My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 118 Konsultasi


__ADS_3

Keesokan harinya, Arsen dan Sheena pergi ke dokter psikiater. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tangan keduanya tidak terlepaskan. Setelah sampai dirumah sakit, Arsen segera masuk keruangan Dokter Gery.


“Selamat pagi, Dokter Gery.” Sapa Arsen.


“Oh Tuan muda Arsen, mari silahkan duduk. Saya pikir anda tidak mau kemari lagi setelah kejadian itu.”


“Maafkan sikap saya waktu itu Dokter.” Kata Arsen dengan penuh penyesalan. Dokter Gery tersenyum saat melihat Arsen menggandeng tangan Sheena.


“Selamat pagi Dokter.” Sapa Sheena.


“Selamat pagi Nona.”


“Dokter, ini istri saya Sheena.”


“Senang sekali bisa bertemu dengan anda Nona Sheena. Ternyata anda lebih cantik di lihat secara langsung. Siapa yang tidak tahu berita kedekatan kalian tapi saya tidak menyangkan kalau Tuan Arsen memutuskan untuk menikah secepat ini.”


“Takdir yang membuat kami bersatu, Dokter.” Jawab Arsen sambil menatap kearah Sheena.


“Saya suka jawaban anda, Tuan. Lalu kedatangan anda kemari ingin membicarakan apa?”


“Tentu saja tentang mysophobia saya.”


Lagi-lagi Dokter Gery tersenyum. “Tidak ada yang perlu anda khawatirkan Tuan. Kekuatan cinta telah menyembuhkan anda.”


“Maksudnya dokter?” tanya Arsen mencoba menegaskan ucapan dokter.


“Lihatlah Tuan, tangan anda dan Nona Sheena menyatu begitu kuat. Sepertinya handsinitizer sudah anda lupakan,” seloroh Dokter Gery dengan tawa kecilnya. Arsen melihat kearah tangannya dan Sheena yang menyatu sedari tadi.


Arsen tersenyum. “Memang itu berpengaruh dokter?”


“Sangat berpengaruh. Karena mysophobia dapat diobati dengan terapi sedangkan untuk obat hanya untuk menghilangkan kecemasan saja. Dan sepertinya terapi cinta dan kasih sayang bisa menyembuhkan anda perlahan Tuan.”


“Sepertinya yang anda katakan benar dokter. Hanya dia mengerti saya, memahami saya dengan sabar dan menerima semua kekurangan saya. Tapi kami belum pernah melakukan hubungan badan sejak menikah.” Kata Arsen yang berusaha terus terang pada Dokter Gery.


“Apa alasannya Tuan?”

__ADS_1


“Ya karena saya masih menganggap itu sebagai hal tabu yang menjijikkan.” Jawab Arsen dengan polosnya.


“Lalu sejauh apa perkembangan hubungan kalian?” tanya dokter.


“Mmmm kami baru saling berpegangan tangan, saling memeluk dan berciuman saja. Dan saya bisa berbagi piring, tempat tidur dan alat makan dengannya. Hanya dengan Sheena, tidak dengan orang lain." Kata Arsen dengan apa adanya.


"Itu perkembangan bagus, Tuan."


“Tapi dokter, itu hal yang tidak pernah saya lakukan dengan pasangan saya sebelumnya. Semua itu saya lakukan dengan istri saya ini. Kami baru semalam menyatakan cinta dokter.” Sambung Arsen.


Dokter Gery mengernyitkan dahinya. “Menyatakan cinta? Bagaimana mungkin kalian menikah tapi baru mengatakan cinta semalam?”


“Seperti berita yang beredar, Sheena hanyalah seseorang yang Mama paksakan untuk menikah dengan saya demi menutup berita palsu yang disebar mantan kekasih saya. Kami terjebak dalam sebuah pernikahan yang sama sekali tidak pernah kami inginkan. Bahkan saya begitu membencinya karena gaya hidupnya sangat berbeda jauh dengan saya. Saya yang perfeksionis dan dia yang apa adanya. Tapi perlahan, rasa nyaman itu mulai tumbuh.”


Dokter Gery tertawa mendengar cerita Arsen. “Tuan sepertinya polos sekali ya untuk urusan cinta. Tuan, benci dan cinta itu beda tipis sekali. Tuan tidak bisa mencari pasangan yang sempurna atau bahkan sama dengan diri anda. Ibarat sebuah puzzle, puzzle tidak akan bisa terangkai membentuk sebuah gambar jika dia memiliki sisi yang sama. Dibutuhkan bentuk dan sisi yang berbeda untuk merangkai puzzle-puzzle itu menjadi sebuah gambar. Begitu pula dengan sebuah magnet, dia tidak akan menyatu jika memiliki kutub yang sama. Tapi jika kutubnya berbeda, mereka bisa saling menyatu. Jadi kesimpulannya kalian berdua adalah pasangan yang cocok dan saling melengkapi.” Jelas Dokter panjang lebar. Arsen dan Sheena saling bergantian menatap dan salin melempar senyum.


