
Usia kandungan Naynay sudah memasuki pertengahan lima bulan, perutnya memang terlihat lebih besar dari ibu hamil kebanyakan. Naynay juga selalu rutin mengikuti yoga dan senam khusus ibu hamil yang instrukturnya didatangkan langsung ke rumah. Hubungan Naynay dengan Qiara dan Silla pun semakin baik, mereka sering pergi makan bersama jika Naynay ngidam makanan yang aneh-aneh.
Sekarang Naynay sedang duduk di tepi kolam ikan di taman depan rumah Afif. Di tangannya ada snack yang sedang dia makan dan juga ada roti untuk ikan-ikan koi di sana makan.
"Kakak Ipar!" teriak seseorang membuat Naynay terkejut hingga roti jatuh ke dalam kolam dan ikan-ikan tersebut langsung berkerumun dan bersikap anarkis memperebutkan roti itu.
Naynay menoleh menatap dua gadis yang berjalan sambil tertawa ke arahnya. "Ada apa?" tanyanya kesal.
"Pergi makan, yuk!" ajak mereka serempak.
Naynay berpikir sejenak. "Ayo, aku ingin makan gurame bakar!"
Mereka bersiap-siap terlebih dahulu. Naynay memakai dress berwarna putih dengan panjang lima senti di bawah lutut. Di bagian bawahnya terdapat renda sederhana yang membuatnya elegan. Menyambar tasnya, Naynay segera keluar karena mendengar pintu kamar yang digedor.
"Lama banget!" Lagi-lagi Qiara dan Silla berkata dengan kompak.
Mereka segera turun ke bawah dan masuk ke dalam mobil. Tapi Naynay sudah izin dulu dengan Afif sebelumnya, bisa berabe kalau tidak izin. Silla yang menyetir dan Qiara duduk di sampingnya, sedangkan Naynay duduk sendiri di belakang.
"Kita bawa Araa, ya. Kangen soalnya!" ujar Qiara memutar tubuhnya menghadap Naynay. Bumil itu balas mengangguk pertanda setuju, dia juga rindu dengan anaknya itu walau kemaren lusa baru ketemu.
Setelah menjemput Araa di rumah Hendrayan, mereka lanjut mencari restoran yang rasanya nyaman untuk anak-anak juga. Tiga puluh menit berkendara, akhirnya mereka menemukan restoran yang dimaksud. Ketika mereka masuk, suasananya tidak terlalu ramai. Naynay meminta untuk memesan ruang privat karena dia merasa kurang nyaman dengan tatapan beberapa laki-laki ke arahnya.
Mereka naik ke lantai dua di mana ruangan privat berada, Naynay merasa nyaman di sini karena sudah dibatasi oleh sekat seperti restoran Jepang. Mereka memesan makanan dan pastinya gurame bakar yang diidamkan oleh Naynay juga.
"Kakak Ipar kan udah lulus nih, gimana rencana buat kuliah?" tanya Silla yang memangku Araa.
Naynay terdiam, dia sudah berusaha untuk tidak membahas tentang masalah kuliahnya. "Aku belum memikirkannya."
Qiara meraih tangan Naynay dan menggenggamnya. "Kalau kau mau kuliah, kak Afif pasti mengizinkannya."
Kuliah, S2, itu adalah mimpi Naynay setelah lulus SMA. Tapi ketika hamil dan menikah, semua mimpi dan rencana yang dia susun langsung hancur.
"Apa kakakmu benar-benar akan mengizinkan? Aku ragu," ujar Naynay tidak yakin.
"Nay, kau itu istrinya. Kakakku pasti akan mengizinkan, apalagi dia tidak pernah menolak semua keinginanmu selama ini." Qiara kembali meyakinkan Naynay. Dia memang jarang memanggil Naynay dengan sebutan Kakak Ipar, canggung katanya. Dan Naynay pun tidak pernah mempermasalahkannya.
Pembicaraan mereka terhenti karena pelayan masuk membawa pesanan mereka yang lumayan banyak. Naynay memandang gurame bakar di depannya dengan air liur yang hampir menetes.
"Mari makan!!" ucap mereka bertiga serempak dan menyuap makan ke mulut masing-masing. Araa seperti biasa, diberi biskuit bayi kesukaannya.
Mereka makan dengan tenang sebelum pintu terbuka dan seseorang masuk, ketiga perempuan itu terkejut.
__ADS_1
"Kakak ngapain ke sini?" tanya Silla pada Afif yang sudah duduk di samping Naynay.
Ya, yang tiba-tiba masuk itu adalah Afif. Dia kebetulan berada di restoran yang sama dan melihat istrinya serta kedua adiknya di sini. Sebenarnya dia juga mendapat info dari orang suruhannya yang menjaga Naynay kalau istrinya ada di sini.
"Aku ada urusan di sini," jawab Afif singkat membuat Silla kesal. Coba kalau ngomong sama Naynay, bibir kakak sepupunya itu bakalan menguntai kata sepanjang kereta api.
Afif melihat Naynay yang bengong menatapnya, mungkin istrinya itu terkejut karena kedatangannya. Dia mencubit pipi Naynay hingga bumil itu sadar.
Araa yang melihat Afif, memberontak di pangkuan Silla. Bayi itu merengek dengan tangan terangkat minta digendong oleh Afif.
"Anak Ayah, nih." Afif mengambil Araa dari Silla dan memangkunya.
Araa tertawa riang ketika duduk di pangkuan Afif, mereka berdua seperti anak dan ayah kandung. Afif menciumi pipi Araa dari samping, gemas melihat pipi gembul yang mirip dengan pipi Naynay itu.
Akhirnya acara makan itu bertambah satu anggota lagi, Naynay meminta Afif untuk menyuruh Ryan bergabung.
