My Perfect Husband

My Perfect Husband
Kontraksi


__ADS_3

Sehabis jalan pagi ditemani Afif, Naynay minta ditemani ke mall. Sudah lama dia tidak pergi ke sana, semenjak belanja keperluan bayi mereka dulu yang begitu heboh karena kehadiran oma-oma muda.


"Temenin makan ramen," rengek bumil itu ketika Afif menolak untuk pergi. Laki-laki itu sekarang dalam fase benar-benar siaga karena HPL semakin dekat. Ditambah lagi Naynay yang sudah sering mengalami yang namanya kontraksi.


Dan setelah Naynay mengeluarkan jurus imut mata berkaca-kaca, akhirnya Afif mau menuruti keinginannya. Tapi seperti biasa, mereka pergi dengan dua mobil lainnya yang berisi para bodyguard.


"Resiko punya suami terkenal," gumam Naynay ketika memasangkan masker dan topi pada suaminya yang hanya tersenyum itu. Mereka sudah berada di parkiran mall.


"Aku tidak mengenalkanmu ke publik karena tidak ada laki-laki lain yang boleh mengagumimu selain aku," balas Afif dengan gaya coolnya yang membuat Naynay mengangguk mengejek.


Mereka keluar dan segera menuju lantai di mana restoran yang ingin Naynay kunjungi. Sangat sepi, hanya ada pelayan di sana yang menyambut kedatangan mereka.


"Rugi ini restoran kalau sering Kakak nistain," ucap Naynay sambil melirik kesal ke arah Afif. Ini pasti ulah suaminya itu untuk mengosongkan restoran.


"Ya aku juga pengin makan, terpaksa harus pakai cara ini." Afif membuka masker dan topinya, senyum tanpa dosa dia berikan pada Naynay yang sudah merasa jengah.


Naynay segera menuju salah satu meja dan duduk di sana, di kursinya maksudnya. Matanya lebih tertarik untuk melihat jejeran menu di buku menu daripada menatap suaminya yang hobi berbuat sesuka hati.


Naynay memesan ramen yang biasa dia pesan, ditambah satu menu baru dan smootie mangga. Masing-masing dua porsi karena si bapak bayi menyerahkan semuanya pada Naynay.


"Kok Kakak gendutan, ya, sekarang?" Naynay menusuk-nusuk pipi Afif yang memang terlihat sedikit bulat.


"Ya gimana nggak gendut kalau kamu ajak makan terus?!" balas Afif sambil menciumi telapak tangan Naynay.


"Ihh, mana ada Nay ngajak Kakak makan mulu. Kakak yang suka comot dan makan apa yang Nay makan." Naynay meremas pelan bibir Afif dengan tangan yang tadi diciumi itu. Afif yang gendut, kok dia yang dituduh jadi penyebabnya.


"Kan kamu yang suka bikin ngiler, ya udah aku ikut makan," ujar Afif yang masih tak mau kalah. Naynay mengerucutkan bibirnya dan mencubit keras pipi Afif sampai si empunya meringis.


Kemudian pelayan datang dan menghidangkan makanan yang tadi mereka pesan. Mata Naynay berbinar menatap ramen itu, air liurnya seakan menetes.


"Selamat makan!!" ucap Naynay dan langsung menyeruput kuah ramen yang khas itu.


Afif tersenyum dan mengusap kepala Naynay sebelum ikut menyantap ramen di depannya. Nafsu makan Afif memang tergantung pada nafsu makan Naynay, apa pun yang Naynay makan, maka dia juga akan makan. Makanan yang awalnya tidak dia sukai, akan jadi makanan favorit jika Naynay suka memakannya.

__ADS_1


"Ada lagi yang ingin kau lakukan sehabis ini?" tanya Afif yang terlebih dahulu menghabiskan makanannya.


"Nggak, Kak."


Afif mengelap sudut bibir Naynay yang sedikit belepotan karena saus keju.


Akhirnya setelah ngidam Naynay itu terpenuhi, mereka langsung pulang. Namun di perjalanan, Naynay mengalami kontraksi. Tampaknya si dedek bayi sudah mendekati hari lahirnya.


"Nggak apa-apa, Kak. Udah nggak sakit lagi," ucap Naynay sambil mengusap tangan Afif yang panik saat mendengarnya meringis.


"Lebih baik kita ke rumah sakit saja," balas Afif sambil mengusap perut Naynay pelan. Dadanya berdebar cepat ketika melihat istrinya itu meringis tadi.


"Kita pulang aja, ya. Nanti kalau sakitnya udah agak lamaan, baru kita ke rumah sakit."


Akhirnya Afif setuju untuk pulang saja. Sesampainya di rumah, dia langsung menyuruh Naynay untuk istirahat. Baru saja Afif melangkah menuju ruang ganti, Naynay kembali meringis.


"Sakit banget," lirih Naynay sambil memegangi perutnya. Bagian pinggangnya terasa begitu nyeri dan sakitnya lebih lama dari yang biasanya. Air ketubannya sudah pecah, membasahi selimut yang tadi Naynay duduki.


