
Keesokan harinya, Brian merasa sekujur tubuhnya terasa sakit dan ngilu. Apalagi ia tidak pernah bekerja berat seperti kemarin. Sampai membuat Brian bangun kesiangan.
''Brian, bangun!" Gea mengguncang tubuh Brian.
''Hmmmm, iya Ge. Aku capek. Badanku remuk rasanya.'' Ucap Brian dengan suara malas dan dengan mata yang masih terpejam. Gea terkekeh mendengar apa yang Brian katakan.
''Ini sudah jam 7 dan Ayah sudah menunggu kamu di sawah. Aduh, kamu bagaimana sih? Bisa-bisa restunya gagal.'' Mendengar apa yang Gea ucapkan, mata Brian langsung terbelalak, terbuka lebar. Ia tercekat dan langsung beranjak dari tempat tidurnya.
''Aku mandi dulu.'' Ucapnya seraya berlalu menuju ke kamar mandi yang terletak di belakang rumah. Gea terkekeh melihat Brian yang gelapan seperti itu. Padahal Pak Hendi, Ayahnya juga belum berangkat ke sawah. Ya, seketika Brian beradaptasi dengan lingkungan yang sangat jauh dari kehidupannya saat ini. Selepas mandi, Brian bergegas ganti baju dan menuju ke depan. Ia melihat Pak Hendi masih santai duduk di teras.
''Lho, Ayah kok belum berangkat?''
''Jam 8 berangkatnya, Brian. Soalnya ini hari Minggu jadi sedikit santai. Kamu baru bangun ya? Sebaiknya sarapan dulu sebelum kerja.''
Brian menghela nafas panjang. ''Brian pikir Ayah sudah berangkat.''
''Belum. Kamu makan saja dulu.''
''I-iya.'' Brian kembali masuk ke dalam mencari Gea. Terlihat pintu kamar Gea terbuka, Brian langsung masuk ke dalam.
''Gea!" seru Brian dengan wajah kesal.
''Hmmm,'' ucap Gea sambil bersiap berkemas.
''Kamu bohong ya?''
''Bohong apa sih?''
''Itu, Ayah masih di luar.'' Kesal Brian. Gea lalu tertawa.
''Hehehehe maaf.'' Guraunya. Brian lalu menarik tangan Gea, menarik dalam pelukannya. Gea terkejut!
"Brian, apa yang kamu lakukan?''
''Kamu berani ya menggodaku?''
''Ihhh lepasin,'' berontak Gea.
''Tidak mau!" ucap Brian. Gea kini berada sangat dekat dengan Brian. Aroma tubuh Brian yang sangat harum membuat jantungnya berdebar kencang. Terlebih tatapan maut Brian, membuat Gea mendadak membeku. Ternyata pria dihadapannya ini sangat tampan.
''Nanti di lihat Ayah dan Ibu bagaimana?''
''Mmm tidak peduli. Kamu harus di hukum dulu.''
__ADS_1
''Ihh hukuman apa? Aku tonjok ya? Atau mau aku tendang?'' ucap Gea dengan segala sikap salah tingkahnya.
''Lakukan saja.''
''Bener ya? Awas kamu!" ucap Gea bersiap melayangkan pukulannya. Namun tiba-tiba, CUP! Brian berhasil mencuri kecupan di bibir Gea. Dan lagi, Brian berhasil kabur.
''BRIAN!" Gerutu Gea menahan kesal. Namun kekesalan itu berubah senyum. Gea menyentuh bibirnya sendiri sambil senyum-senyum. Brian kemudian menuju ruang makan, disaat bersamaan, Bu Hana datang.
''Sudah bangun Brian?''
''Sudah Bu, maaf ya kesiangan.''
''Tidak apa-apa. Sudah, kamu sarapan saja dulu. Ibu ke dapur dulu.''
''Iya Bu.''
Selesai sarapan, Brian bersama Pak Hendi segera berangkat ke sawah dengan naik motor butut Pak Hendi. Sekalipun tulang dan sendi berasa linu dan ngilu tapi demi cinta, apapun akan Brian lakukan. Saat jam makan siang, Gea sengaja menyusul Brian dan Ayahnya ke sawah dengan membawa tentengan rantang berisi makanan dan teko berisi es teh.
''Ayah! Brian! Makan siang dulu yuk!" teriak Gea menuju gubuk bambu.
''Brian, ayo istirahat dulu.'' Seru Pak Hendi.
''Iya Ayah.'' Jawab Brian. Brian yang sudah sangat kotor berselimut lumpur langsung mencuci kaki dan tangannya di sungai dekat sawah, begitu pula dengan Pak Hendi. Tampak wajah Brian memerah karena kulit putihnya terpapar sinar matahari.
''Sepertinya setelah pulang dari sini aku harus perawatan,'' batin Brian seraya berjalan menuju gubuk. Gea mengeluarkan makanan di dalam rantang. Ada nasi, sambal terasi, ikan asin, tahu goreng, tempe goreng dan timun sebagai lalapan. Brian dibuat melongo dengan isi makanan di dalam rantang.
''Ayo dimakan Brian, kenapa ikannya di bolak-balik?'' ucap Gea.
''Iya, ayo dimakan! Tidak usah sungkan-sungkan.'' Timpal Pak Hendi yang sudah duluan makan dengan lahapnya.
