My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 251 Perjuangan Cinta


__ADS_3

''Kami serahkan keputusan pada Gea saja Tuan-Nyonya. Kami sebagai orang tua, melihat anak bahagia saja sudah cukup.'' Sambung Pak Hendi. Nyonya Dira kemudian mengeluarkan sebuah kotak berisi satu set perhiasan dari dalam tasnya.


''Gea, Tuan Hendi dan Nyonya Hana, saya membawa ini sebagai tanda untuk melamar putri anda secara resmi untuk putra kami, Brian. Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat kami pada anda.'' Ucap Nyonya Dira.


''Gea, aku butuh jawaban kamu.'' Sahut Brian. Gea merasa bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Gea takut.


''Om-Tante, terima kasih untuk ketulusan anda. Dan Brian, terima kasih untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku dan keluargaku. Tapi maaf, saya tidak bisa menerima ini. Masih banyak wanita di luar sana yang lebih pantas untuk Brian. Maafkan saya tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Om dan Tante. Maaf sekali.'' Ucap Gea dengan menahan segala air mata yang berusaha ia bendung. Takut sakit hati dan merasa tidak pantas berada ditengah-tengah keluarga Brian, itulah yang membuat Gea menolak. DEG! Betapa sesak dada Brian mendengar keputusan Gea. Matanya pun berkaca-kaca. Tuan Keenan dan Nyonya Dira saling bertukar pandang dan menghela nafas panjang setelah mendengar jawaban Gea.


''Brian, maafkan Papa dan Mama karena tidak bisa meyakinkan Gea.'' Ucap Nyonya Dira sambil mengusap pundak Brian. Brian tertunduk lesu.


''Gea, kamu ini....'' ucap Pak Hendi.


''Maaf Ayah-Ibu, Gea tidak bisa. Maaf semuanya.'' Gea tertunduk sedih. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya.


''Tuan-Nyonya, maafkan sikap Gea. Maafkan kami.'' Ucap Pak Hendi menahan malu.


''Tidak apa-apa Tuan. Kita tidak bisa memaksakan perasaan Gea. Ini sudah menjadi keputusan Gea jadi kami juga tidak bisa berbuat apa-apa.'' Jawab Tuan Keenan.


''Nak Brian, maafkan Ibu ya. Ibu sayang banget sama kamu. Dan berharap kamu bisa menjaga Gea.'' Ucap Bu Hana dengan mata yang telah basah. Bu Hana pun menyesali keputusan putri semata wayangnya.


''Brian, maafkan Ayah juga ya. Walau bagaimanapun, kamu sudah Ayah anggap sebagai anak sendiri. Jangan pernah lupakan kami. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kamu.'' Pak Hendi juga tidak bisa menahan rasa sedihnya. Mereka benar-benar tulus menyayangi Brian tanpa melihat siapa Brian yang sebenarnya.


''Sayang, percaya sama Mama. Jodoh tidak akan kemana. Kalian juga masih sangat muda. Mungkin Gea juga ingin mengejar karirnya dulu. Kalian sama-sama berproses dulu ya. Kalau memang jodohnya, kalian pasti akan dipertemukan kembali disaat kalian benar-benar sudah siap.''


''Iya Mah.'' Ucap Brian dengan berat hati. Nyonya Dira lalu memeluk putranya, berusaha menguatkan putranya.


''Ya sudah Brian, sebaiknya kamu juga berkemas ya. Papa dan Mama akan langsung pulang.''


''Iya Pah.''


''Tuan-Nyonya kalau begitu kami permisi. Terima kasih untuk semuanya.'' Kata Tuan Keenan yang berusaha tetap bijak menyikapi keadaan dihadapannya ini.

__ADS_1


''Sekali lagi maafkan kami, Tuan.'' Ucap Pak Hendi sambil mengatupkan kedua tangannya.


''Tidak perlu meminta maaf Tuan. Kita tidak bisa memaksa perasaan seseorang. Kami sangat mengerti perasaan Nona Gea.'' Jelas Tuan Keenan. Akhirnya kedua orang tua Brian terlebih dahulu. Setelah orang tuanya pergi, Brian bersiap untuk berkemas.


''Ayah tidak tega Bu sama Brian.''


''Ibu juga tidak tega. Padahal Ibu juga sudah menasihati Gea.''


''Putri kita sudah menyakiti hati banyak orang, Bu.''


''Memang keterlaluan sekali, Gea.''


Satu jam kemudian, setelah memantapkan hati untuk benar-benar menyerah dan pergi, Brian pergi ke kamar Gea yang terkunci rapat.


