My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 147 Khawatir


__ADS_3

''Pak Roni juga, kenapa tidak bisa aku hubungi? Disaat genting seperti ini, malah menghilang,'' gerutunya dengan kesal.


CEKLEK! Suara pintu kamar mandi terbuka. Mata Arsen membulat mendengar suara pintu kamar mandi. Antara seram dan khawatir jika ada penyusup.


''Hantu atau manusia?'' gumamnya dalam hati. Arsen kemudian berbalik arah dan melihat Sheena keluar dari kamar mandi. Sheena yang terkejut pun seketika berteriak, bergitu pula dengan Arsen. Keduanya sama-sama terkejut dan kompak berteriak.


''Aaaaaaaaaaaa...!?!?!?"


''Si-siapa kamu?'' tanya Arsen tergagap. Ia masih tidak percaya kalau itu adalah Sheena.


''Mata mu buta apa? Aku Sheena.'' Ketus Sheena sambil mengela nafas, menenangkan perasaan kagetnya.


''Ahh tidak mungkin, aku pasti berhalusinasi.'' Ucap Arsen. Sheena yang mengenakan handuk seperti kemben, mendekat kearah Arsen.


''Halusinasi apanya? Ini aku Sheena. Jahat sekali kamu, baru beberapa hari pergi sudah melupakan aku.'' Sheena semakin kesal dengan sikap Arsen. Arsen mengucek matanya, ia masih tidak percaya bahwa Sheena ada di hadapannya.


''Coba cubit aku,'' pinta Arsen. Dengan senang hati Sheena mencubit keras pipi Arsen.


''Awwe sakit-sakit, lepaskan!" teriak Arsen. Sheena pun tertawa sambil melepaskan cubitannya.


''Bagaimana? Ini nyata atau halusinasi?'' ucap Sheena.


''Bagaimana kamu bisa sampai disini?'' tanya Arsen.


''Kamu begitu jahat padaku, Arsen. Sama sekali tidak meneleponku, membalas pesanku pun tidak. Eh malah membuat story gadis bule. Siapa dia? Dia selingkuhanmy? Iya?'' mata Sheena melotot tajam kearah Arsen.


''Jadi kamu menyusulku hanya karena itu?''


''Bukan hanya tapi memang karena itu. Aku ingin tahu kenapa suamiku mengabaikan aku begitu saja? Apa kamu tidak tahu aku kesepian? Hah? Kamu jahat sekali? Dimana wanita itu sekarang?'' Sheena mulai marah-marah sambil berkacak pinggang.


''Sudah tahu alasannya kenapa juga masih tanya. Aku hanya memotret wanita lain saja kamu marah, bagaimana kalau aku dekat dengan wanita lain juga?''


Sheena yang kesal, lalu mencengkeram kerah baju Arsen. ''Oh jadi kamu ingin balas dendam? Apakah memberikan tubuh dan keperawananku belum cukup Arsen? Aku juga sudah bilang kalau aku mencintaimu, apa masih belum cukup? Kalau aku memang memilih Fandi, sudah sejak awal aku memintamu untuk menceraikan aku. Kamu pikir aku tidak marah.''


Kali ini Arsen benar-benar takut dengan kemarahan Sheena. Ia terus berjalan mundur untuk menghindari Sheena namun Sheena justru berjalan maju dan semakin kuat mencengkeram kerah bajunya.


''Kamu kerasukan apa sih? Kenapa jadi galak begini?'' ucap Arsen.


''Kerasukan setan pesawat! Kamu mau bicara apa lagi? Benar-benar suami tidak bertanggung jawab ya? Hanya karena itu kamu tega menelantarkan istrimu. Seharusnya kita bisa bicara baik-baik bukan malah menghindar. Setidaknya kasih kabar gitu ke istri meskipun kamu sedang marah, bukannya malah nelantarin istri.''


''Aku perginya memang mendadak Sheena. Perusahaan sedang genting.'' Jawab Arsen tergagap.


''Apa besoknya tidak bisa memberi kabar? Pesan cuma di read, di balas pun tidak. Tapi membuat story cewek bule, gercep banget.''


Akhirnya tubuh Arsen mentok di tempat tidur. Ia lalu melepaskan tangan Sheena dari kerah bajunya.


