My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 219 Pulang Ke rumah


__ADS_3

“Mama!” peluk Belinda pada Mamanya.


“Sayang, akhirnya kamu kembali kerumah juga.”


“Iya dong, Mah.”


“Arthur, terima kasih ya. Kamu sudah membantu Belinda untuk berkemas tadi.”


“Sama-sama Tante.”


“Ayo Arthur, kita makan malam dulu. Tante sudah menyiapkan makan malam untuk menyambut kalian.”


“Iya Tante.” Jawab Arthur. Nyonya Dira lalu mengajak Arthur dan Belinda menuju ruang makan. Tak lama kemudian, keluarlah Tuan Keenan.


“Selamat malam Om.” Sapa Arthur seraya mencium punggung tangan Tuan Keenan.


“Selamat malam Arthur. Kenapa masih memanggil Om? Panggil Papa saja.” Ucap Tuan Keena seraya merangkul bahu Arthur.


“Iya Pah.” Jawab Arthur.


“Papa! I miss you.” Peluk manja Belinda.


“I miss you too sayang. Lama sekali Papa tidak mendengar rengekanmu.”


“Itu karena Papa memang sengaja mengasingkan aku. Aku kembali juga karena Papa memaksaku untuk menikah.” Ucap Belinda seraya melepaskan pelukannya.


“Sudahlah itu juga untuk kebaikanmu. Brian juga enjoy-enjoy saja.” Kata Tuan Keenan.


“Belinda dan Brian itu beda, Pah.”


“Sudah, ayo kita makan dulu.” Sahut Nyonya Dira. Dan mereka berempat menikmati makan malam yang hangat.


“Oh ya bagaimana perkembangan hubungan kalian? Pertunangan sudah di depan mata.” Tuan Keena mulai pembicaraan serius.


“Mmmm kami sudah memutuskan untuk memilih desain dekorasi, gaun dan juga perhiasan sendiri, Pah.” Jawab Belinda.


“Maksudnya Bel? Mama dan Tante Sofi sudah menyiapkan semuanya.” Sela Nyonya Dira.


“Itu semua dari Kak Arthur, Mah-Pah. Kak Arthur yang menyiapkan khusus untuk acara special kita.” Kata Belinda dengan rona wajah bahagianya.


“Acara special kita?” ucap Tuan Keenan dan Nyonya Dira bersamaa. Tatapan kedua penuh dengan selidik.

__ADS_1


“Begini Pah-Mah, sebenarnya kami kemarin baru saja jadian. Kami baru memulainya.” Jawab Arthur malu-malu.


“Iya Pah-Mah, sejka kemarin kita memutuskan untuk pacaran.” Sahut Belinda. Seketika senyum lebar terukir dari bibir kedua orang tua Belinda.


“Serius kalian sudah pacaran?” tanya Nyonya Dira yang merasa masih belum percaya.


“Iya Mah, kami sudah bersama.” Ucap Belinda sambil menatap pria yang duduk di sampingnya itu.


“Wah-wah, akhirnya hati kalian sudah saling terbuka juga ya. Papa bahagia sekali mendengarnya. Setelah sekian lama, akhirnya kalian sudah saling mencintai.”


“Mama juga bahagia sekali. Coba saja dari awal kalian setuju, terutama kamu Belinda, pasti Papa tidak akan mengasingkan kamu.” Sahut Nyonya Dira.


“Meskipun Belinda kesulitan hidup seperti itu tapi Belinda sedikit banyak belajar dari hidup sederhana itu Pah-Mah. Apalgi jika kita bisa menghasilkan uang dengan keringat sendiri, rasanya memang sangat membanggakan.”


“Lalu apa yang kamu lakukan dengan gaji pertamamu, Bel? Pati kamu habiskan untuk shoping kan?” sahut Tuan Keenan yang sudah hafal sifat dan karakter putrinya itu.


“Papa salah! Belinda sama sekali tidak shoping. Tapi uangnya memang sudah habis, bahkan langsung habis.” Jawab Belinda terkekeh.


“APA? HABIS? Kamu habiskan untuk apa Bel?” Tuan Keenan sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya itu.


“Pah, Belinda menyumbangkan semua gaji pertamanya untuk sekolah milikku,” sahut Arthur.


“Kamu serius Bel?” sahut Nyonya Dira.


“Mama bangga dan bahagia sekali mendengarnya sayang.”


“Begitu juga dengan Papa. Papa bangga sekali dengan apa yang kamu lakukan."


“Belinda juga mau mengucapkan terima kasih untuk Papa dan Mama. Meskipun awalnya berat bahkan sampai sekarang Belinda merasa sangat berat menjalani tantangan itu tapi Belinda juga banyak belajar. Belinda bisa tahu siapa yang tulus dan hanya pura-pura baik saja. Belinda juga tahu kalau Belinda adalah orang beruntung menjadi anak dari Papa dan Mama. Disaat banyak orang merasakan kekurangan dan menginginkan berada di posisi Belinda tapi Belinda sudah mendapatkan semua itu. Terima kasih ya Pah-Mah.”


