My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 238 Rooftop


__ADS_3


''Ge, ini burger dan ice cappucinonya.'' Ucap Brian dengan wajahnya yang selalu ceria.


''Makasih ya. Letakkan saja.''


''Biar, aku suapin.''


''Kamu kembali saja ke mejamu, Brian.''


''Aku tidak mau kembali sebelum kamu makan ini. Lagi pula meja ku ada di belakangmu kan?'' Brian menarik kursinya lalu duduk disamping Gea. Dibukanya wrap pembungkus burger itu, lalu diarahkannya ke mulut Gea.


''Ayo baby,'' bujuk Brian. Mendengar kata 'Baby' Gea pun terkekeh.


''Apaan sih Baby, emang aku bayi.''


''Panggilan sayang, Ge. Ayo buka mulutnya. Aaaa.....''


Hap! Gea tersenyum dan menerima suapan dari Brian.


''Enak?''


''Mmmm biasa saja seperti burger pada umumnya.'' Cuek Gea. Brian hanya mendengus, merasa Gea sangat tidak bisa diajak romantis. Gea melihat ekpresi Brian yang cemberut.


''Enak kok Brian. Enak banget. Apalagi makannya di suapin sama ayang.'' Ucap Gea berusaha menahan geli.


''Hehehe gitu dong, aku kan semangat.''


''Aaaaa lagi dong,'' pinta Gea yang bersikap sedikit manja. Dengan senang hati Brian menyuapinya lagi.


''Aduh-aduh, bukannya kerja malah suap-suapan.'' Suara Fani terdengar nyaring melengking penuh rasa iri.


''Memangnya kenapa Fan? Kamu kan yang membuat Gea tidak bisa istirahat.'' Kesal Brian.


''Kalau iya memang kenapa? Sekalian ngetes kemampuan dia sejauh apa? Lulusan SMA doang bisa-bisanya masuk sini dengan mudah.''


''Jangan pernah menyepelekan orang, Fani. Jaman sekarang itu skill dan attitude yang lebih di utamakan. Untuk apa punya gelar sarjana tapi skill dan attitude NOL. Sama saja bohong.'' Ceplos Brian begitu saja. Brian lalu mengambil tumpukan berkas milik Fani dan mengembalikan lagi ke meja Fani.

__ADS_1


''Brian!" seru Gea yang tidak mau kalau Brian dan Fani malah bertengkar.


''Brian, kamu tidak usah ikut campur!" tegas Fani.


''Aku harus ikut campur. Karena Fani pacarku.''


''Pacar?'' Fani pun tertawa terbahak. Lebih tepatnya tertawa yang mengandung unsur hinaan.


''Gea, kamu mau sama dia? Dia ini miskin, Ge. Kamu itu sebenarnya cantik, tinggal di poles saja. Cowok cupu dan miskin kayak gini, masa iya kamu mau.'' Ucapan Fani sangatlah pedas, membuat Gea sakit hati melihat Brian dihina. Gea beranjak dari duduknya, menatap Fani penuh kemarahan.


''Kalau miskin memang kenapa? Aku bangga kok punya pacar seperti dia. Seorang pria yang penuh kerja keras dan mandiri. Miskin itu masih bisa di ubah menjadi kaya, Fan. Sedangkan hati dan pikiran yang busuk, itu penyakit kronis yang sulit sembuh.'' Ucapan Gea lebih tajam dan membuat Fani bungkam. Gea lalu menarik tangan Brian dan mengajaknya pergi meninggalkan ruangan itu.


''Ikut aku Ge!" Brian memutar arah menuju lift. Rooftop!


''Kamu hebat berani melawan Fani.''


''Aku diam bukan berarti aku takut, Brian. Oh ya kita mau kemana?''


''Ke rooftop. Diatas sana sangat indah. Ada taman dan tempat bersantai. Kamu akan suka.''


''Benarkah?''


''Kalau saja bukan di kantor, aku pasti akan langsung menjambaknya. Aku berusaha menjaga nama baik di kantor, Brian. Apalagi aku karyawan baru jadi sebisa mungkin tidak membuat ulah.''


''Kalau Fani itu pria, aku pasti langsung meninjunya.'' Keduanya pun tertawa.


TING! Akhirnya sampai juga di rooftop. Gea dibuat takjub. Apalagi diatas sana, ia bisa melihat semua pemandangan kota yang dipenuhi deretan gedung-gedung tinggi.


