
Mobil sport putih tampak berhenti di depan tiga gadis SMA yang berdiri tak jauh dari gerbang sekolah. Laki-laki yang berumur sekitar 22 tahun keluar dari mobil dengan senyum lebar yang membuat cekungan dalam di pipi kirinya terlihat jelas.
'Ah.. Nay.' Batin laki-laki itu begitu terbius oleh Naynay yang sama sekali tidak melihatnya datang.
"Kita langsung ke rumah aku aja, yuk!" ujar Rosi yang malas melihat ekspresi senang pada wajah Ezriel yang sudah berdiri di depannya. Ketiga gadis ini sepakat untuk menonton drakor di rumah Rosi. Dan Naynay sudah dapat izin tentunya. Walaupun sempat memakai senjata ngambek dulu baru dapat izin.
"Oke!" balas Rania semangat karena babang tampan yang datang menjemput. Sedangkan Naynay hanya diam sambil membalas pesan iseng dari Afif.
Sejak tadi hpnya terus bergetar dan puluhan pesan tidak bermutu memenuhi pop-up aplikasi chat di hpnya.
"Aku merindukanmu." Pesan pertama....
"Haruskah aku mengunjungimu?" Pesan kedua...
"Seharusnya aku tidak mengizinkanmu pergi." Pesan ketiga....
"Aku mengganti semua gaun tidurmu, yang kemaren itu hanya percobaan saja." Dan seterusnya, gaun tidur pun dibawa-bawa.
"Nay, pengen cium!! 😘" Dengan tanda seru dan emot cium di bagian akhir.
Naynay tergelak membaca pesan terakhir dari puluhan pesan itu. Padahal tadi saat baru bangun tidur dan sebelum berangkat sekolah, Afif menciumnya sampai puas. Dengan gerakan kilat, dia membalas pesan itu. Ketiga manusia beda kelamin di depannya tidak lagi dia pedulikan.
Rania menyenggol lengan Naynay hingga bumil itu mengangkat kepalanya dengan ekspresi polos. Dia tidak tahu apa yang tadi dibicarakan tiga orang itu tadi karena fokus dengan hpnya.
"Sibuk banget, pesan dari siapa tuh?" tanya Rosi dan bergeser hingga menubruk pelan bahu Naynay. Kepo sama siapa sahabatnya itu berbalas pesan sampai tidak sadar kalau sudah dipanggil beberapa kali. Tidak biasanya Naynay seperti itu.
"Nggak ada, cuma lagi balas pesan dari mama aja." Naynay menggoyang-goyangkan hp di samping kepalanya agar Rosi tidak melihat nama yang tertera di bagian kanan atas layar hpnya. Tak lupa juga memberikan senyuman polosnya.
"Aku kirain cowok," ujar Rosi sambil melirik sedikit ke arah Ezriel. Laki-laki itu melotot tidak suka ke arahnya.
"Jadi pergi nggak nih? Panas lho ini," cerocos Rania dengan tangan mengipas-ngipas bagian wajahnya. Buliran keringat sudah membasahi anak rambutnya.
"Jadi dong, ayo!" Rosi masuk ke mobil sambil menarik tangan Rania. "Nay, kamu di depan, ya."
__ADS_1
Naynay menatap Rosi sambil mengerutkan kening, tidak biasanya dia mau duduk di belakang bersama Rania yang bibirnya tidak pernah berhenti nyerocos itu.
"Nay," panggil Ezriel membuat Naynay menoleh padanya. Laki-laki itu sudah membukakan pintu mobil untuknya. Naynay menghela napas panjang sebelum masuk ke dalam mobil dan duduk dengan meletakkan tas di atas pangkuannya.
Setelah Naynay masuk ke dalam, Ezriel berlari kecil memutari mobil, masuk dan duduk di kursi kemudi. Melihat gadis di sampingnya belum memakai seat belt, Ezriel mendekat dan berniat memasangkannya. Tapi tangannya ditepis oleh Naynay. Walaupun pelan, tapi Ezriel sedikit kecewa dengan reflek Naynay.
"Nay bisa sendiri, Kak." Setelah memasang seat belt, Naynay menoleh ke jendela mobil dengan tangan yang meremas tasnya. Dia sedang merasa tidak nyaman.
Ezriel mengemudikan mobil meninggalkan area sekolah dengan kecepatan sedang. Sesekali dia melirik Naynay yang menatap lurus ke depan. Laki-laki itu benar-benar terpesona dengan wajah imut milik gadis ini. Gadis karena dia belum tahu kalau Naynay bahkan sudah hamil.
"Mampir ke minimarket dulu, boleh?" tanya Naynay melirik Ezriel.
