My Perfect Husband

My Perfect Husband
Kau adik iparku


__ADS_3

Sinar matahari masuk melalui celah gorden kamar yang ditempati gadis yang sempat pingsan malam tadi. Qiara mulai membuka matanya secara perlahan, sudah lama sekali dia tidak merasakan tidur senyenyak ini sejak orang tuanya meninggal.


Kemudian mata gadis itu mendongak menatap wajah wanita yang dia peluk. Qiara terkejut ketika mendapati bahwa Naynay lah yang dia peluk dalam tidurnya semalam.


'Kenapa rasanya seperti memeluk mama?' batin Qiara. Walaupun dia terkejut, tapi dia masih enggan melepaskan tangannya yang memeluk pinggang Naynay.


Mendengar suara pintu kamar mandi dibuka, Qiara memejamkan matanya kembali. Naynay ada di sini, berarti yang membuka pintu kamar mandi itu adalah kakaknya.


Afif mendekati brankar yang ditempati dua perempuan yang disayanginya. Kemudian menunduk dan mencium kening Naynay. Dia mengelus pipi chubby istrinya itu untuk membangunkannya.


"Nay." Afif mengigit pipi Naynay karena bumil itu tidak juga membuka matanya.


Naynay membuka matanya sambil meringis, tangannya juga terangkat mengelus pipinya yang terkena gigitan megalodon versi manusia tampan tadi.


"Ayo, kau harus sarapan!" ucap Afif berjalan menjauh sambil tertawa.


Naynay melepaskan tangan Qiara yang masih memeluknya dengan perlahan. Dia turun dan menurunkan selimut hingga hanya menutupi kaki sampai pinggang gadis itu saja. Naynay mengusap kepala Qiara sebelum dia pergi menuju kamar mandi disusul Afif yang pastinya mau menggodanya lagi.


Setelah ruangan hening, Qiara membuka matanya kembali. Dia memegang kepalanya yang tadi diusap oleh Naynay.


'Persis seperti mama, rasanya nyaman.'


Terdengar suara rengekan dari arah kamar mandi yang pintunya mulai terbuka. Naynay keluar dengan mata berkaca-kaca. Melihat itu, Qiara kembali pura-pura tidur.


"Jangan ngambek, Nay." Afif merangkul pundak Naynay sambil menoel-noel pipi istrinya itu.


"Sakit, Kakak hoby banget gigit-gigit," rajuk Naynay dengan mengusap pipinya yang merah sebelah karena digigit pas cuci muka tadi.


"Namanya juga gemes," balas Afif tak mau mengaku salah. "Ayo turun, kau harus sarapan."


"Lalu, Qiara gimana?" tanya Naynay.


"Sebentar lagi Nathan akan masuk untuk memeriksanya." Afif menarik tangan Naynay dan keluar dari ruangan. Istrinya itu harus makan tepat waktu agar anaknya sehat di dalam perut.


Tak lama setelah Afif dan Naynay pergi, Nathan masuk ke ruangan Qiara. Dia memeriksa kondisi adik sahabatnya itu tanpa berbicara apa pun.


"Perhatikan pola makan dan waktu istirahat Anda, Nona. Dan juga perbanyak minum air putih agar kejadian ini tidak terulang lagi." Nathan sedikit melirik Qiara sebelum keluar dari ruangan.

__ADS_1


Sekarang hanya tinggal Qiara sendiri di sana. Tubuhnya masih terasa lemas karena belum mendapat asupan apa pun, hanya cairan infus yang sedikit membuat tubuhnya bisa digerakkan.


Mata Qiara melihat hp yang dia ketahui adalah milik Naynay di atas nakas samping brankarnya. Meraih benda pipih itu, Qiara membuka casenya dan mengambil benda di baliknya. Dia bingung, kenapa Naynay menyimpan hasil USG-nya di sana.


Sehat-sehat di dalam perut, Kesayangan Mama.


Cukup lama Qiara membaca tulisan di belakang kertas itu, hingga akhirnya berhenti ketika perawat masuk mengantarkan makanan.


"Saya bisa makan sendiri," ujar Qiara ketika perawat itu berniat menyuapinya. Perawat itu mengangguk dan meletakkan kembali makanan di atas nampan.


Setelah perawat itu keluar, Qiara masih berdiam diri sambil memandangi hasil USG di tangannya. Dia tidak nafsu makan, apalagi makanan rumah sakit tidak enak menurutnya.


"Dia keponakanku, kan?" tanya Qiara pada dirinya sendiri.


Entahlah, Qiara bingung harus bersikap apa. Dia tidak menyukai Naynay karena bumil itu selalu menghambat jalannya untuk meraih juara umum di sekolah. Dia benar-benar berharap untuk sekali saja bisa mendapatkan gelar itu untuk membuat Afif memperhatikannya, tapi sayangnya dia tidak pernah bisa menyaingi Naynay.