"Wah, ini keren banget Brian. Yang punya ide ini pasti keren."


"Iyalah. Itu kan idenya Mama ku." Batin Brian.


"Kalau malam disini lebih indah, Gea. Karena lampu-lampu kota menyala semua."


"Mmmm bagaimana kalau nanti sepulang kerja kita disini dulu. Aku mau lihat pemandangan malam di sini."


"Oke. Tapi habiskan dulu makanan dan minumanmu."

__ADS_1


"Ya ampun, ternyata masih kamu bawa."


"Iyalah. Sayang banget kalau di buang, hehehe."


"Kamu sudah makan?"


"Sudah kok. Ini untukmu." Brian dan Gea lalu duduk bersama. Brian tersenyum melihat Gea makan dengan lahap.


''Aku masih tidak menyangka bisa bekerja di kantor sebagus dan sekeren ini. Ayah dan Ibu pasti senang jadi aku tidak akan berpura-pura lagi.''


''Sekarang kamu lebih tenang kan? Tidak perlu lagi membohongi orang tua kamu.''


''Hehehe iya dan semua ini berkat kamu. Oh ya besok kan libur, aku sepertinya mau pulang Brian.''


''Aku ikut ya, Ge. Aku pingin tahu rumah kamu juga. Nanti gantian aku yang ajak kamu ke rumah.''


''Yakin mau ke rumah aku? Pelosok desa banget, Brian.''


''Tidak masalah. Rumah ku juga di desa.''


''Ya udah, besok subuh kita berangkat ke terminal.''


''Pagi banget ya Ge?''


''Iyalah. Perjalanan empat jam ke kampung aku, Brian. Kalau pagi kan enak adem.''


''Naik mobil travel gimana? Kita bisa diantar langsung ke tempat tujuan.''


''Pasti mahal.''


''Tidak Ge. Nanti aku pesan kan. Jemput sehabis subuh pun bisa.''


''Ya udah deh kalau gitu.''


''Hmmm sepertinya aku harus segera meminta kekuasaan pada Papa. Supaya aku bisa membantu Gea tanpa harus merepotkan hyung lagi. Tapi aku belum bisa membuat bisnis baru. Syarat untuk mendapatkan itu, aku harus membuat gebrakan baru dan mengembangkannya. Hyung memang hebat dan cerdas. Bisnisnya langsung meroket. Makanya Papa memberikan hyung kendali penuh. Kalau aku minta cuma-cuma ya kurang keren sih. Masa pacaran minta modal ortu. Bikin bisnis apa ya?'' Gumam Brian dalam hati. Sekalipun anak-anak Tuan Keenan pada akhirnya di minta untuk meneruskan perusahaan tapi tetap saja mereka harus mempunya bisnis sendiri terlebih dahulu sebelum Tuan Keenan memberikan kekuasaan penuh untuk mengelola perusahaan. Seperti Arsen yang mempunyai bisnis dalam bidang jasa kebersihan, di tahun pertama meluncur, langsung booming. Sampai Arsen berhasil mengepakkan sayap menembus pasar Asia. Dan banyak para investor berdatangan. Belum lagi bisnis barusnya di bidang kosmetik, restoran dan hotel. Yang sudah tersebar se-Asia dengan bantuan Arka, pamannya. Jadi Tuan Keenan juga mendidik semua anak-anaknya terutama anak laki-laki untuk mandiri dan memiliki jiwa entrepreneur sejati.


Selesai menemani Gea makan, keduanya segera kembali ke ruang kerja. Brian duduk kembali di mejanya sambil berpikir, kira-kira terbosan apa yang ia harus buat. Supaya sang Ayah memberikan kekuasaan penuh.

__ADS_1


''Hyung bikin On Clean dan itu perkembangannya sangat pesat. Terus aku bikin apa ya? Ah, aku buka bar atau klub malam bagaimana ya? Eh tapi Papa dan Mama bisa ngamuk. Tapi kalau bukanya di London tidak masalah sih. Padahal perusahaan Papa ini sudah sangat besar tapi tetap saja anaknya disuruh mikir keras buat nyari gebrakan baru. Kayaknya memang bisnis dunia malam nih yang belum. Sumpah pusing juga ya. Kira-kira bisnis baru apalagi yang harus aku buka ya? Berpikir lah Brian. Semua ini demi Gea!" gumam Brian dalam hati.


Bersambung.... Kira-kira sobat readers ada nggak ide buat bisnis baru Brian?😁


__ADS_2