My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 221 Kak, jangan berhenti!


__ADS_3

Saat Belinda dan Arthur keluar ruangan, mereka disambut dengan kedatangan Grace.


“Grace? Kamu disini?” tentu saja Arthur dibuat terkejut dengan kedatangan Grace.


“Iya, aku membawakan makan siang untukmu.” Ucap Grace. Grace lalu menatap Belinda yang berdiri disamping Arthur.


“Dia siapa?” tanya Grace.


“Oh ya, ini tunanganku, Aurora.”


“Oh, ini tunangan yang kamu ceritakan itu ya?” ucap Grace dengan senyum kecewanya.


“Iya, Grace.”


“Hei, aku Aurora. Senang bertemu denganmu Nona Grace.” Ucap Belinda seraya menjabat tangan Grace.


“Senang bertemu denganmu juga Nona Aurora. Tapi sepertinya wajah anda tidak asing.”


“Grace, maaf ya aku harus pergi. Terima kasih untuk makan siangnya.” Sela Arthur.


“Iya tidak masalah. Biar aku berikan makanan ini pada Belinda.”


“Belinda sudah resign, Grace.”


“Apa? Resign? Apa berita yang aku lihat itu benar, Arthur? Kamu melakukan hal kotor itu?”


“Come on Grace, kamu mengenalku. Aku bukan seperti itu. Itu adalah Aurora. Kami berciuman di dalam mobil karena dia cemburu mendengar cerita tentangmu.”


“Oh jadi itu kalian. Nona, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat anda cemburu. Kami memang bersahabat sudah sangat lama sekali.”


“Tidak apa-apa Nona Grace. Aku senang bisa melihatmu sekarang. Kamu memang sangat cantik dan seksi.”


“Anda juga sangat cantik Nona.”


“Baiklah, kami permisi.” Kata Belinda seraya berlalu dengan menggandeng lengan Arthur.


“Bagaimana Erick ini? Katanya Arthur melecehkan Belinda tapi nyatanya di dalam mobil itu Arthur dan tunangannya. Lagi pula Erick mengambil angle fotonya juga dari samping. Meskipun kecewa, aku senang kalau Arthur dan tunangannya itu sudah saling mencintai. Bahkan mereka sudah berani berciuman. Jadi stop untuk Arthur, Grace. Jadika dia sahabatmu saja, jangan kekasihmu.” Gumam Grace dalam hati.


“Kak, kenapa kamu memperkenalkan aku sebagai Aurora? Kenapa bukan Belinda?” protes Belinda.


“Nama kamu kan Belinda Aurora Dirgantara. Maaf ya kalau aku memakai nama tengahmu. Aku tidak mau membuat semua orang terkejut. Apalagi yang Grace tahu, Belinda adalah sekretarisku. Aku khawatir kalau fakta itu mengejutkan dan kita dianggap mempermainkan mereka. Nanti setelah kita menikah, aku akan menggelar resepsi dan mengatakan pada semuanya. Apalagi dengan berita heboh pagi ini.”


“Berita apa sih?”


“Apa kamu tidak tahu?”


“Aku benar-benar tidak tahu. Aku sejak bangun tidur sibuk di dapur.”


“Sekarang kamu buka website perusahaanku. Kamu akan tercengang melihat berita itu.” Ucap Arthur. Belinda lalu mengecek ponselnya dan ia sangat terkejut dengan isi berita itu.


“Lho, ini kan kita?”

__ADS_1


“Iya. Entah siapa yang memotret kita, Bel. Dan karena berita itu Papa memintaku untuk segera menikahimu.”


“Apa? Menikah?”


“Iya menikah. Aku juga terkejut dengan keputusan Papa. Papa sekarang juga sedang menemui kedua orang tuamu untuk membicarakan masalah ini. Awalnya Papa marah juga denganku. Papa menganggap aku benar-benar melakukan itu dengan bawahanku.”


“Tapi kamu tidak pernah melakukan fair dengan bawahanmu kan?” selidik Belinda.


“Astaga Bel, untuk apa juga. Aku bukan pria hidung belang kali. Kamu tahu sendiri aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta.”


“Terus siapa yang memotret dan memuat artikel itu ya? Bahkan sampai menggiring opini seperti itu. Pasti itu sangat berpengaruh dengan perusahaanmu kan Kak?”


“Iya sudah pasti. Makanya Papa sangat marah dan ingin kita segera menikah ditanggal hari pertunangan kita. Bagaimana menurutmu Bel?”


“Ya sudah, kita menikah saja. Kalau tidak secepatnya di klarifikasi, bisa mencoreng nama baik keluarga dan perusahaanmu juga Kak.”


“Jadi kamu setuju?”


“Iya aku setuju.”


“Tapi Papa ingin kita menikah secara sederhana saja. Resepsinya belakangan.”


“Tidak masalah. Supaya kita selalu bersama-sama.”


“Kamu serius dengan ucapanmu Bel?”


“Iya Kak, aku serius.” Belinda lalu memeluk lengan Arthur dengan manja.


“Karena aku tidak mau kehilangan pria sepertimu, Kak. Cuma kamu yang bisa menerima kekuranganku.”


“Bagaimana dengan Erick? Bukankah kamu juga menyukainya?”


“Iya aku menyukainya karena dia sering mentraktirku makan enak dan juga mengantar jemputku. Jadi aku bisa irit ongkos, hehehe.”


“Keterlaluan sekali kamu, Bel.”


“Ya memang awalnya aku dekat karena alasan itu. Tapi tidak bisa dipungkiri dia pria yang sangat baik, lembut dan penuh perhatian. Aku yakin dia pasti akan secepatnya menemukan seseorang yang lebih baik daripada aku. Oh ya Kak, aku ingin tahu kisah cintamu. Atau mungkin ada seseorang yang sampai detik ini membekas di hatimu.”


