
Selama Arthur memasak, Belinda menatap punggung indah itu. Melihat bagaimana lincahnya tangan Arthur memotong daging, sayuran dan bumbu seperti seorang chef profesional.
''Kenapa aku melihat dia begitu sempurna dan seksi ya saat sedang memasak?'' gumam Belinda dalam hati.
''Ah Belinda, apa yang kamu pikirkan!" gumamnya lagi.
Setelah semua hidangan selesai dimasak, Arthur lalu memindahkannya ke meja makan.
''Hmmmm aromanya wangi sekali.'' Ucap Belinda.
''Makanlah, setelah itu minum obat. Dan setelah sembuh, segera kembali ke kontrakan.'' Kata Arthur. Mendengar kata KONTRAKAN, membuat Belinda serasa lemas. Ia pun menelungkupkan kepalanya dimeja. Belinda rasanya tidak mau pergi dari rumah Arthur, ia bahkan malas jika harus kembali ke kontrakan.
''Kenapa?'' tanya Arthur.
''Tubuhku terasa lemas, perutku perih lagi.''
''Ya sudah, cepat makanlah. Nanti setelah minum obat juga enakan.''
''Apa nanti kamu akan kembali ke kantor?'' tanya Arthur.
''Iya, setelah mandi aku akan kembali. Aku harus mengecek pengambilan gambar tadi.''
''Oh...'' singkat Belinda. Dan merekapun makan siang bersama. Selesai makan, Arthur segera mandi, sedangkan Belinda kembali ke kamar tamu. Selesai mandi dan bersiap pergi, Arthur lalu menuju kamar Belinda.
''Bel, aku pergi dulu ya. Nanti aku pulang agak malam.''
''Nanti bagaimana makan malamku?''
''Aku sudah memesan makanan direstoran. Nanti saat makan malam, akan di antar kerumah. Aku pergi dulu ya.''
''Oke. Hati-hati Kakak Arthur yang baik hati.''
''Dasar penjilat!" ucapnya dengan senyum tipis.
-
Sedangkan hari itu, Brian dan Gea baru saja tiba di kontrakan Gea. Akhirnya Gea sudah diperbolehkan pulang oleh rumah sakit. Brian pun sangat lega karena kondisi Gea semakin baik, meskipun kaki Gea masih belum sembuh.
''Brian, thanks ya udah ngerawat gue selama ini.'' Ucap Gea.
''Sudah, santai saja Gea.''
''Ya sampai elo bela-belain cuti kerja demi gue.''
''Ya kita senasib saja, Ge. Sama-sama anak perantauan. Apalagi kita tetanggaan, masa iya aku mau diam saja. Sudahlah, jangan di pikirkan. Mending kamu istirahat ya.''
''Kalau gitu, gue masakin elo ya.''
__ADS_1
''Kan kakimu masih sakit.''
''Tapi tanganku baik-baik saja.''
''Sebaiknya kamu duduk dan biarkan aku yang memasak.'' Ucap Brian sambil mendudukkan kembali Gea.
''Gue terlalu ngrepotin elo, Brian. Sumpah deh, gue ngrasa nggak enak.''
''Santai saja, Gea. Mending kamu duduk dan aku akan memasak untukmu.'' Brian lalu membuka isi kulkas Gea.
''Tapi di kulkas cuma ada tahu tempe dan telur saja. Pasti itu tempenya juga sudah busuk. Tapi ada stok mie instan di almari.'' Sahut Gea.
''Iya nih, tempenya sudah busuk. Ya sudahlah, masak mie saja dan tahu goreng.'' Gumam Brian. Namun saat hendak menggoreng, minyak goreng pun juga habis. Alhasil Brian memasak dua porsi mie instan kuah yang langsung ia campurkan dengan telur. Tidak butuh waktu lama bagi Brian untuk memasak.
''Nah ini sudah jadi.'' Kata Brian dengan membawa dua mangkok mie instan.
''Semua bahan dapurku habis, Brian. Hehehe.'' Cengir Gea.
''Iya, mau goreng tahu tapi minyaknya habis.''
''Ya sudahlah makan seadanya saja. Aku juga belum sempat belanja. Sorry ya cuma bisa ngasih mie instan.'' Ucap Gea.
''Tidak apa-apa Gea. Ini juga sudah cukup. Sebaiknya kita makan saja mumpung masih panas.''
Baru kali ini Brian makan dengan menu sesederhana ini. Meskipun Brian soal makan tidak pernah rewel seperti Belinda tapi ini adalah makanan paling sederhana yang ia makan. Biasanya ia menghabiskan uang untuk makan direstoran mewah bersama para gadis tapi kali ini ia makan sederhana dengan gadis yang sederhana.
''Te-terima kasih.'' Brian pun sampai membuatnya tergagap.