Afif tidak ingin menunda lagi untuk membawa Naynay ke rumah sakit, dia menelepon Ryan yang selalu stand bye di kamar samping. Setelah itu dia mengambil kursi roda dan mendudukkan Naynay di sana. Dia tidak mau kalau Naynay tambah kesakitan kalau digendong.


Naynay mencengkram lengan Afif karena rasa sakit yang menyerangnya. Naynay meringis ketika sakitnya bertambah. Afif berusaha agar tidak panik, dia mengelus punggung Naynay dan membisikkan kata-kata yang menenangkan.


"Sebentar lagi kita sampai, kau kuat." Afif menciumi tangan Naynay yang beralih mencengkram telapak tangannya. Perih memang, tapi rasanya tak sebanding dengan sakit yang dirasakan sang istri.


Mobil berhenti dan Ryan segera turun untuk membukakan pintu. Afif segera mengangkat tubuh Naynay dan membaringkannya di atas brankar yang sudah disiapkan. Dokter Melisa langsung menginstruksikan pata suster untuk membawa Naynay ke ruang persalinan.


Sambil meringis menahan sakit, Naynay tidak melepaskan tangan Afif dari genggamannya. Hingga ketika dokter Melisa memeriksa pembukaan yang keberapa, Naynay memejamkan matanya.


"Pembukan tujuh. Jika ada dorongan untuk mengejan, jangan lakukan!" ujar dokter Melisa pada Naynay.


Afif tanpa sadar menangis sambil menciumi tangan Naynay. Ini yang paling dia takutkan, melihat Naynay kesakitan dan wajah pucat. Dia berdoa dalam hati agar istri dan anaknya baik-baik saja.


"Nay, berjanjilah kau akan melakukan ini dengan baik." Afif yang panik sudah berpikiran negatif. Melihat keringat yang sudah membasahi tubuh istrinya itu benar-benar membuatnya tidak bisa berpikiran positif.

__ADS_1


Naynay mengangguk lemah sambil berusaha tersenyum. Dia sangat tahu kalau Afif begitu takut melihatnya kesakitan begini, tapi ini adalah proses yang sebentar lagi menjadikannya seorang ibu. Matanya juga terasa berat, dia merasa mengantuk dan kesakitan dalam waktu bersamaan.


Selama lebih kurang 15 menit menahan sakit dan rasa mulas ingin mengejan, dokter Melisa menyatakan bahwa pembukaan sudah sempurna. Untungnya tidak memakan waktu lama untuk menunggu pembukaan sempurna, jika itu terjadi, maka Afif bisa gila.


"Dokter, dedeknya udah mau keluar," ujar Naynay lirih ketika merasakan kepala bayi mengganjal di bagian bawahnya. Dokter Melisa membimbing Naynay untuk mengejan sesuai intruksinya.


"Kepalanya sudah terlihat, sedikit lagi, Nona!" Dokter Melisa melakukan pengguntingan agar tidak terjadi robekan besar di area Perineum.


Naynay menarik napas panjang sebelum mengejan lagi, tangan Afif dia remas kuat. Hingga tangisan bayi menggema dan Naynay terdiam, begitupun dengan Afif. Air mata mengucur deras saat tangisan itu membuat mereka sadar kalau status sudah berubah menjadi orang tua.


"Bayinya laki-laki dan sehat serta sempurna. Selamat, Tuan Muda dan Nona Muda." Dokter Melisa memperlihatkan bayi yang merah itu pada Naynay dan Afif sebelum memberikannya pada suster.


Afif langsung menciumi wajah Naynay yang dibasahi keringat dan air mata itu. Sedangkan dokter Melisa menyuruh suster untuk membersihkan bayi itu terlebih dahulu. Dia sendiri sedang membersihkan sisa-sisa persalinan dan menjahit bagian bawah Naynay.


Tak lama kemudian, suster kembali dengan bayi merah montok yang dibalut selimut tebal. Suster itu dengan pelan meletakkan yang masih telanjang itu di atas dada Naynay. Skin to Skin lebih tepatnya.


Bibir Naynay bergetar saat melihat anaknya itu berusaha untuk mencari sumber makanannya. Tangan Naynay memegangi punggung dan kepala anaknya. Rambutnya lebat dan lengan bagian atasnya ditumbuhi bulu halus.


"Kok rasanya aneh, ya, Kak?" tanya Naynay pada Afif ketika bibir kecil bayi itu mengemut pelan pucuk dadanya.


"Nggak kayak biasa?" tanya Afif polos yang secara langsung menyatakan bahwa dia sering jadi bayi juga. Dan itu di hadapan dokter Melisa dan beberapa suster yang masih ada di sana.


Naynay mencubit pinggang Afif kesal, dia maluuuuu. Afif yang sadar dengan perkataannya tadi pun kembali pasang gaya cool. Dia meminta suster untuk membantunya melakukan Skin to Skin juga, sama seperti Naynay tadi. Sekaligus dia melakukan kewajibannya pada anaknya yang sudah bisa dipastikan begitu mirip dengannya dengan persentase 95%.


"Nona akan dipindahkan ke ruang rawat, nanti dedeknya akan diantar ke sana."


.


.


Aku masih perawan, koreksi jika cara persalinan di atas salah, ya. Tapi gunakan bahasa yang baik, okehhh!!


.

__ADS_1


.


__ADS_2