
Jam dua dini hari, Naynay terbangun. Dia menyibak selimut dan mengikat rambutnya. Setelah itu dia turun dan berjalan menuju ruang ganti untuk mengambil cardigan untuk menutupi tubuhnya yang hanya dibalut baju tidur tipis. Dedek bayi di dalam perut sudah waktunya makan tengah malam.
Ketika Naynay baru sampai di dapur, dia melihat bayangan yang dihasilkan oleh lampu yang dibiarkan menyala. Melihat bayangan itu menjauh, Naynay berjalan pelan mengikutinya hingga bayangan itu berhenti di depan sebuah pintu.
"Qiara!!" pekik Naynay ketika melihat pemilik bayangan itu jatuh pingsan sesaat sebelum memasuki kamarnya. Naynay berjongkok dan menepuk-nepuk pipi Qiara untuk menyadarkan gadis itu, wajahnya pucat karena khawatir.
Mendengar teriakan Naynay yang nyaring tadi, beberapa pengawal masuk ke dalam. Mereka segera mengangkat tubuh Qiara dan membawanya ke dalam kamar. Setelah membaringkan tubuh Qiara di atas tempat tidur, para pengawal itu keluar dan mengabari Pak Hen.
Naynay meraih hp Qiara yang terletak di samping bantal guling. Dia meraih jempol tangan gadis itu untuk membuka kunci hpnya. Setelah terbuka, Naynay segera mencari mencari nomer Afif di sana. Setelah dapat, dia segera menghubungi suaminya yang masih tertidur itu.
"Nay di bawah, Kakak ke kamar Qiara sekarang. Dia tadi pingsan," ucap Naynay ketika panggilan itu tersambung dan Afif menanyakan kenapa dia menelepon melalui hp Qiara.
Tak lama kemudian Afif tiba, raut khawatir terlihat jelas di wajahnya. "Kenapa dia sampai pingsan?" tanya Afif pada Naynay.
"Nay nggak tahu, tadi langsung pingsan pas dia mau masuk kamar. Tapi kayaknya dia demam, tubuhnya panas." Naynay juga cemas karena merasakan tubuh Qiara yang begitu panas.
Pak Hen datang bersama Nathan yang dihubungi oleh pengawal yang tadi membantu memindahkan Qiara. Dengan cepat dokter tampan itu memeriksa Qiara yang terbaring.
Afif memutar tubuhnya dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh Naynay, menghalangi pandangan dua laki-laki di sana agar tidak melihat paha mulus istrinya yang terlihat. Mana mungkin dia rela jika orang lain melihatnya.
"Aku antar kembali ke kamar," ucap Afif sambil memperbaiki cardigan Naynay di bagian dada.
"Nay di sini aja," balas Naynay sambil menggeleng.
Afif kemudian menoleh ke belakang, di mana Nathan terlihat sudah selesai memeriksa Qiara. "Bagaimana?"
"Dia dehidrasi berat, perlu dirawat di rumah sakit. Siapkan mobil segera, dia harus secepatnya mendapat penanganan!" jelas Nathan sambil secepat mungkin merapikan peralatannya. Pak Hen segera pergi keluar untuk menyiapkan mobil.
"Mobilmu mana?" tanya Afif mengernyitkan dahinya.
"Aku ke sini dengan motor agar lebih cepat, aku akan menunggu di rumah sakit." Nathan pergi setelahnya, tidak tahan melihat posesifnya Afif pada istrinya.
"Tuan Muda, mobil sudah siap!" ujar Pak Hen yang kembali masuk.
"Bawa Qiara sekarang, aku akan menyusul nanti!" balas Afif masih dengan posisi yang sama.
__ADS_1
Pak Hen memanggil seorang pengawal untuk membawa Qiara ke mobil.
Afif menangkup kedua pipi Naynay setelah di kamar itu hanya tersisa mereka berdua. "Aku akan pergi menyusul Qiara, ayo aku antar kembali ke kamar."
"Nay ikut," ucap Naynay menggeleng. Tidak mungkin dia berdiam diri di rumah, sedangkan adik iparnya dirawat di rumah sakit.
"Nay, kau harus istirahat!" Afif memasang wajah datarnya supaya istrinya itu menurut ucapannya.
Tanpa bicara apa pun, Naynay berjalan meninggalkan Afif. Dia memakai jurus ngambeknya agar bisa pergi ke rumah sakit. Afif segera menyusul Naynay yang sudah mulai menaiki tangga.
Sampai di kamar, Naynay naik ke atas tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Afif yang melihatnya segera menghampiri istrinya itu. Dia sudah merasakan aura ngambek tingkat menengah istrinya.
