My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 142 Akhir Cerita Cinta


__ADS_3

Sheena dan Arsen sedang dalam perjalanan menuju rumah, setelah dua hari menginap dirumah Nyoya Dira.


“Oh ya nanti setelah mengantarmu, aku ke kantor ya.”


“Iya, Arsen.” Jawab Sheena. Namun tiba-tiba ponsel Sheena berdering. Sheena cukup terkejut melihat nama Olivia dilayar ponselnya.


“Siapa Sheena? Kenapa tidak mengangkatnya?” tanya Arsen.


“Umm ini dari Nona Olivia.”


“Siapa dia?”


“Itu istrinya Fandi.”


“Apa dia marah denganmu?”


“Entahlah. Aku boleh menerima teleponnya?”


“Ya sudah angkat saja daripada dia salah paham.”


“Baiklah, aku akan menerimanya.” Ucap Sheena.


Sheena : Halo Nona Olivia.


Olivia  : Halo juga Sheena. Bagaimana kabarmu?”


Sheena : Aku baik, Nona sendiri?”


Olivia   : Jangan panggil Nona. Panggil nama saja ya supaya kita semakin akrab. Lagipula kamu bukanlah Sheena yang dulu.


Sheena  : Iya baiklah Nona. Kalau boleh tahu ada apa Nona menelepon?


Olivia : Aku ingin bertemu denganmu, Sheena. Sudah lama sekali kita tidak bertemu dan mengobrol. Apa kamu ada waktu hari ini?


Sheena  : Oh begitu, iya aku ada waktu. Mau bertemu dimana dan kapan?


Olivia  : Satu jam lagi aku tunggu di caffe X ya.


Sheena : Iya Olivia, aku akan datang.


Olivia  : Baiklah Sheena, sampai ketemu nanti.

__ADS_1


Sheena  : Iya Olivia.


“Arsen, dia menungguku satu jam lagi di café X, apa aku boleh menemuinya? Aku khawatir kalau Nona Olivia salah paham.”


“Ya sudah kamu temui saja dia. Aku akan mengantarmu dan menunggumu.”


“Tapi kan kamu harus ke kantor.”


“Aku khawatir kalau dia bertindak bodoh dan menyakitimu. Aku akan mengijinkanmu tapi aku harus bersamamu. Aku akan menunggu di mobil.”


“Baiklah kalau begitu.” Sheena hanya bisa pasrah dengan perintah suaminya.


Arsen kemudian memutar arah menuju café. Mereka berdua menunggu di dalam mobil sampai Olivia datang. Dua puluh menit setelah menunggu, akhirnya Olivia datang juga.


“Arsen, itu Olivia sudah datang. Aku masuk dulu ya.”


“Iya. Aku akan menunggumu disini.”


Sheena kemudian segera keluar dari mobil, lalu ia masuk ke dalam café.


“Hai Olivia,” sapa Sheena.


“Senang sekali bisa bertemu kembali denganmu, Sheena.” Ucap Olivia.


“Aku juga senang sekali bisa bertemu kembali denganmu, Olivia.”


“Baiklah silahkan duduk. Aku sudah memesan dua minuman untuk kita.”


“Terima kasih Olivia.”


“Sama-sama Sheena. Sudahlah tidak perlu kaku begitu. Sekarang kita akan menjadi teman.”


“Sebenarnya aku merasa tidak enak memanggil Olivia saja.”


“Sheena, kamu masih sama dan tidak berubah ya meskipun sekarang kamu adalah putri dari seorang yang liar biasa.”


“Tidak ada yang berubah dari diriku Olivia. Bagiku miskin dan kaya itu sama saja.”


“Pantas saja Fandi begitu mencintaimu karena kamu memang sangat spesial untuknya.”


“Oh ya kamu ada perlu apa?” tanya Sheena.

__ADS_1


“Oh ya sebelumnya maaf atas kelancanganku ini Sheena. Apa benar kamu akan menikah dengan Tuan Arsen? Apa kamu benar-benar sudah melupakan Fandi?”


“Olivia, Fandi sudah bahagia denganmu jadi kita tidak perlu membahas ini. Aku pun sudah mengikhlaskan kamu bersama Fandi.”


“Maafkan aku Sheena kalau pertanyaan ku sangat sensitive. Tapi sampai detik ini Fandi belum pernah menyentuhku sebagai seorang istri. Sekalipun dia amnesia, dia masih mengharapkanmu, Sheena. Apa kamu mencintai Tuan Arsen? Atau itu sebagai pelampiasanmu saja? Aku akan membantumu bersama Fandi kembali, Sheena. Jadi jujurlah saja padaku. Aku sungguh ikhlas kalian bersama. Apalagi kamu ternyata berasal dari keluarga berada pasti Mama Citra akan merestui hubungan kalian.”


Sheena menghela nafas panjang. “Olivia, kenapa kamu tidak memperjuangkan cintamu saja? Kenapa kamu malah melakukan ini?”


“Karena aku ingin melihat Fandi bahagia, Sheena. Bagiku kebahagiaan Fandi adalah segalanya.”


