My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 170 Sensitif


__ADS_3

''Kak, terima kasih ya untuk semua hadiah dan waktunya.'' Peluk Sheena pada Queen. Arsen dan Sheena sedang berada di bandara mengantar Queen, Raja dan dua keponakannya untuk kembali ke London.


''Sama-sama Sheena, sayang. Bahagia selalu ya untuk kalian. Dan cepat-cepat beri kami keponakan.''


''Terima kasih ya, Kak. Dan doakan ya, Kak.'' Ucap Sheena.


''Arsen, jaga Sheena baik-baik ya. Jangan sakiti dia ya! Kakak akan berdiri paling depan untuk membelanya,'' sahut Raja sambil menepuk bahu Arsen.


''Itu tidak akan pernah terjadi, Kak. Karena satu-satunya wanita yang bisa aku sentuh hanya Sheena.''


''Nah kan bucinnya akut sekarang,'' sindir Queen.


''Ah sudahlah Kak, Kakak selalu begitu padaku.'' Ucap Arsen dengan sedikit kesal.


''Ran-Rein, aunty senang sekali bisa bertemu kamu.''


''Kami juga senang bertemu aunty. Aunty kapan-kapan ke London ya? Aku akan mengajak aunty jalan-jalan.'' Kata Ran.


''Baiklah Ran, uncle akan memasukkan list London sebagai tujuan kedua uncle dan aunty honeymoon.'' Sahut Arsen.


''Baiklah, kami akan menunggu kedatangan kalian,'' sahut Rein.


''Tapi sepertinya uncle dan aunty belum bisa dalam waktu dekat ini. Karena uncle akan di sibukkan dengan launching produk barunya.'' Jelas Arsen.


''Tidak masalah uncle, kabaru saja kalau kalian akan ke London.'' Ucap Rein.


''Of course!" jawab Arsen.


''Oh ya katanya kalian juga ingin honeymoon ke Switchzerland ya?'' sahut Raja.


''Iya Kak. Itu adalah negara yang ingin Sheena kunjungi. Dia ingin pergi ke pedesaan sana.'' Jawab Arsen.


''Oke, nanti Kakak carikan tempat yang bagus. Kalian tinggal datang saja.''


''Terima kasih Kak Raja. Oh ya kenapa Elang tidak datang? Aku sama sekali tidak pernah mendengar kabarnya.''


''Dia sedang di Jerman. Pasca kecelakaan setahun lalu, dia masih terus berjuang untuk bisa jalan, Arsen. Kamu tahu kan tunangannya meninggal dalam kecelakaan itu. Dia sangat terpukul dengan semua musibah itu. Tapi dia bilang sudah mengirimkan hadiah untukmu dan juga Sheena. Dia ikut bahagia mendengar pernikahan kalian.''


''Aku harap dia segera pulih dan kita bisa bertemu.''


''Iya Arsen. Dia sendiri juga bilang, saat dia sembuh, negara yang ingin dia kunjungi adalah Indonesia. Dia ingin bertemu denganmu.''


''Syukurlah Kak, kalau dia masih semangat untuk sembuh. Karena ponselnya tidak bisa dihubungi.''


''Dia sengaja menutup komunikasi. Dia ingin menyendiri dan menenangkan diri. Untuk mengetahui kabarnya saja, aku harus bertanya pada Papa dan Mama.''


''Aku berharap dia segera sembuh, baik fisik maupun mentalnya. Dia harus menyerahkan pada Tuhan, kalau semua ini sudah takdir dan bukan salahnya.''


''Iya, Arsen. Itu juga yang selalu aku tekankan padanya. Baiklah kami pergi ya, sudah ada panggilan untuk pesawat kami. Kami tunggu kedatangan kalian di London.''


''Iya Kak. Hati-hati ya Kak. Jangan lupa kabari kami kalau sudah sampai disana.'' Kata Arsen.

__ADS_1


''Iya Arsen.'' Mereka semua kemudian saling berpelukan mengucapkan perpisahan.


-


Kini Arsen dan Sheena sedang dalam perjalanan menuju rumah.


''Arsen, Elang itu siapa?''


''Oh Elang itu adiknya Kak Raja.''


''Aku baru tahu kalau Kak Raja punya adik.''


''Sebenarnya Elang itu anak dar saudara Papanya Kak Raja. Kisah Kak Raja hampir mirip sama kamu. Jadi untuk menggantikan Kak Raja yang dianggap meninggal itu, akhirnya Papa Riko mengasuh anak saudaranya itu. Karena sudah yatim piatu juga. Supaya Mama Elisa, tidak berlarut dalam kesedihan. Tapi akhirnya takdir membawa Kak Raja kepangkuan orang tuanya kembali setelah hampir 10 tahun berpisah.''


''Oh begitu ceritanya. Apa dia seusia kita?''


''Iya? Dia seumuran kita. Aku tunjukkan fotonya padamu.'' Sambil menyetir, Arsen mengambil ponsel dalam sakunya dan menunjukkan foto Elang pada Sheena.


''Ini adalah Elang.''


''Wah, dia tampan juga ya. Sesuai namanya, Elang. Burung yang gagah dan pemberani. Apalagi sorot matanya sangat tajam.'' Ucap Sheena.