''Sudah selsesai marah-marahnya?'' tanya Arsen.


''Belum! Aku masih sangat kesal denganmu.'' Sheena lalu memukuli dada Arsen. Arsen kemudian memeluk Sheena.


''Baru begitu saja marah kan? Padahal aku hanya bercanda. Wanita itu bukan siapa-siapa. Tanya saja pada Soni.''

__ADS_1


''Sudah pasti Pak Soni melakukan apa yang kamu perintahkan.''


''Dasar bodoh! Aku ini mysophobia, jadi aku tidak semudah itu bersentuhan fisik dengan orang lain selain kamu, Sheena. Aku tahu apa saja yang kamu lakukan dirumah. Kamu bertingkah seperti orang bodoh karena tidak ada aku kan? Kamu menganggap boneka itu adalah aku, iya kan?''


''Darimana kamu tahu?''


''Aku bahkan tahu warna pakaian dalammu dari hari pertama sampai hari ketiga selama kamu pergi.''


Sontak ucapan Arsen, membuat Sheena terkejut. Sheena lalu mendorong tubuh Arsen.


''Kamu mengintipku?''


''Tidak! Bagaimana aku bisa mengintip? Aku kan di sini.''


''Oh jangan-jangan kamu memata-mataiku? Atau memasang kamera rahasia?''


Arsen hanya tersenyum penuh arti. Ia lalu menarik Sheena kembali dalam pelukannya.


''Daripada marah-marah, bagaimana kalau kita melepas rindu? Apa kamu tidak merindukan ku?''


''Memangnya kamu masih bisa merindukanku?''


''Tentu saja. Meskipun aku marah, aku sangat merindukanmu. Kamu tahu aku ini putra laki-laki pertama jadi saat ini hampir 100% perusahaan aku yang mengelola. Kak Queen memilih fokus untuk mengurus rumah tangga dan dia hanya fokus di satu anak cabang di London saja. Brian dan Belinda pun belum Papa berikan kepercayaan jadi tentu saja harus aku yang mengurusnya.''


''Jangan sentuh aku!" Sheena buru-buru melepaskan pelukan Arsen.


''Kenapa?''


''Astaga masih saja membahas wanita itu.''


''Aku tetap tidak percaya denganmu.'' Sheena tetap ngotot tidak percaya pada Arsen. Arsen kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan vidio yang ia rekam.


''Lihat ini,'' ucapnya dengan kesal.


''Aku sudah menebak kalau kamu akan marah dan curiga padaku jadi aku rekam ini untukmu. Sebagai bukti bahwa aku tidak seperti yang kamu pikirkan.''


Akhirnya rasa penasaran Sheena terbuang sudah.


''Bagaimana? Sudah percaya kan?''


''Awas saja kalau ini semua skenariomu,'' ucap Sheena.


''Astaga, skenario dari mana lagi? Memangnya aku sutradara apa?''


''Sudahlah mandi sana.'' Hati Sheena masih merasa dongkol dengan Arsen.


''Kamu tidak memberiku vitamin K?''


''Kemarin saja kamu menurunkan aku begitu saja tanpa pamit, tanpa pelukan dan tanpa ciuman jadi enak saja kamu tiba-tiba minta. Gara-gara wanita itu aku sampai menyusulmu kemari. Ini adalah pengalaman pertamaku pergi ke luar negeri bahkan naik pesawat pun untuk pertama kalinya. Dari sini kamu tahu kalau aku mencintaimu, Arsen.''


''Iya-iya maafkan aku. Aku salah. Pria selalu salah dan wanita selalu benar.''

__ADS_1


''Sikapmu sungguh kenanak-kanakkan dan tiak lucu.'' Ucap Sheena sambil menangis kesal.


Arsen kemudian kembali memeluk Sheena. ''Sudah ya jangan menangis, maafkan aku.''


''Kamu tahu aku sangat khawatir. Bahkan aku tidak bisa tidur. Sedangkan kamu disini bekerja dengan tenangnya. Aku tidak ada teman untuk bicara. Bahkan aku mengurung diri di rumah. Mau melakukan apapun tidak tenang. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Mau makan saja tidak enak. Kamu jahat! Hiks... hiks... hiks...''


