My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 224 Kejutan Kecil


__ADS_3

Sejak kejadian itu, Belinda memilih menghindari Arthur. Sementara Arthur tetao bersikap normal dan pergi ke kantor seperti biasa. Namun saat masuk ke dalam ruangannya, sudah ada yang menunggunya. Ya, Erick sudah ada di ruangan Arthur.


''Selamat pagi Tuan!" sapa Erick seraya bangkir dari sofa.


''Erick, kenapa kamu disini?''


''Ada yang ingin saya katakan pada anda Tuan.''


''Duduklah Erick." Arthur mempersilahkan Erick duduk kembali.


''Sekarang apa yang ingin kamu katakan?''


''Sebelumnya saya ingin minta maaf karena sudah lancang mencintai Nona Belinda. Saya tidak tahu kalau ternyata Nona Belinda adalah tunangan anda.''


''Bukan salahmu Erick. Jadi kamu tidak perlu meminta maaf. Semua itu memang salah kami. Dan apa yang terjadi pada Belinda memang perintah dari calon mertuaku untuk membimbingnya menjadi lebih mandiri dan tidak manja. Aku justru yang meminta maaf karena kamu mungkin merasa di permainkan.''


''Saya tidak menyangka kalau anda justru bersikap baik pada saya tanpa kemarahan sedikitpun. Ini semakin membuat saya merasa bersalah. Saya juga ingin membuat pengakuan kalau sebenarnya yang memiat artikel dan mengambil gambar itu adalah saya.''


''Apa? Jadi kamu orangnya?'' suara Arthur sedikit meninggi.


''Iya Tuan. Saya minta maaf. Saat itu saya melihat anda dan Nona Belinda tampak seperti orang bertengkar. Tapi kenapa akhirnya Tuan malah mencium Nona Belinda. Saya pikir Nona Belinda berada dalam tekanan dan ancaman anda. Sejujurnya saya tidak ingin memfitnah, tujuan saya memuat berita itu supaya tidak ada korban lain. Maaf jika saya salah sangka dan menuduh anda seperti itu.''


Arthur menghela. ''Astaga Erick, kenapa pikiranmu sejauh itu?''


''Itu karena saya terlalu mencintai dan khawatir dengan Nona Belinda. Tapi Tuan tenang saja, saya juga sudah membuat berita klarifikasi hari ini. Saya juga sudah bertemu dengan Nona Belinda. Nona Belinda juga mengatakan kalau anda adalah pria terbaik yang mau menerima semua kekurangannya. Nona Belinda ternyata juga mencintai anda. Dan dihadapan Nona Belinda, saya juga sudah mengaku sebagai penulis artikel itu. Sekali lagi saya minta maaf dan saya sungguh menyesal, Tuan. Saya sudah mencemarkan nama baik anda dan perusahaan. Saya harap, jangan bawa masalah ini ke ranah hukum.''


''Erick, aku akui, kamu sungguh gentleman. Kamu mengakui perasaanmu di hadapan pria yang akan menjadi suami wanita yang kamu cintai. Kamu juga gentleman karena berani mengakui semua perbuatanmu dan menyesalinya. Aku harap hal itu jangan sampai terulang kepada siapapun. Karena terkadang apa yang kita lihat belum tentu benar adanya. Kamu tenang saja, masalah ini kita selesaikan dengan damai.''


''Terima kasih untuk kebaikan hati anda Tuan. Sekarang saya merasa sangat lega. Kalau begitu saya permisi ya Tuan. Saya harap hal ini tidak menganggu kerja sama kita di lain waktu.''


''Tenang Erick, aku profesional.''


Erick kemudian pamit dan undur diri dari ruangan Arthur.


''Kapan Belinda dan Erick bertemu? Kenapa Belinda tidak cerita? Sejak kejadian kemarin, dia juga tidak memberiku kabar,'' gumam Arthur.


-


Belinda sendiri sedang malas-malasan di kamarnya. Sejak kemarin yang ia lakukan hanya bermalas-malasan di kamar sembari menanti kabar dari Arthur.


