
Keesokan harinya, Sheena terbangun dari tidurnya, ia mengulat dengan nikmatnya. Saat Sheena menoleh kearah sampingnya, Arsen sudah tidak ada di tempat tidur.
''Jam berapa ini? Apa Arsen sudah ke kantor.'' Sheena melihat kearah jam dinding dan ternyata masih jam 6.
''Aku harus membuatkannya sarapan.'' Sheena bergegas beranjak dari tempat tidur. Namun saat hendak berjalan, Sheena merasa ngilu.
''Auw, masih sakit ya.'' Rintih Sheena sambil memegangi pinggulnya. Sheena lalu berusaha berjalan lagi namun ia justru jatuh tersungkur di lantai. Begitu masuk kamar, Arsen terkejut melihat Sheena sudah berada di lantai.
''Sheena!" seru Arsen dengan segala kepanikannya. Arsen lalu meletakkan nampan yang berisi sarapan di atas meja. Ia kemudian segera membantu Sheena untuk berdiri dan mendudukkannya di atas tempat tidur.
''Kamu mau kemana?''
''Aku mau membuatkanmu sarapan.'' Kata Sheena.
''Apa masih sakit?'' tanya Arsen.
''Iya rasanya ngilu.''
''Baiklah sebaiknya kita ke dokter saja.''
''Tidak usah nanti juga baikan sendiri.''
''Jangan membantahku, Sheena. Bagaimana kalau ada cedera yang lain?'' Sheena bisa melihat kekhawatiran di wajah Arsen.
''Tapi kamu harus ke kantor dan aku belum membuatkanmu sarapan.''
''Aku sudah membuat sarapan. Dan aku membawakannya untukmu.'' Arsen lalu mengampil nampan yang berisi roti bakar dan segelas susu full cream untuk Sheena.
''Ini untukmu. Makanlah dulu, setelah itu kita ke rumah sakit untuk periksa. Jangan membantah, jangan cerewet apalagi menolak.''
''Terima kasih. Lalu bagaimana pakaian kita semalam?''
''Aku semalam sudah membereskannya.'' Kata Arsen. Sheena melihat telapak tangan Arsen memerah dan mengelupas.
__ADS_1
''Anak ini memang tidak bisa bekerja kasar,'' gumam Sheena dalam hati. Setelah mereka sarapan, Arsen segera membawa Sheena ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Sheena segera di periksa.
''Dari hasil pemeriksaan dan rontgen tidak ada cedera serius dan tidak ada tanda-tanda tulang yang retak, Nona. Hanya benturan yang keras menyebabkan memar. Ini saya tuliskan resep untuk pereda nyeri serta vitamin untuk tulang,'' Jelas dokter.
''Terima kasih dokter. Kalau begitu kami permisi.'' Ucap Arsen.
''Iya sama-sama.''
Arsen merasa lega sekali karena tidak ada cedera serius. Arsen lalu meminta Sheena untuk duduk di kursi roda supaya Sheena tidak merasakan sakit berlebih.
''Sheena, apa aku harus menelepon Mama Sofi dan Papa Darwin?''
''Tidak usah Arsen. Hanya jatuh biasa saja. Aku tidak ingin membuat mereka semua khawatir.''
''Baiklah sekarang kita pulang ya.''
''Iya.''
''Arsen, berangkatlah ke kantor.''
''Sheena tapi kamu sendirian di rumah. Aku tidak bisa meninggalkanmu.''
''Serius kamu tidak bisa meninggalkanku?'' kata Sheena dengan tatapan selidik.
''Iya. Bahkan aku sangat khawatir denganmu. Aku merasa tidak tenang dan aku begitu cemas. Aku takut kalau terjadi sesuatu denganmu. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa.'' Cerocos Arsen dengan tatapan matanya yang begitu dalam pada Sheena. Sheena lalu menangkupkan kedua tangannya pada wajah Arsen. Sheena tanpa basa-basi langsung mengecup bibir Arsen dan menahannya beberapa saat. Tubub Arsen mendadak kaku mendapat serangan tanpa aba-aba. Gelang yang mereka pakai pun kompak berbunyi biip-biip-biip tanda mereka sedang bahagia. Sheena kemudian melepaskan pelukannya dan segera bersembunyi di balik selimut karena malu.
''Cepat ke kantor sana!" perintah Sheena dari balik selimutnya. Arsen masih tertegun tidak percaya, bahwa Sheena menyerangnya terlebih dahulu. Senyuman kemudian tersungging dari bibir Arsen.
''Baiklah, aku akan ke kantor. Aku akan pulang cepat.'' Ucap Arsen seraya berlalu meninggalkan kamarnya.