Setelah makan bersama, Brian pamit pulang untuk mandi. Selesai mandi, Brian kemudian mengecek isi kulkasnya dan semua bahan makanan masih bagus. Brian berencana memasak makan malam untuk Gea.
''Kasihan Gea, tidak mungkin dia makan mie instan lagi. Apalagi dia butuh gizi yang cukup untuk membantu kesembuhannya.'' Gumam Brian. Sebenarnya Brian soal masak memasak dia tidak terlalu bisa, akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Sheena.
Sheena sendiri baru saja selesai mandi, disusul Arsen dari belajang. Karena sepulang kerja, Arsen langsung meminta jatah double pada istrinya. Mendengar dering ponselnya, Sheena pun mengangkatnya. Mendengar Sheena menyapa Brian, membuat Arsen penasaran. Arsen yang masih telanjang dada dan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, memeluk Sheena dari belakang sambil menyandarkan dagunya pada pundak Sheena.
''Halo adik iparku yang paling tampan, ada yang bisa noona bantu?''
''Hehehe Noona tahu saja kalau aku sedang butuh bantuan.''
''Oh ya bagaimana Gea? Apa dia sudah membaik?''
''Iya Noona, Gea tadi sudah pulang dari rumah sakit. Dia juga semakin membaik.''
''Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya. Lalu apa yang bisa Noona bantu?''
''Aku mau minta resep makanan yang kemarin. Udang asam manis dan ayam pop. Kasihan Gea, dia pasti kesulitan untuk memasak ataupun beli makanan untuk keluar.''
''Kasihan atau kamu memang menyukainya, Brian?'' goda Sheena.
__ADS_1
''Noona, jangan menggodaku. Berikan saja resepnya.''
''Sepertinya ada hati yang akan berlabuh nih. Ya sudah, setelah ini Noona tuliskan resepnya ya. Yang jelas cuci dan kupas dulu udangnya, jangan lupa kasih air lemon atau air jeruk nipis supaya tidak amis.''
''Oke Noona, aku akan menunggunya.'' Brian lalu mengakhiri panggilannya.
Sheena menghela. ''Sayang, kamu berat. Pundak aku sakit kena dagu kamu. Sudah dikasih double di ranjang dan di kamar mandi masa masih kurang.''
''Ya, habisnya kamu selalu membuatku tergoda.'' Ucap Arsen sambil mengecup leher Sheena dengan gemas.
''Ya sudah, kamu ganti baju ya. Aku ingin makan malam diluar.'' Pinta Sheena dengan rengekan manjanya.
''Oke baiklah, sayang. Oh ya jadi Gea sudah pulang ya?''
''Iya sudah pulang. Sepertinya Brian menyukai Gea.''
''Anak itu siapa saja juga diembat. Ya sudah, aku siap-siap ya sayang.'' Arsen lalu melepaskan pelukannya pada Sheena.
''Oke. Aku akan mengirimkan resep makanan pada Brian dulu.'' Ucap Sheena. Setelah menuliskan resep untuk Brian, Sheena pun segera berganti pakaian.
''Sayang tapi sepertinya kali ini Brian serius deh.''
''Brian kalau sudah ada incaran juga begitu, Sheena. Kalau sudah bosan ya ditinggalin.'' Ucap Arsen sembari memakai kemeja bergarisnya.
''Tapi beda, Arsen. Masa iya kamu tidak bisa melihat sorot matanya. Apa Brian pernah seserius itu pada seorang gadis?''
''Mmmm ya tidak sih. Biasanya dia asal mungut,'' celetuk Arsen dengan tawanya.
''Ihhh kamu ini, adik sendiri malah di ledekin. Tapi Gea baik sepertinya, dia juga pekerja keras.'' Kata Sheena.
''Ya, kita lihat nanti saja, sayang. Aku tidak mau terlalu ikut campur urusan Brian. Karena sebelum-sebelumnya dia tidak pernah serius dengan seorang wanita. Kamu juga sebaiknya jangan terlalu mencampurinya. Aku justru khawatir kalau dia akan menyakiti Gea.''
''Justru aku berharapnya Gea bisa merubah Brian menjadi yang lebih baik, iya kan?''
''Ah sudahlah, kita tidak usah membicarakan Brian dulu. Kamu ingin kita makan dimana?'' tanya Arsen.
''Mmmm aku ingin makan di restoran Italia.'' Kata Sheena.
''Waduh, memang ya selera kita benar-benar tertukar. Istriku sekarang suka makanan seperti itu. Biasanya juga warteg dan warung tenda.''
''Kamu meledek saja bisanya.''
''Hehehehe habisnya aneh saja sayang, selera kita jadi tertukar. Tapi tidak apalah yang penting baby twins kita sehat-sehat.''
''Amin.''
Bersambung....
__ADS_1