My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 196 Demi Cinta


__ADS_3

Sesampainya di restoran, Arsen segera memesan makanan untuk Sheena. Namun dari jauh, sepasang mata tengah mengawasi Arsen dan juga Sheena.


''Sayang, suapi aku sphagettinya dong.'' Pinta Sheena dengan manja.


''Astaga, kamu ini manja juga ternyata.''


''Baby nya yang manja, sayang.'' Ucap Sheena sambil mengelus perutnya.


''Bukan baby nya, ya memang kamu saja.'' Ucap Arsen terkekeh. Arsen kemudian menyuapi Sheena makan.


''Hmmmm enak.'' Ucap Sheena begitu suapan pertama masuk ke dalam mulutnya. Arsen tersenyum, ia sangat senang melihat Sheena makan begitu lahapnya.


''Aku gantian suapin kamu ya.'' Sambung Sheena.


''Dengan senang hati, istriku.'' Dan mereka pun saling menyuapi satu sama lain sembari saling bergurau. Setelah puas makan dan merasa kenyang, Sheena lalu mengajak Arsen pergi.


''Sayang, aku kenyang sekali. Kita pergi yuk, jalan-jalan di taman.''


''Sudah, tidak mau tambah lagi? Kamu satu loyang pizza dan dua porsi spagetti habis dimakan sendiri lho.'' Kata Arsen dengan penuh rasa heran.


''Habis yang makan itu tiga sayang, bukan cuma aku saja.'' Jawab Sheena terkekeh.


''Dasar kamu! Ya sudah ayo!" Arsen beranjak dari duduknya, lalu menggandeng Sheena dan mengajaknya pergi.


Sepasang mata itu pun mengikuti arah kemana Sheena pergi dan sepasang mata itu adalah milik Fandi. Meskipun ingatannya belum pulih tapi perasaan Fandi pada Sheena tidak bisa di bohongi.


''Sheena, kamu sedang hamil rupanya? Aku ikut bahagia mendengarnya.'' Batin Fandi saat melihat Sheena mengelus perutnya dan mendengar ucapan Sheena tadi. Fandi lalu memutuskan untuk mengikuti Sheena dan Arsen pergi. Arsen dan Sheena kemudian pergi menuju alun-alun kota. Disepanjang jalan banyak sekali jajanan dan juga para pedagang kaki lima.


''Wah, sayang, aku ingin makan siomay.'' Celetuk Arsen.


''Tidak takut kelebihan kalori?'' tanya Sheena.


''Sepertinya tidak lagi. Kamu mau apa?''


''Nanti saja. Kita turun saja dulu.''


''Oke. Aku cari tempat parkir dulu ya.'' Kata Arsen.


''Iya sayang.'' Ucap Sheena. Setelah memarkir motornya, Arsen menggandeng tangan Sheena, mengajaknya untuk membeli jajanan. Arsen seperti seorang bocah yang begitu ingin menikmati aneka jajajan disana.


''Sayang, aku mau batagor.'' Ucap Sheena.

__ADS_1


''Ya sudah, ayo kita beli. Sekalian aku mau juga nyobain batagor bagaimana rasanya.'' Kata Arsen. Dan mereka berdua menikmati jajanan pinggir jalan itu tanpa Arsen harus ribut dengan segala macam polusi.


''Sayang, ponselku ketinggalan di mobil. Aku tadi lupa belum membalas pesan dari Mama. Nanti Mama khawatir lagi.'' Kata Sheena.


''Aku ambilkan ya?''


''Eh jangan, biar aku saja. Kamu sedang makan. Lagian menyebrangnya kan dekat.''


''Tapi kan banyak kendaraan lalu lalang, sayang.'' Kata Arsen.


''Sayang, aku ini Sheena yang kuat. Bukan wanita lemah jadi tenang saja. Kamu lanjutkan saja makannya, sekalian pesankan aku es dawet gula merah ya.''


''Oke baiklah. Hati-hati ya sayang.''


''Iya suamiku.'' Sheena kemudian beranjak dari duduknya dan menyeberang jalan menuju tempat parkir mobilnya. Setelah mendapatkan ponselnya, Sheena kemudian kembali menyusul Arsen. Namun saat hendak menyeberang, BRUG! Sebuah kecelakaan tak terhindarkan.


Mendengar suara tabrakan, Arsen melonjak kaget. Matanya berkaca-kaca. Ia beranjak dari duduknya dan menyusul ke arah jalanan.


''Sheena,'' gumamnya dalam hati. Namun saat Arsen menyibak kerumunan, Arsen melihat Fandi yang terlentang dijalanan. Dengan posisi, ia memeluk tubuh Sheena. Ya, Fandi berusaha melindungi Sheena saat sebuah motor hendak menabrak Sheena yang ingin menyeberang.


''Sayang, kamu baik-baik saja?'' Arsen lalu membantu Sheena untuk bangun.


''Fandi! Fandi, Arsen. Dia berusaha menyelamatkan aku.'' Sheena pun menangis melihat Fandi yang tergeletak tak sadarkan diri dengan pelipis yang berdarah. Semua orang yang ada disana pun segera menaikkan Fandi ke mobil Arsen. Arsen dan Sheena lalu membawa Fandi ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan, Sheena segera menghubungi Olivia.


''Arsen, bagaimana Fandi? Dia akan baik-baik saja kan? Aku takut, Arsen.'' Isak tangis Sheena dalam pelukan Arsen.


