
Malam harinya Brian dan Gea sudah berada di area balap liar. Brian merasakan uforia malam di area balap. Apalagi Gea selalu menjadi bintang lapangan, sekalipun lawannya adalah pria. Apakah Gea kali ini akan menang?
''Gea, kamu yakin?'' Brian tampak khawatir.
''Tenang aja, Brian. Santai!" kata Gea sambil menepuk bahu Brian.
''Berapa kali putaran Ge?''
''Lima kali, Brian. Gue siap-siap ya. Elo tunggu disini aja.''
''Oke. Hati-hati ya.''
''Iya-iya, tenang.''
Gea lalu segera bersiap. Brian berada di tengah-tengah kerumunan penonton malam itu. Brian bersorak dengan penuh semangat untuk Gea.
''Hati-hati ya Ge, aku sebenarnya khawatir.'' Gumam Brian dalam hati. Dan Gea pun mulai melajukan motornya. Putaran pertama, Gea masih memimpin. Brian merasa lega karena Gea setidaknya masih terlihat. Brian semakin semangat memberikan semangat untuk Gea. Putaran kedua, posisi Gea tergeser tapi Brian masih tetap merasa lega. Bagi Brian bukan masalah juara taoi keselamatan Gea. Karena balap liar seperti ini, kemungkinan kecurangan dan tingkat pengawasan sangatlah rendah. Dan di putaran terakhir, Gea tidak terlihat sama sekali. Pemenangnya adalah sosok pria bertindik dengan matanya yang sipit. Tampak pria itu tersenyum menyeringai karena bisa mengalahkan Gea. Sama sekali tidak ada yang peduli Gea dimana, mereka berfokus pada kemenangan pria itu.
''Hei, mana Gea?'' teriak Brian memecah suara mereka yang meneriaki kemenangan jagoannya. Apalagi Gea mendaftar secara pribadi tanpa joki.
''Gea? Iya, mana Gea? Aku juga tidak melihatnya. Mungkin motornya mogok. Sebaiknya kita bubar, sebelum polisi patroli datang,'' kata pria yang menang itu.
''Kalian tidak bisa seperti itu. Kalian harus tanggung jawab!" Brian menatap tajam kearah pria itu.
''Tanggung jawab bagaimana? Ini balap liar, resiko tanggung sendiri. Resiko dan hasil yang di dapat sepadan lah. Elo anak baru kemarin sore kan? Kalau tidak tahu aturan balap liar, lebih baik diam.'' Ucap pria beramata sipit. Brian mengepalkan tangannya, ingin sekali memukul wajah mereka satu persatu. Tapi terlalu banyak, bisa aja Brian yang malah di keroyok.
Brian akhirnya memutuskan untuk mencari Gea dengan menyusur jalan sepanjang area balap.
''GEA!" Brian berteriak memanggil Gea. Brian terus berlari dan akhirnya ia menemukan motor Gea tergeletak di pinggir jalan. Brian mendekat kearah motor Gea, namun Gea tidak ada disana.
''GEA! Dimana kamu?'' teriak Brian. Mata Brian mengedar ke setiap sudut jalanan namun Gea tidak ditemukan. Lalu mata Brian melihat kearah tepi jalan yang menjorok ke bawah. Brian menyalakan flash ponselnya dan ia terkejut melihat Gea ada di bawah sana.
''GEA! Sudah kuduga, mereka pasti bermain licik.'' Gumam Brian. Brian dengan perlahan menuruni tanah yang menjorok itu. Ia mendapati kening Gea berdarah.
''Gea, bangun Ge." Brian mengangkat tubuh Gea ke pangkuannya. Brian memeriksa denyut nadi dan nafas Gea.
''Oh syukurlah, semuanya masih normal.'' Brian kemudian menggendong Gea dan membawanya naik keatas. Jalan yang menjorok kebawah, cukup membuat Brian kuwalahan. Sampai akhirnya Brian menggendong Gea di punggungnya. Brian perlahan merangkak naik sampai akhirnya ia sampai diatas. Brian kemudian menelepon Arsen untuk mengirimkan mobil dan beberapa anak buahnya. Arsen sendiri masih berada di ruang kerjanya. Mendapati telepon Brian, segera mengangkatnya.
