
Setelah keseluruhan acara selesai, Naynay dibawa pulang oleh Hendrayan ke rumahnya. Merayakan kelulusan Naynay serta usia calon cucunya yang sudah memasuki lima bulan. Mereka sepakat untuk BBQ-an sore itu.
Setelah sampai di rumah, Naynay segera menaiki tangga menuju kamarnya. Dia membuka bajunya dan menghapus make up yang masih melekat di wajahnya. Setelah itu dia memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang berkeringat.
Menghabiskan waktu sekitar lima belas menit untuk mandi, Naynay keluar dan berpakaian. Dia memilih memakai pakaian rumahan lengan pendek dan panjang di bawah lutut. Setelah itu dia turun ke bawah dan menuju halaman belakang di mana Hendrayan, Yasmin, dan Araa sudah menunggu di sana.
"Araa sama Bubu aja, ya." Naynay mengambil alih Araa yang tadinya dipangku oleh Yasmin.
Naynay duduk di kursi dengan memangku Araa yang menghadap padanya. Seakan paham bahwa ada adiknya di dalam perut Naynay, bayi itu mengusapnya sambil tertawa.
"Araa bentar lagi punya adik," ucap Naynay sambil mengusap kepala Araa yang rambutnya tebal dan sedikit ikal di bagian ujungnya.
Yasmin dan Hendrayan tersenyum melihat interaksi Naynay dengan Araa. Walaupun tidak sedarah, tapi Naynay begitu menyayangi bayi yang tega dibuang orang tuanya itu.
Mereka memulai acara BBQ itu, para pelayan juga diikutsertakan. Sebelum makan, mereka memanjatkan doa sebagai bentuk syukur atas kelulusan dan meminta keselamatan kandungan Naynay sampai lahiran nanti.
Naynay tidak lagi menyukai daging sejak hamil, jadi dia hanya memakan sosis yang dibaluri bumbu. Sedangkan Araa disuapi bubur bayi, bibir bayi itu bahkan sampai belepotan.
Naynay merasa begitu senang karena semua orang di rumahnya selalu mendukungnya. Tidak pernah dia melihat para pelayan memandang rendah padanya.
"Kamu mau hadiah apa dari Papa?" tanya Hendrayan setelah mereka semua bubar dan mereka berempat berpindah ke ruang keluarga sambil menonton tv.
Naynay yang duduk di karpet sambil memangku Araa pun menoleh. "Nay nggak mau minta apa-apa, tapi pengen tanya sesuatu sama Papa dan Mama."
"Tanya apa?" tanya Hendrayan.
"Tapi janji jangan marah," ucap Naynay memelas karena hal yang akan dia tanyakan ini sangatlah sensitif.
"Ya tergantung, kamu mau nanya tentang apa?" balas Hendrayan dan diangguki Yasmin yang duduk di sampingnya.
"Hhmm... Kalau nanti Nay pisah sama kak Afif, kalian marah nggak?" tanya Naynay dengan intonasi paling rendah.
Hendrayan dan Yasmin terkejut dan saling tatap. Walaupun suara Naynay begitu pelan, tapi Hendrayan dan Yasmin bisa mendengarnya dengan jelas. Itu berarti Naynay mempunyai keinginan untuk bercerai nantinya? Itulah yang mereka berdua pikirkan setelah mendengar pertanyaan Naynay.
"Ehemm.. Kamu udah punya niat mau cerai?" tanya Hendrayan serius dan sempat berdehem di awalnya.
__ADS_1
Naynay tidak tahu mau jawab apa, dia menunduk sebentar sebelum menjawab pertanyaan Hendrayan. "Katanya pernikahan itu harus dilandasi rasa cinta dan komitmen untuk selalu bersama seumur hidup, tapi konteks kami berbeda."
Hendrayan menatap Yasmin dengan tatapan sendu, dia memberi kode agar istrinya itu yang berbicara. Yasmin mengangguk mengerti dan berpindah duduk di bawah bersama Naynay dan Araa yang sibuk dengan mainannya.
"Apa yang membuat kamu berpikiran seperti itu?" tanya Yasmin menatap lekat mata Naynay.
"Dari awal semuanya nggak ada yang benar menurut aku. Kalaupun iya dia berniat menikahi Nay untuk serius berumah tangga, seharusnya tidak ada ancaman saat lamaran tidak masuk akal itu. Dan Nay juga nerima tawaran pernikahan itu karena nggak mau papa nyerahin perusahaan gitu aja. Nay juga nggak mau kalau ada yang tahu Nay hamil di luar nikah." Mata Naynay berkaca-kaca setelah mengeluarkan semua beban yang dia tahan sejak menikah. Rasanya sedikit lebih lega sekarang.
"Cerai itu boleh, tapi Tuhan sangat membencinya. Dan juga, apakah kamu siap jika nantinya hidup dengan status janda? Apa kamu siap jika nantinya anak yang kamu kandung sekarang dan Araa menanyakan papa mereka nantinya?" tanya Yasmin lembut membuat Naynay terdiam.
