
''Brian, kok kita mampir kesini? Ini butik lho.'' Ucap Gea yang tiba-tiba membelokkan motornya ke sebuah butik.
''Aku ingin membelikanmu sebuah dress.''
''Memangnya kamu ada uang?''
''Ada kok tenang saja, kita cari yang miring dikit harganya. Aku habis dapat bonus.''
''Bonus?''
''Iya. Sudah ayo masuk!'' Brian menggandeng tangan Gea mengajaknya masuk ke dalam butik.
''Silahkan pilih yang kamu suka.''
''Kamu saja yang pilih, Brian. Aku tidak punya selera fashion yang bagus. Kamu sepertinya lebih paham. Yang penting sopan ya, jangan terlalu terbuka.''
''Baiklah kalau begitu.'' Brian mengambil beberapa dress lalu meminta Gea untuk mencobanya. Setelah mencoba beberapa dress, akhirnya pilihan jatuh pada sebuah midi dress navy tanpa lengan dengan aksen full renda dan terdapat pita di bagian pinggangnya. Simple namun terlihat elegan. Brian lalu mengambilkan sepasang heels berwarna peach.
''Cobalah pakai ini.'' Pinta Brian.
''Brian, ini mahal.''
''Sudah, kamu tenang saja, Gea. Ayo coba!" Brian kemudian berlutut lalu memasangkan sepatu itu pada kaki Gea.
''PERFECT!" Seru Brian seraya mendongak, melihat gadis yang begitu ia cintai.
''Brian...''
''Sudah, sekarang aku bayar dulu. Kamu ganti baju lagi.'' Ucapnya seraya berlalu menuju kasir. Selesai dari butik, Brian mengajak Gea makan malam di sebuah warung nasi goreng. Selesai makan, keduanya langsung kembali ke kontrakan.
''Terima kasih ya kamu sudah membelikan aku dress dan sepatu. Ini pakaian termahal yang aku punya.''
''Tidak usah berterima kasih. Sudah seharusnya aku memberikan semua yang terbaik untuk wanita yang aku cintai.'' Ucap Brian. CUP! Gea memberikan kecupan di bibir Brian. Membuat Brian kaget sekaligus bahagia. Brian tersenyum lalu membalas mengecup bibir Gea.
''Sekarang istirahatlah! Jangan lupa besok ya.''
''Iya, aku akan memberikan penampilan yang terbaik.'' Gea lalu menutup pintu rumahnya setelah Brian pergi.
''Huft, aku yang deg-degan. Aku khawatir kamu akan marah.'' Gumam Brian dalam hati.
Hari yang di tunggu oleh Brian dan Gea datang juga. Malam itu, Gea berusaha memberikan penampilan terbaiknya. Gea merasa percaya diri dengan dress yang sepatu yang dibelikan oleh Brian. Brian dibuat terpesona dengan Gea yang tampak anggun dan feminim.
''Kamu sangat cantik.'' Puji Brian tanpa melepaskan tatapan matanya pada Gea.
''Semua ini berkat kamu.'' Ucap Gea.
''Sudah siap?''
__ADS_1
''Iya.'' Ucap Gea sambil menghela nafas dalam-dalam. Khusus malam itu Brian memesan taksi. Tidak mungkin ia membawa Gea yang sudah cantik dan anggun itu naik motor bututnya.
''Memangnya orang tua kamu tinggal dimana?''
''Ada pokoknya.'' Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tua Brian, mereka saling berpegangan tangan. Bahkan malam itu Brian tidak ingin melepaskan genggamannya pada Gea.
Setelah dua puluh menit perjalanan, taksi memasuki sebuah halaman rumah yang sangat mewah. Gea bingung, ia celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu.
''Brian, ini rumah siapa?''
''Sudah, masuk saja dulu ya.'' Ucap Brian dengan lembut. Brian kemudian membawa Gea masuk ke dalam rumahnya. Begitu masuk ruangan, Gea dibuat terkejut dengan foto keluarga dengan pigura yang besar yang terpampang nyata di dinding ruang tamu. Dimana di dalam foto itu, ada Brian. Brian dengan penampilan yang lebih rapi tanpa kacamata.
''Tu-tuan Arsen? Tu-Tuan Keenan? Jad-jadi...'' gumam Gea dalam hati namun langkah kaki Gea terus mengikuti langkah kaki Brian sampai Brian sampai diruang tengah. Disana Tuan Keenan dan Nyonya Dira sudah siap menyambut calon menantunya.
''Papa-Mama,'' sapa Brian.
''Hei sayang, akhirnya kamu datang juga.'' Sambut Nyonya Dira. Seketika tubuh Gea kaku dan membeku melihat siapa yang ada dihadapannya.
''Gea, ini Papa dan Mama aku. Dan ini adalah wanita yang aku cintai, Pah-Mah.'' Ucap Brian. Gea memberikan senyuman terbaiknya lalu bergantian mencium punggung tangan orang tua Brian secara bergantian.
''Kamu ternyata sangat cantik ya. Senang sekali bertemu denganmu, Gea.'' Nyonya Dira memberikan pelukan perkenalan pada Gea.
''Terima kasih Tante. Tante juga sangat cantik.''
''Gea, senang sekali bertemu denganmu. Brian banyak cerita tentang kamu.'' Sahut Tuan Keenan.
''Iya Gea. Dia putra bungsu kami. Jangan panggil Tuan, panggil Om saja.'' Ucap Tuan Keenan dengan senyum ramahnya. DEG! Seketika raut wajah Gea berubah. Gea mengingat kembali pertemuan dan mencari beberapa keanehan sikap Brian selama bersamanya. Terutama saat dirinya diterima di perusahaan Dirgantara, sudah pasti Brian yang membantunya.
