My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 120 Mysophobia


__ADS_3

Setelah kedua orang tua Arsen dan Sheena pulang, Arsen kembali ke ruang kerjanya sedangkan Sheena istirahat dikamar. Namun malam itu Sheena merasa sulit memejamkan matanya. Diagonis dari dokter membuatnya merasa gelisah dan tidak tenang. Sheena lalu beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju teras balkon.


“Kenapa aku merasa takut begini ya?” gumamnya dalam hati. Arsen yang sudah merasa lelah, menyudahi pekerjaannya. Ia kemudian kembali ke kamar dan mendapati Sheena melamun di teras balkon. Arsen kemudian menghampiri Sheena.


“Kenapa belum tidur?”


“Arsen, sudah selesai?”


“Belum sih. Tapi aku sudah lelah. Kenapa lagi?” tanya Arsen.


“Tidak ada apa-apa.”


“Pasti masih memikirkan soal tadi, iya kan? Sudahlah dibuat santai saja. Keluargaku juga tidak mempermasalahkan itu.”


“Tapi aku takut. Seumur hidupku baru kali ini aku ke rumah sakit. Biasanya sakit beli obat warung juga sudah sembuh.”


“Oh ya bagaimana kalau kita menonton dvd dari dokter?” kata Arsen.


“Iya.” Jawab Sheena sambil mengangguk pelan. Sheena lalu naik keatas tempat tidur dan duduk bersandar disana, sembari menunggu Arsen menyalakan dvd.


“Arsen, tolong ambilkan camilan.”


“Sebaiknya ganti camilan malam dengan buah. Kamu harus mengurangi camilan-camilan seperti itu. Belajar hidup sehat dan pola makan yang sehat juga. Aku akan memotongkan buah untukmu.” Cerocos Arsen. Kali ini Sheena tidak membantah dan menurut. Arsen kemudian ke dapur memotongkan dan mengambil aneka buah untuk Sheena dan juga dirinya. Memang, menonton tanpa camilan itu hambar. Setelah buah siap, Arsen kembali ke kamar dan memberikan satu piring untuk Sheena.


“Terima kasih.”

__ADS_1


“Sama-sama.” Kata Arsen. Arsen lalu memutar dvd itu. Dalam dvd itu menjelaskan tentang bagaimana membangun hubungan suami istri yang harmonis. Bahkan bagaimana sepasang suami istri saling membantu untuk membangkitkan gairah seksual satu sama lain. Sepanjang menonton dvd itu, Arsen dan Sheena tampak serius mengikuti semua penjelasan yang ada dalam dvd itu. Dari awal sampai tengah, Arsen dan Sheena masih menganggap tayangan itu normal. Namun di tiga puluh menit terakhir, menunjukkan adegan dewasa. Dimana sepasang pria dan wanita melakukan hubungan seksual tanpa sehelai benangpun. Mungkin dalam adegan film kemarin bagian v..it..al tidak di perlihatkan tapi kali ini benar-benar jelas. Mulai dari adegan foreplay sampai dengan adegan pembuahan terlihat nyata. Bahkan rintihan dan de…sa…han yang keluar dari bibir kedua pemeran tersebut membuat suasana di kamar Arsen menjadi panas padahal suhu di kamar sudah dingin. Keduanya lalu saling menatap sambil tersenyum. Sheena melihat adegan di dalam layar televis itu menjadi panas dingin. Untuk menyiasati perasaan aneh itu, Sheena melahap dengan kasar buah yang ada di tangannya itu. Sementara Arsen berusaha untuk tetap cool padahal sebagai seorang pria tentu saja ia merasa penasaran. Namun tetap saja bayang-bayang kuman dan bakteri masih hinggap dalam benaknya.


“Apakah itu tidak menjijikkan? Ketika milik si pria di makan seperti ice cream oleh si wanita. Terus milik si wanita di jilat seperti itu, apakah tidak menjijikkan juga?” tanya Arsen dengan polosnya pada Sheena. Sheena menelan ludahnya mendengar pertanyaan Arsen.