''Aku yakin dia akan baik-baik saja. Sebaiknya kita juga harus memeriksa kandungan kamu, sayang.''


''Nanti saja, aku akan menunggu Nona Olivia dan orang tua Fandi datang.'' Sheena tidak bisa menutupi kesedihannya. Itu seolah membuka luka lama Fandi.


''Seharusnya aku saja yang disana. Kenapa Fandi menyelamatkan aku, Arsen?''


''Sssssttt kamu jangan bicara seperti itu Sheena. Ini semua kecelakaan. Lagi pula, bagaimana bisa Fandi berada disana? Kita berdoa semoga Fandi baik-baik saja.'' Arsen kemudian mengajak Sheena untuk duduk di dekat koridor. Arsen juga membelikan Sheena minum supaya lebih tenang.


Tak lama kemudian, datanglah kedua orang tua Fandi dan Olivia. Mereka pun segera melihat Fandi yang masih ditangani oleh dokter. Nyonya Citra tampak menangis dalam pelukan Tuan Ifan, begitu juga Olivia yang tidak kuasa menahan tangisnya.


''Bagaimana keadaan putra saya dokter?'' tanya Nyonya Citra.


''Tidak ada luka yang serius Nyonya. Ini hanya sebuah benturan karena stir motor saja. Tekanan darahnya juga normal. Saat ini pasien sepertinya syok saja. Kita tunggu sampai pasien siuman.'' Jelas Dokter. Setidaknya penjelasan dokter membuat keluarga Fandi tenang. Mengingat kecelakaan yang menimpa Fandi dulu sangatlah parah.


''Fandi, bangun. Ini aku Olivia. Seharusnya tadi kamu mengijinkan aku untuk ikut makan bersama dengan klienmu.'' Ucap Olivia sambil membelai wajah Fandi.

__ADS_1


Arsen, melihat dokter keluar dari ruangan UGD dan berjalan melintasi Arsen dan Sheena yang tengah duduk.


''Dokter, bagaimana keadaan pasien kecelakaan tadi?''


''Keluarganya sudah datang dan tidak ada cedera yang serius Tuan. Sebentar lagi pasien juga akan siuman.''


''Terima kasih dokter.''


''Iya, sama-sama.'' Ucap Dokter seraya berlalu.


''Arsen, ayo kita melihat Fandi. Aku berhutang nyawa kepadanya.'' Kata Sheena.


''Iya Sheena.'' Arsen dan Sheena lalu menuju ruang UGD. Mereka melihat orang tua Fandi dan Olivia sudah berada disana.


''Tante Citra," panggil Sheena dengan suara memelan. Tante Citra menoleh kearah sumber suara. Sorot matanya dipenuhi amarah saat melihat ada Sheena.


''Kamu lagi? Kamu yang menyebabkan Fandi seperti ini? Kamu memang pembawa sial untuk Fandi ya?'' Marah Nyonya Citra.


''Mah, jaga ucapan Mama! Jangan asal bicara.'' Sahut Tuan Ifan.


''Iya Mah, Mama tenang.'' Sahut Olivia.


''Maaf Nyonya, sebaiknya jaga ucapan Nyonya. Kami bahkan tidak tahu kenapa ada Fandi disana.'' Sahut Arsen yang tak kalah kesal.


''Maafkan aku Tante. Aku tidak tahu kalau Fandi tiba-tiba muncul menyelamatkanku saat aku akan menyeberang. Aku sungguh tidak tahu.''


''Atau jangan-jangan putra Nyonya sendiri yang selama ini masih menguntit istriku? Aku bisa saja melaporkannya ke polisi dengan tuduhan seperti itu.'' Kata Arsen yang begitu geram dengan ucapan Nyonya Citra yang begitu pedas.


''Tuan Arsen, tolong maafkan istri saya. Anda jangan gegabah.'' Tuan Ifan pun tampak ketakutan.


''Jangan kalian pikir, aku tidak tahu dengan perbuatan kalian pada Sheena selama ini terutama anda Nyonya. Semua bukti anda memukuli Sheena dengan brutal pun terekam jelas dalam CCTV. Asal anda tahu juga rumah sakit yang merawat putra anda milik keluarga Tuan Darwin.'' Jelas Arsen dengan tegas dan lugas. Ia sungguh marah jika Sheena selalu disalahkan.


''Tuan, kami mohon jangan sampai membawa ke ranah hukum ya. Maafkan ucapan istri saya.'' Kata Tuan Ifan sambil memohon.


''Arsen, sebaiknya jangan ribut ya. Ini rumah sakit, kasihan Fandi dan juga pasien yang lain.'' Ucap Sheena sambil mengusap lengan suaminya.


''Maaf sayang, karena mereka membuatku sangat marah.''


''Nona Olivia, maafkan aku. Aku tidak tahu bagaimana Fandi bisa berada disana. Kejadiannya sangat cepat sekali.''


''Tidak apa-apa Sheena. Aku justru yang meminta maaf karena tidak bisa menjaga suamiku dengan baik. Padahal tadi dia pamit ke restoran Itali untuk menjamu kliennya tapi kenapa dia bisa di alun-alun kota.'' Kata Olivia.

__ADS_1


Arsen dan Sheena saling memandang. ''Hah? Restoran Itali?'' gumam mereka dalam hati dengan kompak.


__ADS_2