
''Mah, serius ini rumah kontrakannya.''
''Iyalah, memangnya kenapa Bel?''
''Kok gedean kamar Belinda sih.''
''Kalau mau rumah besar, kamu sanggup bayar listrik dan airnya?''
''Jadi aku harus bayar listrik dan air juga ya Mah?''
''Ya iyalah. Kamu juga harus bersih-bersih dan masak sendiri. Rumah sudah ada ruang tamunya, kamar tidur yang kamar mandinya di dalam, ada pantrynya juga. Tuh sudah Mama sediain kulkas juga, ya walapun kulkasnya kecil. Kalau untuk semua kebutuhan kamu sih cukup saja. Ingat ya mulai sekarang kamu itu Belinda saja, tidak ada Dirgantara di belakang nama kamu. Kamu harus belajar mandiri dan belajar mendapatkan uang dengan bekerja. Nanti kamu bisa merasakan betapa nikmatnya menghasilkan uang sendiri.''
''Iya Mah tapi harus ya Mah? Apa itu artinya secara tidak langsung Belinda ini bukan anak Papa dan Mama?''
''Huss kamu ini bicara apa? Kamu jelas anak Papa dan Mama lah. Kamu disini untuk belajar mandiri, paham?"
''Tapi Belinda masih boleh main ke rumah kan?''
''Tentu saja boleh, sayang. Ya sudah, kalau begitu Mama pulang dulu ya.''
''Mah, Belinda sendirian dong berarti?''
''Lha terus sama siapa Bel? Kan ada tetangga juga disini.'' Kata Nyonya Dira.
''Mah...,'' rengek Belinda sambil bergelayut di lengan Mamanya.
''Kamu sudah dewasa, usia kamu sudah 21 tahun, Belinda. Kamu bukan anak kecil lagi. Mama seusia kamu saja sudah menikah. Sudah ya, Mama pulang dulu.'' Nyonya Dira kemudian memeluk dan memberikan kecupan di wajah putrinya itu. Dalam sudut hati Nyonya Dira, ada perasaan tidak tega. Namun ini semua untuk kebaikan Belinda.
''Mama hati-hati ya.''
''Iya sayang, kamu juga ya. Semangat!"
Sementara itu Brian juga baru saja sampai di kontrakannya. Entah kenapa Brian malah senang karena ia bisa bebas.
__ADS_1
''Ah aku bisa bebas nih. Jauh dari Papa dan Mama, meskipun tempat ini kecil dan sempit tapi tidak masalah lah.'' Ucap Brian seraya membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Tuan Keenan dan Nyonya Dira sengaja memisah kontrakan keduanya. Supaya mereka bisa saling lepas dan tidak saling menggantungkan. Walaupun kontrakan Brian dan Belinda hanya berjarak lima menit jika menaiki sepeda motor.
Saat Brian sedang asyik beristirahat, tiba-tiba ia mendengar suara dari rumah sebelah. Lebih tepatnya suara musik dangdut koplo yang menggema dengan kencangnya.
''Aduh, berisik banget sih! Nggak ada musik yang lebih keren apa?'' kesal Brian. Sementara dirumah sebelah, ada seorang gadis yang sedang menyuci motornya di pelataran rumah.
''Eh-eh-eh-eh, Bang Jono
Kenapa kau tak pulang-pulang?
Pamitnya pergi cari uang
Tapi kini malah menghilang.'' Ucap gadis itu sambil bernyanyi tanpa beban.
''Asyik, tarik mang!" seru gadis yang bernama Gea itu.
Brian yang berada di dalam kamar semakin di buat kesal. Apalagi ia tidak menyukai musik dangdut. Brian lalu keluar dari kamarnya dan pergi menuju rumah sebelah. Brian melihat seorang gadis yang tidak asing, sedang mencuci motornya sambil berdendang dengan suara yang membuat telinga menjadi sakit.
''Mbak-Mbak, tolong matiin musiknya dong, berisik!" teriak Brian. Mendengar suara Brian, Gea menghentikan aktivitasnya. Ia lalu berjalan mendekat kearah Brian yabg berdiri di ambang pintu pagar.
''Elo siapa?'' tanya Gea sambil berkacak pinggang. Gea memperhatikan penampilan Brian dari ujung kaki sampai ujung kepala.
''Aku? Kamu tidak mengenalku?'' tanya Brian.
