
Naynay dan Araa sedang tiduran di tempat bersantai di halaman belakang. Ditemani dengan macaron dan susu bayi, mereka menikmati langit yang mulai beranjak sore itu. Sebenarnya hanya Naynay saja yang menikmati langit indah, bayi lima bulan yang super pintar itu sudah tertidur dengan botol susu masih dipegangnya.
Melihat wajah Araa yang imut ketika tidur, Naynay memotretnya. Kadang bibir bayi itu bergerak-gerak seperti sedang menyusu. Tak cukup hanya memotret, Naynay beralih ke mode video.
"Nay!"
Mendengar namanya dipanggil, Naynay menoleh dan melihat Yasmin sedang berjalan mendekat. Dia meletakkan hpnya di samping bantal.
"Dia tidur, padahal mau Mama ajak main." Yasmin duduk di samping Araa tidur.
"Tadi siang ditinggal, padahal dia main terus lho, Ma. Ini baru aja tidur," ucap Naynay mengambil botol susu yang masih dipegang Araa.
"Itu karena kamu juga, Nay." Yasmin memperbaiki duduknya menjadi bersila.
Alis Naynay menukik bingung. "Kenapa karena Nay?"
"Kamu uwu-uwu di dalam kamar sampe nggak sarapan. Karena denger desahan kamu, Mama jadi pengen juga." Menjelaskan dengan wajah santainya, Yasmin mengeluarkan nada songongnya.
Mulut Naynay menganga dan secepat mungkin dia tutup dengan tangan kanannya. "Itu nggak seperti yang Mama pikirin!" ujarnya.
"Ya kalau pun kalian memang lakuin itu, nggak masalah juga kok. Kan udah halal, bagian manapun bisa dijajal!" balas Yasmin sambil menaik-turunkan alisnya.
"Ihhh, Mama!! Nay nggak lakuin itu pagi tadi!" rengek Naynay kesal dengan wajah merona.
Yasmin mengedikkan bahunya acuh. "Desahan kamu masih terngiang-ngiang di telinga Mama."
Ya ampun, Naynay benar-benar mati kutu. Dia sendiri malu mendengar suara aneh yang meluncur dari bibirnya ketika Afif memberinya sentuhan nakal. Apakah suaranya sekeras itu sampai Yasmin bisa mendengarnya? Aaaaa... Naynay maluuuu.
"Jangan dibahas lagii!" ucap Naynay dengan bibir mengerucut. Kan beneran nggak ada adegan tusuk-tusuk tadi.
"Iya-iya. Mama mau tanya, kamu beneran mau adopsi Araa?" tanya Yasmin mulai serius.
"Iya, udah sayang banget sama dia. Tapi Nay minta tolong buat Mama dulu yang rawat dia, tunggu sampe anak Nay lahir dan udah bisa bagi waktu." Naynay mengelus perutnya.
"Mama sih oke-oke aja, toh kita juga punya niat buat jadiin Araa adik kamu."
"Nggak usah, Araa jadi anak Naynay aja." menggoyangkan kedua tangannya tidak setuju jika Araa menjadi adiknya.
"Lalu, semua berkasnya udah diurus?" tanya Yasmin lagi.
"Kak Afif yang bakal urus langsung besok, Ma."
"Kayaknya dia exited banget sama Araa, ya?" Yasmin menepuk-nepuk pantat Araa ketika bayi itu menggeliat.
Naynay mengangguk. "Iya, sekarang aja udah manggil dirinya ayah kalau lagi main sama Araa."
"Umur kalian itu masih muda lho, Nay. Adopsi anak walaupun kalian sudah nikah, pasti ada aja susahnya. Butuh kesiapan mental juga."
__ADS_1
Naynay mengangguk kecil. "Nay tahu, tapi..."
"Mama paham kok, kamu udah sayang banget sama Araa. Gimana kalau Araa sama kami itu satu tahun, dan kalau kamu udah bisa bagi waktu sama bayi itu nanti, kamu bisa bawa dia." Yasmin mengusap rambut putrinya itu.
'Bawa ke mana? Setelah anak Nay lahir, Nay bakal kembali ke sini lagi kok.'
"Nay setuju," ucap bumil itu menganggukkan kepala dengan senyum manisnya.
"Kalau gitu, Araa udah bisa tinggal di sini kan?" tanya Yasmin semangat.
"Bisa aja sih, Ma."
*****
"Nay." Afif masuk ke kamar sambil memanggil istrinya,tapi tidak ada sahutan.