''Mmmmm ini dagingnya mana? Apa Ibu lupa mengangkatnya ya pas goreng.'' Ucap Brian dengan polosnya. Gea dan Pak Hendi saling bertukar pandang menatap heran. Merasa heran masa iya Brian tidak tahu kalau itu ikan asin.
''Lho bukannya di Lombok itu ada ikan bajo ya. Itu ikan asin khas lombok yang sudah dikeringkan dan tanpa bahan pengawet. Struktur daging ikannya tebal dengan rasa yang khas.'' Ucap Gea.
''Aduh, mati deh aku! Seumur hidup ku mana pernah ikan asin. Kalau gurami masih bisa tapi ini ikan asin. Duh, aku jawabnya bagaimana ya?'' Gumam Brian dalam hati. Brian panik! Deg deg deg!
''Mmmmm aku lebih suka tahu tempe, jadi orang tua ku tidak pernah memasak ikan asin begini.'' Ucap Brian dengan gugup setengah mati. Gea dan Pak Hendi hanya bisa mengatakan O tanpa bersuara sambil manggut-manggut.
''Ya sudah, kamu makan tahu dan tempenya saja. Maaf ya kami tidak tahu kalau kamu tidak suka ikan asin.'' Ujar Pak Hendi.
''Ah, tidak apa-apa Ayah. Tahu dan tempe saja sudah sangat nikmat.'' Ucap Brian.
''Ya beginilah makanan kita sehari-hari, Brian. Jadi jangan kaget.'' Sahut Gea.
__ADS_1
''Sama saja Gea. Aku malah tahu tempe setiap hari, hehehe.''
''Ya ampun, hampir aja. Syukurlah aku bisa membuat alasan.'' Gumam Brian dalam hati. Setelah makan siang dan istirahat sejenak, Pak Hendi mengajak Brian menuju kebun singkong dan pisang.
''Nah, sekarang bantu Ayah panen singkongnya.''
''Iya Ayah. Tapi mana buahnya? Ini cuma pohon saja.'' Lagi-lagi Brian sama sekali tidak tahu. Pak Hendi menatap heran. Namun ia mencoba memaklumi, anak jaman sekarang mana tahu makanan orang jaman dulu.
''Begini caranya Brian.'' Pak Hendi lalu mencontohkan cara memanen singkong. Brian tersenyum dan manggut-manggut.
''Wah, mudah juga ya Yah.'' Brian lalu mencobanya dan bisa.
''Lihat Yah, aku bisa mencabutnya. Isinya besar sekali.'' Seru Brian seperti anak kecil kegirangan.
''Ini singkong yang kamu makan semalam.''
''Mmm aku mau Yah, boleh dibawa pulang?''
''Tentu saja boleh. Sekalian nanti Ayah bawakan pisangnya ya.''
''Boleh-boleh Yah.'' Brian begitu semangat memanen singkong-singkong itu. Dan bagaimana cara memanen pisang. Banyak sekali hal baru yang Brian pelajari saat berada di kampung halaman Gea. Di lahirkan menjadi orang yang beruntung dengan segala kemewahan dan kehidupan yang amat sangat terjamin, tentu saja yang dirasakan Brian saat ini merupakan hal baru dalam hidupnya. Apalagi hidupnya serba ada, serba di layani, semua makanan yang dimakan selalu penuh dengan nutrisi dan gizi yang seimbang. Selain kehidupan yang berbeda dengan dunianya, Brian mendapatkan ilmu baru yang kini membuatnya sadar, apa yang harus di lakukan setelah pulang nanti. Tentang bisnis apa yang ingin ia kembangkan ke depannya.
Senja mulai menyapa, Brian dan Pak Hendi segera pulang dengan membawa lumayan oleh-oleh alami untuk Brian bawa ke kota. Brian segera bersiap dan bersih-bersih. Karena mobil travel alias supirnya sudah berada didepan rumah Gea.
''Ayah-Ibu Gea balik dulu ya. Gea akan merindukan Ayah dan Ibu.''
''Kamu baik-baik ya di kota. Jaga diri. Kerja yang bener dan jangan balap lagi.'' Pesan Pak Hendi pada putri tunggalnya itu.
''Siap Ayah!"
''Ayah-Ibu aku juga pamit. Terima kasih sekali untuk semua kebaikan Ayah dan Ibu terutama restu yang Ayah dan Ibu berikan untuk hubungan kami.'' Ucap Brian.
''Sama-sama Nak Brian. Ibu sih 100% setuju. Pokoknya jaga Gea ya.''
''Pasti Ibu.''
''Ingat ya Brian, jangan sakiti Gea. Jaga Gea dan juga kehormatan Gea ya. Jangan sampai kamu macam-macam.'' Pesan Pak Hendi dengan tegasnya.
''Pasti Ayah! Aku akan menepati semua itu.'' Mereka kemudian saling berpelukan sebelum pergi.
''Hati-hati ya kalian. Jangan lupa beri kabar kalau sudah sampai.'' Pesan Bu Hana.
''Iya Ibu. Ayah dan Ibu jaga kesehatan ya.'' Pesan Gea yang rasanya tidak tega meninggalkan kedua orang tuanya. Brian dan Gea segera naik ke mobil untuk melakukan perjalanan kembali menuju kota. Perjalanan yang akan menyiksa Brian untuk kedua kalinya.
__ADS_1
''Siap-siap mabuk darat lagi. Demi cinta,'' gumam Brian dalam hati.
...Bersambung... OTW END YA... Untuk kelanjutan Aruna dan Daniel, menunggu ini selesai yaa, makasih 🙏🥰...