
Sejak kepulangan Naynay dan Gamaliel beberapa hari yang lalu, rumah utama tampak dijaga dengan ketat. Pengawal berbaju khusus dengan revolver di bagian dalam jas mereka berlalu lalang di semua sisi rumah. Para oma-oma muda yang ingin menjenguk Naynay saja harus diperiksa begitu ketat dan ribetnya.
Keamanan, itu yang menjadi fokus Afif sekarang ini. Kelahiran Gamaliel juga sudah diumumkan dan tersebar ke segala penjuru dunia, bahkan di majalah bisnis saja ada singkatan nama Gamaliel yang menjadi sampulnya. Yaitu GaVin. Seolah majalah yang biasanya merangkum pebisnis-pebisnis sukses itu berubah menjadi koran yang isinya pemberitaan tentang putra Afif Cavin Alvarendra itu. Afif memang tidak membocorkan nama asli anaknya.
Naynay, mama muda itu disibukkan dengan mengurus Gamaliel yang dari kecil ini saja sudah kelihatan akan mewarisi semua yang ada pada Afif. Bangun tengah malam, menyusui, lalu menidurkan lagi bayi montoknya. Tapi Naynay menyukai semuanya, dia merasa bahagia dapat menikmati momen ini.
"Sayang...."
Panggilan lembut itu mengalun di telinga Naynay yang tertidur, disusul elusan lembut di kepalanya. Tapi dia malas sekali membuka mata, dan kembali tertidur karena kantuk berat.
Afif tersenyum melihat Naynay yang tidak juga membuka matanya, dia tahu bagaimana lelahnya sang istri mengurus putra mereka yang hobi bangun tengah malam.
Afif mencium pipi Naynay sebelum melangkah ke tempat di mana Gamaliel berbaring. Dia menggendong anaknya itu dan membawanya keluar untuk berjemur. Biarlah Naynay istirahat, biar dia sendiri saja yang mengajak Gamaliel ke taman rumah.
Afif sudah membuka baju Gamaliel dan memberinya kacamata kecil yang sebelumnya dia beli karena imut. Afif juga ikut berjemur, dia sudah bertelanjang dada dan berbaring di kursi santai. Di sampingnya ada Gamaliel yang hanya memakai popok saja dan kacamata kecilnya berbaring di tempat khusus.
"Cukup untuk pagi ini, ayo kita bangunkan mama!" ucap Afif setelah mereka berjemur. Dia menggendong Gamaliel kembali ke kamar mereka yang masih di lantai bawah.
Masuk ke dalam kamar, Afif melihat Naynay duduk di tepi tempat tidur dengan rambut berantakan. Mungkin istrinya itu baru saja bangun.
"Kenapa nggak pakai baju?" serang Naynay dengan mata tajam melihat Afif yang telanjang dada.
"Aku ikut berjemur tadi," jawab Afif sambil meletakkan Gamaliel di kasurnya dengan hati-hati. Setelah itu dia duduk di samping Naynay yang auranya terasa tak bersahabat.
"Kenapa, hhmm?" tanya Afif menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sedikit wajah Naynay.
"Kalau keluar dari kamar kayak gini lagi, Nay telanjangin beneran di depan rumah!" ucap Naynay berang sambil menunjuk dada bidang Afif yang menggoda.
Afif terkejut, dia memandang Naynay sedikit takut. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum lebar sambil memeluk erat tubuh Naynay. "Kau mengatakannya karena merindukan tubuhku, 'kan?" tanyanya yang sukses membuat Naynay sesak napas.
"Ihhh.. Apaan sih? Nay itu nggak suka kalau ada yang lihat tubuh Kakak!" Naynay berusaha keluar dari pelukan Afif yang membuatnya sesak.
__ADS_1
'Kenapa aku sesenang ini melihatnya cemburu?'
Afif melepas pelukannya dan langsung menyambar bibir Naynay. Sekarang susah sekali untuknya melakukan ini dengan Naynay, jadi jangan disia-siakan!
Naynay terkejut saat Afif memegang dadanya yang padat berisi, pasalnya Afif pernah bilang kalau dia takut ASI Naynay keluar kalau dia pegang. Tapi dia mana tahan jika tidak memainkan apa yang dia suka, apalagi sekarang bentuknya semakin menggemaskan.
Tangan Naynay mendorong pelan dada Afif hingga ciuman mereka terlepas, dia takut Afif tidak bisa mengontrol dirinya.
"Kita mandiin Gama, yuk!" ucap Naynay sambil berdiri dan menarik tangan Afif.