*****
Afif sedang duduk di tempat tidur dengan posisi bersandar di headboard tempat tidur. Dia sedang menunggu Naynay yang sedang berganti pakaian di ruang ganti. Afif menoleh ke arah suara pintu ruang ganti yang terbuka, terlihat istrinya itu berjalan ke arahnya.
"Nay mau duduk di sini," pinta bumil itu menunjuk paha Afif.
Naynay memeluk Afif dan meletakkan dagunya di bahu Afif. Tiba-tiba dia terkejut ketika merasakan pergerakan di dalam perutnya. Naynay melepas pelukannya dan menatap Afif dengan wajah masih terkejut.
"Perutmu bergerak, kau lapar?" tanya Afif polos membuat Naynay menggeleng. Dia bisa merasakan tadi saat perut Naynay tiba bergerak.
"Lalu?"
"Itu... Dedeknya nendang." Naynay mengelus perutnya di bagian yang tadi terasa pergerakan. Dia tersenyum ketika mendapati malaikat kecilnya merespon elusannya dengan kembali menendang.
"Kau serius?" tanya Afif heboh, Naynay mengangguk.
"Sini, Kakak cobain." Naynay meraih sebelah tangan Afif dan dieluskan ke perutnya. Afif dapat merasakan tendangan anaknya itu di telapak tangannya.
Afif tertawa dengan mata berkaca-kaca, dia kembali mengelus perut Naynay dan mendapat tendangan lagi.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Afif pada Naynay yang menatapnya.
"Rasanya aneh," jawab Naynay polos membuat Afif tertawa keras dan mencubit hidung istrinya itu.
Afif merasa begitu senang ketika pertama kali merasakan pergerakan anaknya. Dia tak henti-hentinya mengelus dan menciumi perut Naynay. Dia sekarang berbaring di depan Naynay yang tidur miring, kepalanya berada tepat di depan perut Naynay.
__ADS_1
Puas merasakan pergerakan anaknya di dalam perut Naynay, Afif mengubah posisinya berbaring sejajar dengan Naynay.
"Aku tidak pernah membatasimu, Nay. Sekarang aku tanya, apa kau mau kuliah?" tanya Afif sambil mengelus pipi Naynay.
'Dia tahu semua yang aku lakukan dan bicarakan, jadi jangan heran lagi, Nay!!'
"Kuliah sampai S2 memang mimpi Nay, tapi itu dulu, sebelum Nay hamil dan menikah. Kalaupun Nay kuliah, Nay juga nggak bakalan bisa bantu papa karena Nay udah jadi seorang istri. Dan tugas seorang istri adalah melayani suami serta mematuhi segala perkataannya. Ditambah dengan kondisi sedang hamil, akan muncul banyak pertanyaan di benak orang-orang yang tahu kalau Nay itu putri tunggal keluarga Pradipta." Naynay menceritakan kekhawatirannya jika kuliah. Dia mau, sangat mau untuk kuliah, tapi sepertinya ini belum waktunya.
"Kalau kau mau, aku bisa mengurus semuanya. Kau tidak perlu memikirkan tentang pemikiran orang-orang nantinya, dan untuk perusahaan keluarga Padripta, papamu sudah memercayakannya padaku." Afif meyakinkan Naynay jika istrinya itu memang mau kuliah, dia akan mengatur dan mempersiapkan semuanya secara langsung.
"Nay mau kuliah di luar negeri, tinggalnya di apartemen yang dekat dengan kampus!" ucap Naynay membuat Afif terdiam dan beranjak duduk di tepi tempat tidur. Itu adalah rencana yang disusun Naynay untuk kuliahnya.
"Aku akan mengurusnya," balas Afif setelah lumayan lama terdiam. Jika Naynay ingin kuliah di luar negeri, maka dia harus bersiap LDR dengan sang istri. Afif berpikiran kalaupun dia bisa ikut pindah, tapi kantor pusat pastinya tidak bisa ditinggalkan begitu lama.
Naynay tersenyum dan ikut duduk, dia memeluk Afif dari belakang. Tidak menyangka kalau suaminya menyikapi dengan serius perkataannya tadi. "Nay cuma bercanda, mana mungkin Nay ninggalin suami setampan ini di sini."
Mendengar itu, Afif langsung memutar tubuhnya dan memegang kedua bahu Naynay. "Kau serius hanya bercanda?"
Serius bercanda? Dasar Afif aneh 🤨
Naynay mengangguk dan menghambur ke dalam pelukan Afif. "Untuk sekarang, izinkan Nay untuk menikmati masa kehamilan dulu. Ada Araa dan Kakak yang pastinya menjadi tanggung jawab Nay, nggak bisa ditinggal gitu aja hanya karena ambisi untuk kuliah."
"Kalau Kakak nggak keberatan dan malu punya istri yang hanya lulusan SMA, maka Nay akan undur buat kuliah dulu," imbuh Naynay.
"Tidak ada kata malu, malahan aku senang memiliki istri sepertimu. Nay, aku sebagai suamimu akan selalu mendukung keputusanmu, seperti halnya kau yang selalu mendukungku." menciumi puncak kepala Naynay penuh cinta.
Naynay mempererat pelukannya, dia merasa senang karena Afif mendukung keputusannya. Tendangan di perutnya kembali membuat Naynay tertawa, begitu pun dengan Afif yang bisa merasakannya.
Semalam itu Afif berbicara kepada anaknya yang masih di dalam perut Naynay, sedangkan istrinya itu sudah tertidur dengan nyenyaknya setelah melayani Afif beberapa ronde. Ya begitulah, Afif melampiaskan rasa senangnya dengan menggempur Naynay hingga istrinya itu tertidur.
.
.
.
.
.
Bahagia selalu 🌸
__ADS_1