
“Apa yang akan kita lakukan nanti, Kak?” tanya Belinda.
“Ya, kita harus datang lah. Memangnya mau apalagi? Mama juga sudah membelikanmu dress.”
“Aduh gimana nih?” gumam Belinda cemas.
“Memangnya kenapa?”
“Aku nanti ada janji dengan Erick. Dia mau menjemputku dan sepertinya sekalian makan malam.”
“Erick, Erick dan Erick! Dasar labih, tidak berpinsip. Mudah sekali goyah dan tergoda.” Kesal Arthur.
“Ih kenapa sih sensi amat,” ketus Belinda.
“Seharusnya kamu bisa belajar dari masa lalu. Kamu bukan anak SMP lagi jadi bersikaplah dewasa. Sebaiknya setelah supir datang, kita langsung pulang dan bersiap.”
“Dasar bawel!” celetuk Belinda.
“Sebaiknya aku segera memberi kabar pada Erick, supaya dia tidak menjemputku nanti.”
Belinda : Erick, maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa pulang denganmu. Aku ada urusan yang sangat penting. Semoga kamu mengerti ya. Kita bisa menggantinya besok kan?
Erick : Oke, tidak masalah.
Mendapati pesan dari Belinda, Erick merasa kecewa namun ia juga tidak bisa memaksa karena status hubungannya dengan Belinda juga masih dalam tahap pendekatan. Jadi Erick tetap berusaha santai dan tenang dengan sikap Belinda yang membatalkan janji tiba-tiba.
Tepat jam 4 sore, Belinda dan Arthur meninggalkan kantor. Arthur mengajak Belinda pulang ke rumahnya. Rupanya diam-diam Erick terjaga disana. Erick penasaran dan ingin tahu apa alasan Belinda membatalkan janjinya. Erick sangat terkejut saat Belinda masuk ke dalam mobil Arthur.
“Tuan Arthur dan Belinda? Mereka mau kemana? Urusan pekerjaan atau memang ada sesuatu?” gumam Erick. Erick kemudian melajukan mobilnya dan memutuskan untuk mengikuti mobil Arthur.
Erick semakin dibuat terkejut saat mobil Arthur memasuki halaman rumahnya.
“Rumah? Bukankah itu rumah Tuan Arthur? Kenapa Tuan Arthur mengajak Belinda kerumahnya.” Erick semakin dibuat bertanya-tanya dengan apa yang ia lihat.
Sementara itu, begitu sampai di rumah Arthur, Belinda segera menuju kamar yang kini sudah seperti kamar pribadinya. Begitu pula dengan Arthur tanpa banyak bicara berlalu menuju kamarnya. Namun saat Belinda hendak mandi, tiba-tiba saja air dikamarnya mati.
__ADS_1
“Aduh, kenapa mati?” gumamnya sambil mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu dengan kejadian aneh di kamar itu. Padahal itu adalah ulah jahil Arthur. Belinda mengambil ponselnya untuk menelepon Arthur.
“Halo Kak, cepat ke kamarku.”
“Ada apa sih Bel, mengganggu saja. Aku lelah dan sedang rebahan.”
“Aku mau mandi tapi airnya mati. Masa iya rumah orang kaya airnya bisa mati.”
“Huft, orang kaya juga manusia biasa. Jadi kran mati dan listrik mati itu sudah biasa.”
“Sudah cepat kesini, Kak. Nanti kita bisa terlambat, aku juga harus dandan kan?”
“Iya-iya, ah bawel!” Arthur lalu mengecek kran di kamar mandinya dan ternyata menyala.
“Air dikamarku menyala, masa iya di kamarnya tidak nyala.” Gumam Arthur seraya menuju kamar Belinda. Arthur terkejut melihat Belinda yang sudah tidak mengenakan pakaian. Tubuh Belinda hanya terlilit handuk saja. Wajah polosnya tampak menggemaskan. Ia pun terpaku untuk sesaat.
“Mana yang mati? Dikamarku menyala.” Tanya Arthur tergagap. Belinda lalu menuju kamar mandi dan mencoba memutran kran shower tapi tidak menyala.
“Tuh, lihat! Tidak menyala kan?”
“Kenapa bisa begini? Padahal satu saluran.”
