My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 220 MENIKAH?


__ADS_3

Keesokan harinya di kantor, semua karyawan saling berbisik ketika melihat Arthur datang ke kantor. Arthur merasa aneh dengan tatapan semua karyawannya yang seolah menghakimi.


“Apa ada yang aneh dengan penampilanku?” gumam Arthur dalam hati. Namun Arthur tidak peduli dan terus berjalan menuju ruangannya. Sesampainya diruangan, Arthur dikejutkan dengan kehadiran Tuan Darwin, Papanya.


“Papa! Tumben ke kantor. Bukannya Papa sedang sibuk mengurus rumah sakit?”


“Papa kesini karena kamu membuat masalah. Kamu melakukan hal yang sangat memalukan Arthur.” Ucap Tuan Darwin dengan suara meninggi.


“Hal memalukan apa Pah? Arthur benar-benar tidak mengerti.”


“Kamu masih pura-pura tidak tahu? Atau pura-pura bodoh Arthur?”


“Pah, Arthur sungguh tidak mengerti. Maksud Papa apa?”


“Apa kamu tidak melihat berita? Seorang atasan melakukan pelecehan seksual terhadap bawahannya.”


“Pelecehan seksual? Apalagi itu Pah? Arthur selama ini tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh. Apalagi sampai melecehkan bawahan Arthur. Ngaco itu Pah!” Arthur dengan tegas menepis berita buruk itu. Tuan Darwin lalu menunjukkan artikel berita itu.


“Kamu lihat ini! Bukankah itu kamu? Lalu siapa wanita itu? Masih bagus wajah wanita itu di blur, supaya tidak membuat dia malu. Pertemukan Papa dengan wanita itu. Setidaknya Papa harus meredam ini supaya wanita itu tidak mencoreng nama baik keluarga kita,” kata Tuan Darwin dengan menggebu-gebu. Arthur tentu saja sangat terkejut dengan foto dirinya. Karena foto itu adalah saat ia dan Belinda sedang berciuman di dalam mobil.


“Ini aku dan Belinda. Siapa yang berani memotret ku dan Belinda? Bahkan sampai memuatnya dalam artikel,” gumam Arthur penuh tanda tanya.


“Baca kamu isi artikel itu. Kamu memaksa wanita itu dan mengancamnya kan? Bagaimna kalau sampai keluarga Om Keenan tahu berita ini? Papa sudah tidak punya wajah di hadapan mereka semua dengan kelakuan buruk kamu ini.”


“Pah, tenang dulu. Ini semua salah paham. Papa jangan percaya saja dengan isi artikel itu. Semua itu fitnah, Pah.”


“Fitnah apanya? Itu sudah jelas wajah kamu. Papa kecewa sekali denganmu, Arthur.”


“Pah, itu Belinda!” kata Arthur.


“APA? BEL-BELINDA?” Tuan Darwin sangat terkejut dengan pengakuan putranya itu.


“Iya, Pah. Itu Belinda. Kami melakukan ciuman itu di mobil Arthur dan itu terjadi kemarin. Arthur tidak tahu siapa yang sudah mengarang berita itu.”


“Ciuman? Bagaimana mungkin? Bukankah kalian saling benci? Bahkan bersi keras menolak perjodohan itu. Kamu jangan melibatkan Belinda untuk menutupi masalah kamu ini ya.”


“Sebaiknya kita duduk dulu Pah. Papa jangan marah dulu, oke. Arthur akan menjelaskannya.” Arthur lalu mengajak Papanya untuk duduk di sofa.


“Arthur ada foto saat Belinda mengenakan pakaian itu.” Arthur kemudian  membuka galeri ponselnya dan menunjukkan beberapa foto kebersamaannya dengan Belinda kemarin. Namun reaksi Tuan Darwin seperti belum percaya.


“Kalau Papa belum percaya, Papa bisa menunjukkan foto itu pada keluarga Om Keenan dan juga Belinda. Pah, sebenarnya Arthur dan Belinda sudah bersama. Kemarin Arthur juga sudah menemui Om Keenan dan Tante Dira mengenai hubungan kami. Kalau kami setuju untuk menikah. Arthur juga sudah membelikan cincin pertunangan sekaligus memesankan gaun untuk Belinda. Kami sudah saling mencintai, Pah. Ciuman itu untuk menenangkan hati Belinda karena Belinda cemburu dan kita terbawa suasana. Tapi Papa tenang saja, Arthur masih menjaga kehormatan Belinda.” Jelas Arthur panjang lebar.


“Sungguh? Kalian sudah bersama?”


“Iya Pah.”


Tuan Darwin lalu memeluk putranya. “Papa senang sekali mendengarnya akhirnya kalian setuju dengan perjodohan ini. Kenapa kamu tidak bilang dari awal?”

__ADS_1


“Ya, kami baru jadian dua hari lalu Pah. Sekarang Papa puas kan? Karena rencana perjodohan Papa berhasil.”


“Hahahaha tentu saja. Wah, pasti Sheena senang sekali mendengar kabar ini.”


“Apa mereka benar-benar tidak bisa pulang saat hari pertunanganku, Pah?”


“Kita ubah trencana pertunangan menjadi hari pernikahan.”


“APA?” Arthur tekejut.


“Iya. Kita percepat semuanya. Kita sah kan dulu pernikahannya, resepsinya menyusul. Seperti pernikahan Sheena dan Arsen.”


“Kenapa buru-buru Pah? Kami sedang saling pendekatan.”