''Ada apa Brian jam segini telepon?''
''Hyung, kirimkan mobil dan beberapa anak buahmu. Aku kecelakaan.''
''APA? Kecelakaan?'' Arsen terkejut setengah mati.
''Dimana lokasimu?'' sambung Arsen dengan panik.
__ADS_1
''Aku akan segera mengirim lokasiku. Cepat hyung!" Suara Brian yang gemetar terdengar jelas oleh Arsen.
''Baiklah, tunggu disana.'' Arsen mengakhiri panggilannya. Arsen segera menelepon beberapa anak buahnya untuk menjemput Brian. Brian sama sekali tidak ada pilihan, semua fasilitasnya masih disita oleh Papanya. Untuk biaya rumah sakit Gea, tentu saja ia tidak punya. Setidaknya dengan meminta bantuan Arsen, semua masalah bisa teratasi. Termasuk dengan motor Gea yang pasti mengalami kerusakan.
Setelah memerintahkan beberapa anak buahnya, Arsen lalu menghampiri Sheena di kamarnya. Arsen mendapati Sheena masih sibuk membaca komik.
''Sayang, kamu belum tidur?''
''Mana bisa aku tidur. Kamu sibuk dengan pekerjaanmu,'' ketus Sheena.
''Maaf sayang, aku harus launching produk beberapa waktu dekat ini.'' Ucap Arsen seraya berlalu menuju almari. Sheena melihat Arsen berganti pakaian dan tampak cemas.
''Kamu mau kemana?''
''Brian kecelakaan.''
''Apa? Kecelakaan? Bagaimana kondisinya sayang?'' Sheena pun ikut panik.
''Aku belum tahu. Aku akan menyusulnya ke rumah sakit. Kamu dirumah saja ya.''
''Aku ikut, aku mohon. Aku tidak mau sendirian.''
Arsen menghela. ''Iya baiklah, kamu ganti baju yang hangat ya.''
Setelah berganti pakaian, Arsen dan Sheena segera berangkat menuju rumah sakit yang alamatnya dikirim oleh anak buahnya. Sesampainya disana, Arsen dan Sheena segera menuju ruang UGD. Wajah panik Arsen dan Sheena seketika hilang, saat melihat Brian dalam kondisi baik-baik saja dan mengobrol dengan dokter. Mereka lalu menghampiri Brian.
''Brian, kamu baik-baik saja kan?'' Arsen menyentuh wajah dan tubuh adiknya lalu memeluknya.
''Ak-aku baik-baik saja hyung.'' Jawab Brian dengan gugup.
''Oh syukurlah, kamu baik-baik saja. Kami sangat khawatir.'' Arsen melepaskan pelukannya.
''Tapi sebenarnya yang kecelakaan bukan aku hyung?''
Arsen mengernyitkan dahinya. ''Maksudmu apa?''
''Sebenarnya yang kecelakaan temanku.'' Brian menjadi gugup dan takut khawatir jika kedua kakaknya itu marah.
''Teman siapa Brian? Teman yang mana? Kamu mana ada teman disini?'' Arsen semakin bingung. Brian lalu mengajak Arsen dan Sheena menuju salah satu bilik bertirai itu.
''Mmm dia temanku.'' Ucap Brian yang menunjukkan Gea terbaring di brankar.
''Lho ini bukannya gadis tadi pagi ya?'' sahut Sheena.
''Iya. Dia penjual desert box itu kan?'' sambung Arsen. Brian mengangguk. Arsen kemudian menyeret tangan Brian keluar, Sheena mengekor dari belakang.
__ADS_1
''Sekarang jelaskan sebenarnya apa yang terjadi? Kalau memang dia temanmu, kenapa kamu tadi kabur saat melihat dia?'' Arsen berusaha mengorek informasi dari adiknya.
