
Karena kejadian tidak terduga tadi malam, Afif memutuskan untuk meminta Ryan mencarikan psikolog untuk Naynay. Trauma istrinya itu lebih baik ditangani oleh orang yang ahli dan terbaik tentunya. Maka hari ini Afif dan Naynay akan bertemu dengan psikolog tersebut.
Naynay duduk di atas tempat tidur dengan tangan yang saling meremas di atas pahanya. Di depannya Afif berlutut dengan mata yang terus menatap wajah imut Naynay.
"Kakak malu, ya, punya istri kayak Nay?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Naynay yang mulai menatap kosong ke arah mata Afif.
"Coba kau jelaskan! Kenapa kau berpikiran kalau aku malu punya istri sepertimu?" Afif menyelipkan surai hitam Naynay ke belakang telinganya.
Terdengar helaan napas panjang sebelum Naynay memeluk Afif dan mengeluarkan apa yang dia rasakan di dalam hatinya.
"Nay hamil anak orang yang bahkan Nay nggak tahu dia siapa. Dan sekarang Nay udah kayak orang gila yang suka teriak-teriak. Nay udah nggak kuat, Kak. Nay juga udah buat malu papa sama mama!!!" Bumil itu menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi.
Afif mengelus punggung Naynay yang bergetar, tangisan istrinya itu membuat hatinya panas. Walaupun dia bersyukur atas kejadian itu karena bisa menikah dengan Naynay, tapi dia sungguh tidak tahan melihat istrinya menangis dan terus menyalahkan dirinya sendiri seperti ini. Dia akan membalas perbuatan orang-orang itu sepuluh kali lipat, bahkan itupun belum sepadan atas apa yang telah mereka lakukan hingga Naynay menjadi seperti ini.
"Nay nggak pantas untuk Kakak," ujar Naynay lirih dengan air mata yang mengalir dengan derasnya.
Melepas pelukannya, Afif berpindah duduk di samping Naynay. Dihapusnya lelehan carian bening di wajah chubby itu dengan ibu jarinya.
"Nay, kau tahu kalau aku itu orangnya jujur. Apa aku pernah mengatakan kalau aku malu dengan kondisimu sekarang?" Memegang kedua tangan Naynay dan mengusapnya lembut.
"Berhenti memikirkan dan menyalahkan dirimu sendiri tentang kejadian itu. Yang boleh kau pikirkan sekarang hanyalah aku dan anak yang kau kandung!" Afif mencium tangan Naynay yang dia genggam.
Afif menarik tubuh Naynay hingga terbenam di pelukannya. "Aku akan melakukan apapun untuk kau bisa sembuh, semuanya akan aku lakukan. Itulah mengapa hari ini kita akan bertemu dengan orang yang akan membantumu untuk melupakan kejadian itu."
Naynay sudah mulai tenang, kehangatan yang dia dapat dari pelukan Afif ibarat obat penenang baginya. Malaikat kecil juga tidak rewel jika ada Afif di dekatnya. Makhluk kecil yang menyebabkan perut Naynay sedikit membuncit itu anteng-anteng saja jika si Beruang Tampan ada di dekatnya.
'Bolehkah aku berharap kalau anak yang aku kandung adalah anak laki-laki ini? Mustahil!!!'
Tapi kenyataannya, dia memang anak dari laki-laki yang sekarang memelukmu.....
Naynay menghapus air matanya dan menjauh dari pelukan Afif. Dia mengatur kembali napasnya karena sempat terisak tadi.
__ADS_1
"Sudah baikan?" tanya Afif sembari mengulas senyumnya.
"Udah."
"Baiklah, cuci muka dulu sana! Aku tidak mau orang lain melihat wajah sembabmu yang menggemaskan itu." Bibir Afif mengecup jidat Naynay sekilas sebelum berdiri dan menarik tangan Naynay agar ikut berdiri.
"Jelek gini kok." Naynay menepuk-nepuk pipinya sambil berjalan menuju kamar mandi.
*****
Di restoran mewah dengan interior khas Timur Tengah, duduklah seorang wanita cantik dengan kacamata hitam menutupi manik matanya yang berwarna coklat terang.
Melihat orang yang dia tunggu-runggu memasuki ruang privat yang dia tempati, wanita itu berdiri menyambut orang-orang itu dengan sangat anggunnya.
