
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu oleh Arsen dan Sheena tiba juga. Sebuah perhelatan akbar dan mewah pun di gelar dengan begitu megahnya. Ijab qobul yang di lakukan secara privat berjalan dengan sangat lancar. Arsen dengan setelan tuxedo putih tampak gagah melenggang. Aura ketampanannya sebagai seorang pengantin semakin terpencar. Dengan menggandeng Sheena yang mengenakan gaun yang begitu mewah, rambut yang di sanggul keatas dengan menyisikan beberapa helai di depannya, semakin menambah keanggunan dan kecantikan Sheena. Tangan Sheena dengan erat melingkar di lengan Arsen. Keduanya bak raja dan ratu yang tengah memasuki istana. Terlebih konsep wedding international menjadi pilihan keduanya. Para tamu undangan yang hadir di buat takjub dengan aura ketampanan dan kecantikan kedua mempelai. Nyonya Sofi dan Tuan Darwin menitikan air mata haru menyaksikan pernikahan putrinya. Begitu pula Pak Damar yang entah beberapa kali menyeka air matanya, melihat putri kecilnya kini sudah dewasa dan menjadi seorang pengantin yang sangat cantik. Queen dan Raja, sebagai Kakak, sekaligus saksi pertemuan keduanya, amat sangat bahagia karena mereka kini telah bersatu. Perasaan benci Arsen telah melebur dan berubah menjadi cinta. Lila, sebagai seorang sahabat, sangat terharu. Akhirnya Sheena menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Penderitaan yang Sheena alami selama 20 tahun lebih, kini terbayar sudah dengan kebahagiaan yang begitu melimpah. Arsen dan Sheena lebih bahagia lagi, akhirnya mereka bisa menikah dengan perasaan saling mencintai dan dengan sadar. Bukan lagi pernikahan karena terpaksa seperti waktu itu.
"Kamu sangat cantik Sheena. Semoga kamu selalu bahagia, aku sudah melupakan semua rasa ini padamu." Gumam Arthur dalam hati saat melihat adiknya melenggang melewatinya.
Diantara tamu yang hadir, ada Fandi dan Olivia. Mata Fandi tak henti melepas pandangannya dari Sheena. Olivia memperhatikan cara Fandi menatap Sheena yang penuh cinta.
"Fandi, lihat kan? Sheena sudah bahagia dengan suaminya. Mereka sangat serasi dan cocok bukan?" bisik Olivia.
"Sekalipun aku masih belum mengingatnya tapi entah kenapa perasaan ini semakin kuat."
"Aku harap, kamu tidak membuat masalah di pesta ini. Banyak media yang meliput pernikahan mereka."
"Iya aku tahu." Jawab Fandi pasrah.
Rangakaian demi rangkaian acara berlangsung meriah. Arsen dan Sheena menjalani semua rangakaian penuh suka cita. Mulai dari saling menyuapi makanan, minuman, sungkem sampai potong kue. Hingga tiba pada acara inti bagi kedua mempelai, yaitu kedua mempelai di persilahkan menuju mimbar lantai dansa yang sudah di siapkan. Ya, Arthur sendiri sebagai seorang Kakak mengiringi langsung keduanya untuk berdansa dengan memainkan sebuah piano. Jari jemari Arthur pu mulai menari diatas not-not piano. Alunan musik dari piano yang Arthur mainkan, semakin menambah suasana romantis.
"Sheena, kamu sangat cantik." Ucap Arsen dengan tatapan penuh cinta.
"Kamu juga sangat tampan. Serbuk berlian kamu bertebaran dimana-dimana. Pasti banyak sekali wanita yang iri denganku."
"Dan pasti banyak pria juga yang iri denganku. I love you, Sheena."
"I love you too, Arsen." Dan keduanya kemudian berciuman. Semuanya bersorak dan memberika tepuk tangan melihat adegan yang begitu romantis itu. Arthur pun memberikan senyuman terindahnya untuk Sheena dan Arsen dari kejauhan. Sedangkan Fandi, menatap nanar Sheena dan Arsen. Setelah acara dansa selesai, tibalah acara lempar bunga. Semuanya mendekat dan berkerumun, bersiap untuk menangkap bunga.
"Hai Kak, Arthur. Kakak tampan sekali hari ini." Kata Sinta yang terus mendesak ke arah Arthur.
"Terima kasih." Jawab Arthur.
"Aku berharap, kita yang akan mendapat bunga." Kata Sinta dengan penuh percaya diri. Melihat Sinta yang tidak tahu malu, Belinda dengan kesal menyeret Arthur untuk berdiri di dekatnya.
"Sadar diri ya. Ini tunangan gue. Dasar tidak tahu malu!" ketus Belinda.
"Baru juga tunangan, belum nikah. Sebelum janur kuning melengkung, masih bebas dong." Ucap Sinta.
"Idih, sok kepedean." Ketus Belinda.
"Bel, sudah! Tidak usah di ladeni. Tuh, katanya mau nangkap bunga." Kata Arthur.
"Habis nyebelin banget." Kesal Belinda.
__ADS_1
"Sinta, kamu juga ya sudah jangan berantem." Kata Arthur.
