
Setelah menginap lebih dari tiga hari di rumah Hendrayan, akhirnya Afif membawa Naynay kembali ke rumahnya. Sesuai dengan rencana, Araa akan tinggal bersama Yasmin dan Hendrayan sampai Naynay bisa membagi waktu dan bisa membawa Araa nantinya. Tentu itu hanya kesepakatan semu, karena dalam hatinya, Naynay akan kembali lagi ke rumah itu setelah anaknya lahir dan berpisah dengan Afif.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah diikuti Pak Hen yang tadi menunggu kedatangan mereka di depan pintu. Ketika akan melangkah menaiki tangga, Afif melihat seorang gadis datang dari arah ruang keluarga.
"Kapan kau datang?" tanya Afif dengan wajah datar, mata tajamnya menatap gadis seumuran Qiara itu.
"Kemarin, diantar sama mama, Kak." Gadis itu sedikit takut melihat raut wajah Afif yang terlihat tak berubah di matanya, selalu menyeramkan. Tapi dia berusaha bersikap santai.
"Hhmm." Afif menarik tangan Naynay menaiki tangga.
Naynay menoleh ke belakang, melihat gadis yang tadi membuat langkah Afif terhenti dan wajah datar suaminya itu kembali terlihat. Di anak tangga paling bawah, gadis itu menatap tidak suka padanya. Memandang dengan pandangan sinis dan berdecih sebelum dia melangkah pergi.
'Ya Tuhan, siapa lagi ini?!' batin Naynay lemas karena merasa hidupnya di rumah ini tidak akan pernah damai.
Sesampainya di kamar, Afif membuka jas yang membalut tubuh atletisnya. Jas yang juga menemaninya menandatangani berkas seharian ini. Sedangkan Naynay langsung memasuki kamar mandi untuk menyiapkan air untuk Afif mandi.
Ketika akan keluar dari kamar mandi, Afif berdiri di depan pintu hingga Naynay tidak bisa keluar. "Nay mau keluar, Kak."
Afif malah maju ke depan dan menutup pintu. Setelah itu dia langsung menarik pinggang Naynay hingga tubuh mereka menempel. "Bantu aku mandi."
Mata Naynay terbelalak mendengar permintaan aneh Afif. "Kakak udah gede, masa masih dibantu mandinya?"
Mata Afif yang berubah tajam membuat Naynay ketar-ketir. Masa iya dia harus membantu laki-laki dewasa mandi, sih? Tapi kalau nolak, yang ada suaminya bakalan ngambek lagi.
"Iya, Nay bantu," ucap Naynay seraya jemarinya membuka satu per satu kancing kemeja Afif. Perlahan dada bidang, perut kotak-kotak, dan bahu lebar itu terlihat ketika Naynay menanggalkan kemeja itu dari tubuh Afif.
Afif sendiri tersenyum melihat ekspresi Naynay yang takut-takut melihat tubuh bagian atasnya yang sudah terbuka. Tinggal celana panjang yang dipakainya, tapi Naynay sudah menjauh dari tubuhnya.
"Ini nggak dibukain juga, Nay?" tanya Afif sambil memegang pinggang celananya.
__ADS_1
"Kakak aja yang buka, abis itu langsung masuk aja ke bathtub!" balas Naynay tanpa menoleh, dia sedang mengambil handuk yang akan langsung dia pakaikan ketika Afif sudah mandi nanti. Bisa jantungan dia kalau sampai melihat sesuatu yang masih menjadi ketakutan paling besarnya.
Afif membuka celananya dan masuk ke bathtub setelah tubuhnya tidak ditutupi sehelai benang pun. Air hangat yang sudah diberi aromaterapi itu membuat tubuhnya lebih rileks. Matanya menatap istrinya yang sedang mengikat rambutnya.
Naynay berjalan mendekati Afif yang lebih dari setengah tubuhnya tenggelam di bathtub. Kemudian dia duduk di lantai lebih tinggi yang menyatu dengan bathtub itu untuk menggosok punggung Afif.
Saat akan menggosok punggung Afif, Naynay terkejut melihat tato berukuran besar di sana. Dua bulan lebih menikah tapi dia tidak tahu mengenai tato sayap yang membentang dari bahu kanan sampe kiri itu. Apalagi ada nama yang terukir di antara dua sayap tersebut.
