
Ditengah perjalanan, Sheena mendapat panggilan dari Arsen.
''Iya Arsen ada apa? Aku sudah di jalan.''
''Tidak usah ke kantor. Aku akan pulang dan kita makan siang di rumah.''
''Oh begitu. Baiklah aku akan siap-siap untuk memasak.''
''Tidak usah memasak juga. Aku sudah memesan makanan dari luar.''
''Baiklah kalau begitu aku dan Pak Roni langsung pulang saja.''
''Oke, hati-hati. Sampai ketemu di rumah.''
''Kamu juga hati-hati.'' Panggilan berakhir.
''Pak putar balik ya.'' Kata Sheena pada Pak Roni.
''Baik Nona.''
''Pak, ada yang ingin saya tanyakan pada Pak Roni.''
''Tanyakan saja Nona.''
''Sudah berapa lama Pak Roni bekerja bersama Arsen?''
''Sebenarnya saya dulu bekerja dengan Tuan Keenan dan itupun sejak saya masih remaja. Saya awalnya hanya office boy biasa karena pendidikan saya cuma SMP. Entah bagaimana Tuan Keenan menerima saya, mungkin karena kasihan juga. Tapi Tuan Keenan memberikan saya kesempatan untuk ikut kejar paket dan saya di minta ikut kursus bahasa asing dan pelajaran umum yang lain. Ya ternyata saya disiapkan untuk mendampingi Tuan Arsen. Saat Tuan Arsen masuk SMA, saya di tugaskan untuk menjadi supirnya sampai detik ini. Jadi kami sudah lama sekali bersama. Karena Tuan Keenan tahu kalau Tuan Arsen tidak bisa dengan mudah berinteraksi dengan orang asing apalagi asal menaiki taksi. Sikapnya yang super bersih, membuatnya tidak bisa berbagi apapun dengan orang lain. Makanya saya di tugaskan untuk terus mendampingi Tuan Arsen. Saat Tuan Arsen tidak membutuhkan saya sebagai supir, saya membantu pekerjaan di kantor. Karena Tuan Arsen juga memberi saya kesempatan untuk itu juga Nona.''
''Apa Arsen dari dulu tidak pernah memiliki teman wanita?''
''Setahu saya tidak pernah. Tuan Arsen sangat acuh dan hanya fokus untuk belajar saja. Padahal banyak sekali gadis-gadis yang mengidolakannya. Dia hanya bersikap ramah sewajarnya saja. Nona juga pasti tahu bagaimana bersihnya Tuan Arsen. Teman wanita pertamanya ya Nona Flora itu.''
''Sedekat apa hubungan mereka Pak?''
''Menurut saya, tidak ada yang berlebihan Nona. Meskipun Nona Flora terus menggoda tapi Tuan sama sekali tidak terpengaruh. Karena Tuan yang sangat sibuk jadi mereka jarang berinteraksi dengan intens. Apalagi Tuan Arsen juga bukan seorang pria yang suka seenaknya. Bisa di bilang Tuan itu kaku terhadap wanita padahal usianya masih muda. Dan sejak bersama Nona Sheena, Tuan Arsen mengalami perubahan yang cukup signifikan.''
''Maksud Pak Roni?''
''Tuan lebih ramah dan banyak senyum saja. Dan sikap overnya tidak separah dulu. Dulu parah sekali Nona. Setiap masuk mobil, mobil harus disemprot dengan semprot anti bakteri dan kuman. Pokoknya teliti sekali dan kadang saya di buat stres oleh sikap Tuan Arsen.'' Cerita Pak Roni dengan tawanya.
__ADS_1
''Iya juga sih, Pak. Dia memang keterlaluan. Makanya saya senang sekali menjahilinya dengan hal-hal yang kotor.'' Sambung Sheena diringi tawanya.
''Saya senang sekali karena akhirnya anda yang menjadi pasangan hidup Tuan Arsen. Apalagi saya dengar Nona dan Tuan dulu adalah teman kecil.''
''Iya Pak kami teman kecil yang tidak pernah akur. Dia sangat membenci saya karena saya di anggapnya jorok dan dekil.''
''Saya harap Nona dan Tuan bisa bersama selamanya.'' Kata Pak Roni dengan tulus. Sheena hanya tersenyum mendengar ucapan Pak Roni.
Sesampainya di rumah, Sheena segera masuk ke rumah. Rumah tampak sedikit berdebu karena dua hari di tinggal. Sheena segera masuk ke kamarnya. Banyak sekali bajunya yang tergantung disana. Dan ia segera membereskannya dan membawanya ke ruang laundry. Sheena juga pergi ke kamar Arsen, memeriksa jika ada pakaian kotor disana. Setelah menemukan beberapa pakaian kotor, Sheena segera membawanya keruangan laundry.
Sedangkan Arsen, baru saja tiba di rumahnya.
''Sheena!" teriak Arsen memanggil nama Sheena. Arsen lalu berlari menuju kamar Sheena tapi Sheena tidak ada.