Afif menutup pintu dan berjalan menuju tempat tidur. Di sana, istrinya tidur dengan hp yang masih menyala. Mengambil hp itu, Afif terkejut melihat video yang ditonton istrinya. Video tentang proses melahirkan terpampang di layar.
Afif duduk di atas tempat tidur dan memutar ulang video tersebut. Dahinya berkerut dan bibirnya sedikit bergetar melihatnya. Afif mematikan dan melemparkan hp Naynay ke kepala ranjang. Diusapnya wajahnya. Dia memang sudah sering mendengar tentang proses melahirkan, tapi melihat videonya belum pernah. Ada rasa takut yang tiba-tiba menyerangnya setelah melihat video itu.
Afif kemudian pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakainnya. Tadi siang dia dijemput oleh Ryan untuk mengurus suatu hal. Niat menggoda Naynay juga tidak jadi dia realisasikan. Setelah mengganti pakaian dengan piyama, dia keluar dan mendapati tempat tidur kosong. Sedetik kemudian, istrinya keluar dari kamar mandi.
"Kakak udah pulang ternyata. Maaf, ya, Nay nggak nyiapin piyamanya tadi."
"Aku bisa sendiri. Ayo tidur!" Menarik tangan istrinya menuju tempat tidur.
"Di sini nggak ada baju tidur yang Kakak suka itu," ucap Naynay sambil tersenyum kesal. Dia tidak akan mau membeli baju tidur menjengkelkan untuk di simpan di rumah ini.
"Aku membelikan satu lagi untukmu." Afif tersenyum lebar sambil menunjuk paper bag di atas nakas. Dia meletakkannya tadi sebelum menonton video di hp istrinya.
Mata Naynay mengikuti arah telunjuk suaminya. Dia meraih paper bag itu dan terbelalak melihat baju menjengkelkan berwarna navy di dalamnya.
"Pakai sana!" Titah mutlak yang bernada songong khas sudah keluar dari bibir sexy Afif.
Dengan menghentak-hentakkan kakinya, Naynay pergi ke ruang ganti. Secepat kilat dia mengganti piyamanya dengan baju yang sering disebut baju haram tersebut. Naynay melihat pantulan penampilannya di kaca besar di sana. Dadanya yang sekarang tambah besar hampir terlihat setengahnya. Perutnya yang buncit juga terlihat di balik baju tipis itu.
Naynay meraih paper bag tadi dan hendak menyimpannya. Karena tidak memperhatikan bagian mana yang dia pegang, ada beberapa kertas yang jatuh ke lantai.
"Apa nih?" Naynay memungut kertas-kertas itu.
Baru membaca bagian atas dari kertas itu saja Naynay sudah terbelalak. Dia menutup mulutnya yang menganga. Itu adalah berkas pengadopsian Araa.
'Jadi dia pergi untuk mengurus ini?'
Naynay berjalan cepat keluar dari ruang ganti dan menghampiri Afif yang sedang memainkan hpnya di atas tempat tidur. Dipeluknya tubuh kekar yang sekarang sudah telanjang dada itu dengan erat.
"Makasih," ucap bumil itu dengan suara serak karena menangis senang. Akhirnya Araa sudah diakui secara hukum menjadi anaknya.
__ADS_1
"Kau senang?" Tersenyum sambil melingkarkan tangannya di pinganggang Naynay.
Naynay membalas dengan anggukan. Air matanya sudah membasahi bahu lebar Afif yang terbuka.
"Sudah, aku tidak mau matamu jadi bengkak karena menangis." Afif menjauhkan tubuhnya dan menghapus air mata istrinya.
"Kakak bohong, semalam bilang kalau ngurus adopsinya Araa besok." Memukul pelan bahu suaminya.
"Sudah, ayo tidur." Afif menarik tubuh Naynay hingga berbaring di ranjang. Tidak berniat membalas omelan istrinya.
"Nay ada sesuatu buat Kakak." Tersenyum lebar.
"Apa?"
Tanpa aba-aba, Naynay mencium bibir Afif dan memberikan gigitan sekilas sebelum dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
Afif menyentuh bibirnya yang sekarang melengkung membentuk senyuman tampan. Dia tertawa dan menciumi pucuk kepala istrinya yang sedang malu.
"Lagi, Nay!" Nahh, ketagihan..
.
.
.
.
.
500 like, aku lanjut
Komen di bawah, yang mana yang lebih cocok dijadiin Naynay!!!
.
.
.
.
__ADS_1
.