''Dia memang sama sekali tidak peka. Kenapa tidak meneleponku? Sekedar untuk tanya kabar atau masih marah apa tidak? Pernikahan sudah di depan mata masa ia mau begini terus? Mana tidak ada usahanya lagi.'' Kesal Belinda.


''Belinda!" suara nyaring Nyonya Dira sambil mengetuk pintu kamar Belinda.


''Masuk Mah,'' sahut Belinda.


''Kamu dari kemarin masa di kamar saja? Pergi ke salon sana. Kamu sebentar lagi mau menikah jadi harus menjalani serangakaian treatment.''


''Malas ah, Mah.''

__ADS_1


''Lho, kok malas sih. Ayo, Mama temani.''


''Tidak mau! Untuk apa aku melakukan treatment pengantin kalau Kak Arthur saja cuek denganku.''


''Cuek bagaimana sih? Dia kurang apa sama kamu selama ini? Dia itu super sabar lho.''


''Bukan super sabar tapi super galak.'' Kesal Belinda.


''Galaknya juga untuk kebaikan kamu, Bel. Ayo bangun dan bersiap! Sebagai seorang wanita kamu wajib mempercantik diri terutama di malam pertama kalian. Harus wangi dari ujung kaki sampai ujung kepala, biar suami kamu klepek-klepek dan minta lagi.'' Goda Nyonya Dira.


''Ih, Mama apaan sih becandanya,'' kata Belinda tersipu malu.


''Makanya ayo bangun dan siap-siap.''


''Iya-iya. Mama tunggu di bawah ya, Belinda mau siap-siap.''


''Oke sayang.''


Hari itu Belinda dengan di antar Mamanya, pergi ke sebuah salon dan spa untuk melakukan treatment pengantin. Selesai menjalani treatment, Nyonya Dira mengajak Belinda ke sebuah butik.


''Mah, kita untuk apa disini?''


''Beli kebaya lah. Bukannya Arthur sudah memesankan kebaya disini ya?''


''Iya tapi orangnya tidak ada Mah. Sudahlah kita pulang saja. Aku tidak mau memakai kebaya pilihannya.'' Kesal Belinda.


''Kamu ini kenapa sih? Kalian bertengkar? Atau kamu sengaja melakukan ini supaya pernikahan batal ya?''


''Sudah, kamu jangan rewel. Cepat coba kebayanya.'' Perintah Nyonya Dira dengan seidkit tegas. Akhirnya Belinda menurut dan ikut karyawan butik untuk mencoba kebaya pernikahannya. Belinda kemudian masuk kesebuah bilik ruang ganti. Kebaya warna putih dengan bawahan kain jarik, sangat pas di tubuh Belinda. Bahkan membentuk lekuk indah di bagian pinggang Belinda. Pinggang Belinda terlihat sangat ramping dan indah.


''Untuk apa aku mencobanya? Sementara dia mengabaikan aku,'' gerutunya dalam hati. Belinda kemudian membuka tirai bilik ruang ganti dan ia sangat terkejut melihat Arthur sudah duduk di sofa sambil menatapnya.


''Kak Arthur,'' gumam Belinda.


''Apa kamu suka? Terlalu sempit atau kelonggaran?'' tanya Arthur sambil menatap Belinda dari ujung kaki sampai ujung kepala.


''Mama mana?'' tanya Belinds yang berusaha mengalihkan perhatiannya pada Arthur.


''Mama Dira menyerahkanmu padaku, Bel.'' Arthur lalu beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Belinda. Jujur saja, Arthur terpesona dengan kecantikan Belinda saat mengenakan kebaya. Belinda tampak begitu anggun dan elegan.


''Ya sudah, antar aku pulang,'' ketus Belinda.


''Kamu cantik mengenakan kebaya ini. Mau yang ini atau yang lain?''


''Aku sebenarnya ingin memakai gaun dengan ekor yang panjang bukan kebaya seperti ini.''