''Namanya Gea, hyung. Dia teman sekaligus tetangga kontrakanku. Aku tadi ikut dia balap motor. Tapi di putaran terakhir, dia tidak terlihat. Dan ternyata dia kecelakaan.''
''Kamu balap motor?'' mata Arsen membulat.
''Bukan aku hyung, tapi Gea. Aku hanya ikut saja.''
''Astaga Brian, bagaimana kamu bisa mengenal wanita seperti itu?'' kesal Arsen.
''Sayang, kamu jangan buru-buru menjudge teman Brian seperti itu.'' Sheena berusaha menenangkan.
''Iya tapi mereka ikut balap liar? Wanita macam apa itu?''
''Hyung, dia gadis baik-baik. Dia bukan seperti yang hyung pikirkan. Hyung tahu kan, aku sedang menyamar menjadi Brian yang seperti ini. Dan hanya dia yang mau berteman denganku, hyung. Dia gadis yang baik dan mandiri. Dia ikut balap motor karena butuh uang. Lebih baik seperti itu kan daripada menjual diri. Saat motor bututku mogok, dia yang memberiku tumpangan ke kantor. Dia bahkan membantuku untuk menyervis motot butut itu. Aku rasa dia tulus. Sejak aku menyamar seperti ini, mana ada wanita yang mau dekat dengan ku, hyung. Dia bahkan tidak malu berteman denganku, dia juga sering berbagi makanan denganku. Aku tadi kabur karena aku tidak ingin penyamaranku terbongkar. Jadi jaga ucapan hyung!" Brian sungguh tidak terima dengan ucapan Kakaknya yang asal menilai Gea. Arsen tidak percaya bahwa adik bungsunya bisa bicara seperti itu.
Wajah Arsen yang tadinya terlihat serius, kini berubah menjadi senyum. ''Wah, kamu sudah dewasa rupanya. Kamu menyukainya?''
''Suka? Ti-tidak.'' Brian merasa terintimidasi oleh ucapan Kakaknya.
''Rupanya si nelayan sudah mendapatkan ikan yang dia mau,'' sambung Arsen. Brian hanya meringis mendengar ucapan Kakaknya itu.
''Hyung, tolong ya bayar biaya rumah sakit dan juga motornya. Aku yakin Gea sengaja di celakai. Karena dia memang bintang lapangan hyung.''
''Bintang lapangan apa? Mau balapan ya di arena sirkuit. Tentu saja itu membahayakan.''
''Ya namanya balap liar hyung. Tolong ya bantu aku, aku tidak punya apa-apa hyung. Kasihan dia. Dia disini hidup sendiri.'' Brian memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.
''Sudah sayang, kamu urus semuanya. Kasihan Brian kan?'' sahut Sheena.
''Iya baiklah, aku akan mengurusnya. Tapi kalau sampai hal ini terjadi lagi, aku sungguh tidak mau membantumu. Lebih baik suruh dia mencari uang dengan cara yang lain.''
Brian kemudian memeluk Arsen. ''Terima kasih ya hyung. Aku mencintaimu hyung.'' Brian lalu mengecup kedua pipi Arsen. Sheena tertawa kecil melihat tingkah kocak dua bersaudara itu.
''Sebaiknya sekarang hyung bayar semuanya setelah itu hyung dan noona pulang, supaya Gea tidak curiga dan penyamaranku tidak terbongkar. Dan tolong jangan beritahu Papa dan Mama ya, ini rahasia antara kita.''
''Iya-iya. Jaga diri kamu.'' Ucap Arsen sambil menepuk pundak adiknya.
''Brian, sebaiknya kamu suruh Gea untuk berhenti balapan ya. Resikonya terlalu tinggi.'' Ucap Sheena.
''Iya Noona, setelah dia sadar, aku akan mencoba membujuknya. Sekali lagi terima kasih hyung-noona. Kalian hati-hati ya.''
''Iya Brian. Kami pergi dulu.''
Bersambung....
__ADS_1