. Maafkan aku yang tidak bisa menolaknya, Fan. Kamu boleh marah dan membenciku. Apa yang aku lakukan hanya untuk membuatmu bahagia.” Olivia kemudian turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Fandi hanya bisa terdiam dan tertegun mendengar apa yang di ucapkan oleh Olivia. Tidak seharusnya ia marah pada Olivia. Olivia sudah banyak berkorban untuk dirinya.
“Apa aku harus benar-benar membuka hatiku untuk Olivia? Dia rela menyerahkan semuanya untukku. Sekalipun yang ku lakukan itu untuk wanita lain. Fandi kamu jahat sekali, apakah sesuli itu membuka hati untuk Olivia? Bukankah kalian mengenal sudah sejak kecil? Dia adalah wanita yang baik, cintanya begitu nyata dan tulus padamu. Ayolah Fandi, sadar! Masa lalumu sudah bahagia dengan pasangannya.” Batin Fandi bergelut dengan dirinya sendiri. Setelah selesai mandi, Olivia memakai kembali pakaiannya. Sedangkan Fandi tanpa banyak bicara bergantian menuju untuk mandi. Tak di pungkiri Olivia tadi minum sedikit untuk itulah ia sampai tak sadarkan diri karena ia juga bukan seorang peminum handal di tambah lagi tadi Fandi mengajaknya bergulat. Keperkasaan Fandi terbayang dalam benak Olivia namun rasa bahagia itu memudar kala Fandi menganggap dirinya Sheena.
“Sheena, aku mencintaimu. Malam ini kamu harus menjadi milikku.” Racauan Fandi saat melucuti satu persatu pakaian Olivia.
“Lakukan saja, Fan. Malam ini aku milikmu.” Itulah ucapan Olivia yang membuat Fandi terus menjamah setiap inci tubuh Olivia. Merasakan sentuhan Fandi, tentu saja membuat Olivia melayang dan tidak ingin Fandi berhenti melakukannya.
“Sheena, kamu sangat hebat.” Ucap Fandi disela-sela de…sahannya saat Olivia berada diatas tubuh Fandi menggoyang junior Fandi yang sudah tenggelam dalam liang senggamanya. Nikmat, sakit dan sedih, itulah yang Olivia rasakan.
“Fandi, kamu benar-benar bercinta dengan Olivia? Lalu bagaimana dengan Sheena?” gumam Fandi dalam hati saat ia sudah menyadari semuanya. Fandi menemukan kesegaran dengan guyuran air shower yang membasahi seluruh tubuhnya.
“Bagaiamana aku bisa berhalusinasi dengan Sheena? Sementara dihadapanku adalah Olivia. Tapi aku tidak menyangka Olivia masih menjaga kehormatannya, sedangkan bertahun-tahun dia kuliah di luar negeri. Apa benar dia menajganya hanya untuk aku?” gumam Fandi dalam hati.
Setelah selesai mandi dan membersihkan sisa-sisa bercinta, Fandi mengajak Olivia untuk makan malam bersama. Suasana malam pun menjadi canggung setelah kejadian unboxing tanpa sengaja itu. Selesai makan malam, Fandi mengajak Olivia kembali ke apartemen.
“Kenapa tudak pulang saja, Fan?” tanya Olivia terbata-bata.
“Aku malas pulang dan malas bertemu Mama. Sebaiknya kita bermalam disini aja.”
“Baiklah.” Singkat Olivia. Malam itu Fandi meminta Olivia tidur diatas tempat tidur, sedangkan Fandi memilih tidur di sofa.
__ADS_1
Bersambung....