''Ini untuk akad, Bel. Untuk resepsi pernikahan nanti, kamu mau pakai gaun seperti apa terserah. Ini acara sakral dan hanya dihadiri keluarga inti saja. Aku menyukai yang ini tapi terserah kamu.''


''Ya sudahlah daripada pusing, ini juga tidak apa-apa.'' Kata Belinda dengan sedikit kesal padahal sebenarnya ia senang karena Arthur memujinya.

__ADS_1


Selesai fitting baju pengantin, Arthur mengajak Belinda ke rumahnya. Rupanya Arthur sudah menyiapkan makan malam romantis untuk Belinda.


''Aku mau pulang, kenapa malah ke rumahmu?''


''Sudah, jangan cerewet.'' Kata Arthur. Arthur lalu mengajak Belinda ke halaman belakang rumah. Belinda terkejut sekaligus bahagia mendapat kejutan dari Arthur malam itu.


''Wah, indah sekali. Ini semua untukku Kak?''


''Iya untukmu, memang untuk siapa lagi? Untuk gadis paling aneh, paling manja, paling menyebalkan dan paling bawel.''


''Aku pikir kamu tidak peduli padaku sejak kejadian kemarin?''


''Memang apa alasannya aku berbuat seperti itu? Kamu terlalu overthinking.'' Kata Arthur sambil menyentil kening Belinda. Arthur kemudian berlutut dengan satu kaki dihadapan Belinda. Arthur kemudian mengeluarkan sebuah cincin dari saku jasnya.


''Bel, aku tidak mau basa-basi. Apakah kamu mau menikah denganku dan menjadi istriku?''


''Jelas mau lah, Kak. Aku tidak mungkin menolaknya. Lagian kenapa pakai acara seperti ini?''


''Ya biar lebih resmi saja. Masa iya aku tidak melamarmu sama sekali.'' Kata Arthur. Arthur kemudian memasangkan cincin di jari manis Belinda, setelah itu Arthur mengecup punggung tangan Belinda. Arthur kemudian bangkit dan memeluk Belinda.


''Maafkan aku ya Kak. Aku sudah marah-marah tidak jelas.''


''Oke di maafkan. Maafkan aku juga ya. Aku mencintaimu, Bel.''


''Aku juga mencintaimu, Kak.''


''Baiklah, sekarang kita makan dulu. Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu.''


''Oke. Lalu setelah makan, kita ngapain?'' pikiran mesum Belinda muncul lagi.


''Memang kamu maunya apa? Seperti kemarin?'' goda Arthur.


''Mmmm demi kamu, aku mau.''


''Dasar! Oh ya kenapa kamu tidak bilang kalau bertemu dengan Erick dibelakangku? Kapan kamu bertemu dengannya dan apa yang ku lakukan dengannya?'' cerocos Arthur.


''Apaan sih Kak, random banget. Aku bertemu dengannya kemarin setelah aku pulang daru sini. Dia meneleponku dan kita mengobrol biasa. Dia juga mengaku kalau dia pembuat artikel itu. Tapi jangan bawa ke ranah hukum ya, Kak. Aku tahu maksudnya baik tapi caranya yang salah tanpa mencari bukti dulu. Erick adalah pria yang baik.''


''Hmmm masih bisa-bisanya kamu memuji pria lain dihadapanku.''


''Aku tidak memujinya tapi kenyataan, Kak. Ya sudahlah jangan bahas lagi. Tapi darimana Kakak tahu?''


''Dia tadi pagi ke kantor dan menceritakan semuanya padaku. Aku juga sudah memaafkannya.''


''Terima kasih ya, Kak. Kamu memang yang terbaik.''


''Bela saja terus.''


''Masa iya cemburu? Mau dikasih pakai nolak segala sih? Ketar-ketir kan kalau ada yang mau mendekati aku,'' goda Belinda dengan terkekeh.

__ADS_1


''Iyalah aku cemburu. Dia terang-terangan mengatakan kalau dia mencintaimu dihadapnku. Suami mana yang tidak khawatir, Bel.''


''Hehehe baguslah. Aku senang kamu cemburu.''


__ADS_2