''Memangnya elo artis apa? Dan apa harus, gue kenal siapa elo? Nggak penting banget kan.''
''Wah, sombong banget nih cewek. Baru kali ini lho ada cewek yang bersikap sombong kayak gini.'' Ucap Brian dalam hati.
''Kamu pelayan di acara pesta pernikahan itu kan?''
''Iya. Gue emang ikut catering saat itu, memangnya kenapa? Terlalu banyak orang yang gue temui saat itu jadi sorry, gue nggak tahu elo.'' Karena Gea memang benar lupa siapa Brian.
''Bisa kan matikan musikmu itu. Aku ingin istirahat.'' Ketus Brian.
__ADS_1
''Ini masih pagi, masa iya mau istirahat. Laki-laki jam segini itu kerja, bukannya istirahat.''
''Aku libur, lagi pula aku baru sampai.''
''Selama ini tidak ada yang protes saat gue putar musik dangdut kayak gini, mereka justru enjoy dan happy. Elo aja yang cerewet.''
''Iyalah, seleramu itu kampungan!"
''Enak saja kampungan, dangdut is the music of my country. Dasar sombong!" kesal Gea. Brian memilih berlalu dan tidak memperdulikan ocehan Gea.
...****************...
''Aduh, perut lapar. Aku harus berhemat. Sebaiknya aku makan mie instan saja.'' Gumam Brian. Namun saat Brian menuju dapur kecilnya, ia melihat selang tabung gasnya belum terpasang.
''Yah, ini bagaimana memasang tabung gasnya?'' gumam Brian. Brian lalu membuka ponsel dan mencari tutorial memasang selang tabung gas lewat youtube. Setelah melihat caranya, Brian lalu mencobanya. Dan setelah bersusah payah, akhirnya Brian bisa melakukannya.
''Yes, bisa! Akhirnya aku bisa memasang selang tabung gas. Pekerjaan yang tidak pernah aku lakukan di rumah. Sekarang lanjut memasak mie. Kalau hanya mie saja, tentu aku bisa.'' Kali ini Brian benar-benar merasakan melakukan apa-apa sendiri. Biasanya di rumah selalu ada Bibi yang melayaninya. Bisa melakukan satu hal baru, seperti mendapat undian berhadiah bagi Brian. Malam itu Brian melewatkan makan malamnya dengan semangkok mie instan.
-
Belinda, tentu tidak mau bersusah payah untuk makan malamnya. Ia melihat abang bakso melintas di depan kontrakannya. Akhirnya Belinda memutuskan untuk membelinya.
''Bang, baksonya yang banyak ya. Jangan kasih msg, tanpa mie, kuahnya yang banyak, tidak usah pakai bawang goreng, daun bawangnya di banyakin ya bang, sama sawinya di banyakin. Tanpa kecap, tanpa saos dan tanpa sambal.'' Cerocos Belinda yang membuat si Abang bakso bingung.
''Yaelah Neng, ini mah sama saja dengan bakso sama kuah doang, alias polosan.''
''Hehehe itu bang maksudnya.''
''Ribet banget dah ngomongnya,'' kata si abang bakso. Setelah membeli bakso, Belinda tidak sabar untuk menyantapnya.
''Lima belas ribu untuk bakso. Bagaimana mau masak? Aku sama sekali tidak bisa memasak. Mau makan mie instan, kalorinya terlalu ekstrim. Belum lagi bumbunya yang banyak pengawet. Lebih baik bakso saja kan?'' ucap Belinda yang bicara dengan dirinya sendiri.
''Mmmm lumayan enak baksonya si abang tadi.'' Belinda terus makan sampai bakso dalam mangkok itu habis tak bersisa. Setelah makan, Belinda lalu menimbang berat badannya. Timbangan adalah benda wajib yang harus ada di sampingnya.
__ADS_1
''Lho-lho kok langsung naik 1kg. Oke, satu jam lagi aku harus work out. Jadi ribet kan kalau tidak makan di rumah. Mau masak juga tidak bisa. Biasanya ada Mama atau Bibi yang mengurus makananku. Ah, bisa-bisa aku gendut nih makan sembarangan. Mau makan seperti biasa biayanya juga mahal, bisa habis uangku untuk makan seperti itu. Masa iya mau makan kangkung sama tahu tempe saja. Mamaaaaa.... Belinda mau pulang!!!!!!'' ocehan Belinda berujung rengekan.
Bersambung....