“Sepertinya Belinda yang manja ini sudah mulai dewasa ya, Mah.”


“Sepertinya memang begitu dan pasti bekat Arthur juga kan? Pasti Arthur sudah banyak membantu kamu juga kan, Bel?” sambung Nyonya Dira.


“Iya Mah. Dia sangat galak dengan ku, aku bahkan sangat membencinya.” Seloroh Belinda seraya melirik Arthur.


“Kamu memang sesekali harus di galakin, Bel.” Celetuk Tuan Keenan.


“Hehehe tapi Belinda suka kok Pah digalakin,” kata Belinda sambil menyenggol Arthur dengan manja. Arthur hanya bisa tersipu malu dihadapan kedua orang tua Belinda. Setelah selesai makan malam, Arthur pun segera berpamitan, Belinda mengantar Arthur keluar.


“Terima kasih untuk semuanya dan untuk hari ini. Kamu hati-hati ya.”

__ADS_1


“Iya, sama-sama. Baiklah aku pulang dulu! Istirahatlah.”


“Iya-iya. Oh ya besok aku boleh ke kantor mu kan?”


“Boleh-boleh saja. Ya sudah, aku pergi ya.”


“Eh tunggu dulu. Masa Cuma begitu saja.” Kata Belinda sambil menarik ujung lengan kemeja Arthur.


“Cuma begitu saja? Maksudnya?” Arthur tidak mengerti. Belinda lalu berjinjit dan mengecup pipi Arthur. Arthur dibuat tersenyum dengan tingkah Belinda itu.


“Sekarang aku!” Pinta Belinda sambil menepuk pipinya. Arthur kemudian mengecup kening, pipi dana bibir Belinda. Jantung Belinda semakin berdecak tak karuan mendapatkan kecupan itu.


“Sudah puas kan? Apa masih ada lagi yang harus aku lakukan?” tanya Arthur. Belinda mengangguk lalu merentangkan kedua tangannya, kode meminta sebuah pelukan. Arthur tersenyum, ia lalu memeluk wanita dihadapannya itu dengan sangat erat.


“Mulai sekarang, sebelum kita berpisah atau berpamitan, harus melakukan ritual seperti ini. Pokoknya hukumnya WAJIB!” Pinta Belinda dengan gayanya yang manja.


“Oke. Hanya ini saja pasti akan aku lakukan. Baiklah, sekarang biarkan aku pulang.”


“Aku masih ingin bersamamu. Aku merindukanmu.” Kata Belinda.


“Merindukan? Bukankah kita seharian inisudah menghabiskan waktu bersama?”


“Iya tapi rasanya masih kurang. Jangan lepaskan dulu pelukan ini. Aku merasa sangat nyaman dan bahagia seperti ini.”


“Aku juga masih merindukanmu. Jadi mari berpelukan sampai kita sama-sama rela untuk melepaskan.” Ucap Arthur yang semakin mempererat pelukannya. Keduanya saling memeluk satu sama lain, Belinda bisa mendengar jelas detak jantung Arthur yang berdebar kencang.


“Aku tidak menyangka biasa mencintai pria yang begitu menyebalkan ini. Bahkan aku tidak mau berpisah sekarang,” gumam Belinda dalam hati.


“Aku tidak menyangka kalau gadis manja, menyebalkan dan tidak bisa apa-apa ini sudah membuatku jatuh cinta. Bahklan kelebihannya hanya cantik saja, tidak ada yang lain. Memasak, peralatan dapur dan bumbu dapur saja tidak tahu tapi justru semua kekurangannya malah membuatku jatuh cinta,” ucap Arthur dalam hati. Sepuluh menit sudah mereka saling berpelukan dan larut dengan perasaan masing-masing. Hingga akhirnya Belinda melepaskan pelukannya.


“Pulanglah Kak. Kamu pasti lelah kan? Pekerjaanmu sangat banyak dan sedang menantimu esok hari.” Ucap Belinda.


“Iya, aku akan tidur nyenyak malam ini.”


“Tidurku juga pasti akan lebih nyenyak juga. Hati-hati ya, sampai bertemu di dalam mimpi. Dan jangan lupa memberiku kabar saat sampai di rumah.”


“Iya pacar. Aku pulang dulu ya.”


“Hati-hati ya pacar. Eh bukan pacar tapi suami.” Kata Belinda. Arthur terkejut sekaligus bahagia saat mendengar Belinda memanggilnya suami. Arthur tersenyum lalu memberikan kecupan lagi di kening Belinda sebelum pergi.


“Jantungku seperti ingin melompat keluar saat Belinda memanggilku suami.” Gumam Arthur dalam hati sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


Bersambung...Maaf ya baru up, doakan authornya sehat-sehat dan idenya ngalir terus ya... Untuk Mr. Arogant, tunggu My Perfect Husband tamat dulu ya 🙏


__ADS_2