''Sheena!" teriaknya lagi seperti seorang anak ayam yang mencari induknya.
''Aku disini!" teriak Sheena dari ruangan laundry. Arsen lalu berlari menuju ruang laundry.
''Disini rupanya,'' ucap Arsen dengan nafas terengah.
''Ada apa mencariku? Aku mau mencuci.''
''Untuk apa mencuci. Aku bisa memanggil orang untuk membereskannya.''
''Tidak pernah.''
''Menyapu?''
''Aku punya robot vakum. Nanti tanganku bisa kasar.''
''Baiklah karena perjanjian itu masih berlaku sekarang lepas jas mu dan kita membersihkan rumah bersama.''
''Apa? Aku tidak mau. Untuk apa aku membuka jasa kebersihan kalau aku masih repot-repot.''
''Kalau kamu ingin memulai hubungan ini, kita harus melakukan pendekatan dari hal yang terkecil.'' Mendengar apa yang Sheena katakan, membuat Arsen teringat artikel yang seharian ini ia baca. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Arsen setuju.
''Baiklah aku setuju.''
''Tapi mencucinya pakai tangan. No mesin cuci.''
__ADS_1
''Apa? Tapi tanganku bisa kasar Sheena.'' Rengek Arsen seperti anak kecil.
''Kamu ini cowok masa iya takut tangan kasar.'' Sheena lalu melepas paksa jas Arsen.
''Iya-iya baiklah.''
''Kalau ingin memulai, anggap saja ini kita sedang pendekatan. Kamu harus tahu kehidupanku bagaimana dan aku juga harus tahu kehidupanmu bagaimana. Supaya kita bisa saling memahami.''
''Apa itu artinya kamu mau mengikuti gaya hidupku?''
''Iya, kenapa tidak? Bukankah saling memahami itu dasar dalam hubungan.''
''Baiklah aku setuju.'' Kata Arsen dengan senyum penuh arti.
''Awas saja nanti aku akan membalasmu Sheena,'' gumam Arsen dalam hati. Arsen lalu melonggarkan kancing kemeja, menggulung lengan kemeja dan juga lengan celananya. Arsen lalu mengikuti cara Sheena mencuci baju. Sheena meletakkan satu lembar pakaiannya di atas papan cuci dan Arsen memperhatikannya.
''Pertama oleskan sabunnya, lalu di sikat seperti ini, kemudian di kucek dan masukkan dalam ember untuk di bilas nanti.''
Arsen mengangguk tanda mengerti. Arsen melihat Sheena tampak risih karena rambut panjangnya terurai. Arsen melihat tali rambut Sheena ada di pergelangan tangannya. Sheena lalu membilas tangannya untuk mengikat rambutnya.
''Biar aku saja.'' Arsen mencegah Sheena. Arsen lalu mengambil tali rambut dari tangan Sheena. Arsen lalu mengikat rambut Sheena keatas.
''Terima kasih,'' kata Sheena yang merasa gugup. Saat detak jantungnya berdetak cepat, gelang couple yang Sheena pakai berbunyi.
''Arsen, apa arti gambar hati ini?'' tanya Sheena.
Arsen tersenyum. ''Itu artinya detak jantungmu berdetak lebih cepat dari biasanya.''
''Wah, hebat juga ya. Jantungku saat ini memang berdetak cepat.'' Kata Sheena.
''Memang apa yang menbuatnya berdetak cepat?'' tanya Arsen penasaran.
''Mmmmm tidak tahu. Mungkin aku terlalu semangat mencuci.'' Jawab Sheena. Arsen kesal mendengar jawaban Sheena, sudah jelas-jelas detak jantung Sheena berdetak karena ia menyentuhnya.
''Lihat, gelangku mengirim sinyal detak jantungmu.'' Kata Arsen sambil menunjukkan gelangnya pada Sheena juga.
''Kamu memang hebat dan jenius, Arsen. Tapi sekarang kita selesaikan pekerjaan kita dulu. Sekarang giliranmu.'' Kata Sheena yang kembali melanjutkan cuciannya. Arsen menurut saja dan mengikuti apa yang Sheena katakan. Sheena yang jahil, meniupkan busa di tangannya dan mengarahkannya pada Arsen.
''Sheena, kapan selesainya kalau bermain-bermain terus.''
__ADS_1
''Wajahmu serius sekali,'' kata Sheena dengan tawanya. Arsen lalu membalas Sheena dengan cara yang sama. Hari itu mereka melakukan pekerjaan rumah bersama untuk lebih dekat satu sama lain. Mulai dari mencuci, menyapu sampai mengepel rumah bersama. Tentu saja itu sangat membuang waktu Arsen. Biasanya On Clean yang selalu datang kerumah tapi kini ia harus membersihkannya dengan tangannya sendiri. Seharusnya Arsen bisa menolak semua perintah Sheena tapi kali ini ia menjadi pria bodoh yang menurut pada wanitanya.
Bersambung....