''Bisa-bisanya kamu memuji pria lain di hadapan suami kamu? Apa aku ini masih kurang tampan?'' kesal Arsen.


''Hehehe aku hanya berusaha bicara jujur.'' Kata Sheena tanpa merasa bersalah.


''Tapi kamu bisa kan menjaga perasaan suami kamu. Memuji pria lain di hadapan suami sendiri.''


''Iya-iya maaf. Suamiku sensitif sekali sih.'' Sheena lalu memeluk manja lengan suaminya.


''Gemes banget sih, marahnya. Suamiku sayang, kita jalan-jalan dulu yuk! Aku mau ke Dream Land.'' Bujuk Sheena.


''Nanti mata kamu jelalatan, melihat banyak pria di luar sana.''


''Tidaklah, memuji saudara sendiri masa tidak boleh. Brian saja juga sangat tampan dan menggemaskan. Aku memuji hanya sebagai saudara, bukan karena menyukainya. Masa begitu saja marah. Kakakku Arthur juga tampan, pokoknya aku senang di kelilingi pria tampan.'' Kata Sheena.


''Dasar kamu!"


''Sudah jangan marah, nanti malam jatahnya aku double deh.''


''Kurang kalau doubel,'' ketus Arsen.


''Terus minta berapa ronde?''


''Sampai lemes,'' kata Arsen terkekeh.


''Boleh. Aku bahagia sekali karena semuanya berakhir indah.''


''Aku juga sangat bahagia karena bisa memilikimu.'' Ucap Arsen.


Sesampainya di Dream Land, Arsen dan Sheena mengenang kembali masa kecil mereka disana. Mereka berdua kembali seperti dua bocah yang sedang berlarian sambil memegang ice cream. Senyum keduanya merekah penuh dengan kebahagiaan.

__ADS_1


Namun saat Sheena terus berlari karena Arsen mengejarnya, BRUG! Sheena tidak sengaja menabrak seseorang dan itu adalah Fandi. Reflek, Fandi pun memeluk Sheena supaya Sheena tidak terjatuh.


''Sheena."


''Fandi.''


Melihat itu, Arsen sangat kesal. Arsen lalu menarik paksa Sheena.


''Ma-maaf. Aku hanya berusaha menolongnya.'' Ucap Fandi.


''Kita pulang!" ucap Arsen dengan tegas. Arsen lalu menyeret tangan Sheena untuk keluar dari Dream Land.


''Sheena tunggu!" teriak Fandi. Sheena hanya bisa menoleh karena Arsen sama sekali tidak mau berhenti. Fandi kemudian berusaha berlari mengejar Sheena.


''Sheena, ini gelangmu!" teriak Fandi lagi.


''Arsen, berhenti. Gelang ku jatuh. Itu gelang couple kita.'' Mendengar ucapan Sheena, Arsen menghentikan langkahnya. Arsen menghela nafas, berusaha mengontrol emosinya.


''Ini gelangmu jatuh, Sheena.'' Ucap Fandi. Saat Sheena hendak menerima gelang itu, Arsen merebutnya terlebih dahulu dari tangan Fandi.


''Terima kasih.'' Ketus Arsen.


''Terima kasih, Fandi.''


''Iya sama-sama.'' Jawab Fandi dengan senyum kecilnya. Fandi hanya bisa menatap nanar kepergian Sheena dan Arsen.


''Fan, aku cariin kamu tapi kamu malah disini.'' Suara Olivia mengagetkannya.


''Eh, maaf. Tadi aku mau ke parkiran, aku pikir ponsel aku tertinggal di mobil tapi ternyata sudah aku masukkan disaku celana.'' Ucap Fandi tergagap.


''Ini ice creamnya. Ayo kita masuk ke dalam lagi.''


''I-iya.''


Sementara itu, Arsen sudah di kuasai rasa cemburu. Sampai membuatnya semakin menambah kecepatan mobilnya.


''Arsen, kamu ini apa-apan sih? Jangan ugal-ugalan begini.'' Sheena pun merasa ketakutan. Baru kali ini ia melihat Arsen sangat marah. Dan Arsen langsung mengerem mendadak mobilnya.


''Kenapa harus bertemu Fandi lagi? Moodku rusak karena dia.''


''Kamu marah karena itu?''


''Iya.'' Ketusnya.


''Kamu ini kenapa sih? Kenapa sensitif sekali? Aku tidak pernah melihatmu hilang kendali seperti ini. Lagi pula dia hanya menolongku saja. Apa yang kamu khawatirkan Arsen? Dia sudah menikah, begitu juga dengan ku. Kita sudah punya kehidupan masing-masing.''


''Bagaimana kalau ingatannya pulih dan dia merebutmu dariku?''


''Arsen, sekalipun ingatannya pulih, aku tetap mencintaimu dan aku tetap istrimu. Kamu ini ada-ada saja. Kenapa kamu hari ini seperti ini? Kamu tidak setenang biasanya.''


''Kita pulang saja, aku lelah!" ketusnya. Arsen lalu menyalakan kembali mobilnya dan segera mengajak Sheena pulang.

__ADS_1


''Arsen kenapa sih? Sekalipun cemburu tapi dia tidak segusar ini. Ngalah-ngalahin cewek lagi dapet aja,'' gumak Sheena dalam hati.


Bersambung.... Lanjut besok yaa


__ADS_2