My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 151 Shoping


__ADS_3

Selesai membeli tas tanpa melihat harga, Arthur mengikuti Mamanya menuju toko sepatu.


''Mau beli apalagi Mah?'' tanya Arthur.


''Mau beli sepatu untuk Mama dan juga Sheena dong. Kamu juga pilihin untuk Belinda.''


''Hah? Untuk Belinda lagi? Kan tadi sudah beli tas, Mah. Arthur sendiri tidak tahu berapa ukuran kaki Belinda. Daripada beli untuk Belinda, lebih baik Arthur membelikan Sheena.''


''Dia kan calon istri kamu, Arthur.''


''Calon istri? Sejak kapan Mah?''


''Sejak pertama kali kalian bertemu. Sudah jangan bantah Mama. Kamu juga tidak pernah membelikan Belinda apapun kan? Setiap kali ulang tahun, selalu saja Mama yang memberinya hadiah.''


Arthur mendengus kesal mendengar ucapan Papanya. Namun mata Arthur justru tertuju pada sepatu couple.


''Aku akan membeli sepatu ini untuk Sheena dan Arsen. Aku belum memberi apapun untuk mereka.'' Gumamnya.


''Nah, itu lucu, couple!" sahut Nyonya Sofi.


''Mah, Arthur beli ini untuk Arsen dan Sheena.''


''Oh begitu, ya sudah untuk Belinda juga jangan lupa.''


''Jeng sofi! seru Nyonya Dira saat melihat Nyonya Sofi disana.


''Hei Jeng, ya ampun kita ketemu disini. Halo Belinda sayang.''


''Halo juga Tante.'' Belinda lalu menyapa Nyonya Sofi dengan kecupan dan cipika cipiki.


''Kamu sama siapa Sof?'' tanya Nyonya Dira.


''Sama Arthur. Itu dia lagi milih-milih sesuatu katanya.'' Kata Nyonya Sofi.


''Mah, aku tidak tahu berapa nomor kaki Bel...linda?'' tanya Arthur pada Mamanya. Arthur terkejut melihat Belinda ada disana.


''Nah ini anaknya disini, Arthur.'' Kata Nyonya Sofi.


''Kamu membelikan sepatu untukku?'' tanya Belinda dengan tatapn mata tidak percaya.


''Bukan hanya sepatu tapi juga tas lho, Bel.'' Sahut Nyonya Sofi.


''Wah, ternyata Arthur pengertian sekali ya. Tuh kan Arthur itu pria yang baik, Bel?'' sahut Nyonya Dira.


''Sini-sini, sekalian saja coba.'' Kata Arthur sambil menarik tangan Belinda lalu memintanya untuk duduk. Melihat itu, Nyonya Sofi dan Nyonya Dira pun memilih diam-diam meninggalkan mereka berdua.


''Coba ini, aku tidak tahu ukuran kakimu.'' Arthur berlutut satu kaki sembari memakaian sepatu untuk Belinda.


''Ka-kamu membelikan aku sepatu? Jangan bilang kamu menyukaiku?'' celetuk Belinda.

__ADS_1


''Jangan ge-er! Aku membeli sepatu untuk Sheena dan Arsen tapi Mama memaksaku untuk membelikanmu juga. Lebih baik kamu pilih mana yang kamu suka.'' Kata Arthur.


''Baiklah, sekalian saja aku kerjain.'' Gumam Belinda dalam hati.


''Apa aku boleh memilih lebih dari satu?'' tanya Belinda.


''Ambil saja yang kamu suka. Nah, ini pas di kakimu.'' Kata Arthur. Belinda melihat kearah kakinya, sepatu pilihan Arthur sangat pas dan sesuai dengan seleranya.


''Baiklah aku bungkus yang ini. Ada lagi sepatu yang sangat aku inginkan tapi Mama sama sekali tidak memberiku ijin untuk membelinya.''


''Ambil saja,'' jawab Arthur dengan entengnya. Untuk urusan belanja tentu saja Belinda sangat semangat. Mata Belinda berbinar melihat koleksi sepatu yang ada di toko tersebut. Mata Arthur membulat, melihat Belinda mengambil sepatu seenaknya.


''Bel, kenapa ambil banyak sekali?'' bisik Arthur.


''Katamu ambil saja yang aku mau.''


''Iya tapi seharusnya kamu bisa mengerti kata-kata itu.''


''Jangan pelit-pelit!" ketus Belinda. Setelah selesai memilih, Belinda membawanya ke kasir.


''Kak Arthur, bayar nih.'' Kata Belinda. Arthur menghela nafas kasar, ia lalu membayar semua belanjaan Belinda.


''Emang enak aku kerjain,'' gumamnya dalam hati.


''Lho Mama kita mana?'' tanya Belinda.


''Mana aku tahu. Coba kamu telepon.'' Kata Arthur. Belinda lalu mengambil ponselnya untuk menelepon Mamanya.