"Nay, aku menyuruhmu tetap di sini agar kau bisa istirahat." Afif berjongkok di samping tempat tidur dan membuka selimut di bagian kepala Naynay yang tidurnya miring.
"Di sana kan ada sofa yang bisa dijadiin buat tidur," balas Naynay dengan suara yang dibuat-buat seperti ngambek beneran.
Afif mengusap wajahnya gemas melihat tingkah istrinya itu. "Baiklah, ayo ganti bajumu."
Naynay langsung menyingkap selimut dan turun dari tempat tidur. Dia menarik tangan Afif menuju ruang ganti. Hanya butuh waktu sepuluh menit dan mereka sudah siap dengan Naynay yang dipakaikan piyama dan jaket oleh Afif. Awalnya bumil itu protes, tapi Afif mengancam tidak akan membawanya jika tidak mau.
Afif sudah menghubungi Ryan dan sekretaris tampan itu sudah menunggunya di bawah. Mereka segera berangkat menuju rumah sakit.
"Saya akan tidur di mobil, Tuan Muda." Ryan pamit keluar setelah melihat Qiara yang masih belum sadarkan diri.
Afif berjalan mendekati brankar dan mengusap kepala adiknya. Sedingin apa pun sikapnya pada Qiara, tapi percayalah bahwa dia sangat menyayangi adiknya itu.
Sekarang dia beralih pada wanita imut yang merupakan istrinya. "Ayo tidur, kau hoby sekali membuatku kesal."
Naynay ditarik dan tubuhnya ditebahkan di atas tempat tidur yang ada di sana. Disusul dengan pelukan hangat yang setiap hari dia dapatkan. Matanya memang sudah kembali mengantuk, hingga tidak butuh waktu lama, Naynay sudah tertidur.
Afif mempererat pelukannya saat merasakan tangan Naynay masuk ke dalam baju kaos yang dia kenakkan. Dia menarik selimut dengan kakinya untuk menghalau hawa dingin yang membuat istrinya sedikit menggigil.
"Aku menyuruhmu untuk tetap di rumah agar bisa tidur nyenyak, tapi kau memakai jurus ngambekmu agar aku menuruti keinginanmu." Afif mengusap pipi Naynay dan menciumnya sebelum ikut memejamkan mata.
*****
__ADS_1
Naynay terbangun karena merasa ingin buang air kecil, dia melirik jam yang ada di sana dan mendapati sekarang adalah pukul tiga. Dengan hati-hati dia menurunkan tangan Afif yang memeluknya dan segera pergi menuju kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi, Naynay mendekati brankar Qiara. Dia mengambil tisu dan mengelap keringat yang membasahi wajah adik iparnya itu.
"Cepat sembuh, aku lebih suka kau yang hoby mengganguku daripada diam seperti ini." Naynay mengusap tangan Qiara yang tidak ditusuk infus.
Naynay menguap dan hendak melangkah kembali ke tempat tidur. Tapi langkahnya terhenti ketika tangannya ditahan. Dia berbalik dan mendapati Qiara yang masih dalam keadaan terpejam menggenggam tangannya.
"Mama, jangan tinggalin Qia...." Gadis itu mengigau dan mengira Naynay adalah mamanya.
Naynay menoleh berniat membangunkan Afif, tapi ternyata suaminya itu sudah terbangun dan sedang menatapnya. "Kak, ini gimana?"
Afif turun dan mendekati Naynay, dia berusaha melepaskan tangan Naynay dengan pelan. Tapi Qiara malah menangis dengan masih mengatakan kalimat yang sama.
"Kak, Nay tidur di sini aja." Naynay manahan tangan Afif yang masih berusaha melepaskan cekalan tangan Qiara. Dia tidak tega melihat gadis itu menangis dalam keadaan tidak sadar sambil memanggil mamanya.
"Kakak bantu geser Qiara dikit biar Nay bisa tidur di situ," ucap Naynay sambil memberikan senyum manisnya.
Afif mengikuti perkataan Naynay, dia menggeser tubuh Qiara agar istrinya bisa tidur di samping adiknya itu. Dia juga tidak tega melihat Qiara memanggil mamanya dalam keadaan seperti itu.
"Kalau butuh sesuatu, panggil aku!" ujar Afif sambil menyelimuti Naynay dan tak lupa mencium dahi Naynay seperti biasa.
"Iya."
Afif kembali naik ke tempat tidur dan membaringkan tubuh menghadap arah Naynay. Dia bisa melihat tangan Qiara yang bergerak memeluk pinggang istrinya.
Naynay sendiri merasa terkejut, tapi dia lebih memilih untuk mengusap tangan gadis itu sampai dia sendiri terlelap.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Part yang ditunggu-tunggu sebentar lagi, ya....