Benar. Apa dia siap dengan semua kemungkinan yang ada? Apalagi ketika kedua anaknya menanyakan papa mereka nantinya. Dan juga pertanyaan dari orang-orang yang nantinya juga menanyakan suaminya. Tapi mempertahankan pernikahan ini pun membuat Naynay merasa tidak sanggup.
Naynay akui, dia jatuh cinta pada Afif. Dia mencintai dan menyayangi laki-laki yang berstatus suaminya itu. Tapi Naynay takut, ketika dia sudah mencintai, namun Afif tidak memiliki rasa yang sama. Di kondisi itu, dialah yang tersakiti dan dia sama sekali tidak siap untuk itu.
"Tapi jika itu yang sekiranya pilihan terbaik, maka kami akan mendukungmu," imbuh Yasmin membuat Naynay mengangguk kecil.
*****
Sekarang Naynay sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Afif. Tak lama setelah berbicara tentang perceraian tadi, supir datang menjemputnya. Naynay merasa ada yang aneh, pasalnya jalan yang mereka lalui terasa asing.
"Pak, ini mau kemana?" tanya Naynay bingung.
Sekitar empat puluh menit kemudian, akhirnya mereka sampai. Supir membukakan pintu dan pamit setelahnya. Kening Naynay berkerut ketika melihat rumah dalam keadaan sepi, Pak Hen dan beberapa pengawal yang biasanya menyambutnya pulang juga tidak terlihat.
Naynay melangkah masuk setelah membuka pintu, di dalam terlihat gelap. Dengan hati-hati, Naynay terus berjalan ke depan. Matan Naynay menangkap cahaya satu lilin yang ada di lantai, posisinya sekarang sedang di ruang tamu. Naynay mendekat dan melihat lilin lainnya yang disusun mengarah ke lorong menuju halaman belakang.
Karena kepo, akhirnya Naynay mengikuti lilin-lilin itu hingga sampai di halaman belakang. Tapi di sana sangat gelap, Naynay tidak bisa melihat dengan jelas hanya dengan sedikit cahaya bulan. Hingga dia merasakan ada seseorang yang berdiri di depannya, Naynay mundur selangkah.
'Jangan bilang itu hantu,' batin Naynay mengusap tengkuknya.
Tiba-tiba lampu menyala hingga mata Naynay melihat jelas siapa yang ada di depannya. Afif dengan Araa digendongannya sedang tersenyum padanya. Bagaimana Araa bisa bersamanya? Pikir Naynay bingung.
Afif melangkah mendekati Naynay dan meraih tangan istrinya itu dengan sebelah tangannya. Kemudian Afif membawa Naynay ke arah bunga mawar merah dan putih yang dibentuk sedemikian rupa dan begitu cantik.
"Selamat hari kelulusan, Sayang." Afif mencium kedua pipi Naynay yang membeku mendengar kata Sayang darinya.
__ADS_1
Tiba-tiba Ryan, Qiara dan Silla muncul setelah sebelumnya hanya ada mereka bertiga di sana. Afif kemudian memberikan Araa pada Silla dan membawa Naynay semakin dekat ke depan dekorasi bunga.
"Aku tidak bisa menemanimu tadi siang, jadi aku menyiapkan ini sebagai gantinya." Afif melingkarkan kedua tangan Naynay di pinggangnya.
Naynay yang masih terkejut tidak tahu membalas apa. Dia menatap Afif dengan mata berkaca-kaca karena sekaligus merasa senang.
" Kenapa Araa bisa sama Kakak?" tanya Naynay yang begitu bingung mendapati Araa di sini. Padahal mereka baru saja berpisah sebelum Naynay dijemput supir tadi.
"Ketika kau dibawa supir melalui jalur lain, aku sudah berada di rumahmu saat itu."
Itu berarti Afif sudah merencanakan ini sejak awal.
Naynay melirik Araa yang berada di gendongan Silla, bayi itu anteng saja dan bercanda bersama Qiara. Naynay terkejut melihat adik iparnya itu berinteraksi dengan Araa.
"Ayo kita berfoto!" ujar Afif melirik Ryan yang ternyata membawa kamera.
Pose pertama, Afif memeluk dan mencium kening Naynay. Lanjut ke pose berikutnya di mana Afif mencium bibir Naynay dengan ekspresi Naynay yang terkejut. Ada juga di mana Afif berlutut sambil mencium perut Naynay. Bisa dilihat bagaimana senyum manis terbit di bibir bumil itu.
Setelah puas berfoto berdua dengan Naynay, Afif menggendong Araa kembali. "Sekarang kita bertiga," ucapnya pada Naynay.
Sebelah tangan afifi memeluk pinggang Naynay dan merapatkan tubuh mereka. Naynay terkejut ketika mendengar Afif membisikkan satu kata di telinganya hingga mulutnya menganga.
"Te amo," bisik Afif sekali lagi sebelum mengecup pipi Naynay. Timing pas, Ryan begitu mahir mengabadikan momen. Ekspresi terkejut Naynay ketika mendengar bisikan Afif terlihat sangat menggemaskan di foto.
Qiara dan Silla yang sejak tadi menonton kemesraan dua orang itu pun tersenyum. Mereka bisa melihat begitu besarnya cinta dan sayang Afif pada Naynay.
"Kami juga mau ikut foto!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Satu episode lagi dan.....