“Dan membicarakan urusan ranjang, kalian bisa mencobanya perlahan. Kalian bisa mencoba pacaran dulu, sesering mungkin melakukan hal yang romantis dan perbanyak kontak fisik seperti bergandengan tangan, memeluk, merangkul, mencium dan sebagainya. Apakah Nona Sheena tidak keberatan dengan Tuan Arsen yang belum bisa memberikan  hal itu?”


“Saya tidak keberatan sama sekali, Dokter. Karena melakukan itu juga butuh keberanian. Kalaupun di paksa, nanti juga tidak nyaman. Saya juga lebih nyaman jika kami seperti ini dulu.”


“Ya baguslah kalau kalian saling mengerti dan memahami. Tapi ada baiknya kalian sering nonton film romantis bersama untuk menumbuhkan gairah bercinta kalian.” Dokter kemudian mengeluarkan sebuah dvd.


“Baik dokter.” Jawab Arsen. Setelah menuliskan resep, Arsen dan Sheena pun pamit.


“Sekarang kita pergi ke dokter obgyn ya,” kata Sheena.


“Oke baiklah.”


Arsen dan Sheena lalu melakukan pemeriksaan kandungan dan kesuburan. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Arsen dan Sheena masuk kembali keruangan dokter untuk melihat hasilnya.


“Tuan Arsen, Nona Sheena dari hasil pemeriksaan, semuanya tidak ada masalah. Keduanya subur dan kalian bisa melakukan program hamil kapan saja. Hanya saja ada kista di ovarium Nona Sheena.”


DEG! Sheena merasa dunianya runtuh.


“Kista ovarium? Apakah itu berbahaya dokter?” tanya Arsen. Sheena sudah tidak mampu berbicara lagi. Matanya berkaca-kaca menahan sebuah kesedihan.

__ADS_1


“Tenang saja Tuan, kista ini tidak berbahaya. Bahkan ada kehamilan yang disertai dengan kista. Gejala kista ini memang terkadang sulit untuk dikenali oleh sebagian wanita. Kista yang kecil bisa sembuh dengan sendirinya tentunya dengan serangkaian pengobatan. Namun kista milik Nona Sheena sudah membesar dan harus segera di laukan operasi pengangkatan.” Jelas Dokter.


Akhirnya air mata Sheena lolos dari pelupuk matanya.


“Dokter, apa saya bisa hamil?” tanya Sheena lirih.


“Tentu saja bisa Nona. Setelah operasi pengangkatan kista, Tuan dan Nona bisa melakukan program kehamilan. Sesuai hasil pemeriksaan tadi, kista itu berada disisi kiri ovarium Nona. Nona tidak perlu sedih, banyak sekali wanita yang mengalami hal serupa.”


“Sheena, kamu jangan sedih. Dokter saja bilang tidak apa-apa. Kita akan melakukan pengobatan yang terbaik.” Arsen berusaha menenangkan hati Sheena.


“Saya akan mengatur jadwal operasi anda secepatnya Nona. Tuan Arsen, selalu dukung istrinya ya.”


“Pasti Dokter.”


Akhirnya setelah melakukan pemeriksaan, Arsen dan Sheena pulang kerumah. Namun sepanjang perjalanan, Sheena pun terdiam. Ia hanya bisa menangis tanpa suara. Arsen merasa sedih melihat Sheena. Sheena yang selalu ceria kini berubah menjadi pendiam dan tidak bergairah.


“Sheena, jangan sedih lagi ya. Kita hadapi ini sama-sama.” Kata Arsen sambil menggenggam tangan Sheena.


“Bagaimana kalau aku tidak bisa memberimu keturunan?”


“Memang kamu sudah siap untuk aku hamili?” goda Arsen.


“Memangnya kamu sudah siap untuk melakukannya?” Sheena berbalik tanya. Keduanya saling menoleh dan menatap lalu tertawa.


“Bagaimana?” tanya Arsen sambil mengerlingkan matanya.


“Bagaimana apanya?”


“Aku hamili. Apa sudah siap? Aku yakin, anak kita nanti akan sangat tampan sepertiku dan juga akan sangat cantik sepertimu.”


Sheena lalu meninju pelan lengan Arsen. “Sudah jangan bercanda lagi. Aku tidak ingin bercanda.”


“Senyum dong, jangan menangis lagi. Apapun yang terjadi, kita akan terus bersama Sheena. Ada atau tidak ada anak yang penting bagiku adalah kamu tetap disisiku. Sekalipun kita nanti memiliki anak, ujung-ujungnya hari tuaku, aku habiskan denganmu. Karena anak-anak kita nanti juga akan pergi bersama pasangannya. Kamu harus happy dan jangan stress. Lagi pula kata dokter kesuburan kamu tidak ada masalah. Sudahlah jangan memikirkan hal itu. Kita pikirkan sesuatu yang bisa membat kita bahagia saja.” Arsen lalu merangkul Sheena dan menyandarkan kepala Sheena pada bahunya sambil tetap fokus menyetir.


“Ternyata suamiku memang sempurna. Sekarang aku bisa menemukan kehangatan dibalik sikapnya yang menyebalkan itu.” Gumam Sheena dalam hati.

__ADS_1


 


Bersambung...


__ADS_2