My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 149 Kekacauan


__ADS_3

Setelah puas mencumbui istrinya, Arsen segera bersiap untuk meeting.


“Kamu pulang jam berapa?” tanya Sheena yang kini enggan untuk di tinggal.


“Paling lama jam sepuluh tapi aku usahakan pulang cepat. Nanti malam aku akan mengajakmu jalan-jalan. Disini semakin malam, semakin ramai.”


“Baiklah aku akan menunggumu.” Ucap Sheena. Mereka berdua kemudian saling berpelukan dan saling mengecup mesra.


“Kalau ingin jalan-jalan, biar Pak Roni yang menemanimu.”


“Iya, kamu hati-hati ya.”


-


Belinda diam-diam keluar rumah menemui kekasihnya Dave di sebuah restoran. Melihat kekasih bulenya sudah menunggu di restoran, Belinda menghambur ke pelukan kekasihnya itu.


“Dave, I miss you so much. Kenapa kamu lama sekali menyusulku?”


“Maafkan aku Bel, aku masih banyak pekerjaan disana. Bagaimana kabarmu?”


“Aku baik tapi aku sulit sekali menahan rindu. Apa kamu tidak merindukanku?”


“Tentu saja aku sangat merindukanmu, sayang.” Dave pun memberikan kecupan di kening Belinda.


“Oh ya Dave, ada yang ingin aku katakan padamu.”


“Apa?”


“Aku mau di jodohkan.”


“Apa? Di jodohkan? Lalu bagaimana denganku, Bel?”


“Aku juga memikirkan itu, Dave. Apa kita kawin lari?”


“No, no, no! Jangan seperti itu. Justru itu akan membuatku terlihat buruk dihadapan keluargamu.”


“Lalu apa yang harus kita lakukan?”


“Kita temui keluargamu, aku akan meminta ijin pada mereka.”


“Baiklah nanti kamu datang ke rumah saat makan malam ya.”


“Oke sayang. Baiklah sebaiknya kita makan saja dulu.”


Belinda sengaja mengundang Dave ke rumahnya nanti malam untuk mengacaukan pertemuan keluarga antara keluarganya dan juga Arthur. Karena Belinda sama sekali tidak mau di jodohkan dengan Arthur, bahkan terlintas untuk menyukai Arthur pun tidak ada.


-


“Kerja bagus, Arthur. Kamu memang bisa Papa andalkan dalam segala hal.” Tuan Darwin memberikan pujian untuk putranya setelah melakukan presentasi di hadapan kliennya.


“Nanti kalau tidak bagus, Papa pasti akan marah denganku. Apalagi sampai kalau aku gagal mendapatkan proyek itu.”


“Tentu saja Papa akan marah lah, apalagi ini proyek besar. Papa beruntung sekali memiliki kamu yang bisa diandalakan dalam hal apapun. Nanti ajari adikmu juga ya. Ya meskipun nantinya dia akanmenjadi ibu rumah tangga tapi dia juga harus tahu seluk beluk perusahaan kita.”

__ADS_1


“Iya Pah. Biarkan Sheena menikmati bahagianya, Pah. Dia sudah terlalu banyak bekerja keras selama ini. Selagi Arthur bisa, Arthur akan mengurusnya.”


“Iya kamu benar juga, Nak. Kamu memang Kakak yang pengertian sekali.”


“Tentu saja dong, Pah.”


“Karena kamu terlalu berharga utnuk Papa dan Mama, untuk itu Papa juga sudah menyiapkan jodoh untuk kamu. Papa tidak ingin kamu salah pilih, Nak.”


Arthur menghela kesal. “Pasti membahas Belinda lagi, kan? Sudahlah Pah, Arthur tidak buru-buru ingin menikah. Usia 25 tahun masih terlalu muda untuk menikah.”


“Tidak masalah mau menikah usia berapa, yang jelas kalian harus di ikat dulu. Nanti malam Tuan Keenan mengundang kita untuk makan malam.”


“Pah, tidak bisakah aku menolak saja?”


“Jangan macam-macam ya kamu. Kita contoh Arsen saja, dia hampir saja salah pilih kan. Pasti semua wanita yang ingin mendekati kamu karena kamu punya segalanya. Kalau dengan Belinda, sudah jelas kan asal-usul, bibit, bebet dan bobotnya.”


“Jangan samakan Arthur dengan Arsen, Pah. Itu sudah jelas Arsen yang bodoh.”


“Husss, jaga ucapanmu! Dia itu adik iparmu. Pokoknya nanti malam kita berangkat. Apa susahnya tinggal ikut saja.”


“Tapi Arthur dan Belinda tidak saling menicntai, Pah.” Arthur terus mencari alasan.


“Arsen dan Sheena juga tidak saling mencintai tapi sekarang, mereka saling mencintai dan tidak terpisahkan. Cinta itu akan datang karena terbiasa. Sudah jangan banyak membantah.”


Arthur hany bisa terdiam dan mengalah dengan apa yang di ucapkan Papanya.


-


Malam harinya, kedua keluarga sudah berkumpul bersama di rumah Tuan Keenan. Suasana makan malam pun terasa semakin hangat.


“Iya dong. Arsen dan Sheena sudah bahagia, tinggal menunggu resepsi saja. Sekarang giliran Arthur dan Belinda,” ucap Tuan Keenan.


