My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 240 Bertemu Camer


__ADS_3

Brian dibuat syok dengan jalanan rumah Gea yang memang sangat pelosok. Jalanan berbatu dan berlubang, membuatnya pusing dan mual.


''Oh my god! Jalan apaan ini? Bagaimana sih pemerintah desanya? Kebanyakan di korupsi apa ya? Masa benahi jalan begini tidak bisa.'' Brian menggerutu dalam hati. Sementara Gea selama perjalanan tampak tenang dan bisa tidur dengan nyenyaknya. Setelah menempuh jalan yang panjang, berliku, melelahkan dan penuh siksaan bagi Brian, akhirnya sampai juga di depan rumah Gea. Gea lima menit yang lalu sudah terbangun.


''Nah, itu rumah ku, Brian.'' Kata Gea sambil menepuk pundak Brian. Brian hanya mengangguk menahan rasa mual yang tak tertahan. Begitu mobil turun, Brian langsung muntah. Huek... huek... huek... Sang supir, ikut panik.


''Tuan muda, baik-baik saja?'' tanyanya sambil berbisik. Ya, sebelum berangkat sang supir sudah terlebih dahulu di briefing oleh Brian. Jangan sampai supirnya memanggilnya Tuan di hadapan Gea.


''Brian, kamu baik-baik saja?'' Gea menghampiri Brian.


''Sepertinya mabuk darat,'' lirih Brian. Gea lalu memapah Brian. Brian memberikan kode pada supirnya untuk pergi. Supirnya hanya mengangguk.


''Ayah-Ibu!" seru Gea.


''Gea, ya ampun, kamu pulang nak?" seru Bu Hana begitu melihat putri semata wayangnya datang.


''Bu, bantu dulu teman Gea ini. Dia mabuk darat.''


''Iya-iya.'' Bu Hana ikut memapah Brian lalu mendudukkan Brian.


''Maaf Tante, merepotkan.'' Lirih Brian.


''Tante? Panggil Ibu saja. Aneh orang kampung di panggil, Tante,'' Kata Bu Hana dengan senyum lebarnya.


''Ah iya, Ibu.'' Ucap Brian.


''Ayah mana Bu?''


''Masih di sawah. Nanti juga pulang. Eh Ibu buatkan minuman hangat untuk teman kamu ya.''


''Iya Bu.'' Ucap Gea.


''Kamu tiduran saja di kursi. Aku bantu Ibu dulu.''


''Iya Ge. Makasih.'' Gea lalu menyusul Ibunya ke dapur.


''Siapa Ge? Pacar kamu ya?''


''Mmmm gitulah, Bu. Gea kangen.'' Gea lalu memeluk Ibunya dari belakang.


''Ibu juga kangen sama kamu. Gimana kerja kantoran?''


''Sangat menyenangkan Bu.''


''Siapa namanya? Ganteng ya.''

__ADS_1


''Ih Ibu genit, aku bilangin Ayah lho.'' Gurau Gea.


''Bilangin saja sana. Siapa namanya? Kamu kenal dimana? Dan kerjanya apa?''


''Namanya Brian, Bu. Dia teman kantor ku. Dia sangat baik sekali, Bu. Maaf ya Bu, aku mengajaknya. Dia memaksa ikut karena ingin tahu rumah ku sekaligus ingin bertemu Ayah dan Ibu.''


''Tidak apa-apa. Kalian sudah mengenal lama?''


''Baru kenal empat bulanan. Jadiannya juga baru dua hari lalu, hehehe. Soalnya Gea baru sreg nerima dia kemarin.''


''Patut dipertahankan itu. Pasti dia begitu memperjuangkan kamu.''


''Iya Bu, hehehe.''


''Ibu senang akhirnya kamu bisa dekat dengan pria lagi setelah waktu itu.''


''Aku juga cerita semuanya pada Brian kok Bu. Dan dia sama sekali tidak masalah. Makanya dia mau menunggu aku.''


''Ya sudah, bawa teh jahe ini untuknya. Ambil minyak angin juga di kamar.''


''Iya Bu.''


Setelah mengambil minyak angin, Gea bergegas kembali menuju ruang tamu.


''Brian, ini teh jahe. Kamu minum dulu.'' Ucap Gea. Brian lalu bangun dan menyeruput minuman yang telah di suguhkan oleh Gea.


''Iya.'' Jawabnya pelan. Gea lalu berpindah duduk di samping Brian. Gea kemudian mengoleskan minyak angin ke dua pelipis Brian.


''Nanti kepalamu tidak pusing lagi.''


''Perih Ge.'' Mata Brian berair menahan panas dari minyak itu. Gea terkekeh melihat reaksi Brian.


''Cuma bentar kok. Udah diam.'' Gea lalu memijit pelipis Brian dengan lembut. Brian merasa pijatan Gea sangat enak. Gea lalu memutar tubuh Brian untuk membelakanginya. Brian menurut saja. Tangan Gea lalu berpindah memijit kepala dan pundak Brian. Brian sangat menikmati pijatan Gea. Dan baru kali ini Brian benar-benar merasakan di cintai dan di perhatikan sepenuh hati.