“Siapa tahu macet? Coba di ketok saja.”
“Cara getoknya bagaimana Bel? Showernya juga menempel didinding dan diatas. Kamu ini ada-ada saja.”
Belinda kemudian mengambil sapu di dekat pintu kamarnya.
“Hehehe getok pakai ini.” Ucap Belinda sambil meringis.
“Masa iya bisa menyala? Kok bisa macet begini ya?” gumam Arthur.
“Mungkin karena jarang di pakai, jadinya begitu. Paling kamarmu ini terpakai saat aku disini saja kan? Sudah, coba saja di getok yang keras.”
“Ilmu darimana ini? Aku jamin tidak akan menyala.”
__ADS_1
“Dicoba dulu, Kak. Sudah, jangan cerewet.” Kesal Belinda. Arthur akhirnya menurut saja dengan ide konyol Belinda itu. Ide yang sungguh tidak masuk akal.
Setelah lelah memukul, Belinda kemudian mencoba menyalakannya kembali. Dan benar saja airnya keluar dengan sangat deras. Derasnya air shower itu mengguyur tubuh Belinda dan Arthur. Mereka berdua lalu tertawa karena ide bodoh Belinda itu terbukti.
“Dasar bodoh!” ucap Arthur sambil menyentil kening Belinda.
“Kebodohan yang berhasil bukan?” ucap Belinda dengan tawa renyahnya. Setelah tertawa lepas dalam guyuran shower, keduanya lalu terdian dan saling memandang satu sama lain. Arthur maju satu langkah lebih dekat dengan Belinda.
Tiba-tiba Belinda menjadi gugup saat Arthur semakin mendekat. Belinda pun mundur saat Arthur semakin mendekat sampai tubuhnya mentok pada dinding. Arthur meletakkan kedua tangannya dikedua sisi kepala Belinda. Perlahan Arthur mendekatkan wajahnya pada wajah Belinda, semakin dekat, sampai Arthur mendaratkan bibirnya pada Belinda. Dan untuk pertama kalinya mereka berciuman dibawah guyuran air shower. Entah kenapa Belinda tidak kuasa menolak dan justru menyambut kecupan bibir lembut itu. Pagutan Arthur pun semakin dalam dan menuntut. Keduanya larut dalam suasana. Dering ponsel Belinda menyadarkan keduanya dari pagutan itu. Keduanya pun menjadi salah tingkah dan suasana menjadi kikuk.
“Cepatlah mandi. Aku kembali ke kamar.” Ucap Arthur dengan tergagap dan rasa gugup luar biasa. Belinda pun hanya bisa mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa. Arthur dengan basah kuyup kembali ke kamarnya. Sementara Belinda, segera mengangkat ponselnya. Ada panggilan dari Mamanya.
“Halo Mah, ada apa?”
“Bel, kamu tadi sudah baca pesan Mama kan?”
“Sudah Mah.”
“Kenapa kamu tidak membalasnya? Awas ya kalau sampai kamu tidak datang nanti. Jangan membuat Mama dan Papa malu.”
“I-iya Mah. Tante Sofi tadi juga sudah mengirimkan gaun untuk Belinda. Sudah pasti Belinda akan datang.”
“Ya sudah, jangan sampai telat! Jangan sampai Papa menambah hukuman kamu.”
“Iya-iya, Mah. Sampai ketemu nanti, Mah.” Panggilan berakhir. Belinda menyentuh bibirnya terbayang apa yang baru saja terjadi.
“Oh God! Kenapa aku tidak menolaknya? Kenapa aku malah membalas ciumannya? Dia pasti besar kepala. Bodoh! Bodoh! Bodoh!” Belinda memukul-mukul bibirnya.
Sedangkan Arthur pun juga memikirkan hal yang sama.
“Aku benar-benar hilang kendali. Sepertinya gadis manja itu membuatku merasa takut kehilangan dia. Aku tidak bisa membiarkan dia pergi bersama pria lain. Apakah Belinda juga punya perasaan yang sama denganku? Buktinya dia membalas ciumanku.” Gumam Arthur sambil merasakan segarnya air shower.
“Kenapa aku jadi gugup begini? Nanti bagaimana kalau aku bertemu dengannya dibawah?”
BERSAMBUNG....
__ADS_1