“Baiklah, aku akan membuat pengakuan. Sebenarnya aku pernah jatuh cinta dan mencintai seseorang. Namun perasaan itu menghancurkanku begitu saja.”


“Kenapa? Apa dia selingkuh?”


“Tidak. Mungkin aku banyak mengebal wanita tapi cuma yang membuatku melakukan tindakan bodoh.”


“Siapa Kak? Aku penasaran sekali.”


“Aku pernah mencintai Sheena, Bel.”


“WHAT? Eonni? Kamu mencintai eonni Sheena?” Belinda dibuat terkejut dengan pengakuan Arthur.


“Iya itu dulu saat aku belum tahu siapa dia sebenarnya. Setelah aku tahu dia ternyata adik kandungku, aku sangat sedih dan begitu hancur. Tapi aku juga bahagia karena adik yang selama ini kami anggap meniggal ternyata masih hidup. Ya, itulah kisah cintaku yang tragis dan singkat.”

__ADS_1


“Pantas saja saat aku pertama kembali kesini, aku merasa aneh dengan caramu menatap eonni. Lalu bagaimana perasaan Kakak pada eonni sekarang?”


“Biasa saja. Hanya sekedar perasaan sayang sebagai adik saja. Sampai akhirnya datanglah kamu yang selalu membuatku marah dan membuat hari-hariku bersitegang.”


“Tapi kakak suka kan?”


“Suka sekali. Kamu tidak marah?”


“Marah untuk apa? Eonni memang pantas untuk dicintai kok. Dia cantik, mandiri dan hatinya sangat baik. Jika aku seorang pria, aku juga akan jatuh cinta padanya.”


“Sepertinya si Bel-Bel yang manja ini sudah semakin dewasa ya,” ucap Arthur seraya mengelus kepala Belinda.


 


Sesampainya di rumah, Arthur langsung mengajak Belinda menuju dapur. Mereka semakin terlihat kompak dan mesra. Sesekali Belinda menggoda dengan mengecup pipi Arthur saat Arthur tengah sibuk memotong sayuran.


“Kamu agresif juga ya? Jangan salahkan aku, kalau aku sampai lepas kendali.” Kata Arthur.


“Aku harus agresif supaya kamu bertekuk lutut dihadapanku.” Kata Belinda dengan tatapan menggoda.


“Sebaiknya kita selesaikan masakan kita dulu karena aku sudah lapar.”


“Selesai makan, kita melakukan apalagi?” tanya Belinda.


“Aku akan kembali ke kantor dan kamu tetap di rumah.”


“Baiklah, aku akan menunggumu dirumah.”


Setelah selesai memasak, mereka berdua lalu makan siang bersama. Suasana makan siang yang begitu hangat. Belinda tidak lagi mendengar Arthur yang bawel dan cerewet, hanya perhatian dan kehangatan yang ia dapat dari Arthur.


“Baiklah, aku akan kembali ke kantor.”


“Letakkan saja Kak, biar aku yang mencuci semua piringnya.”


“Yakin bisa? Jangan-jangan kamu pecahkan lagi piring-piringku.”


“Hehehe kali ini aku akan menjaganya dan mencucinya sampai bersih.”


“Oke, aku percaya padamu.”


“Tapi sebelum kamu pergi berikan aku vitamin supaya aku semangat untuk mencuci piring.”


“Kamu sedari tadi memancingku terus, Bel.” Arthur yang gemas, mengangkat tubuh mungil Belinda diatass meja.


“Apa yang kamu inginkan?” tanya Arthur dengan tatapan yang siap menerkam. Belinda tersenyum sambil mengetuk bibirnya. Tanpa basa-basi, Arthur melu…mat bibir Belinda. Ditekannya tubuh Belinda supaya lebih erat dengannya. Belinda melingkarkan kedua tangannya pada leher Arthur dan ia juga melingkarkan kakinya pada pinggang Arthur. Ciuman keduanya semakin dalam dan menuntut. Masih dengan posisi seperti itu, Arthur mengangkat tubuh Belinda dan membawa Belinda kekamar tanpa melepaskan ciumannya. Arthur lalu menurunkan Belinda. Keduanya lalu saling menatap. Tangan Belinda melepas satu persatu kancing kemeja Arthur. Arthur pasrah dan membiarkan Belinda melakukan apa yang Belinda lakukan. Belinda berhasil melepas kemeja Arthur. Di peluknya tubuh berotot itu dengan erat. Belinda dibaut candu dengan aroma parfum tubuh Arthur yang maskulin dan menggairahkan. Arthur yang sudah dibuat tegang oleh Belinda, mengangkat tubu Belinda dan membawanya keatas tempat tidur. Keduanya kembali saling berciuman dengan nafas terengah dan saling beradu. Tangan Arthur perlahan menurunkan resleting dress milik Belinda yang kebetulan ada di depan. Arthur melihat dengan jelas sesuatu dibalik bra warna merah maroon yang menyembul. Namun sesaat, Arthur terdiam. Ia kembali menutup resleting dress milik Belinda.


“Maafkan aku, Bel.”


“Kak, jangan berhenti. Aku akan menyerahkan semuanya untukmu. Aku mencintaimu. Sebentar lagi kita juga akan menikah.” Belinda menahan tubuh Arthur supaya tidak beranjak dari atas tubuhnya.


 

__ADS_1


...Bersambung… APAKAH yang akan terjadi selanjutnya? APAKAH Arthur akan mengunboxing Belinda ataukah sebaliknya?...


__ADS_2