''Iya maafkan aku sudah membuatmu khawatir. Aku memang kekanak-kanakan. Sebenarnya aku hanya ingin tahu seberapa jauh perasaanmu denganku, Sheena. Aku tahu di posisi saat ini yang paling terluka adalah Fandi. Tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku kalau aku juga terluka dengan sikapmu. Istriku menangisi pria lain.''


''Tapi kamu kan tahu apa alasanku, Arsen. Seharusnya kamu mengerti, membiarkan aku tenang dulu, bukannya malah pergi meninggalkan aku begitu saja. Apalagi kamu meminta menyuruhku berpikir untuk lanjut atau sampai disini saja. Kamu pikir pernikahan ini mainan apa? Kalau sampai kita berhenti hanya karena masalah ini, berapa banyak hati yang terluka? Justru hal itu semakin membuatku merasa bersalah.'' Ucap Sheena yang masih sesenggukan dalam pelukan Arsen.


''Iya sudah jangan menangis, maafkan aku. Sekarang aku tahu kalau kamu mencintaiku.''


''Sekarang kamu tahu kan bagaimana perasaanku. Aku berangkat seorang diri dari Indonesia menuju Macau degan bermodalkan google maps saja dan google translete untuk bahasa mandarin. Untung saja aku pintar. Aku pun tidak mengadu pada siapapun tentang masalah kita. Aku hanya meminta alamatmu dari Mama Dira. Dan Mama Dira memberiku kunci duplicat apartemen ini.'' Ucap Sheena dengan membubuhkan drama supaya Arsen semakin merasa bersalah.


''Kamu sungguh berangkat sendiri?''


''Iya. Dan saat pesawat mulai mengudara, aku rasanya mau mati, aku takut. Aku hampir tersesat. Untuk supir taksinya baik.'' Ucap Sheena.


''Ya ampun Sheena, lain kali jangan nekat seperti ini. Kamu kan bisa meminta Pak Roni untuk menemanimu. Aku sengaja meminta Pak Roni untuk tinggal, supaya kalau ada apa-apa dia bisa membantumu.''


''Pikiranku sudah kacau, aku tidak terpikirkan soal itu. Semua ini karena kamu.''


''Maafkan aku ya, maaf sekali. Aku janji tidak akan seperti ini lagi. Aku pun sadar kalau aku ternyata takut kehilanganmu. Aku pikir dengan menjauh darimu, bisa membuatku tenang tapi ternyata aku malah tersiksa. Aku pun disini sebenarnya sangat khawatir tapi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku. Maafkan aku ya.''


Sheena tersenyum kecil di balik dekapan Arsen.


''Memang enak aku kerjain. Makanya jangan aneh,'' gumamnya dalam hati.


''Awas ya kalau kamu mengulanginya lagi.''


''Iya aku janji tidak akan mengulanginya. Mmmm bagaimana kalau sekarang ML?''


''Enak saja, habis ngelakuin kesalahan minta ML. Memangnya ML bisa menghilangkan rasa kesalku. Moodku sedang tidak bagus.'' Gumam Sheena dalam hati.


''Mandilah dulu, nanti kita lanjutkan.'' Ucap Sheena.


''Sheena, aku sangat merindukanmu.'' Arsen lalu memberikan kecupan di kening Sheena.


''Baiklah aku akan mandi. Kamu jangan ganti baju ya, pakai handuk begini saja. Oke?''


''Iya-iya.'' Jawab Sheena. Arsen dengan semangat 45 menuju kamar mandi. Sementara Sheena segera memakai piyama dan pergi tidur.


''Maafkan aku Arsen. Kamu malam ini harus di hukum. Untuk sementara jatahmu aku liburkan. Aku mau tidur.'' Gumam Sheena dalam hati.


Dua puluh menit kemudian Arsen keluar dari kamar mandi. Wajah cerianya berubah masam, kala melihat Sheena sudah terlelap.


''Yah malah tidur lagi. Ah sial! Awas ya kamu Sheena, tunggu pembalasanku besok. Kamu pasti sengaja kan mengerjaiku?'' Arsen merutuk dalam hati.


''Tapi aku terharu sekali, dia benar-benar menyusulku. Tapi besok aku akan benar-benar mengurungnya di kamar.'' Gumam Arsen dengan senyum menyeringai.


Bersambung... Maaf ya baru up, habis sakit nih baru masa recovery 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2