My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 167


__ADS_3

Setelah selesai makan bersama, kedua orang tua Arthur dan Belinda pun berpamitan pulang.


''Oke, sekarang waktunya kita bersih-bersih.'' Kata Arthur.


''Bersih-bersih apa?''


''Tuh meja makan penuh piring kotor.''


''Tapi tangan ku masih sakit.'' Kata Belinda sambil menunjukkan tangannya yang masih di plester.


''Oke, kalau begitu kamu menyapu semua rumah ini dan juga pel setiap sudut rumah ini. Aku yang akan membersihkan dapur. Jadi agenda kita hari ini adalah bersih-bersih rumah.''


''Kita bisa sewa jasa On Clean milik oppa Arsen. Jadi kita tidak perlu repot bersih-bersih. Nanti kuku ku bisa rusak, Kak.''


''Tidak mau! Awas ya jangan manja. Cepat ambil sapu!" perintah Arthur.


''Huh menyebalkan.'' Kesal Belinda.


''Kalau hari ini kamu mau membersihkan rumah ini, aku akan memberimu hadiah.''


''Hadiah? Hadiah apa?'' tanya Belinda penasaran. Mendengar kata hadiah, Belinda kembali bersemangat.


''Aku mau jalan-jalan, shoping dan uang.''


''Enak saja, nglunjak ya kamu. Pilih salah satu diantara tadi. Mana yang lebih kamu butuhkan.'' Kata Arthur dengan galak dan tegas.


''Pelit ah!"


''Ya sudah kalau tidak mau."


''Eh jangan gitu lah, Kak. Oke untuk saat ini aku butuh uang. Setidaknya untuk menyangga kebutuhanku selama beberapa bulan kedepan. Jadi, aku hargai satu kamar seratus ribu, bagaimana?''


''Apa? Seratus ribu? Pelit amat.''


''Kalau sepuluh ruangan, kamu bisa mendapatkan satu juta. Untuk teras dan halaman belakang, aku kasih lima ratus ribu. Bagaimana?''


''Tambahin dikit dong, Kak. Nyapu sama ngepel lho. Mana rumahnya juga gede. Ayolah!" rayu Belinda sambil menarik ujung baju Arthur.


''Oke, aku tambah lima puluh ribu, bagaimana?''


''Nanggung amat, Kak. Tambahin seratus lah, please.'' Belinda memohon dengan wajah memelasnya.


''Oke-oke. Tapi yang bersih, awas saja kalau kotor.''


''Siap Tuan Arthur! Oke, aku akan memulainya.'' Belinda begitu semangat ketika jerih payahnya akan di bayar oleh Arthur. Uang itu sangat berarti untuk Belinda saat ini. Arthur begitu puas bisa mengerjai Belinda. Dan mereka pun mulai bersih-bersih. Arthur membereskan ruang makan, mencuci piring dan juga dapur. Setelah selesai, Arthur membersihkan setiap jendela kaca. Sementara Belinda menyapu dan juga mengepel lantai. Baru juga menyapu satu kamar, Belinda sudah merasakan pegal yang luar biasa. Biasanya untuk membersihkan rumah, Arthur memang sering menggunakan jasa On Clean perusahaan milik Arsen. Berhubung ada Belinda, Arthur ingin mendidik Belinda menjadi lebih mandiri dan tidak manja. Sekaligus memberikan pelajaran pada gadis yang menyebalkan itu.

__ADS_1


-


Di lain tempat, Arsen dan Sheena sedang menikmati hari libur mereka dengan menghabiskan waktu bersama. Arsen mengajak Sheena untuk membeli perhiasan.


''Kamu mau yang mana?'' tanya Arsen.


''Aku sudah ada Arsen. Kamu sudah pernah membelikannya, begitu juga dengan Mama Dira.''


''Ini untuk mahar nanti.''


''Bagaimana kalau di ganti saja?''


''Ganti bagaimana? Tapi aku akan tetap membelikan kamu satu set perhiasan ini, Sheena. Kamu menolak pemberian suami mu?''


''Bukan menolak tapi kan sudah punya.''


''Ini untuk di simpan. Lalu kamu mau menggantinya dengan apa?''


''Kita ganti dengan uang saja. Uangnya di sesuaikan dengan tanggal resmi pernikahan kita besok. Nanti kita bingkai dan bisa kita tempel di dinding. Aku dari dulu menginginkan mahar seperti itu. Bukan cuma di simpan tapi bisa di pajang, supaya aku bisa selalu ingat dengan hari pernikahanku.'' Kata Sheena.


''Oh begitu, oke. Aku setuju. Nanti kita cari penghias mahar terbaik. Tapi kamu terima ya pemberian ku ini?''


''Iya suamiku, aku terima kok.''


