My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 183 Sunday Morning


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berlima pergi joging di area Dream Land. Arthur, Belinda dan Brian sudah berlari dengan kencangnya. Sementara Arsen dan Sheena saling bergandengan tangan dengan jalan-jalan santai. Kondisi Sheena yang tengah hamil, tentu tidak memungkinkan untuk lari pagi.


''Udara paginya segar sekali ya, Arsen.''


''Iya Sheena. Kamu tidak merasa mual atau pusing pagi ini?'' tanya Arsen.


''Tidak. Kan pagi ini sudah di gantikan sama kamu mual dan muntahnya. Gimana sayang? Enak tidak, merasakan apa yang dirasakan Ibu hamil.'' Gurau Sheena.


''Sebenarnya tidak enak. Tapi aku senang bisa berbagi suka duka untuk kehamilan kamu kali ini. Biarlah tidak apa aku yang merasakannya. Yang penting selama kamu hamil harus happy ya, apalagi ada dua calon anak kita di dalam rahim kamu.''


''Oh sweet sekali suamiku ini.''


Setelah puas berkeliling, mereka lalu duduk di penjual bubur ayam pinggir jalan. Belinda memesankan lima porsi bubur ayam untuk mereka semua, beserta lima teh manis.


''Pak, untuk bubur yang satu lagi tidak usah pakai bubur ya. Ayamnya saja, tanpa daun bawang, tanpa krupuk tapi telurnya utuh ya Pak, sama kuahnya saja tanpa kecap dan sambal. Kalau bisa telurnya setengah matang tapi kalau tidak ada setengah matang, yang matang saja tidak apa-apa. Terus tehnya hangat tawar, tidak pakai gula. Ingat ya, Pak!" Cerocos Belinda yang lag-lagi membuat penjual bingung. Kemarin penjual bakso yang dibuat bingung oleh Belinda dan sekarang penjual bubur.


''Belinda, aku juga sama seperti kamu. Tehnya juga hangat tanpa gula alias.'' Sahut Sheena. Arthur, Brian dan Arsen kompak menoleh kearah Sheena. Apalagi Arthur yang merasa heran dengan perubahan Sheena itu.


''Nah, berarti yang sama kayak saya itu dua ya, Pak. Terima kasih.''


''I-iya Non.'' Kata si penjual bubur yang mengernyitkan dahinya. Berusaha mengingat apa yang diminta oleh Belinda.


''Sheena, kamu biasanya tidak kenyang lho kalau tanpa nasi. Kenapa malah ayamnya saja?'' tanya Arthur.


''Sedang ingin itu saja, Kak.'' Jawab Sheena.


''Wah, selera kalian sepertinya benar-benar tertukar.'' Kata Arthur menggelengkan kepala heran. Suasana pagi itu di area Dream Land sangat ramai. Banyak sekali orang yang lari pagi atau sekedar jalan-jalan untuk menikmati suasana pagi. Terlebih ini adalah hari minggu.


Setelah menunggu selama tiga puluh menit, pesanan mereka pun jadi karena harus mengantre dulu.


''Jangan lupa berdoa dulu!" sahut Sheena.


''Iya Noona." Sahut Brian.


''Arsen, kamu akhirnya mau juga makan di pinggir jalan.'' Celetuk Arthur.


''Memangnya kenapa Arthur? Aneh ya?''


''Iyalah, aneh banget. Perlu di abadikan.''


''Nah, bagaimana kalau kita foto dulu?'' sahut Brian.


''Ide bagus, Brian. Kita jarang sekali foto bersama seperti ini kan?'' sambung Sheena. Brian kemudian mengeluarkan ponselnya dan mereka foto bersama dengan berbagai macam gaya. Disaat semuanya berpose seru dan lucu, Arsen justru mengajak Sheena berpose mesra dengan saling mengecup pipi dan bibir bergantian.


Brian mendengus. ''Noona-hyung, bisakan pose kalian tidak membuat jiwa jombloku meronta-ronta.'' Protes Brian.


''Iya nih Eonni dan Oppa bikin kita semua iri.'' Sahut Belinda.


''Belinda, kamu kan ada Arthur.'' Celetuk Arsen. Belinda mendecih menatap Arthur, begitu juga sebaliknya.


''Ayolah pose yang seru, kalau kalian mau seperti itu, foto saja sendiri,'' lanjut Brian.

__ADS_1


''Oke-oke, maaf. Baiklah ayo kita mulai lagi.'' Kata Arsen dengan tawa kecilnya. Dan saat sedang asyik foto bersama dengan kamera depannya, mata Brian tertuju pada sesuatu. Ya, Gea tertangkap kamera Brian.


''Gawat, ada Gea.'' Batin Brian.


''Ah sudah-sudah. Nanti aku kirim pada kalian semua. Ayo kita pulang!" aja Brian yang mulai panik.


''Ada apa sih Brian? Aku masih ingin disini.'' Kata Sheena.


''Mmmm tidak apa-apa Eonni.''


Gea berada tidak jauh dari gerobak bubur itu. Gea sedang menata meja untuk meletakkan dessert box di atasnya. Lebih tepatnya Gea berjualan juga disana.


