
Selesai acara makan malam keluarga, Arthur membawa Belinda kembali kerumahnya.
“Kenapa tidak memulangkan ku ke kontrakan?”
“Nanti ada tamu tak diundang yang tiba-tiba masuk ke kontrakan mu.”
“Maksudmu siapa?”
“Namanya juga tamu tak dikenal. Sudah, jangan banyak tanya. Sebaiknya masuk kamar, cuci kaki, tangan dan tidur.” Ucap Arthur seraya turun dari mobilnya. Yang Arthur maksud sebenarnya adalah Erick. Arthur khawatir kalau Belinda mudah dirayu dan tertipu lalu dimanfaatkan lagi.
Padahal sebenarnya dalam sudut hatinya Arthur menyimpan cemburu. Belinda tentu sangat senang diminta Arthur untuk tetap tinggal dirumahnya. Selain mendapat tempat tinggal nyaman, ia juga mendapat makan gratis.
Saat akan memejamkan matanya, Belinda teringat dengan adegan ciuman di dalam kamar mandi. Ia kemudian menyentuh bibirnya dengan rasa tidak percaya bahwa ia dan Arthur benar-benar berciuman.
“Kenapa aku membalasnya? Kenapa aku tidak menolaknya? Bahkan aku menikmatinya. Bibirnya lembut dan manis. Arrghhh Belinda! Otakmu sangat mesum.” Belinda bergumam sendiri dengan hebohnya.
“Mmmmm dia sedang apa ya? Sudah tidur belum ya?” gumamnya sambil melihat kearah ponselnya.
Arthur dikamar pun memikirkan hal yang sama.
“Aduh, mau merem aja susah! Baru juga mau merem keingat tadi. Huft, mana wajah Belinda yang cuma memakai handuk selalu terbayang lagi. Arthur, kamu tidak pernah semesum ini. Sekalipun tinggal di luar negeri dan melihat bule memakai bikini, kamu biasa saja dan itu sudah lumrah. Tapi kenapa melihat Belinda memakai handuk itu, pikiranmu menjadi kotor?” Gumamnya yang merasa kesal dengan dirinya sendiri. Arthur kemudian membuka laptopnya, memilih mengalihkan pikirannya dengan mengecek pekerjaan.
Keesokan harinya, Arthur yang baru saja bangun tidur, terkejut melihat Belinda yang sudah sibuk di dapur.
“Belinda, kamu sedang apa?”
“Membuat sarapan lah. Aku membuat roti bakar untumu dan juga untukku. Dan dua gelas susu coklat untuk kita.” Kata Belinda dengan begitu semangat dan ceria.
“Hah? Sejak kapan semangat di dapur?” ledek Arthur.
“Sudahlah jangan cerewet. Sebaiknya Kakak duduk sana di ruang makan.” Perintah Belinda.
“Oke baiklah. Seharusnya kamu melakukan itu sejak pertama menginap di rumah ini. Ya, namanya numpang harus sadar diri lah. Bukan pemilik rumah yang melayani pengungsi.” Sindir Arthur.
“Aku kan tidak memasak dan ini pun belajar juga kali. Supaya tidak ada lagi yang mengatau aku anak manja.” Belinda lalu memindahkan makanan dan minuman ke meja makan.
“Ini, selamat makan!” Seru Belinda.
“Oke, terima kasih.” Jawab Arthur yang merasa senang karena pagi itu dilayani sarapan oleh Belinda. Saat sedang menikmati sarapan, tiba-tiba ponsel Belinda yang berada didekatnya berdering. Arthur penasaran dan menjulurkan kepalanya. Terlihatlah nama Erick di layar ponselnya.
“Selamat pagi, Bel.”
“Pagi Erick. Ada apa ya telepon sepagi ini?”
“Mmm aku sudah berada di depan kontrakanmu. Aku membawakan sarapan untukmu.”
__ADS_1
“Apa? Kamu didepan kontrakanku?” Belinda terkejut.
“Iya. Memangnya kenapa? Kamu sepertinya terkejut.”
“E… bukan begitu. Aku tidak sedang dirumah, Erick. Aku semalam menginap dirumah temanku.”
“Dimana rumah temanmu? Aku akan mengantar makanan ini ke rumah teman kamu. Sekalian aku jemput dan aku antar kamu ya?”
Belinda bingung, ia tidak tahu harus bagaimana.
“Mmmm tidak usah Erick. Aku tidak mau merepotkanmu. Aku akan berangkat dengan temanku saja. Aku sudah janji ingin berangkat bersamanya. Kita bertemu di kantor Tuan Arthur saja ya. Nanti akan aku makan sarapan dari mau di kantor. Bagaimana? Tidak apa-apa kan?” kata Belinda dengan terbata karena ia bingung mencari alasan.
“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa di kantor. Oh ya aku boleh menagih janjiku?”
“Janji apa?”
“Janji untuk makan malam.”
“Oh itu, tentu saja boleh.”
“Bagaimana kalau nanti?”
“Oke, dengan senang hati.”
“Kamu hati-hati ya berangkatnya.”