''Brian, jadi selama ini kamu membohongi aku? Kamu putra dari Tuan Keenan? Generasi ketiga Dirgantara grup?'' tanya Gea dengan lirih. Merasa hatinya saat ini sungguh sangat perih.
''Iya Gea tapi aku tidak bermaksud membohongi kamu.'' Brian mulai panik dengan perubahan sikap Gea.
''Gea, kita makan malam dulu saja. Tante sudah masak banyak untuk menyambut kamu.'' Nyonya Dira berusaha mengalihkan situasi.
''Tante-Om, maaf. Saya harus pamit. Permisi.'' Gea kemudian berlari keluar dari rumah Brian.
''Gea!" panggil Brian.
''Kejar Brian!" perintah Tuan Keenan.
''Mah, bagaimana ini?'' rengek Brian.
''Kamu kejar Gea, Brian. Jelaskan sama dia. Keburu jauh.'' Ucap Nyonya Dira. Brian kemudian menyusul pergi, mengejar Gea.
''Sudah Mama duga akan berakhir seperti ini, Pah.''
''Mau bagaimana lagi Mah? Sudah resikonya.''
__ADS_1
''Kalau Mama di posisi Gea, Mama juga pasti akan marah.''
''Kita biarkan saja mereka menyelesaikannya berdua.''
''Iya Pah.''
-
''Gea, aku mohon berhenti!" teriak Brian masih kejar-kejaran dengan Gea. Gea terus berlari dengan bulir air mata yang sudah membasahi wajahnya. Brian tidak putus asa sampai akhirnya ia berhasil mendapatkan Gea.
''Gea, dengarkan aku.''
''Mau apalagi? Kamu mempermainkan aku, Brian.''
''Gea, ini tidak seperti yang kamu maksud.'' Brian menarik Gea dalam pelukannya. Mendekapnya dengan sangat erat. Gea terisak dalam dekapan Brian.
''Kamu pembohong!"
''Tidak Gea! Aku mohon dengarkan aku. Aku mencintaimu tulus, Gea. Aku terpaksa melakukan ini untuk menemukan seseorang yang mencintaiku apa adanya tanpa melihat siapa diriku. Dan ternyata kamu adalah orangnya Gea. Seseorang yang mau menerima aku apa adanya. Maaf kalau kamu merasa di bohongi tapi aku tidak bermaksud. Saat aku bertemu denganmu, aku baru kembali dari London setelah bertahun-tahun tinggal disana. Papa dan Mama memintaku belajar hidup mandiri. Mereka memintaku meninggalkan nama besar Dirgantara. Jadi aku menyamar, sekaligus aku ingin mencari seorang wanita yang bisa mencintaiku dengan keadaan seperti itu. Dan kamu yang bisa membuatku merasakan cinta seperti ini, Gea.''
''Jadi semua wanita kamu anggap gila harta, sampai kamu menyamar? Termasuk aku yang berhasil kamu kelabuhi?''
''Aku mohon Gea, jangan berpikir seperti itu. Aku tidak menjudge semua wanita seperti itu.''
''Tapi sikapmu mengatakan seperti itu, Brian. Serendah itu ya seorang wanita di matamu?''
''Gea, aku hanya mencari seseorang yang tulus karena selama ini aku tidak mendapatkan itu. Wanita-wanita itu hanya mau uangku saja. Berbeda denganmu, Gea. Kamu bisa menerima aku apa adanya. Aku senang saat kita bisa berbagi makanan, berbagi suka dan duka juga menjalani hidup sederhana denganmu. Aku bahagia melewati semua hari bersama mu Gea. Aku bahagia." Dan air mata pun jatuh membasahi wajah Brian. Brian melonggarkan pelukannya.
''Lihat aku Gea!" pinta Brian. Gea memberanikan diri menatap Brian. Tidak menyangka bahwa pria dihadapannya itu mengeluarkan air mata untuknya.
''Kamu bisa kan melihat ketulusan ku?'' Gea bisa melihat ketulusan di mata Brian. Tapi mereka terlalu berbeda. Lagi, bayang-bayang masa lalu terbesit dalam benak Gea.
''Maaf Brian, kita terlalu berbeda. Kita sudahi saja semuanya sampai disini.'' Ucap Gea dengan suara bergetar. Sungguh ucapan Gea membuat dada Brian seketika sesak.
''Apa maksud kamu Gea?''
''Ya, kita berpisah. Anggap saja kita tidak pernah kenal.'' Gea berbalik lalu menghentikan sebuah taksi. Gea masuk begitu saja tanpa menoleh kearah Brian. Brian membeku, tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Gea. Setelah taksi melaju, Brian tersadar. Ia berlari mengejar taksi yang di tumpangi oleh Gea.
''Gea! Aku tidak mau berpisah! Aku mencintaimu Gea! Berhenti Gea!" Teriak Brian seperti orang gila sambil terus berlari mengejar Gea. Di dalam taksi, Gea melepas tangisnya. Gea merasakan sakit yang luar biasa. Dadanya juga teramat sesak namun ini yang terbaik untuknya. Perbedaan mereka terlalu jauh, Gea tidak ingin merasakan sakit di kemudian hari.
''Maafkan aku, Brian.'' Batin Gea. Brian terus mengejar Gea sampai taksi itu tidak mampu lagi Brian kejar. Karena taksi melaju semakin kencang.
''GEAAAAAA!!!" Teriaknya memanggil Gea yang sudah tidak bisa lagi mendengar teriakannya.
VISUAL GEA
__ADS_1