''Ayo Kakak-Kakak, desert boxnya. Ini Enak lho! Seratus persen gula asli dan bahannya premium. Ada rasa tiramisu, oreo, red velvet dan coklat almond. Ada puding susunya juga Kakak. Ayo-ayo di dibeli!" suara keras Gea mengundang Sheena untuk membelinya.


''Sayang, aku mau itu.'' Pinta Sheena pada Arsen.


''Baiklah, ayo beli!"


''Sepertinya enak untuk makanan penutup,'' sahut Belinda.


''Iya nih. Aku mau puding susunya.'' Sahut Arthur.


''Ya sudah, kita beli saja. Kasihan kan, kita kasih pelaris buat si Mbaknya.'' Kata Sheena.


''Baiklah kalau begitu sayang.'' Ucap Arsen.


''Brian, kamu mau? Noona yang belikan.''


''Baiklah kalau begitu.'' Kata Sheena. Dan mereka berempat pergi ke lapak kecil milik Gea.


''Mbak, mau dong yang oreo.'' Kata Sheena.


''Boleh banget, Kak.'' Jawab Gea dengan ramahnya.


''Sayang, kamu mau yang apa?'' tanya Sheena pada Arsen.


''Sama seperti kamu saja.''


''Eonni aku mau puding susunya.''


''Oke.'' Jawab Sheena.


''Aku juga puding susu yang rasa vanilla.'' Sahut Arthur.


''Oke Kak.'' Jawab Sheena. Dan Sheena membeli dua desert box oreo serta dua puding susu.


''Sayang, itu Brian rasa apa? Aku bingung.''


''Baiklah aku tanya dia saja.'' Kata Arsen. Bukannya mendekati Brian, Arsen justru berteriak memanggil nama Brian.


''Brian! Kamu mau rasa apa?'' teriakan Arsen, membuat Gea terkejut. Gea ikut melihat kearah Brian yang duduk memunggungi mereka semua.

__ADS_1


''Apa itu Brian tetangga baruku itu?'' batin Gea.


''Tiramisu!" sahut Brian.


''Aku tidak mendengarnya,'' sahut Arsen.


''Biar aku yang menyeretnya kesini oppa.'' Sahut Belinda. Belinda kemudian mendekati Brian.


''Brian, ayo kita kesana! Pilih sendiri sana.'' Paksa Belinda sambil menarik lengan Brian.


''Pilihkan saja untukku, Noona. Aku mau rasa tiramisu. Aku tunggu di mobil, perutku sakit.'' Brian kemudian berlalu tanpa memperlihatkan wajahnya. Ia bahkan segera menutup kepalanya dengan kapucong jaketnya.


''Ini anak aneh banget,'' gumam Belinda. Belinda kemudian kembali ke lapak Gea.


''Jadi dia mau apa dan kenapa Bel?'' tanya Sheena.


''Dia sakit perut katanya, Eonni. Dan dia mau rasa tiramisu.''


''Oke baiklah, sebaiknya setelah ini kita pulang saja.'' Kata Sheena.


''Mbak, tambah tiramisu satu ya.'' Pinta Sheena.


''Iya Kak. Ini Kak, terima kasih ya Kak. Berapa totalnya?''


''Semuanya seratus seribu, Kak.'' Kata Gea. Sheena kemudian mengeluarkan uang seratus ribu dan memberikannya pada Gea.


''Terima kasih ya, Kak.''


''Sama-sama, Mbak.''


Sheena dan yang lain kemudian menyusul Brian ke mobil.


''Itu pasti bukan Brian yang menyewa rumah sebelah. Tapi dia kemana ya? Dari semalam tidak kelihatan. Ah, bukan urusanku juga.'' Gumam Gea dalam hati.


Brian merasa sangat lega, ketika mobil mulai di lajukan. Setidaknya Gea tidak tahu penyamarannya.


''Kamu baik-baik saja Brian?'' tanya Sheena.


''Sepertinya terlalu banyak sambal yang aku masukkan ke dalam buburku tadi. Jadinya mules, maaf ya sudah membuat khawatir.''


''Apa sekarang sudah membaik?'' tanya Sheena lagi.


''Sudah lumayan Noona.''


''Dasar, merepotkan saja!" sahut Belinda dengan kesal.


''Namanya juga sakit perut, Noona.'' Jawab Brian dengan memelas.


''Jadi Gea kalau pagi jualan juga disini? Sudah kerja di mini market, balap motor eh sekarang jualan lagi. Dia memang hebat dan sangat langka gadis seperti Gea.'' Gumam Brian dalam hati.


Bersambung.... Maaf ya kalau baru up dan membuat kalian menunggu. Maklum lah, authornya juga manusia biasa yang juga punya kehidupan di dunia nyata juga, hehehe. Kadang probelm di dunia nyata bisa mempengaruhi mood menulis juga, hehehe... Belum lagi mendadak ide mampet 😂 belum lagi ada gangguan kepala pusing dan sebagainya 🤪😁Makasih ya buat kalian yang masih selalu setia menunggu, sayang kalian 🙏😘🤗

__ADS_1


__ADS_2