Sheena meringis. “Hehehe aku juga tidak tahu karena belum pernah mencobanya.” Tak dipungkiri, bagian bawah Sheena ikut berkedut saat melihat si pria menjilat milik si wanita.


“Percuma juga tanya padamu.”


“Aku memang tidak tahu Arsen. Kalau kamu ingin tahu rasanya ya coba saja.” Celetuk Sheena dengan kesal.


“Maksudmu?” tanya Arsen.


“Eee, tidak ada maksud. Sebaiknya lihat saja sampai akhir dan setelah itu kita tidur.” Kata Sheena sambil meringis. Arsen begitu serius mengamati gerakan dan sentuhan yang dilakukan oleh si pria kepada wanitanya. Adegan yang tadinya di sofa, kini adegan diatass tempest tidur.


“Kenapa aku merasa ngilu ya?” celetuk Arsen saat melihat si wanita memainkan kembali milik si pria.


“Lihat saja itu. Kena gigi apa tidak sakit? Kenapa si pria malah keenakan gitu ya? Kasihan juga wanitanya mulutnya jadi penuh?” kata Arsen dengan polosnya. Sheena hanya bisa mengernyitkan dahinya melihat reaksi Arsen yang justru lebih seperti pengamat daripada penikmat.


“Aku tidak tahu Arsen. Keingintahuanmu besar sekali, padahal kamu sudah bukan anak-anak.” Sahut Sheena.


“Aku menganggapnya ini sebuah pelajaran dan pengetahuan, bukan hanya sekedar adegan seksual. Yang jelas menjaga kebersihan itu sangat penting jika ingin melakukan seperti itu. Bukankah begitu?”


“Sebenarnya dia ini suka perempuan atau tidak sih? Kalau dia pria normal, dia pasti sudah terangsang dan *****-*****. Apalagi dikamar kita cuma berdua. Eh ini malah sibuk menganalisis gerakan adegan,” gerutu Sheena dalam hati.


“Memangnya punyamu tidak berdiri melihat itu?” ceplos Sheena.

__ADS_1


“Punya ku apa yang berdiri? Aku tidak mengerti.”


“Itu yang dibawah, apa sama sekali tidak mengeras?” tanya Sheena lagi.


“Dibawah? Bawah mana?” Arsen masih tidak mengerti.  Sheena lalu menunjuk kearah junior Arsen. Arsen mngikuti telunjuk Sheena. Arsen membulatkan matanya saat Sheena menunjuk kearah juniornya.


“Kamu sungguh tidak mengerti Arsen? Apa disekolahmu tidak ada pelajaran biologi? Padahal kamu sekolah di luar negeri. Tentu saja pergaulan disana lebih bebas dari pada disini. Bukankah hal seperti itu sudah biasa bahkan sebelum menikah?”


“Hei, aku di luar negeri sekolah bukan untuk mengamati hal seperti itu. Apalagi aku tidak bisa bersnetuhan dan berdampingan bebas dengan mereka. Aku disana hanya belajar dan tidak ada waktu melakukan hal seperti itu apalagi menontom blue film. Bagiku sempurna bukan hanya fisik tapi juga otak. Ya, aku tidak masalah dianggap cupu untuk hal seperti itu.”


“Pikiranmu memang terlalu kaku. Banyak sekali suami istri yang menonton seperti itu untuk dijadikan inspirasi diatas ranjang. Supaya sama-sama puas. Jadi dirimu saja yang memang bermasalah.”


“Kamu pengalaman sekali, jangan-jangan sudah pernah mencobanya?”


“Jaga ucapanmu ya. Kita kan sudah dewasa jadi ya wajar mengetahui itu semua. Kalau semua orang punya pemikiran seperti itu, tidak ada yang namanya Dokter Boyke,” cerocos Sheena dengan kesal.


“Dengarkan aku Arsen, banyak pasangan di luar sana selingkuh bukan hanya persoalan materi tapi kepuasan diatas ranjang itu bisa menjadi pokok utama. Mereka tidak puas dengan pasangannya. Entah karena pasangannya sibuk atau durasinya kurang lama. Ya, sama seperti masalahmu dengan Nona Flora.” Sindir Sheena.