-
Selama di kantor, Arsen tidak bisa berkonsentrasi penuh. Ia selalu terbayang kecupan dari Sheena yang membuatnya spot jantung.
__ADS_1
''Sepertinya dia sudah mulai mencintaiku.'' Gumam Arsen dalam hati. Selesai rapat, Arsen kembali keruangannya. Ia kembali berguru pada google, Arsen mulai mengetikkan kalimat hal yang membuat wanita bahagia.
''Yang pertama harus peka, poin kedua membawa makanan kesukaannya, poin ke tiga terbuka, poin keempat bercanda dan membuatnya tertawa. Kalau poin ke empat, sepertinya aku lebih sering membuatnya kesal dan marah. Mulai sekarang aku akan mencoba membuatnya tertawa. Poin kelima, sesekali memberikan surprise. Poin enam mengingat hari-hari penting, poin tujuh menunjukkan kasih sayang. Pantas saja Flora mempermainkan aku ternyata kebahagiaan bukan semata karena uang. Tapi kalau seperti Flora, uang segalanya. Kalau Sheena, dia berbeda. Dia pasti akan marah kalau aku membelikan sesuatu yang mahal. Aku akan mengingat tujuh poin ini untuk membuatnya bahagia. '' Arsen bergumam pada dirinya sendiri.
Setelah pulang kantor, Arsen pergi ke toko bunga. Ia membeli buket mawar merah untuk Sheena. Setelah membeli bunga, Arsen mampir kesebuah toko pastry. Arsen memilih cup cake, satu box coklat almond dan satu box ice cream 3 rasa untuk Sheena.
''Sheena pasti menyukainya. Oh ya, aku akan menelepon restoran untuk mengirim makanan ke rumah. Dia kan masih sakit, kasihan kalau harus memasak. Katanya kan harus peka.'' Gumam Arsen dalam hati sambil terus fokus menyetir. Arsen lalu menelepon ke restorannya sendiri untuk mengirimkan makanan kesukaannya dan kesukaan Sheena.
Sementara itu, Sheena baru saja selesai mandi. Rasa ngilu di pinggulnya perlahan berkurang. Sheena lalu membalurkan lotion di seluruh tubuhnya, sesuai yang pernah Arsen ajarkan. Tak lupa serangkaian skincare untuk wajahnya. Sheena menguaskan make up tipis-tipis ke wajanya dengan lipstik warna pink peach. Sheena teringat nasihat Mamanya untuk rajin merawat diri. Sheena sendiri baru merasakan kalau tangannya memang kasar.
''Sepertinya mulai sekarang, aku harus rajin merawat diri. Suamiku saja pandai merawat diri dan begitu sempurna, masa iya aku kalah sama cowok.'' Kata Sheena yang berbicara pada dirinya sendiri. Sheena memakai dress selutut tanpa lengan dengan bermotif floral. Sheena yang kesehariannya lebih senang mengenakan celana panjang, kini mencoba dress yang di belikan oleh Mamanya.
''Mmmm kenapa aku jadi semangat dandan gini ya?'' gumam Sheena yang merasa bingung dengan dirinya sendiri.
''Apa aku jatuh cinta pada Arsen? Lalu tadi aku bahkan berani menciumnya duluan tanpa dia minta. Astaga Sheena, apa yang kamu lakukan.'' Gumamnya sambil menepuk-nepuk pipinya. Sheena lalu mendengar bel pintu rumah berbunyi. Sambil menahan sedikit ngilu, Sheena segera berjalan menuju pintu utama.
''Apa Arsen sudah pulang?'' gumamnya dengan wajah cerianya. Namun saat di buka ternyata kurir pengantar makanan.
''Selamat sore Nona. Ini pesanan dari Tuan Arsen.''
''Tuan Arsen?''
''Iya tadi Tuan menelepon kami untuk menyiapkan makanan kesukaan anda dan juga Tuan.''
''Oh begitu. Terima kasih ya.''
''Sama-sama Nona. Kalau begitu saya permisi.''
''Iya Mas, terima kasih.'' Sheena lalu menutup pintu kembali dan berjalan menuju ruang makan.
''Arsen's Kitchen and Resto. Oh, ini ternyata restoran miliknya sendiri. Kemasannya saja mewah sekali. Dia memang Tuan sempurna. Pantas saja tidak bisa di ajak makan di pinggir jalan. Kualitasnya saja seperti ini. Tapi aku tunggu dia pulang dulu saja.''
Bersambung... Hari ini atau besok ya next babnya???? hehehehe
__ADS_1