
Keesokan harinya saat Sheena terbangun, Sheena merasakan sesuatu yang keras di sela-sela pahanya. Sedangkan Arsen masih tertidur pulas sambil mendekapnya. Sheena lalu berusaha merabanya. Matanya membulat seketika saat menyentuh benda asing yang berbulu itu. Segera Sheena melepaskannya. Ia menelan ludahnya untuk pertama kalinya menyentuh benda keramat milik pria.
''Ya ampun, gede banget.'' Gumamnya dalam hati. Sheena pun segera beranjak dari tempat tidur. Ada rasa penasaran ingin melihatnya namun Sheena tidak ingin membuat Arsen marah.
''Sebaiknya aku mandi daripada melihat benda itu dan sebelum Arsen terbangun.'' Gumam Sheena seraya menuju kamar mandi. Selesai mandi, Sheena segera menuju dapur. Ia sengaja tidak membangunkan Arsen.
Tak lama kemudian Arsen pun terbangun. Ia melihat kearah sampingnya namun Sheena sudah tidak ada disana. Mencium aroma parfum Sheena, sepertinya Sheena memang sudah mandi.
''Kenapa Sheena tidak membangunkanku? Dan membiarkanku telanjang sendiri. Katanya mau membantuku tapi malah meninggalkan ku.'' Arsen mendumel seorang diri. Ia kemudian bergegas untuk mandi. Sheena pun juga sudah menyiapkan pakaian Arsen. Setelah bersiap, Arsen menyusul Sheena ke dapur.
''Sheena, kenapa meninggalkanmu sendiri?'' protes Arsen.
''Aku kan harus menyiapkan sarapan untukmu.'' Kata Sheena. Arsen kemudian memeluk Sheena begitu saja dari belakang.
''Seharusnya kamu membangunkanku dan kita bisa mandi bersama. Saatnya naik level 4 kan?''
''Iya nanti, Arsen.'' Jawab Sheena dengan lembut.
''Sebaiknya kamu duduk sana, jangan menggangguku.'' Ucap Sheena. Arsen kemudian meletakkan pisau di tangan Sheena. Arsen juga mematikan kompor. Arsen membalik tubuh Sheena, lalu mengangkat dan mendudukkan Sheena di atas meja.
''Arsen, kamu mau apa?''
''Mengeksplore level 3,'' jawab Arsen dengan tatapan nakal.
''Arsen, nanti saja setelah pulang kantor.''
''Tidak bisa Sheena. Hari ini aku ada meeting dan aku harus lembur untuk peluncuran produk kecantikanku.''
''Jadi nanti kamu pulang malam?''
''Iya.''
''Sampai jam berapa?''
''Belum tahu. Bisa jadi jam 10 malam. Makanya beri aku vitamin level 3 sebelum aku berangkat kerja.''
''Lalu sarapanmu?''
''Aku akan meminta meeting di tunda 30 menit.''
''Dasar aneh!" ucap Sheena.
''Boleh ya? Mau ya?'' rengek Arsen.
__ADS_1
Sheena menangguk dengan malu-malu. Tanpa basa-basi Arsen langsung mel...u..mat bibir Sheena dengan ganasnya. Bibir Sheena kini menjadi candu untuk Arsen. Sheena melingkarkan kedua tangannya pada leher Arsen. Kedua kakinya pun mencapit pinggang Arsen dengan kuat. Tangan Arsen lalu membuka kancing dress milik Sheena. Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Arsen memberikan re..ma..san yang lembut. Sheena semakin membenamkan kepala Arsen pada dadanya, hisapan lembut Arsen membuatnya seperti melayang di atas awan. Lagi-lagi Arsen meninggalkan jejak baru di dada dan juga leher Sheena. Arsen menyusu seperti seorang bayi yang kelaparan.
''Sshhhh,'' Sheena mendesis nikmat. Nikmat sekali. Aroma vanilla pada tubuh Sheena, membuat Arsen semakin kuat untuk menghisapnya. Arsen kemudian mencium perut Sheena dengan lembut.
''Ahhhh," de..sah Sheena. Sheena merasakan sensasi berbeda kala Arsen mengecup daerah perutnya. Dua puluh menit level 3 itu berlangsung di dapur. Setelah Arsen merasa puas, Arsen merapikan kembali pakaian Sheena. Arsen kemudian memberikan kecupan di kening, mata, pipi, hidung dan bibir Sheena.
''Sheena, sekarang kamu milikku. Jadi jangan macam-macam di belakangku.''
''Memangnya aku mau apa?''
''Jangan pakai pakaian seksi kalau keluar rumah. Apalagi yang memperlihatkan bahu dan punggungmu. Sekarang duduklah, biar aku yang melanjutkan sarapan. Aku sudah begitu semangat karena sudah mendapat asupan pagi darimu.''
''Ya, sekarang sepertinya otakmu isinya mesum terus ya.'' Ucap Sheena terkekeh.
''Iya dan ini semua karenamu.'' Jawab Arsen seraya menurunkan Sheena dari atas meja.
''Arsen, aku boleh pergi supermarket? Soalnya bahan makanan di dapur menipis.''