"Iya Kak." Jawab Sinta dengan gaya sok manisnya.
Sementara Brian sudah mengambil ancang-ancang berdiri paling depan.
"Siapa tahu dapat jodoh? Kata Papa aku harus menemukan wanita yang tulus mencintaiku. Siapa tahu kalau dapat bunga ini ada wanita yang tulus mencintaku. Pura-pura miskin saat ini memang pilihan terbaik." Gumam Brian dengan gaya khas slengekkannya.
Arsen dan Sheena pun mulai menghitung dan bersiap. Dan setelah di lempar, Brian benar-benar yang mendapatkan bunga itu. Semuanya pun sangat terkejut karena Brian yang mendapatkannya.
"Yuhu! Aku yang dapat." Seru Brian sambil melompat kegirangan.
"Brian? Astaga, dia ini kebelet mau nikah juga apa?" gumam Sheena pada Arsen.
"Entahlah dia memang anak yang hyper aktif." Ucap Arsen.
"Apa dia masih mode menyamar?" tanya Sheena.
"Iya Sheena. Dia sedang menyamar menjadi pangeran miskin untuk menemukan wanita yang tulus seperti kamu dan Mama Dira. Ya tahu sendirilah, IQ kami semua memang di atas di rata-rata tapi soal cinta, kami sangat bodoh."
"Jadi Papa Keenan tidak akan menjodohkan Brian?"
"Ya, semoga Brian menemukan wanita yang benar-benar tulus padanya." Ucap Sheena.
Sementara Belinda tampak kesal karen tidak berhasil mendapatkan bunga itu.
"Kenapa cemberut?" goda Arthur.
"Itu aku tidak mendapatkan bunganya," kesal Belinda.
"Memangnya sudah siap menikah? Buru-buru banget ya?" goda Arthur.
"Idih, apaan sih nyebelin. Haus, mau minum." Ketus Belinda seraya berlalu. Arthur hanya tersenyum kecil melihat kekesalan Belinda.
"Yah, gagal dapat bunga deh. Itu siapa yang dapat bunga? Ganteng sih tapi kalau ganteng doang, duit nggak ada buat apa." Gumam Sinta dalam hati. Sinta lalu berjalan berusaha mendekati Brian.
"Hei, beruntung sekali kamu yang dapat bunga." Sapa Sinta.
"Hei juga." Singkat Brian.
__ADS_1
"Oh ini adik angkatnya Eonni Sheena yang jahat itu. Aku males sama yang begini," gumam Brian dalam hati.
"Oh ya aku Sinta." Ucap Sinta seraya mengulurkan tangannya.
"Aku Brian."
"Kamu bagian dari keluarga mempelai pria ya?"
"Bukan. Aku hanya anak seorang pelayan yang berkesempatan ikut acara disini."
"Tapi pakaianmu bagus."
"Ini juga di pinjami sama Tuan besar. Aku saja di permak dulu sebelum kesini biar nggak malu-maluin." Jawab Brian dengan karangan bebasnya.
"Oh begitu. Senang bertemu denganmu."
"Aku juga. Kamu sendiri tamu undangan atau salah satu bagian dari mereka?"
"Iya, aku keluarga dari pihak pengantin perempuan."
"Wah, hebat ya kamu. Bisa menjadi bagian dari keluarga yang kaya ini."
"Bahagia sekali lah tentunya. Ya sudah ya, aku mau makan dulu."
"Eh tunggu sebentar, apa kamu mau berteman dengan ku? Pasti sangat menyenangkan punya teman sepertimu. Siapa tahu rezekinya bisa nular."
"Ummm maaf ya, aku sedang tidak butuh teman. Permisi." Ucap Sinta dengan langkahnya yang begitu angkuh.
"Amit-amit deh, gimana ya hidup Eonni Sheena satu rumah dengan manusia macam itu? Sekarang aku tahu, kenapa Papa memintaku menyamar seperti ini. Memang di jaman sekarang mencari wanita yang tulus itu sangat susah. Baiklah, aku akan meneruskan penyamaranku." Gumam Brian dalam hati.
Pesta pernikahan yang super megah dan juga mewah itu berjalan dengan sangat lancar tanpa kurang suatu apapun. Kebahagiaan dan keceriaan menyelimuti kedua keluarga mempelai. Rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu.
"Sheena, terima kasih sudah hadir di hidupku. Aku sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku ya. Aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu."
"Sejak kapan kamu pintar menggombal?"
"Aku serius Sheena. Aku mana pernah menggombal."
Sheena tersenyum melihat reaksi berlebihan Arsen. "Aku juga sangat mencintai kamu, Arsen. Terima kasih juga telah hadir di hidupku. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu. Karena kita akan selalu bersama dan menua bersama selamanya." Ucap Sheena. Arsen tersenyum lalu memberikan kecupan di kening Sheena. Para orang tua sangat senang, akhirnya anak-anak mereka bahagia. Tugas mereka kini tinggal menyatukan Arthur dan Belinda.
__ADS_1
Bersambung... Yukkk like, komen dan votenya ya. Jangan lupa juga mampir di karya baru author "Takdir Cinta Aruna" dengan cerita yang berbeda dari sebelum-sebelumnya, hehehe makasih 🙏❤️