"Selamat datang, Tuan Muda dan Nona Muda." Wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya dengan senyum lebar. Dia tidak menyapa satu orang lagi yang hanya memasang wajah cuek di belakang sana.
Afif menatap Ryan yang berdiri di belakangnya dengan tatapan tajam yang bisa menghunus jantung. Ryan bersikap seolah-olah tidak tahu tentang tatapan mematikan itu. Dia menatap sembarangan ke sekeliling ruangan, asal tidak bertatapan dengan mata elang milik tuan mudanya.
Afif menarik lembut tangan Naynay, membawanya duduk di kursi yang sudah ditarik oleh Ryan. Dia yang awalnya semangat, mendadak badmood setelah mengetahui psikolog yang akan menangani Naynay.
'Dia cantik sekali!' batin Naynay.
"Mau makan apa?" tanya Afif membuat Naynay mengalihkan pandangannya dari wanita di depannya dan menatap suaminya. Naynay menatap hidangan khas Timur Tengah di depannya.
"Somay!" ucap Naynay dengan gaya polosnya yang sontak membuat tiga orang di sana terkejut.
Ada-ada saja bumil yang satu ini. Masa minta somay di restoran yang semua menunya khas Timur Tengah. Tapi begitulah Naynay, dia akan meminta yang aneh-aneh pada waktu dan tempat yang tidak pas.
Afif menoleh ke belakang, tempat di mana Ryan berdiri dengan tegap. "Belikan apa yang Naynay minta!"
Ryan mengangguk dan memutar tubuhnya mengarah ke pintu ruangan itu. Tapi suara Naynay menginstruksi Ryan untuk melangkah keluar.
__ADS_1
"Nay mau dua porsi," ujar bumil itu dengan mengangkat dua jarinya ke atas.
"Baik, Nona." Ryan cepat-cepat keluar dari ruangan itu sebelum Naynay meminta yang aneh-aneh lagi. Pasalnya selama beberapa minggu ini, bumil itu membuat waktu istirahatnya berkurang. Dini hari, Afif akan meneleponnya dan menyebutkan semua permintaan Naynay yang aneh semua.
"Perkenalkan, saya Naomi. Saya sudah mendengar permasalahan Nona dari Sekretaris Ryan. Mulai hari ini, saya yang akan menangani masalah Anda." Wanita yang bernama Naomi itu tersenyum ramah yang membuat Naynay juga ikut tersenyum.
"Mohon bantuannya, Nona Naomi."
"Jangan panggil saya dengan sebutan 'Nona', panggil Naomi saja." Naomi tertawa canggung karena ada tatapan tajam yang sejak tadi terpusat padanya.
"Tapi Anda terlihat lebih tua dari saya," ucap Naynay tidak enak.
"Apa? Apa ada kerutan di wajahku? Di mana Anda melihatnya, Nona?" Wanita yang tadinya bersikap sangat anggun itu berubah rempong karena telinganya yang sangat sensitif dengan kata "tua". Dia mengeluarkan cermin kecil dari tasnya dan memeriksa setiap bagian wajahnya.
Naynay menganga tak percaya melihat respon Naomi yang tidak terduga. Awalnya Naynay sangat terpukau dengan sikap anggun wanita itu. Tapi sekarang dia benar-benar terkejut melihat wanita itu berubah 180°. Seakan-akan dia adalah dua orang yang berbeda.
'Ryan sialan!' umpat Afif di dalam hatinya.
Afif kesal karena ternyata Ryan menunjuk Naomi yang merupakan adik kandung dari Nathan itu sebagai psikolog Naynay. Pasalnya, baik Nathan maupun Naomi, mereka sama-sama kurang waras. Bisa dilihat dari kejadian hari ini, bagaimana Naomi begitu panik hanya marena mendengar kata "tua".
Bukan hanya Nathan dan Naomi, tapi kedua orang tua mereka yang juga sama-sama dokter juga sama kurang warasnya. Yang laki-laki sering jadi banci jika gaji dinaikkan, dan yang perempuan suka histeris ketika mendengar kata "tua".
Tapi Afif tidak punya pilihan lain karena Naomi adalah psikolog terbaik yang ada di negara ini, tidak perlu diragukan lagi. Ya walaupun memang kurang waras. Apapun akan Afif lakukan untuk membuat Naynay sembuh dari traumanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Selamat membaca ♡