
Semua masakan Brian sudah tertata rapi di meja makan. Aromanya menyeruak ke seluruh ruangan. Membuat siapapun yang melihat dan mencium aromanya langsung merasa lapar.
''Wah, nak Brian ternyata kamu pintar masak ya. Ini masakan apa?''
''Ini gurami asam manis, Bu. Dan ini tumis kangkung biasa. Daripada hanga dijadikan lalapan, sayang banget kan.''
''Ya ampun kamu ini ya, sudah ganteng, pinter masak lagi.'' Kata Bu Hana yang begitu bangga memiliki calon seperti Brian.
''Kamu seharusnya tidak usah repot-repot begini.'' Sahut Gea.
''Tidak apa-apa Ge. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk kamu.''
''Assalamualaikum!" seru suara seorang pria.
''Waalaikumsalam," jawab Gea dan Bu Hana secara bersamaan.
''Ayah!" seru Gea menghambur ke pelukan Ayahnya.
''Gea, anakku!" seru Pak Hendi.
''Maaf ya Yah, baru bisa pulang.''
''Tidak apa-apa. Kamu kan kerja. Kangen sekali Ayah sama kamu.''
''Gea juga Yah.''
''Kalau seperti ini, Gea tampak imut dan manja. Sikap garangnya seketika hilang.'' Gumam Brian dalam hati. Pandangan Pak Hendi lalu tertuju pada sosok pria berkacamata, Brian.
''Siapa dia, Gea?'' tanya Pak Hendi. Gea menghampiri Brian, menarik lengannya untuk menghadap Ayahnya.
''Ini Brian, Ayah. Mmmm dia pacar Gea.'' Ucap Gea malu-malu.
''Pacar?'' Pak Hendi mengerutkan keningnya.
''Saya Brian, Om. Saya menyukai Gea, putri Om.'' Ucap Brian dengan se-formal mungkin. Brian bahkan dengan berani mengungkapkan perasaannya pada Ayah Gea. Pak Hendi tidak menjawab karena ia masih bingung dengan putrinya yang tiba-tiba membawa pulang seorang pria.
''Lebih baik kita makan saja dulu, Yah. Lanjut ngobrolnya nanti, keburu makanannya dingin.'' Sela Bu Hana.
''Ya-ya karena Ayah sudah lapar.''
''Ini masakan nak Brian lho, Yah.'' Pamer Bu Hana.
''Hmmm seorang pria bisa memasak?'' Pak Hendi dibuat terkejut.
''Hanya masak ala kadarnya saja, Om. Tadi tangan Ibu terluka karena pisau jadi saya menggantikannya.'' Jelas Brian.
''Iya Ayah. Padahal tadi begitu sampai sini nak Brian mabuk darat. Eh tapi masih mau bantu Ibu.'' Kata Bu Hana yang mengunggulkan Brian.
''Ayo Yah, makan dulu.'' Sahut Gea. Kini mereka berempat duduk di meja makan.
''Hmmmmm ini lezat sekali. Baru kali ini Ibu makan ini. Seperti di restoran-restoran.'' Kata Bu Hana dengan begitu antusias.
''Enak lho Brian. Aku saja tidak bisa memasak seperti ini.'' Ucap Gea.
__ADS_1
''Terima kasih.'' Singkat Brian.
''Memang enak tapi Ayah lebih suka ikannya di goreng seperti biasa, sama sambal lalapan.'' Kata Pak Hendi. Ucapan Pak Hendi, membuat keceriaan Gea, Bu Hana dan juga Brian seketika hilang. Suasana makan siang berubah tegang. Bahkan berakhir dengan tegang pula. Pak Hendi langsung menuju halaman belakang rumah, duduk diatas bangku rotan untuk beristirahat sejenak sebelum kembali lagi ke sawah.
''Ayah,''
''Hmmmm, ada apa Gea?'' tanya Pak Hendi. Gea lalu duduk disamping Ayahnya.
''Ayah kok gitu sih sama Brian. Dia sudah baik lho bantuin Ibu.''
''Kamu yakin sama dia?''
''Yakin kok, Yah. Dia sangat baik.''
''Banyak orang baik tapi cuma pura-pura saja.''
''Tapi Brian tidak seperti itu Ayah.''
''Kamu sudah tahu latar belakang keluarganya?''
''Belum sih, Yah. Setelah ini Brian akan mengenalkan aku dengan orang tuanya.''
''Bagaimana kalau orang tuanya tidak setuju denganmu? Kita ini hanya orang kampung dan orang biasa begini.''
''Dia juga sama kayak kita kok, Yah. Dia teman kerja satu kantor ku, Yah. Dia juga anak perantauan. Dia bisa kuliah pun dapat beasiswa.''
''Apa yang membuat kamu yakin dengan dia?''