“Pendekatan kalian terlalu lama. Bahkan kalian dekat sudah sejak kecil. Apalagi dengan berita ini, komentar mereka pedas sekali. Lagian kenapa kamu tidak bisa tahan sih? Belinda sedang menyamar menjadi karyawanmu, kenapa tidak melakukannya di rumah saja? Supaya tidak ada yang melihat kalian bermesraan.”


“Papa ini pikirannya jauh sekali.”


“Papa ingin segera memiliki cucu dari kamu dan Belinda. Papa akan segera menemui keluarga Om Keenan untuk membuat acara pernikahan sederhana. Kamu tahu, berita ini sudah menyebar dan mencoreng nama baik perusahaan. Dampaknya apa? Saham kita hari ini terjun bebas. Mama kamu stress karena kamu mendapat banyak hujatan. Kami bahkan menahan untuk tidak memberitahu Sheena dan Arsen. Kami tidak ingin menganggu mereka berbulan madu. Pokoknya hari pertunangan itu, kita ubah menjadi hari pernikahan. Kamu dan Belinda harus memberikan video klarifikasi secepatnya. Sekarang Papa pergi dulu, Papa mau menemui Om Keenan.” Ucap Tuan Darwin panjang lebar dengan semangat yang menggebu, setelah itu Tuan Darwin berlalu begitu saja tanpa memberikan kesempatan Arthur untuk bicara.


Arthur menghela. “Belinda memangnya mau menikah secepat itu? Ah, masalah ini membuatku pusing. Tapi siapa yang melakukan semua ini? Apa motifnya?” gumam Arthur penuh tanya.


 


###


Saat jam makan siang tiba, Arthur dikejutkan dengan kedatangan Belinda.


“Hei, Bel.” Sapa Arthur tanpa berpaling dari layar laptopnya.


“Ah, aku kesal. Kamu sama sekali tidak melihatku.” Kesal Belinda sambil menghentakkan kakinya. Mendengar keluhan Belinda, Arthur menutup laptopnya segera. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan memberikan pelukan untuk Belinda.


“Bagaimana? Apa kesalnya sudah hilang?” ucap Arthur.


“Mmmm sudah. Oh ya aku membawakanmu makan siang.” Kata Belinda sambil menunjukkan lunch boxnya pada Arthur.


“Makan siang? Kamu pasti beli ya?”


“Enak saja. Aku hari ini bekerja keras untuk belajar memasak dan semua itu demi kamu.”


“Oh manis sekali. Baiklah kalau begitu aku akan memakannya.” Ucap Arthur seraya mengajak Belinda duduk di sofa.


“Oh ya apa hari ini tidak ada yang mengenalimu?” tanya Arthur.


“Tidak ada yang bisa mengenaliku. Yang ada semua mata tertuju dan kagum dengan kecantikanku.”


“Dasar pede boros.” Ledek Arthur.

__ADS_1


“Apa tidak bisa memujiku sedikit saja? Selalu saja menyebalkan.”


“Memangnya aku harus bilang apa? Aku sudah tahu kalau kamu cantik sejak dulu.”


“Ummm aku dan Grace lebih cantik siapa?”


“Kalian berdua sama-sama cantik dan punya keunikan tersendiri.” Mendengar jawaban Arthur, Belinda mendengus kesal. Karena bukan jawaban itu yang Belinda harapkan.


“Apa tidak bisa bilang kalau lebih cantik aku?”


“Iya, kamu lebih cantik, bahkan yang tercantik.” Ucap Arthur dengan senyum lebarnya.


“Hehehe, kalau begitu sekarang makanlah. Aku ingin tahu pendapatmu. Jawab jujur ya?”


“Oke.” Arthur kemudian mulai menyuapkan makanan hasil karya Belinda. Belinda sedari tadi meperhtaikan Arthur, penasaran dengan reaksinya.


“Bagaimana?”


“Menurutku ini keasinan, daging dan sayurnya juga under cook.”


“Kenapa sih jawabanmu tidak bisa menyenangkan hatiku?” protes Belinda.


“Kamu kan ingin aku menjawab jujur jadi aku jawab jujur.”


“Sini aku coba.” Ucapnya kesal sambil mencoba memakan hasil masakannya. Belinda mengernyitkan dahinya, rahangya terasa sakit karena dagingnya masih keras.


“Maaf ya, aku memang bodoh dan tidak bisa apa-apa. Aku tadi melihat resep di youtube tapi masih saja gagal,” ucap Belinda menunduk sedih.


“Kenapa harus minta maaf? Kamu masih bisa belajar lagi. Kalau keasinan, garamnya di kurangi. Kalau memasak sayuran seperti ini, tunggu airnya mendidih, setelah itu masukkan sayurnya. Selain cepat matang, tidak mengubah warna sayur jadi sayurnya tetap terlihat segar.”


“Oh begitu, ternyata kamu memang hebat. Aku jadi malu sebagai seorang perempuan.”


“Hei, kenapa sedih?”


“Aku tidak mau saja kamu memakan makanan dari orang lain apalagi Grace, terlebih kamu memuji masakannya.”


“Baiklah, bagaimana kalau kerumahku?”


“Untuk apa?”


“Kita memasakan bersama.”


“Mem-masak bersama?” tanya Belinda dengan segala fantasi anehnya.


“Iya. Kita masak ulang masakan ini bersama.”


“Setelah memasak, kita mau apalagi?”

__ADS_1


“Memangnya apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Arthur dengan tatapan penuh selidik.


 


__ADS_2