''Tentu saja. Aku akan meminta Pak Roni untuk menemanimu. Jangan menyetir sendiri. Pastikan perbanyak membeli buah, sayur, ikan dan daging. Kurangi membeli snack ya. Beli saja snack yang rendah kalori.''
''Iya suamiku sayang.''
''Kamu memanggilku apa?'' Arsen merasa bahagia dengan panggilan itu.
''Tidak apa-apa, aku senang mendengarnya. Mulai sekarang ganti namaku dikontak di ponselmu dengan suamiku sayang ya.''
''Tapi aku sudah suka dengan nama tuan sok bersih,'' celetuk Sheena.
''Apa? Wah, aku ini suamimu tapi masih memberiku nama itu.'' Kesal Arsen.
''Iya-iya nanti aku ganti.''
''Sekarang dong Sheena,'' paksa Arsen.
''Isshh, iya-iya.'' Di depan mata Arsen Sheena pun langsung menggantinya. Di depan mata Sheena pula, Arsen mengganti kontak Sheena menjadi istriku sayang.
''Dia benar-benar keluar dari dirinya yang dulu,'' gumam Sheena dalam hati.
Setelah selesai sarapan, Arsen pun segera berangkat ke kantor. Setelah membersihkan dapur dan menyiram tanaman, Sheena segera pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya dan segera pergi ke supermarket.
-
Sesampainya di supermarket, Sheena pun segera belanja sesuai yang Arsen perintahkan.
__ADS_1
''Selama beberapa hari mengikuti menu makan Arsen, tubuhku terasa enak, meskipun kadang eneg mau muntah juga. Tapi untung saja dia bisa mengkombinasikan dengan selera makanku.'' Gumam Sheena sambil memilih sayuran. Sheena begitu terkejut saat disampingnya adalah Nyonya Citra.
''Tante Citra!" seru Sheena. Nyonya Citra sangat terkejut melihat Sheena ada disampingnya.
''Sheena,'' gumamnya dalam hati.
''Tante apa kabar?'' tanya Sheena dengan ramahnya.
''Baik.'' Singkat Nyonya Citra.
''Tante sendirian saja?''
''Bukan urusanmu. Sudah naik ya derajat kamu sekarang, menjadi anak konglomerat. Jangan-jangan itu akal-akalanmu saja karena ingin merasakan menjadi orang kaya.'' Ucapnya dengan sinis.
''Maksud Tante apa? Kami sudah melakukan tes DNA tante. Semua bukti akurat kok.'' Kata Sheena dengan berusaha tetap tenang.
''Kamu pasti ingin mentertawakan ku kan? Kamu pasti ingin menghinaku sekarang kan?''
''Tidak Tante. Aku bahkan sudah melupakan semua kejadian itu, Tante.''
''Enak kan menjadi anak orang kaya? Dulu hidupmu tidak jelas dan sekarang kamu punya semuanya. Aku bahkan tidak menyesal karena memisahkanmu dengan Fandi. Sekalipun kamu anak konglomerat tapi tetap saja sangat membencimu. Kalau sekarang mau mentertawakanku silahkan.''
''Tante kenapa masih bersikap seperti ini padaku? Memangnya aku berbuat salah apa pada Tante? Aku bahkan sudah mengikhlaskan Fandi untuk bersama Nona Olivia. Aku justru yang meminta putus dengan Fandi karena aku tidak ingin Fandi melawan restu orang tuanya.'' Jelas Sheena.
''Sheena-Mama, apa maksud obrolan kalian?'' ucap Fandi. Fandi yang tidak sengaja mendengar semua pembicaraan itu benar-benar terkejut.
''Fan-Fandi!" bibir Sheena bergetar melihat Fandi disana.
''Permisi!" Sheena pun buru-buru pergi dan menghindar namun Fandi menahan tangan Sheena.
''Jelaskan padaku Sheena, apa maksud ini semua? Aku mendengar pembicaraanmu dengan Mama?'' ucap Fandi. Nyonya Citra lalu melepaskan tangan Fandi dari tangan Sheena dengan kasar.
''Lepaskan dia, Fandi! Ayo kita pulang! Ingat kamu sudah punya istri. Jangan sampai kamu membuat ulah disini. Malu Fandi!"
''Mah tapi aku ingin bicara dengan Sheena,'' paksa Fandi. Sheena pun segera pergi dan meninggalkan supermarket.
''Sheena! Sheena!" Fandi terus berteriak memanggil Sheena namun Nyonya Citra menarik tangan Fandi supaya Fandi tidak mengejar Sheena.
''Sheena, jangan menoleh! Dia masa lalumu.'' Gumam Sheena sambil terus berajalan menuju pintu keluar. Namun Fandi terus memanggilnya.
''Sheena! Sheena!" pekik Fandi. Mendengar itu, hati Sheena kembali teriris teringat masa lalunya.
''Sheena, ingat Arsen! Dia suamimu. Abaikan teriakan Fandi.'' Sheena terus bergumam berusaha menenangkan perasaannya. Tanpa ia sadari bulir air mata sudah membasahi pipinya.
__ADS_1
Bersambung....