"Kak, ini bikinnya kapan?" tanya Naynay seraya menusuk-nusuk tato itu.
"Sudah lama," jawab Afif sambil membalikkan tubuhnya menghadap istrinya yang duduk bersila itu.
"Kenapa Nay nggak pernah lihat?" tanya Naynay lagi sambil mengerjap polos.
"Bagaimana kau bisa lihat kalau setiap melihat aku telanjang dada saja matamu sudah tertutup rapat." Afif mencubit gemas pipi Naynay hingga bumil itu meringis.
"Nay, pijit kepala sekalian!" pinta Afif sambil mendekatkan kepalanya ke perut buncit Naynay.
"Kalau mau pijit, di tempat tidur aja. Nanti Kakak masuk angin kalau kelamaan berendam," balas Naynay sambil menyugar ke belakang rambut Afif dengan jarinya.
Afif mengangguk dan membalikkan tubuhnya kembali. Matanya terpejam ketika merasakan tangan Naynay menggosok punggungnya. Setelah merasa cukup, Afif berdiri dan Naynay langsung menutup rapat matanya.
"Tunggu sebentar," ucap Afif tertawa sambil menepuk-nepuk kepala istrinya. Setelah itu dia menyalakan shower dan membilas tubuhnya yang masih ditempeli busa sabun.
"Nay, handuknya pakaikan!" ucap Afif setelah selesai membilas tubuhnya. Sekarang dia sudah berdiri di depan Naynay yang masih setia di tempatnya dengan mata tertutup.
Dengan segera, Naynay menarik handuk yang dia lingkarkan di lehernya dan melilitkannya di pinggang Afif. Masih dengan mata tertutup, dia baru membuka matanya ketika handuk itu sudah menutupi bagian tubuh bawah Afif, walaupun tidak rapi.
Setelah drama mandi ditambah drama piyama di ruang ganti, akhirnya Naynay bisa bernapas lega. Dia sudah sesak napas meladeni sifat Afif yang berubah-ubah. Sekarang bumil itu sedang duduk di atas tempat tidur sambil menyanderkan punggungnya. Baju tidur kesukaan Afif juga sudah melekat di tubuhnya.
__ADS_1
"Pijit kepalaku, dari depan saja!" titah Afif setelah duduk di depan istrinya.
Naynay meringsut mendekat dan mulai memijit pelipis kanan dan kiri suaminya. Dia ingin bertanya tentang gadis yang mereka temui tadi, tapi ragu apakah suaminya itu akan menjawab atau tidak.
"Kak, yang tadi di bawah itu siapa?" tanya Naynay akhirnya karena sudah sangat penasaran. Karena kelihatannya gadis itu akan bekerja sama dengan Qiara untuk membuatnya tidak nyaman di sini.
"Adik sepupuku, anak adiknya mamaku. Namanya Silla, seumuran sama Qiara." Afif menjelaskan sambil mencuri kecupan di bibir Naynay.
Naynay mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia melanjutkan kembali memijit kepala suaminya itu. Ya walaupun sedikit grogi karena ditatap terus-menerus oleh manusia paling tampan di depannya ini.
Merasa puas dipijit, Afif mendorong tubuh Naynay dengan pelan hingga berbaring menyamping. Aksi bayi besar akan kembali dia lancarkan karena sudah gemas melihat dada Naynay yang semakin padat berisi.
"Kak, jangan gigit-gigit!" rengek Naynay sambil mengusap bagian dadanya yang digigit pelan oleh Afif.
"Gemas banget, Nay." Afif kembali menenggelamkan kepalanya di dada istrinya sambil mengemut sesuatu yang membuat Naynay menggelinjang.
Naynay hanya bisa pasrah, karena Afif tidak akan bisa dihentikan sebelum apa yang dia mau dia dapatkan dan puas. Sebenarnya dia pun suka dengan sensasi yang dia dapat, hanya saja dia malu karena beberapa kali terdengar suara menjengkelkan dari bibirnya.
.
.
.
.
.
Silla, rupanya Qiara memanggil bala bantuan, Gengss👀
__ADS_1