
Akhirnya mereka sampai juga di mall. Dengan semangat Brian mengajak kedua orang tua Gea untuk berbelanja. Brian memilihkan beberapa baju untuk kedua orang tua Gea. Mengambil apapun tanpa pikir panjang.
"Ayah dan Ibu coba ya."
"Sebanyak ini?" kata Pak Hendi.
"Iya Ayah."
"Ya sudah Pak, kita coba." Kata Bu Hana yang juga begitu semangat. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam fitting room.
"Kamu sengaja ya?" sinis Gea.
"Sengaja bagaimana?"
"Menyogok mereka. Mentang-mentang kami miskin dan orang kampung."
"Hapus pikiran burukmu Gea. Sebaiknya kamu pilih baju mana yang kamu suka."
"Tidak usah!" tegas Gea seraya berlalu. Namun Brian berhasil menarik Gea ke dalam pelukannya. Direngkuhnya dengan kuat pinggang Gea.
"Jangan galak-galak ya! Kamu belum tahu kan siapa aku?" ancam Brian yang mengunci mata Gea.
"Kamu mau aku kasar atau lembut?" sambung Brian. CUP! Dengan berani Brian mengecup bibir Gea di depan umum. Brian kemudian melepaskan Gea. Gea membeku, mendadak lidahnya kelu. Pipinya terasa panas.
"Wah, bagus banget Ayah-Ibu." Seru Brian Saat melihat kedua orang tua Gea keluar dari fitting room.
"Nak Brian, ini bandrol harganya bikin puyeng. Mending beli dipasar saja." Kata Bu Hana.
"Tidak masalah, Bu. Diambil semuanya saja." Brian lalu meminta pramuniaga untuk membungkusnya. Tak lupa Brian mengambilkan baju untuk Gea tanpa mendapat persetujuan dari Gea. Setelah puas berbelanja, Brian mengajak mereka untuk makan disebuah restoran. Tentu saja kedua orang tua Gea dibuat asing dan canggung dengan suasana direstoran. Brian dengan telaten mengajari kedua orang tua makan menggunakan sendok, garpu dan juga pisau.
Gea yang kesal, memakan steak menggunakan tangannya langsung.
__ADS_1
"Kelamaan," ketus Gea. Brian hanya bisa menggeleng sambil tertawa kecil melihat tingkah Gea. Semua makanan yang dipesan Brian, dimakan langsung menggunakan tangan oleh Gea.
"Gea, kamu ini jorok ah." Protes Bu Hana.
"Biasanya juga nyeker, Bu." Celetuk Gea. Setelah puas berbelanja dan makan, mereka kemudian kembali pulang.
''Aduh, Ibu capek. Capek di ajak belanja.'' Seloroh Bu Hana dengan tawanya.
''Iya lho. Baru kali ini ngrasa capek belanja,'' timpal Pak Hendi dengan kekehannya.
''Senang sekali melihat Ibu dan Ayah tersenyum begini.'' Ucap Brian. Baru juga tiba di rumah, tiba-tiba terdengar suara deru mobil.
''Ada tamu apa lagi Bu?'' tanya Pak Hendi.
''Mana Ibu tahu, Pak.''
''Biar Gea yang periksa.'' Sahut Gea. Begitu sampai di depan rumah, Gea sangat terkejut melihat empat mobil pick up berjajar disana. Mobil pertama berisi berbagai barang elektronik. Mulai dari kulkas, televisi, magic com, kompor gas, oven listrik dan mesin cuci. Mobil kedua berisi dua buah spring bed dan dua buah almari. Mobil ketiga satu set kursi sofa untuk ruang tamu. Dan mobil keempat berisi semua bahan pokok makanan. Mulai dari beras, telur, gula, minyak goreng, daging, ikan dan lain-lain yang sengaja sudah Brian siapkan. Brian meminta anak buahnya untuk membeli semua itu.
''Barang-barang siapa ini?'' gumam Gea.
''Benar Mas, itu Ayah saya. Kenapa ya Mas?''
''Ini barang-barangnya Pak Hendi.''
''Hah? Barang-barang? Salah kirim kali, Mas. Ayah saya tidak punya uang untuk membeli semua itu.'' Ucap Gea dengan penuh rasa heran. Si supir melihat lagi alamat yang ada disecarik kertas itu. Memastikan semuanya benar.
''Tapi alamat yang di tuju ini Mbak.'' Jelas si supir sambil menunjukkan secarik kertas itu.
''Ayah! Tolong kemari.'' Teriak Gea. Pak Hendi dan Bu Hana segera kedepan, di ikuti oleh Brian.