“Bye!” Erick mengakhiri panggilannya.
“Siapa? Erick?” tanya Arthur dengan tatapan penuh selidik.
“Iya.”
“Ingat ya Bel, pertunangan kita minggu depan. Kamu jangan membuat masalah.”
“Aku hanya ingin makan malam saja dengan Erick, apa itu salah? Just friend!”
“Terserah kamu lah!” Arthur kemudian berlalu menyudahi sarapannya.
“Eh, ini kan belum habis?” teriak Belinda berusaha menghentikan langkah Arthur.
“Sudah kenyang!” jawab Arthur.
“Tidak menghargai sama sekali. Sudah capek-capek bikinnya malah tidak dihabiskan.”
...****************...
__ADS_1
“Suamiku pagi ini tampan sekali.” Puji Sheena seraya merapikan dasi dan kemeja suaminya.
“Oh, jadi aku tampan hanya pagi ini saja. Kemarin-kemarin jelek begitu.”
“Hehehe bukan begitu sayang. Ini hari peluncuran dua produk kamu sekaligus. Jadi kamu harus berkilau seperti serbuk berlian.”
“Kamu juga sangat cantik. Kamu semakin pintar dandan.” Ucap Arsen sambil membelai wajah istrinya.
“Oh ya bagaimana urusan Fandi, sayang?”
“Sudah beres, sayang. Pendaftaran perceraiannya sudah aku cabut. Pegacara yang mengurusnya.”
“Syukurlah, aku lega sekali. Aku berharap mereka berdua bisa saling mencintai dan hidup bahagia.”
“Aku juga berharap seperti itu. Supaya dia tidak menganggumu lagi.” Kata Arsen.
“Sudah lah, kita tutup masa lalu itu ya. Oh ya apa Kak Arthur akan hadir juga?”
“Tidak. Papa Darwin nanti yang akan datang. Dia kan sedang sibuk membuat proyek baru. Kamu ini juga pemilik perusahaan, masa tidak update sih.”
“Aku benar-benar tidak tahu karena Kak Arthur sudah mengurus semuanya. Dia memintaku untuk fokus pada kehamilan dan kesehatanku. Jadi dia tidak mau membebani aku, sayang. Oh ya kamu sudah mendengar kabar bagus belum?”
“Kabar apalagi?”
“Kabar kalau Belinda dan Kak Arthur setuju dengan perjodohannya.”
“Oh itu, tanpa kamu bilang aku juga akan tahu. Mereka tidak punya alasan untuk menolak. Tapi itu lebih baik sih, supaya Arthur juga benar-benar melupakan perasaannya padamu.”
“Sayang, kamu masih memikirkan itu juga?”
“Sedikit. Karena banyak sekali orang yang menyukai istriku bahkan itu terjadi dilingkungan terdekat.”
“Kamu ini jangan membahas itu lagi. Tapi aku juga belum tahu perkembangan hubungan Kak Arthur dan Belinda seperti apa. Mendengar mereka setuju, rasanya hubungan mereka sudah berkembang sangat jauh.”
“Aku berharap juga seperti itu. Lebih cepat lebih baik. Baiklah sayang, sebaiknya kita berangkat sekarang ya supaya kita tidak terlambat.”
“Oke sayang, semoga launching hari ini lancar ya.”
“Amin.”
Arsen dan Sheena kemudian segera pergi ke sebuah hotel tempat peresmian produk terbarunya. Sheena yang duduk di deretan kursi tamu begitu bangga melihat suaminya berada diatas panggung, menjelaskan dengan sangat detail setiap produknya. Vidio iklan yang di buat pun sangat bagus dan mendapat banyak kasak-kusuk pujian. Tuan Keenan juga sangat bangga dengan putranya itu karena mampu membuat perusahaan semkakin berkembang dengan sangat pesat, dengan ide-idenya yang lebih brilian. Acara launching yang juga disiarkan live di chanel yutub perusahaan pun menembus ratusan ribu penonton, baik didalam negeri maupun diluar negeri. Selain penasaran dengan produk terbaru, tentu saja para netizen ingin melihat wajah tampan Arsen. Karena Arsen mengemas konsep perusahaan dengan mengikuti perkembangan jaman sekaligus selera pasar kaum milenial.
Para awak media juga turut hadir. Mereka tidak lupa untuk mengambil moment mesra antara Arsen dan Sheena diatas panggung. Semua pengguna internet di chanel yutub itupun memuji kecantikan Sheena dan keserasian keduanya. Mereka juga mengirim doa-doa terbaik untuk kebahagiaan keduanya di live chat itu.
Arsen pun merasa lega, setidaknya launching hari itu berjalan lancar. Namun bonusnya, siaran live itu sudah mampu menjual ratusan item di akun olshop perusahannya. Di jaman yang semakin canggih dan modern, Arsen memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan semua produknya. Dan tentu saja itu lebih mudah dan juga itu merupakan sarana promosi terbaik.
__ADS_1
...Bersambung... Yuk like, komen dan votenya ya makasih 🙏🥰...