Afif mengusap wajahnya kasar sambil tersenyum, sepertinya dia akan sedikit tersiksa untuk menunggu waktu bisa menggauli Naynay kembali. Afif duduk di samping Naynay yang sedang membuka baju Gamaliel. Setelah itu mereka pergi ke kamar mandi yang sedikit direnovasi untuk Gamaliel mandi.
Seperti sebelum-sebelumnya, acara memandikan Gamaliel selalu penuh drama. Mulai dari Afif yang ngotot mengatakan kalau mata Gamaliel akan perih terkena sabun, Afif yang menciumi tengkuk Naynay, dan masih banyak lagi.
Naynay membalut tubuh Gamaliel dengan handuk dan membawanya kembali ke kamar. Dia memandang kesal sang suami yang bibirnya tidak berhenti mengoceh sejak tadi.
"Ambilin baju sana!" titah Naynay yang sudah seperti emak-emak senior memarahi suaminya.
Afif berlari menuju lemari kecil di samping nakas dan mengambil pakaian Gamaliel. Setelah itu dia menyerahkannya pada Naynay.
"Ada apa?" tanya Afif menyipitkan matanya melihat raut wajah Pak Hen yang tampak khawatir.
"Ada tamu di luar, Tuan Muda."
"Siapa? Kenapa tidak memberitahuku lewat intercom saja?" tanya Afif lagi.
"Biar Anda yang melihatnya sendiri, Tuan Muda."
Afif merasa ada yang aneh, tapi dia kembali masuk ke kamar untuk mengambil bajunya. Tak lupa memberitahu Naynay bahwa dia ada tamu. Setelah itu Afif pergi menuju pintu dan terkejut setelah melihat siapa yang datang sebagai tamunya. Bahkan dia mundur beberapa langkah.
"A-apa yang dia lakukan di sini? Usir dia!!" titah Afif dengan wajah yang langsung berkeringat.
__ADS_1
Pemandangan halaman rumah sekarang begitu tegang, sang tamu membawa pasukan yang sama banyaknya dengan bodyguard yang sedang berjaga. Apalagi posisi mereka yang saling berhadapan dengan senjata api yang juga siap ditembakkan.
Sang tamu yang merupakan seorang wanita itu berjalan hingga berada tepat di depan salah satu bodyguard Afif. Dia membuka kacamata hitam yang dipakainya dan menyimpannya ke dalam tasnya. Wanita itu tersenyum masam menatap Afif yang memandang benci padanya.
'Jika aku tidak datang seperti ini, maka aku tidak akan pernah bisa hidup tenang.'
"Aku datang untuk menjenguk Gamaliel dan cucu menantuku," ucap Aiko sambil berusaha tetap tersenyum walau hatinya sakit melihat tatapan sang cucu.
"Usir dia!!" teriak Afif dengan suara yang begitu keras hingga Naynay yang baru saja keluar dari kamar sambil menggendong Gamaliel terkejut. Apalagi terdengar suara tembakan setelahnya.
Naynay berjalan cepat menuju pintu rumah, dia terkejut melihat Afif yang memegang pistol dan banyak orang berpakaian hitam di halaman. Naynay juga melihat Ryan berdiri di samping Afif dan memberikan kode bahwa dia ada di sana pada Afif.
Afif menghampiri Naynay dan membawanya masuk ke kamar kembali. Dia takut, begitu takut jikalau Aiko melukai Naynay dan Gamaliel. Afif bahkan sampai mengunci pintu kamar.
"Kak," panggil Naynay lembut. Gamaliel sudah dia baringkan di tengah tempat tidur.
Afif menutupi wajahnya dengan telapak tangannya, namun Naynay bisa melihat ekspresi ketakutan itu tadi. Naynay membawa Afif ke dalam pelukannya dan mengelus punggung tegap itu agar tenang.
"Tenang, ya, Nay sama Gama di sini."
Afif memeluk erat tubuh Naynay, tidak dipungkiri bahwa dia begitu takut. Sudah lama sekali dia tidak bertemu Aiko, dan hari ini dia melihatnya setelah bertahun-tahun.
Naynay juga bingung sekarang ini, pasalnya dia tidak tahu Afif kenapa. Dia juga melihat seorang wanita tadi, namun dia tidak tahu itu siapa. Afif tidak pernah cerita tentang Aiko padanya. Dia akan menunggu Afif tenang dahulu, nanti dia akan meminta Afif bercerita.
"Dia... Dia Aiko....."
.
.
Ayo voteeee!!
__ADS_1
.
.