“Kenapa membahas Flora lagi? Ya, wajarlah kita juga masih pacaran.” Bantah Arsen.


“Hidup itu harus seimbang apalagi kalau sudah berumah tangga. Pekerjaan, keluarga, quality time, menyenangkan pasangan, waktu bersama anak semua itu harus seimbang, Ilmu itu bukan hanya sains yang selau kamu pelajari salama ini. Tapi ilmu dalam kehidupan berumah tangga sebagai pasutri, kamu juga harus memepelajarinya. Kamu pintar, bisa segalanya punya banyak uang, wajah tampan tapi kalau urusan ranjang tidak bisa, kabur lah istrimu. Apalagi kuman dan bakteri selalu ada dalam otakmu. Di video tadi juga sudah disebutkan cara merawat daerah seksual, bahkan setelah selesai harus dibersihkan. Semua itu ada aturannya. Ibarat setelah makan, tangan kotor ya di cuci pakai sabun. Hilang kan yang namanya bakteri atau kuman. Kalau seisi rumahmu di zoom pakai mikroskop, sudah pasti tuh bakteri dan kuman pada nongol. Apa gunanya ada sabun dan antiseptik? Selagi kita masih hidup, kuman dan bakteri juga masih hidup. Kecuali kiamat datang mereka ikut mati semua. Tidak selamanya bakteri itu jahat, yang baik juga ada. Jadi lepaskan itu semua Arsen, jangan terlalu berlebihan seolah-olah bakteri dan kuman akan membunuhmu. Selagi kita menjaga kebersihan, semuanya akan baik-baik saja. Untung saja aku yang menjadi istrimu. Coba saja Nona Flora istrimu, kamu tidak akan tahu kalau dia mencari kepuasan di luar sana.” Cerocos Sheena panjang lebar. Arsen pun terdiam mendengar semua ocehan Sheena.


“Matikan saja televisinya, aku mau tidur. Selamat menganalisis.” Ucap Sheena penuh dengan penekanan. Sheena lalu memberikan piring buahnya pada Arsen dan segera menelusupkan tubuhnya di balik selimut.


Arsen menghela. "Sheena, apa kamu lupa aku mengidap mysophobia? Semua orang menganggapku sempurna, padahal aku sendiri dianggap sakit oleh dokter. Kamu tahu kan kalau pengidap seperti itu kecemasannya naik berkali-lipat saat melihat sesuatu yang kotor atau menjijikkan. Kamu pasti menganggapku pria tidak normal kan? Sebagai pria tentu saja aku merasakan sesuatu saat melihat adegan itu tapi kembali lagi, penyakit ini mengungkungku. Bayangkan saja selama 25 tahun aku baru menyadari bahwa ini sebuah penyakit, penyakit mental lebih tepatnya. Bukankah kamu akan membantuku? Tetapi kenapa kamu malah memarahi dan menyudutkan ku seperti itu. Aku pikir selama ini, aku hanya terlalu mencintai kebersihan dan mendambakan sebuah kesempurnaan tapi setelah melakukan tes pertama, dokter menyebut kalau aku mengidap mysophobia. Kamu selalu saja berpikir buruk tentang diriku tanpa tahu apa yang aku rasakan melihat sesuatu yang kotor atau bahkan yang menjijikkan. Aku pikir kamu bisa memahamiku tapi ternyata kamu selalu saja menyudutkanku." Kali ini Arsen mengungkapkan apa yang ia rasakan karena Sheena terus menyudutkannya. Ada rasa kecewa dalam hatinya saat mendengar semua yang Sheena katakan. Dibalik selimut, Sheena terdiam mendengar semua yang Arsen katakan dan Sheena merasa menyesal. Sheena lupa jika Arsen memang sedang sakit. Arsen lalu beranjak dari tempat tidurnya dan meninggalkan kamarnya.

__ADS_1


"Astaga, apa yang aku lakukan padanya?" gumam Sheena dalam hati.


Bersambung....


__ADS_2