GROAK! Brian bersendawa dengan kerasnya. Seketika ia langsung menutup mulutnya. Gea terkekeh. ''Tidak apa-apa. Kalau sudah bersendawa gitu lebih lega Brian.''


''Terima kasih ya Gea.''


''Iya sama-sama. Kamu istirahat saja dulu. Aku mau bantu Ibu masak dulu. Sudah waktunya makan siang dan Ayah sebentar lagi juga pulang.''


''Iya.'' Gea kembali ke dapur. Namun Brian sudah tidak bisa istirahat lagi. Ia berjalan keluar rumah, melihat pemandangan sekitar rumah Gea yang memang masih alami. Pandangannya jauh melihat jajaran sawah yang begitu hijau.


''Apa yang dikatakan Gea benar juga.'' Gumam Brian. Brian kemudian kembali masuk ke rumah Gea.


''Ibu!" seru Gea. Membuat Brian khawatir lalu bergegas menyusul ke dapur.

__ADS_1


''Gea, ada apa?'' seru Brian.


''Eh Brian. Ini tangan Ibu kena pisau pas mau bersihin ikan.'' Ucap Gea sambil berusaha menghentikan darah yang mengalir dari jemari Bu Hana.


''Angkat tangan Ibu, Gea. Supaya pendarahannya bisa berhenti.'' Ucap Brian. Gea menurut begitu juga Bu Hana.


''Sebaiknya kamu obati luka Ibu dulu. Biar aku yang memasak.''


''Kamu bisa masak nak Brian?''


''Dia jago Bu. Tapi nggak tahu sejago apa, hehehehe.'' Celetuk Gea.


''Memangnya ikannya mau di apakan Bu?'' tanya Brian.


''Mau di goreng biasa saja. Nanti di penyetin ke sambel sama lalapan.'' Jelas Bu Hana.


''Oh begitu, oke! Serahkan saja padaku, Bu.'' Ucap Brian dengan wajah cerianya.


''Kamu kan habis mabuk perjalanan?''


''Sudah baikan kok Bu. Berkat pijatan Gea, hehehe. Sebaiknya Ibu istirahat.''


''Ya sudah kalau begitu. Ibu jadi penasaran masakan kamu.''


Brian lalu mulai membersihkan ikan itu. Semua putra dari Nyonya Dira dan Tuan Keenan tidak ada yang tidak bisa memasak. Karena terlahir dari bibit berkualitas, sudah pasti keturunannya berkualitas. Justru Arsen dan Brian lah yang bisa dalam segala hal, sedangkan Queen dan Belinda lebih di manjakan jadi sudah pasti untuk urusan masak-memasak lebih jago Arsen dan Brian. Sejak menikah, barulah Queen rajin memasak. Sementara Belinda sangat buta dengan sesuatu yang berbau dapur. Begitulah keunikan masing-masing keempat buah hati Tuan Keenan dan Nyonya Dira.


Bu Hana dan Gea yang penasaran, mengintip bagaimana cara Brian memasak. Mereka takjub melihat cara Brian membersihkan ikan. Sangat berbeda dengan cara yang biasa mereka lakukan. Brian memvillet daging ikan dengan tulangnya. Membuat Gea dan Ibunya melongo.


''Wah, dia seperti chef di tivi-tivi itu ya Ge.'' Bisik Bu Hana.


''Iya Bu. Dia hebat juga ya. Kita saja kesulitan sampai keringetan.'' Ucap Gea terkekeh.


''Tapi dia mau masak apa? Ibu kan mau masak ikan goreng saja.''


''Lihat saja Bu nanti hasilnya.''


Setelah memisahkan daging dan tulangnya, Brian memotong dadu ikan lalu memarinasi ikan itu. Kemudian potongan daging ikan ia lumuri dengan tepung, setelah itu menggorengnya. Melihat kangkung yang hendak dibuat lalapan, Brian memilih untuk menumisnya. Sementara potongan ikan tadi, ia olah lagi menjadi olahan bumbu asam manis.


''Biasanya ya Ge, menantu perempuan masak di rumah mertua. Nah ini memantu laki-laki yang masak. Pinter kamu pilih calon suami. Setidaknya dia bisa membantu kamu di dapur. Bisa saling bekerja dalam rumah tangga.''


''Iihh Ibu, menantu-menantu. Emang boleh?''


''Boleh saja. Ibu suka sama Brian.''


''Tapi Ayah?''

__ADS_1


''Ayah pasti setuju. Kita tunggu Ayah pulang sebentar lagi. Pasti dia juga suka sama Brian.''


''Brian, kamu memang sangat hebat. Jadi makin cinta.'' Gumam Gea dalam hati.


__ADS_2