Qiara bukannya membenci Naynay, hanya saja dia kesal karena Afif menikahi wanita yang wajahnya biasa-biasa saja. Ya walaupun dia akui Naynay itu memang imut, bukan cantik. Ditambah juga dengan rasa tidak suka karena usahanya menjadi juara umum selalu gagal. Ketika dia merasakan pelukan Naynay tadi, dia benar-benar merasa seperti dipeluk mamanya sendiri.


Qiara meletakkan kembali hp Naynay di atas nakas. Setelah ini dia tidak tahu bersikap seperti apa pada Naynay, tidak mungkin dia tiba-tiba langsung bersikap baik kan? Qiara memegang kepalanya yang terasa pusing.


"Kau belum memakan makananmu?" tanya Naynay sambil mengambil mangkuk yang berisi menu sarapan Qiara.


"Hhmm..." Qiara hanya berdehem sebagai balasan.


Naynay kemudian duduk di samping Qiara dan menyodorkan sesendok makanan di depan mulut gadis itu. "Buka mulutmu!"


Qiara menatap sendok di depan bibirnya dengan mata yang mulai memanas, tapi dia menahan rasa haru yang dia rasakan.


"Qiara, kau mau jika kakakmu memarahimu lagi?" tanya Naynay sambil menempelkan sendok itu di bibir Qiara.


Akhirnya Qiara membuka mulutnya dan sesendok makanan itu masuk ke dalam mulutnya. Dia menerima setiap suapan dari Naynay tanpa berbicara sedikit pun. Dia sesekali juga melirik kearah perut Naynay.


"Habiskan!" ucap Naynay memberikan air putih kepada Qiara.


"Di mana kakakku?" Qiara akhirnya berbicara, tapi memilih menanyakan di mana keberadaan Afif.


"Kakakmu sedang berbicara dengan Dokter Nathan, sebentar lagi dia akan kembali." Setelah merapikan bekas makan Qiara, Naynay meraih hpnya dan pergi menuju sofa yang juga ada di sana. Ruangan ini tak ubahnya seperti kamar sendiri yang segalanya tersedia.

__ADS_1


"Kenapa...." ucap Qiara tiba-tiba membuat Naynay menoleh padanya.


"Apanya?" tanya Naynay dengan kening berkerut bingung.


"Kenapa kau masih bersikap tenang dan memperlakukanku dengan baik? Setelah semua perlakuanku padamu, tidak mungkin kau masih bisa sebaik ini." Qiara menatap Naynay yang berjarak lumayan jauh darinya.


"Ya karena aku kasihan," jawab Naynay asal sambil kembali fokus pada hpnya.


Qiara tersenyum masam. "Kasihan? Aku tidak butuh rasa kasihan darimu!"


Hanya kasihan? Qiara pikir Naynay bersikap baik karena dia tulus.


"Terserah padamu. Kalaupun aku bilang bahwa aku menyayangimu karena kau adik iparku, aku yakin kau tidak akan percaya." Naynay masih bersikap santai sambil membalas pesan dari Rania dan Rosi di grup yang anggotanya hanya mereka bertiga.


"Bicara yang jelas! Kau melakukan semua ini karena apa??!!" bentak Qiara hingga mungkin suaranya terdengar sampai keluar.


"Karena kau adik iparku!! Aku juga tidak bisa menjadikan semua sikap burukmu sebagai patokan untuk bersikap demikian kepadamu!" balas Naynay dengan suara yang sedikit tinggi. Bumil itu sudah berdiri di depan sofa.


"Kau tahu, walau kau bukan adik iparku sekalipun, aku juga tidak bisa bersikap buruk kepadamu. Ada anak di sini yang pastinya akan mengikuti sikap burukku setelah dia lahir nanti!" ucap Naynay dengan menunjuk perutnya.


Qiara terdiam, terkejut mendengar ucapan Naynay yang menusuk hingga jantungnya. Begitu baiknya wanita itu hingga masih mau merawatnya yang sering berbuat jahat.


"Istirahatlah, aku ke bawah sebentar." Naynay berjalan keluar dengan membawa hpnya. Jika lebih lama di sana, dia yakin tidak bisa menahan segala kata-kata yang pastinya sudah tidak pantas lagi untuk diucapkan.


Dia tidak melihat Qiara yang sudah menangis sebelum dia keluar dari sana. Gadis itu menjambak rambutnya sendiri karena kesal dengan semua sikap buruknya pada Naynay.


.


.


.


.


.


Dukung selalu....

__ADS_1


__ADS_2