My Perfect Husband

My Perfect Husband
Rencana babymoon


__ADS_3

Afif tersenyum memandangi wajah Naynay yang masih tertidur di lengannya. Rasa pegal yang dia rasakan tidak sebanding dengan lelahnya sang istri menyiapkan kejutan ulang tahunnya tadi malam.


Selepas acara tadi malam, Naynay langsung tertidur setelah cuci muka dan gosok gigi. Dia mengatakan pada Afif kalau merasa lelah dan tertidur setelah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Afif mengangkat pelan kepala Naynay dan memindahkannya ke atas bantal. Kemudian duduk di tepi tempat tidur dengan kaki menjuntai menyentuh lantai. Afif pergi ke kamar mandi sambil membuka kancing piyamanya.


Selama membersihkan tubuhnya, Afif memikirkan untuk mengatakan pada Naynay tentang apa yang dia pikirkan selama beberapa hari ini. Setelah mandi, Afif segera menuju ruang ganti dan memakai pakaian rumahan. Dia sudah memutuskan untuk tetap di rumah menemani istri kesayangannya.


"Aaakkhhhh...."


Terdengar teriakan Naynay yang membuat Afif langsung berlari keluar dari ruang ganti sambil menenteng bajunya yang belum sempat dia pakai. Dia melihat Naynay sedang meringis kesakitan di atas tempat tidur.


"Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Afif panik namun berusaha tenang.


"Kaki Nay keram...." lirih Naynay dengan masih meringis. Afif segera duduk di samping kaki Naynay dan memijatnya lembut. Perlahan, sakit itu sudah berangsur hilang dan napas Naynay tidak ngos-ngosan lagi.


Afif menghapus keringat di kening Naynay dengan tisu dan menghadiahi kecupan hangat di sana. "Masih sakit?" tanyanya.


"Udah nggak, Kak," balas Naynay dengan menggelengkan kepalanya. Kemudian dia mendudukan tubuhnya dan merapikan rambutnya yang kusut.


"Kakak nggak kerja?" tanya Naynay melihat Afif hanya memakai celana santai selutut dan bertelanjang dada. Dia juga melihat ada baju kaos putih di samping tubuh suaminya itu.


"Tidak, aku akan menemanimu seharian ini." Tersenyum sambil mengusap perut Naynay yang langsung dihadiahi tendangan kecil.


Naynay tersenyum senang mendengar ucapan Afif, beberapa hari ini suaminya itu sibuk sehingga mereka jarang ada waktu untuk menikmati hari. Afif yang sering lembur membuat Naynay jarang mengkonsumsi wajah tampan itu.


Afif yang melihat senyum senang Naynay merasa bersalah, dia memegang kedua tangan istrinya itu dan menciumnya. Menjadi pemilik sekaligus pemimpin kerajaan bisnis yang begitu besar tentunya harus selalu siap dengan yang namanya lembur. Apalagi yang namanya Afif tidak pernah menunda pekerjaan, kecuali pertemuan yang dirasa bisa diwakilkan. Dia akan berusaha agar selalu pulang di waktu normal supaya istrinya tidak sedih.

__ADS_1


"Nay, bagaimana kalau kita pergi babymoon?" tanya Afif dengan menatap penuh cinta wajah bantal Naynay yang imutnya bertambah. Dia sudah merencanakan ini sebelumnya. Dia bekerja lembur juga untuk menyelesaikan pekerjaannya agar nantinya mereka bisa puas liburan tanpa bayang-bayang pekerjaan.


Babymoon, mendengarnya saja sudah membuat Naynay begitu senang. "Kakak serius?" tanya Naynay yang langsung diangguki Afif.


"Mau, tapi kemana?" tanya Naynay lagi. Dia memperbaiki duduknya yang mulai terasa tidak nyaman.


"Kau maunya ke mana? Aku tidak ingin kau kecewa nantinya, lebih baik kau yang memilih." Sebelah tangan Afif merapikan poni tipis Naynay yang sudah memanjang sampai di bawah matanya.


"Nay ikut Kakak aja, dijamin nggak bakalan protes."


Afif tersenyum dan meraih hpnya. Dia menghubungi Ryan yang langsung mengangkat panggilan itu dengan cepat.