“Olivia, disaat aku terpuruk ada dia yang tiba-tiba hadir dalam hidupku. Dengan segala sikapnya yang menyebalkan itu, dia akhirnya mampu membuatku jatuh cinta. Dia teman masa kecilku, lebih tepatnya musuh juga. Tapi takdir itu memang unik, kami dipertmukan kembali. Dan hanya keluarganya yang mau menerimaku dengan tulus sejak dulu. Aku bahkan sudah mengenal keluarganya sejak aku masih kecil. Aku dan dia dulu teman satu SD. Kalaupun kamu memintaku kembali dengan Fandi, tentu saja aku tidak bisa Olivia. Ada banyak hati yang harus aku jaga. Mereka semua memberiku kasih sayang yang tidak pernah aku dapat dari keluargaku tanpa melihat status sosialku, Olivia. Sebenarnya kami pun sudah terlebih dahulu menikah secara agama dan acara nanti adalah acara resmi kami. Awalnya kami saling benci dan tidak ada cinta dihati kami. Tapi lambat laun, aku menemukan sisi lain darinya begitu juga denganku. Ketulusannya mampu membuatku melupakan Fandi secara perlahan meskipun tak dipungkiri sangat sulit menghapus namanya dari hatiku. Dan dia pula yang mempertemukan aku dengan orang tua kandungku, Olivia. Aku hanya bisa berpesan, berbahagialah dengan Fandi. Aku tidak mungkin menghianati suamiku jadi pernikahan ini bukan lah sebuah pelampiasan. Katakan pada Fandi kalau semuanya sudah berakhir, sekalipun ingatannya pulih katakan saja kalau aku sudah melupakannya dan aku sudah bahagia dengan kehidupan baruku. Semoga kalian selalu bahagia ya, sampaikan maafku pada Fandi. Berbahagialah kalian berdua dan jangan lupa hadiri pesta pernikahan kami. Permisi Olivia.” Jelas Sheena panjang lebar tanpa banyak basa-basi. Sheena lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan café. Olivia hanya bisa tertegun mendengar semua yang diucapkan oleh Sheena. Tak terasa air matanya telah jatuh membasahi pipinya.


“Fan, kamu sudah mendengarnya bukan?” tanya Olivia lewat sambungan telepon. Jadi sebelum Olivia masuk kedalam café, Olivia menyambungkan teleponnya dengan Fandi. Fandi ingin mendengar langsung apa yang Sheena katakan.


“Iya, Liv. Aku sudah mendengar semuanya.” Fandi lalu mengkhiri panggilannya. Fandi melihat Sheena keluar dari café. Ia kemudian turun dari mobilnya dan mengejar Sheena. Dari dalam mobil Arsen melihat Fandi mengejar kearah Sheena, ia kemudian segera turun dari mobil.


“Sheena!” teriak Fandi.


“Fandi,” gumam Sheena saat melihat Fandi berlari kearahnya. Disaat yang bersamaan, Arsen juga berteriak memanggil nama Sheena.


“Sheena, ayo!” teriak Arsen. Fandi lalu menoleh kearah Arsen, mereka berdua saling melempar pandangan. Sheena heran bagaimana bisa dua pria itu muncul bersamaan. Dua pria masa lalu dan masa depannya.


“Jangan bimbang Sheena,” gumam Sheena dalam hati. Sheena kemudian berjalan kearah Fandi. Sekalipun ia belum mengingat Sheena, ada rasa bahagia kala Sheena mendekat kearahnya. Sedangkan Arsen merasa sesak dan kecewa ketika kaki Sheena melangkah kearah Fandi. Kini Sheena dan Fandi sudah berdiri saling berhadapan.


“Sheena, seharusnya kamu bilang dari awal kalau kita adalah sepasang kekasih. Seharusnya kamu membantuku untuk mengingat masa laluku. Bukan malah kamu menjauhi ku, Sheen. Aku memang belum mengingat tentang kita tapi hati ini tetap tidak bisa di bohongi.” Ucap Fandi dengan tatapan sendunya.


“Fandi, benteng yang menghalangi hubungan kita terlalu tinggi. Hubungan yang berjalan tanpa restu pada akhirnya tidak akan membawa keberkahan. Olivia sangat mencintaimu. Dia begitu tulus padamu. Lihat dia dengan hati, Fan. Dia memiliki cinta yang lebih besar dari aku. Entah kamu akan ingat atau tidak, yang jelas Olivia adalah wanita yang sangat baik. Sekali lagi aku ingin mengakhiri semuanya sampai disini, Fan. Kamu sudah memiliki seorang istri, begitu pula dengan ku yang sudah mempunyai suami. Lebih baik kita jalani kehidupan kita masing-masing.” Jelas Sheena. Seketika air mata yang sedari tadi menggenang di pelukuk mata Fandi akhirnya tumpah juga.


“Sheena, kenapa rasanya sakit sekali mendengar ucapanmu ini? Aku seperti pernah merasakan hal ini sebelumnya. Apa kamu sungguh mencintainya?”


“Iya, aku mencintainya.” Dan air mata Sheena pun akhirnya lolos juga. Melihat itu Arsen merasakan sakit. Bahkan lebih ssakit saat ia dihianati oleh Flora.


“Apa kamu tidak mau membantuku mengingat lagi?”


“Maafkan aku, Fan. Sudah bukan tugasku untuk membantumu. Semoga kamu bahagia ya.” Sheena kemudian berlalu dari hadapan Fandi.


“Kamu jahat Sheena! Kamu tega mempermainkan aku? Bahkan disaat aku lemah pun kamu tega melakukannya padaku. Aku hanya ingin kamu membantuku untuk mengingatmu saja.” Fandi pun meracau namun Sheena terus melanjutkan langkahnya menghampiri pria yang sedari tadi menatapnya penuh kecemasan dari kejauhan.


“Ayo Arsen!” ucap Sheena seraya menggenggam erat tangan Arsen. Senyum Arsen mengembang karena Sheena akhirnya kembali kepadanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2