Laki-laki itu tersenyum sambil mengangguk, akhirnya Naynay mau berbicara padanya. Melihat minimarket di tepi jalan, Ezriel menepikan mobil dan membuka seat belt-nya.
"Kamu mau beli apa? Aku aja yang turun," tanya Ezriel dengan senyum yang masih terpatri di wajah tampannya.
"Ice cream rasa vanila dua," ucap Naynay dengan mata berbinar. Membayangkan rasa dingin dan manis dari dessert tersebut sudah membuat air liurnya hendak menetes.
'Naynay pasti lagi ngidam nih." Rania menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nggak, sana cepet beliin!" ucap Rosi sambil mengibas-ngibaskan tangannya seperti mengusir.
Dengan wajah jengkel, Ezriel keluar dari mobil dan memasuki minimarket untuk membelikan gadis pujaannya ice cream.
Cieeee... Gadis pujaaan...
Setelah membeli apa yang Naynay minta, Ezriel kembali masuk ke mobil. Diserahkannya kresek yang berisi dua ice cream vanila pesanan Naynay. Awalnya dia ingin membelikan lima bungkus, tapi takut jika Naynay sakit dan dia tidak bisa bertemu untuk beberapa hari dengan gadis itu.
"Makasih, Kak." Naynay dengan semangat membuka bungkus ice cream dan menikmatinya dengan mata berbinar senang.
Ezriel tersenyum melihat tingkah Naynay yang lucu. Dia kembali mengemudikan mobil karena Rosi sudah ngomel-ngomel di belakang. Sebenarnya dia eneg melihat senyum Ezriel yang memuakkan di matanya.
Naynay tidak lagi mempedulikan apapun yang diperdebatkan oleh tiga orang di dalam mobil itu. Dia sibuk dengan ice cream yang rasanya begitu enak itu. Bahkan dia tidak sadar bahwa sudah sampai di rumah mewah yang merupakan rumah sahabatnya itu. Rumah Rosi memang tidak terlalu jauh dari sekolah mereka, itulah mengapa tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di sana.
__ADS_1
"Ini yang imut udah jarang banget ke sini!!"pekik wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu dan langsung memeluk Naynay. Pipi Naynay pun tidak lepas dari cubitan gemas.
"Ini anaknya, yang dipeluk anak orang." Bibir Rosi mengerucut karena wanita paruh baya yang merupakan mamanya itu malah memeluk Naynay.
"Masuk yuk, biarin aja tuh dia ngomel sendirian." Wilna-mamanya Rosi itu menarik tangan Naynay dan Rania masuk. Anaknya sendiri ditinggal di luar.
"Tante Wilna punya anak baru nih," ucap Ezriel berlalu meninggalkan Rosi dengan tangan di dalam saku. Menoleh sedikit sambil memeletkan lidahnya ke arah adik sepupunya itu.
Rosi berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya, kesal sih sama mamanya. Tapi Rosi senang karena mamanya bisa akrab dengan kedua sahabatnya itu. Wilna sendiri juga berteman baik dengan Yasmin dan Kiran, itu juga yang membuat dia dekat dengan Naynay dan Rania.
"Tante nggak bisa nemenin kalian nih. Nggak apa-apa kan kalau ditinggal?" ucap Wilna setelah mereka duduk di ruang tamu.
"Nggak apa-apa, Tante. Rania udah gede, nggak perlu dijagain lagi." Gadis perawan itu menaikturunkan alisnya sambil tersenyum.
"Iya iya, kamu udah gede. Kalau gitu Tante pergi dulu, ya." Wilna pergi meninggalkan keempat orang yang duduk di sofa. Dia sudah punya janji dengan teman lamanya.
Karena kebelet pipis, Naynay pergi ke toilet yang ada di dekat dapur rumah mewah itu. Tapi ketika dia keluar, dia terpeleset. Hampir saja Naynay jatuh jika tubuhnya tidak ditahan seseorang.
Ezriel, laki-laki itu menahan pinggang Naynay agar tidak terjatuh. Wajahnya begitu dekat dengan wajah imut Naynay yang memejamkan matanya. Ketika mata itu terbuka, pandangan Ezriel tidak beralih sama sekali dari wajah Naynay.
Naynay berdiri dan mendorong tubuh Ezriel agar menjauh. Dekat dengan laki-laki lain selain Afif benar-benar membuatnya tidak nyaman. Tanpa mengucapkan terima kasih, Naynay berjalan cepat meninggalkan laki-laki itu.
'Nay, kayaknya aku beneran suka sama kamu.'
Ezriel memegang dadanya yang berdebar kencang sambil tersenyum lebar. Dia sudah bertekad untuk bisa mendapatkan Naynay, dia akan berusaha untuk itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Aku usahakan up tiap hari, tapi kuncinya adalah kalian harus sabar, ya....