''Sayang, maafkan Mama ya. Mama lupa kalau ada janji arisan. Kamu pulang sama Arthur ya. Ini Mama pergi sama Tante Sofi.''


''Mama ini gimana sih? Ya udah kalau gitu.''


''Maaf ya sayang, kamu hati-hati ya.''


''Iya Mah.'' Panggilan pun berakhir.


''Kemana mereka?'' tanya Arthur.


''Ada arisan katanya.''


''Ya udah aku antar pulang sekalian.''


''Mumpung disini gimana kalau nonton?''


''Aku capek.''


''Ayolah Kak.'' Bujuk Belinda.


''Oke baiklah.'' Jawab Arthur.

__ADS_1


''Ternyata sejak dulu, dia selalu tidak bisa menolak permintaanku,'' gumam Belinda dalam hati.


''Tapi semua belanjaanku bawa ke mobil dulu ya.''


''Iya.''


''Oh ya katanya kamu membelikanku tas. Mana tasnya?''


''Ini.'' Singkat Arthur sambil mengalungkan paperbag berukuran besar ke leher Belinda.


''Kak, ini berat tahu!"


''Lihat saja kedua tanganmu sudah penuh belanjaan jadi aku kalungkan saja di leher.'' Ucap Arthur seraya berlalu.


''Menyebalkan! Nggak peka banget sih.'' Belinda mendumel seenaknya karena Arthur sama sekali tidak mau membantunya. Arthur hanya bisa menahan tawanya melihat Belinda kesulitan membawa barang belanjannya.


''Salah sendiri, dikasih jantung minta hati,'' gumam Arthur dalam hati. Setelah sampai di tempat parkir, Belinda meletakkan semua belanjannya ke bagasi mobil Arthur.


''Eh sebentar aku mau lihat tasnya dulu.'' Kata Belinda yang penasaran dengan tas pembelian Arthur.


''Wah, ini benar-benar tas yang sedang aku inginkan. Ini limited edition lho, Kak. Ini harganya 500 juta keatas lho. Tadinya aku mau inden tapi di Indo rupanya sudah ada.''


''Hah? Lima ratus juta? Sumpah?'' mata Arthur membulat tidak percaya.


''Iya Kak. Wah, memang siapa yang membayarnya? Masa iya beli tidak melihat harga.''


''Aku main ambil asal saja. Dan sama sekali tidak melihat harga.''


''Ya ampun berarti ini rezeki aku dong. Kakak tahu, penggunana kartu kreditku di batasi jadi aku tidak bisa belanja semauku.''


''Ya udah aku ambil lagi aja ya. Sayang uang segitu buat beli tas.'' Kata Arthur sambil merebut kembali tas yang di pegang oleh Belinda.


''Ih tidak bisa!" Belinda pun merebut kembali tas itu dari tangan Arthur.


''Kita tukar yang harganya kisaran sepuluh juta saja.''


''Tidak bisa, Kak. Aku akan menelepon Tante Sofi dan mengadu kalau kamu tidak ikhlas memberikan tas ini padaku.''


''Kalau aku membelikan tas semahal itu untuk istriku tidak masalah. Lha ini memberikan tas untuk seseorang yang buka siapa-siapa aku. Sayang banget kan uangnya. Akupun juga bisa mengadu pada Tante Dira dan Om Keenan, kalau kamu sudah memaksaku dan memalakku. Aku yakin mereka akan marag melihat kantong belanjaanmu ini.''


''Yahh, jangan gitu dong Kak. Papa dan Mama pasti marah. Ayolah untuk kali ini kita kerja sama. Aku sudah lama sekali tidak belanja. Semuanya di batasi. Semua Kakak-kakakku tidak ada yang bisa di ajak kompromi. Paling Kak Raja saja yang diam-diam baik hati memberiku tambahn uang saku.'' Belinda merengek sambil mengguncang lengan Arthur.


''Lihat saja nota belanjaan ini. Sepatumu saja ada lima pasang, Bel. Kamu benar-benar sangat boros.'' Arthur menunjukkan struk belanjaannya pada Belinda. Belinda hanya bisa meringis sambil menggaruk kepalanya.


''Ya habis gimana? Kalap aku, Kak.''


''Aku hanya membelikanmu satu pasang tapi kamu malah ambil lima. Belajar cari uang jangan bisanya ngabisin.'' Ketus Arthur.


''Ah udahlah Kak, jangan cerewet seperti Papa. Sekarang temani aku nonton. Gara-gara semalam Dave kerumah, aku di kuruang dan tidak boleh pergi kemanapun. Aku hanya bisa keluar denganmu saja. Aku janji akan aku ganti tapi temani aku nonton.'' Ucap Belinda memohon. Akhirnya Arthur menuruti keinginan Belinda.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2