''Gea!" panggil Brian sambil mengetuk pintu kamar Gea. Namun Gea tidak menjawab.


''Gea, aku pergi ya. Aku pamit. Aku akan menunggumu sampai kamu siap Gea. Asal kamu tahu, sampai kapan pun, aku akan tetap mencintai kamu. Dan hanya kamu yang akan ada di dalam hatiku, sampai aku berhenti bernafas. Terima kasih untuk semuanya Gea. Terima kasih telah mengisi hari-hari ku selama beberapa bulan ini. Terima kasih telah mengajari ku banyak hal. Dan terima kasih untuk ketulusan yang kamu berikan sampai detik ini. Aku mencintaimu sampai kapan pun Ge. Aku mencintaimu.'' Apa yang Brian ucapkan semakin menusuk hati Gea. Didalam kamar, Gea hanya bisa menangis menahan semuanya. Saat Brian berbalik kedua orang tua Gea langsung memeluknya.


''Ayah dan Ibu tidak salah. Jadi Ayah dan Ibu tidak perlu meminta maaf. Maafkan aku Ayah-Ibu.''


''Tidak nak, kamu tidak salah apapun. Kami sangat menyayangimu.'' Ucap Bu Hana.


''Brian pamit ya Ayah-Ibu. Ayah dan Ibu sehat-sehat ya. Sering-sering memberi Brian kabar ya.''


''Iya, itu pasti. Kamu hati-hati ya. Jangan lupakan kami.''


''Tidak akan Ayah. Aku tidak akan melupakan Ayah dan Ibu. Brian pamit ya.'' Dengan berat hati, Brian melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Gea bahkan tanpa mendapat pelukan terakhir dari Gea.


''Gea, apa kamu tidak pernah mencintai ku? Apa kamu menerima ku karena dulu kamu hanya merasa kasihan padaku?'' gumam Brian dalam hati. Bulir air mata pun jatuh membasahi wajah Brian. Ia pergi dengan membawa air matanya. Selepas Brian benar-benar pergi, Gea keluar dari kamarnya. Ia berlari keluar dan Brian benar-benar pergi. Gea hanya bisa menangis sesenggukan melihat jalanan yang tampak lengang.


''Maafkan aku, Brian. Aku juga mencintaimu sampai hembusan nafas terakhirku.'' Gumam Gea dalam hati, merutuki penyesalannya.

__ADS_1


...****************...


Satu jam berlalu, Gea masih saja berdiri di dekat jendela ruang tamu sembari melamun. Berharap seseorang yang dicintainya kembali.


''Gea, hape kamu bunyi.'' Teriak Bu Hana dari dapur. Suara Bu Hana membuyarkan lamunan Gea.


''Iya Bu.'' Jawab Gea dengan suara lirih. Gea bergegas menuju kamarnya. Sebuah nomor tidak di kenal di layar ponselnya. Gea pun mengangkatnya, siapa tahu penting.


''Halo...''


''Gea, ini Tante Dira.'' Suara Nyonya Dira terdengar bergetar seperti orang menangis diseberang sana.


''Tan-tante Dira? Iya Tante ada apa?''


''Gea... Brian kecelakaan. Kamu bisa kan datang untuk menemuinya untuk terakhir kali. Tante mohon, Gea.''


DEG! Bagai disambad petir disiang bolong. Gea seketika syok mendengar kabar dari Nyonya Dira.


''Ap-apa Tante? Gea tidak salah dengar kan?''


''Tidak Gea. Kami berada dirumah sakit terdekat, di daerah kamu.''


''Iya Tante. Gea akan datang.'' Ucap Gea terbata. Nyonya Dira mengakhiri panggilannya begitu saja. Tangis histeria Gea pun pecah sampai membuat kedua orang tuanya menyusul ke kamar.


''Gea, ada apa?'' tanya Pak Hendi.


''Ayah, Brian. Brian kecelakaan.'' Ucap Gea dengan raungan tangisnya.


''Ya Allah, Brian!" Bu Hana pun ikut histeris.


''Gea mau ke rumah sakit.'' Gea menyambar kunci motor dan jaketnya lalu bergegas pergi. Tidak peduli berapa lama jarak yang harus ia tempuh untuk menemui Brian disana. Kini hanya tersisa penyesalan di dalam hati Gea. Dengan deraian air mata, Gea menerebos jalanan untuk bertemu dengan Brian. Hanya Brian yang kini ada dalam pikirannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2