“Pah, jangan paksa Belinda.” Sahut Belinda dengan tatapan memelas.


“Bel, percayalah pada eonni, perjodohan keluarga itu yang terbaik. Papa dan Mama juga awalnya di jodohkan kok. Buktinya Papa dan Mama bahagia sampai sekarang.” Jelas Queen.


“Serius Om dan Tante di jodohkan?” sahut Arthur.


“Iya Arthur. Kami di jodohkan, meskipun dulu Tante dapat dudanya Om Keenan.” Celetuk Dira dengan senyum kecilnya.


“Tidak selamanya perjodohan itu buruk Arthur, Belinda.” Lanjut Queen.


“Dan kita dulu juga di jodohkan juga,” sahut Raja.


“Iya lho, kami juga di jodohkan. Buktinya kami juga bahagia.” Timpal Queen.


“Kalau begitu, aku juga mau di jodohkan, Pah, Mah. Pati pilihan Papa dan Mama yang terbaik,” sahut Brian.


“Mantapkan hatimu dulu kalau mau di jodohkan, Brian. Kamu saja masih belum bisa serius. Kamu besok bantu Papa urus perusahaan, jangan main-main terus.” Sahut Tuan Keenan.


“Iya-iya Pah.” Pasrah Brian.


“Arthur, kamu dengar sendiri kan? Perjodohan itu tidak buruk, Nak. Kalian saling mengenal saja dulu.” Sahut Nyonya Sofi.

__ADS_1


“Iya sebaiknya kalian menghabiskan waktu berdua untuk keluar, misalnya nonton.” Sambung Nyonya Dira.


Saat sedang asyik menikmati makan malam sembari mengobrol, tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi.


“Ah, pasti itu Dave,” gumam Belinda dalam hati.


“Biar Belinda saja yang membuka pintu, Mah.” Belinda dengan antusias beranjak dari duduknya, ia segera berjalan menuju pintu utama.


“Akhirnya kamu datang juga,” peluk Belinda saat melihat kekasih bulenya itu datang.


“Aku sudah janji padamu, Bel. Jadi aku passti akan datang.” Kata Dave.


“Ayo masuk!” Belinda lalu menggandeng tangan Dave dan mengajaknya menuju ruang makan.


“Perhatian semuanya!” suara lantang Belinda, membuat seisi ruangan melihat kearahnya.


“Belinda! Siapa dia?” tanya Tuan Keenan dengan suara meninggi.


“Pah-Mah, dia Dave. Dia adalah pria yang aku cintai. Jadi aku mohon, jangan paksa aku untuk menerima perjodohan ini.”


“Belinda, kamu ini membuat Papa malu saja. Kamu tidak menghargai Om Darwin dan Tante Sofi disini.” Tuan Keenan pun semakin tersulut emosi.


“Ni anak nekat juga ya,” gumam Arthur dalam hati.


“Pah, Mah, lihat Belinda saja sudah memiliki kekasih. Jadi biarkan kami memilih jalan kami sendiri ya.” Arthur berusaha membujuk kedua orang tuanya.


“Dira, bagaimana ini?” bisik Nyonya Sofi.


“Pasti ini akal-akalan mereka.” Ucap Nyonya Dira.


“Belinda, kamu jangan keterlaluan ya. Apa yang kamu lakukan ini tidak sopan.” Sahut Nyonya Dira.


“Mah, tapi ini yang terbaik. Lebih baik Belinda jujur dari awal kan, biar semuanya tahu.” Kata Belinda.


“Om Darwin, Tante Sofi, sungguh Belinda tidak ada maksud untuk tidak menghargai Om dan Tante. Tapi saat ini Belinda sudah mempunyai kekasih dan tidak mungkin meninggalkannya. Lebih baik Belinda berkata jujur daripada Belinda diam dan justru di belakang kalian berbohong. Maafkan Belinda ya Om-Tante.”


“Belinda, kamu memang keterlaluan sekali! Memalukan. Memang kamu tahu siapa pria itu? Apa dia benar-benar pria yang baik?” suara Tuan Keenan semakin meninggi.


“Om-Tante, saya hanya pria biasa yang tulus mencintai Belinda. Saya pasti bisa membahagiakannya.” Sahut Dave.


“Diam kamu pria asing!” tegas Tuan Keenan.


Tuan Darwin menghela nafas panjang. “Sudah Keenan, selesaikan dulu masalah ini ya. Aku sungguh tidak apa-apa. Dan sebaiknya kami pamit pulang saja. Jangan terlalu keras pada Belinda, dia masih terlalu muda untuk mengerti.”


“Darwin, aku sangat malu denganmu.” Tuan Keenan sungguh merasa tidak enak dengan apa yang terjadi.


“Sudah-sudah, jangan kamu pikirkan ya. Mungkin memang belum tepat saja waktunya. Aku permisi ya.”


“Iya Om, kami permisi ya. Om tidak perlu merasa sungkan.” Kata Arthur.


“Arthur, maafkan Om ya. Maafkan juga Belinda.”


“Iya Om, tidak masalah.” Akhirnya Tuan Darwin pun memutuskan untuk pamit karena suasana juga semakin tidak nyaman.

__ADS_1


Bersambung, next besok ya 🙏


__ADS_2