''Dia mau memperjuangkan Gea, Ayah. Dia sangat sopan, bukan seperti pria pada umumnya. Dia sangat menjaga Gea. Gea paham kekhawatiran Ayah.''
''Tapi Ayah jangan galak-galak ya. Kasihan dia, Yah.''
''Sudah, kamu jangan membelanya. Biarkan kami bicara sebagai seorang pria.''
''Iya-iya. Ayah ini.'' Gea dengan sedikit kesal meninggalkan Ayahnya untuk memanggil Brian. Ternyata Brian sedang di dapur membantu Bu Hana mencuci piring. Keduanya tampak akrab dan saling bersenda gurau.
''Sepertinya Ibu sudah klop banget sama Brian. Mereka sama-sama ceria jadi sefrekuensi. Semoga Ayah menyukai Brian.'' Gumam Gea dalam hati.
''Brian!" panggil Gea.
''Eh, ada apa Ge?''
''Dipanggil Ayah tuh.'' Ucap Gea. Brian menatap Bu Hana, Bu Hana mengangguk dengan senyuman. Supaya Brian tidak ragu menghadapi Pak Hendi.
''Ternyata begini rasanya minta restu sama orang tua wanita yang kita cintai.'' Gumam Brian dalam hati. Brian mengumpulkan segala keberaniannya untuk menemui Ayah Gea.
''Om,''
''Duduk Brian.'' Pinta Pak Hendi. Brian lalu duduk disamping Ayah Gea.
''Kamu serius dengan Gea?''
''Sangat serius, Om.''
''Apa yang membuatmu mencintai putriku?''
__ADS_1
''Baru kali ini saya tidak menemukan bahkan tidak butuh alasan untuk mencintai Gea. Yang saya tahu, saya hanya mencintai Gea.''
''Kalau kamu memang serius, jangan pernah sakiti Gea. Dia sangat berharga bagi kami, orang tuanya.''
''Saya tidak akan melakukan itu, Om.''
''Sebenarnya sebagai seorang Ayah, tentu saja aku memiliki kekhawatiran. Karena Gea mempunyai trauma.''
''Gea sudah menceritakan semuanya pada saya, Om. Saat kami masih menjadi teman. Dia gadis yang jujur dan apa adanya.''
''Syukurlah kalau Gea sudah pernah cerita. Usia kalian muda, carilah masa depan dulu. Kamu tahu, Gea ini hanya gadis desa biasa.''
''Saya mengerti, Om. Yang jelas saya ikut datang kemari ingin menemui Om dan Ibu untuk meminta restu. Saya juga akan menabung untuk masa depan kami nanti. Saya jaminkan Gea tidak akan pernah kekurangan apapun.''
''Aku suka semangatmu anak muda. Jadi jaga Gea ya. Jaga dia disana dan jangan seenaknya menyentuh putriku.''
''Pasti Om. Saya akan menjaga dan melindungi kehormatannya.''
''Baiklah kalau kamu serius dengan Gea, ikut aku ke sawah.''
''Hah? Sawah? Un-untuk apa Om?'' Brian terpengarah dengan permintaan Pak Hendi.
''Ya untuk membajak sawah. Supaya kamu tahu pekerjaan orang tua Gea bagaimana.'' Ucap Pak Hendi sambil merangkul bahu Brian.
''Aduh, mati! Aku mana pernah ke sawah. Hmmmm bagaimana ini? Membayangkan saja tidak pernah.'' Gumam Brian dalam hati.
''Ya sudah, ayo kita berangkat! Tapi ganti pakaianmu dulu. Pakai celana pendek dan kaos saja.''
''I-iya Om.''
''Jangan panggil Om. Panggil Ayah saja. Aneh rasanya orang kampung di panggil Om.''
''Iya Om, eh Ayah. Saya ganti baju dulu.'' Brian kemudian masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan Gea. Gea menyusul Brian masuk ke kamar.
''Eh kamu mau apa Gea? Nanti kalau Ayah dan Ibu tahu bagaimana?'' Brian yang heran, Gea masuk ke kamar.
''Ih ge-er, siapa juga yang mau ngapa-ngapain. Aku cuma mau tanya, bagaimana Ayah?''
''Lampu hijau kok. Aku bisa meyakinkan Ayahmu.''
''Oh syukurlah.'' Ucap Gea mengelus dadanya.
''Ya sudah, aku mau ganti baju.''
''Kamu mau kemana?''
''Ayah mengajakku ke sawah.''
''Hah? Ke sawah?''
''Iya Gea. Sudah keluar sana.''
''Tapi kamu bisa apa?''
''Ya, aku kan juga dari desa. Pasti bisalah, hehehe.''
__ADS_1
''Oh ya sudah, semangat ya.'' Kata Gea seraya menepuk pundak Brian. Brian hanya mengangguk dengan senyum lebarnya. Senyum kepalsuan (hahahaha).