''Oh ya uangnya mau uang yang jaman dulu, sekarang atau mau dolar?''


''Oke baiklah.''


Setelah selesai membeli perhiasan, Arsen lalu mengajak Sheena ke mall.


''Kita nonton film ya? Kamu mau kan?'' ajak Arsen.


''Boleh. Film apa?'' tanya Sheena.


''Film tentang ilmuwan.'' Celetuk Arsen.


''Astaga, mau mencari hiburan malah disuruh mikir.'' Gumam Sheena dalam hati.


''Ini tentang biografi Einsten, Sheena. Kamu harus menontonnya.''


''Oke baiklah,'' jawab Sheena pasrah.


''Ya mungkin akhir-akhir kita terlalu banyak menonton film vulgar jadi Arsen merasa bosan,'' gumamnya dalam hati. Akhirnya Sheena menuruti ajakan suaminya. Tentu saja yang menoton sangatlah sedikit.


''Otakku harus di refresh, Sheena. Kita terlalu hanyak menonton film dewasa dan itu membuat otakku kotor. Yang jelas aku sekarang sudah bisa memuaskanmu.''

__ADS_1


''Sssttt jangan keras-keras nanti ada yang dengar, Arsen.''


''Tidak apa-apa. Kan kita suami istri. Kita sekarang harus banyak menonton film tentang biografi orang jenius, supaya anak kita nanti juga jenius. Kita sudah mahir untuk urusan ranjang jadi kita tidai butuh film dewasa lagi. Jadi harus perbanyak edukasi, supaya bibit yang aku tanam membuahkan hasil yang luar biasa. Bukankah begitu?''


''Iya, Arsen. Tapi memang pengaruh ya? Kan aku belum hamil.''


''Tentu saja pengaruh. Karena hal positif itu kita rekam dalam otak kita. Jadi otak kita akan menyaring hal positif lalu mengalir melalui pembuluh darah yang akan sampai pada sel sp...erma.'' Jelas Arsen dengan segala teorinya.


Sheena menaikkan alisnya dengan heran. ''Teori darimana Arsen?''


''Teori diriku sendiri. Karena harus ada penerus serbuk berlian. Ketampanan dan kecerdasanku harus di warisi oleh anak-anak kita nanti. Jadi aku sebagai pemilik bibit, harus mengisi otakku dengan hal-hal yang positif. Terutama yang berbau dengan kejeniusan seperti ini.'' Ucap Arsen dengan percaya dirinya yang super tinggi. Sheena hanya bisa menghela mendengar ocehan Arsen sambil terus memakan pop corn yang ada di pangkuannya.


Sheena sungguh bosan, ia butuh hiburan. Memang filmnya bagus tapi Sheena sedang tidak mood menonton film seperti itu. Setidaknya Arsen bisa memilih film yang bisa menaikkan moodnya. Selesai menonton, Arsen lalu mengajak Sheena untuk makan siang.


''Kamu mau makan apa, Sheena?''


''Terserah kamu saja.''


''Kok terserah?''


''Kalau begitu aku mau makan nasi padang.'' Celetuk Sheena.


''Kok nasi padang sih? Kamu harus jaga pola makan kamu dulu.''


''Katanya terserah, kok nawar? Aku sudah lama sembuh. Please kali ini saha Arsen.'' Rengek Sheena.


''Tapi Sheena itu berlemak dan kalorinya sangat tinggi. Sia-sia dong selama ini aku mengatur pola makan kamu.''


''Kan cuma sekali saja. Kamu tidak tahu saja rasanya rendang dan sambal ijonya. Ayolah suamiku sayang! Nanti kalau kamu melarangku, jatah nanti malam libur lho. Aku ngambek lho.'' Sheena mengancam Arsen dengan cara yang halus.


''Kok ada hubungannya sama jatah?''


''Ya jelas dong. Kalau mood ku jelek karena keinginanku tidak di penuhi, aku juga tidak mood untuk bercinta. Lagi pula harganya juga murah, masa tidak boleh.''


''Kamu serius hanya karena aku melarang makan nasi padang, kamu meliburkan jatahku malam ini?''


''Iya. Kenapa tidak? Suamiku sayang, ayolah. Sudah lama sekali. Nanti aku kasih jatahnya double deh atau triple juga boleh. Kamu minta main dimana saja, aku turutin.''


''Aku tidak boleh kehilangan jatah, sekalipun satu malam. Masa iya aku harus mengalah hanya karena nasi padang.'' Gumam Arsen dalam hati.


''Oke baiklah sayang. Kita beli nasi padang ya.''


''Nah, gitu dong. Terima kasih ya.'' Ucap Sheena seraya memberikan kecupan di pipi Arsen.


''Sama-sama sayang. Daripada kamu meliburkan jatah? Lebih baik makan nasi padang saja.''

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2