"Persiapkan semuanya! Aku akan berangkat lusa, pastikan semuanya berjalan lancar. Lakukan seperti apa yang aku katakan padamu sebelumnya!" ucap Afif pada Ryan yang menjawab sambil mengangguk kecil di seberang sana. Setelah itu Afif memutuskan panggilan dan meletakkan kembali hpnya.


"Sudah, sana mandi!" titah Afif dengan matanya yang sedikit menajam agar istrinya mau mandi pagi. Jika tidak seperti itu, maka Naynay tidak akan mandi.


Dua puluh menit kemudian, Naynay keluar dengan dengan wajah sedihnya. Afif yang melihatnya pun heran, tadi senyum imut tak lepas dari bibirnya. Tapi sekarang wajahnya begitu sedih, bahkan matanya berkaca-kaca.


"Kenapa?" tanya Afif lembut sambil menarik tangan Naynay hingga duduk di sampingnya.


"Nay baru ingat, besok lusa papa sama mama juga pergi ngajak Araa liburan. Kita nggak bisa bawa Araa, dong." Naynay sedih, padahal dia begitu ingin membawa serta anak pertamanya itu.


Afif pun agak kecewa mendengarnya, dia juga sudah menyiapkan keperluan anaknya itu sebelumnya. Tapi dia juga baru ingat kalau Hendrayan mengatakan akan membawa Araa liburan, dan dia tidak bisa menggagalkan rencana papa mertuanya tersebut.


"Jangan sedih, kita bisa merencanakan liburan selanjutnya dengan Araa. Untuk sekarang hanya kita dulu, aku janji akan mengatur liburan selanjutnya." Afif mengusap pipi istrinya itu sambil tersenyum menenangkan. Naynay mengangguk dan balas tersenyum.


Afif kemudian membawa tubuh Naynay ke dalam pelukannya, mencium bau tubuh Naynay yang merupakan salah satu candunya.

__ADS_1


"Terima kasih untuk kejutannya tadi malam, aku tidak menyangka kau tahu hari ulang tahunku. Rasanya sudah lama sekali aku merasakan perasaan senang seperti ini," ucap Afif dengan mencium kening Naynay. Dia sama sekali tidak melupakan hari ulang tahunnya, dia hanya tidak berharap lebih jika Naynay mengetahuinya. Namun siapa yang menyangka kalau Naynay bahkan menyiapkan kejutan untuknya.


"Sama-sama, terima kasih juga karena selalu menyayangi kami bertiga. Semoga di umur yang semakin bertambah ini, Kakak menjadi orang yang lebih baik dan semakin sayang kami tentunya. Menjadi suami, ayah, dan papa yang terbaik untuk anak-anak kita." Itulah harapan-harapan Naynay yang belum sempat dia katakan tadi malam, malu jika mengatakannya di depan banyak orang.


Bahagia, itulah yang dirasakan Afif semenjak adanya Naynay. Nama yang dulu sempat dia sebut aneh, sekarang menguasai seluruh bagian tubuhnya. Nama unik yang sekarang sering dia sebut baik dalam doa maupun dia banggakan pada rekan bisnisnya.


"Dari mana kau tahu hari ulang tahunku?" tanya Afif sambil melepaskan pelukannya dan menanti jawaban Naynay.


"Kemaren lusa, Nay pengin aja masuk ke ruang kerja Kakak. Iseng buka brankas karena kepo isinya apa. Nay lihat tuh ada buku nikah kita di sana, dari situ Nay tahu!" jelas Naynay jujur.


Afif memang memberitahu Naynay pin semua brankasnya. Agar kau percaya kalau aku tidak menyembunyikan apapun darimu, itulah yang dia katakan pada Naynay dulu.


Afif memandangi wajah Naynay dengan intens, diciumnya bibir mungil berisi itu dengan lembut. Tadi malam dia tidak sempat untuk mencium Naynay, makanya sekarang dia lakukan. Tidak melakukan lebih karena tahu istrinya masih lelah.


Sambil mencium Naynay, Afif selalu bersyukur di dalam hatinya. Dia bersyukur atas segala rencana Tuhan yang pastinya yang terbaik bagi umatnya. Itu jugalah yang membuat Afif selalu melakukan kewajibannya dengan baik, selalu beribadah sebagaimana yang diajarkan agamanya.


.


.


.


.


.


Maaf, aku update lama karena tugas yang banyaknya nauzubillah. Harap maklum, ya...

__ADS_1


__ADS_2