''Waduh-waduh ini kenapa banyak mobil? Mau jualan Mas?'' kata Pak Hendi dengan penuh rasa heran.
__ADS_1
''Oh rupanya sudah datang. Aku yang memesan, Mas.'' Sahut Brian. Gea, Pak Hendi dan Bu Hana menoleh kearah Brian.
''Turunkan dan cepat masukkan ya.'' Perintah Brian.
''Baik Tuan.'' Jawab si supir.
''Brian, apa maksud semua ini?'' tanya Pak Hendi.
''Ayah-Ibu tanpa mengurangi rasa hormat, ini semua untuk Ayah dan Ibu. Kulkas supaya Ibu bisa menyimpan semua makanan dengan aman disana. Televisi, aku melihat televisi di ruang tengah layarnya retak. Kompor, supaya itu tidak perlu memasak menggunakan kayu lagi. Magic com supaya ibu bisa masak nasi dengan cepat. Bisa Ibu tinggal pergi ke warung kalau di colokin. Oven bisa untuk memanggang makanan dan membuat kue juga. Mesin cuci, supaya Ibu tidak perlu capek-capek mencuci lagi. Spring bed, supaya Ayah dan Ibu juga Gea bisa tidur nyaman di kasur yang lebih empuk. Almari untuk menyimpan pakaian, aku melihat almari dikamar kayunya sudah lapuk dan di makan rayap. Juga kursi itu untuk ruang tamu. Supaya tamu dan kita merasa nyaman untuk duduk. Ayah-Ibu, aku mohon terima semua ini. Dan sembako, itu semua untuk Ayah dan Ibu. Bisa untuk stok beberapa bulan ke depan.'' Jelas Brian panjang lebar. Pak Hendi dan Bu Hana merasa sangat terharu mendapatkan semua itu dari Brian. Mereka berdua kompak memeluk Brian.
''Ya Allan Nak Brian, terima kasih nak. Kamu sangat baik.'' Ucap Bu Hana dengan matanya telah basah.
''Terima kasih Brian. Terima kasih untuk kemurahan hati kamu.'' Kata Pak Hendi.
''Sama-sama Ayah-Ibu. Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan untukku juga.''
''Brian...,'' batin Gea. Gea merasa terharu, matanya berkaca-kaca. Ia bisa melihat ketulusan Brian namun masih ada rasa gengsi di sudut hatinya. Untuk membeli semua isi rumah itu, Brian juga sudah melakukan pertimbangan. Meskipun rumah Gea sangat sederhana, setidaknya dalamnya memiliki sudut ruangan yang luas. Ya, desain rumah yang sama persis dengan rumah joglo karena semua bahannya terbuat dari kayu. Lantainya pun terbuat dari tegel jaman dulu yang berwarna kuning. Karena memang rumah itu adalah rumah peninggalan Kakek Gea.
''Sebaiknya kita tata semua barangnya ya Ayah-Ibu.'' Ucap Brian.
''Iya Brian.'' Jawab Pak Hendi. Brian kemudian membantu menata semua barang yang sudah ia belikan untuk orang tua Gea.
''Gea, bantu Ibu menyiapkan makan malam. Kasihan Ayahmu dan Brian, sibuk menata nanti keburu lapar.''
''Iya Bu.'' Kali ini Gea pasrah dan tidak lagi marah. Sembari memasak, Bu Hana sedikit menasihati Gea.
''Gea, buang trauma mu dan sambut masa depanmu. Kamu mau mencari laki-laki yang seperti apalagi? Brian itu paket komplit. Tampan, kaya, baik hati dan anak yang berbakti.''
''Justru kesempurnaannya yang membuat Gea takut, Bu. Gea ini hanya gadis kampungan, sedangkan dia seorang pangeran.''
''Kamu harus bersyukur Gea. Kasihan dia. Dia tulus sekali sama kamu. Toh orang tuanya juga sudah memberi restu.''
__ADS_1
''Gea tetap takut, Bu.''
''Nak, kamu itu juga cantik, kamu pintar, kamu baik, kamu mandiri jadi mungkin ini jawaban dari doa Ibu. Ibu ingin kamu mendapatkan suami yang tampan, mapan, yang bisa mencintai kamu dan orang tuamu apa adanya. Jangan banyak berpikir lagi, nanti kamu menyesal Gea. Kamu juga putri Ayah dan Ibu yang sangat sempurna. Jadi pikirkan baik-baik ya. Naluri Ibu tidak akan salah, Gea. Brian yang terbaik.''